<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=sarjan-lahay&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/sarjan-lahay/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 20 Oct 2026 12:38:51 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Ular Kerdil Asia Tenggara Mampu Berguling untuk Kabur dari Predator 4x Lebih Cepat dari Gerak Biasa Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 12:36:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20122613/101526_MT_cartwheelingsnake_main-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135313</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berguling adalah cara bergerak yang bisa menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi hanya sedikit hewan yang diketahui memanfaatkannya. Roda dapat berputar dengan lancar karena berporos pada as yang terpisah dari badan kendaraan. Tubuh hewan tidak memiliki as semacam itu. Jika seluruh badan berputar, kepala dan organ indra ikut berputar sehingga hewan sulit menyesuaikan posisi tubuh dan mengendalikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/">Ular Kerdil Asia Tenggara Mampu Berguling untuk Kabur dari Predator 4x Lebih Cepat dari Gerak Biasa Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berguling adalah cara bergerak yang bisa menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi hanya sedikit hewan yang diketahui memanfaatkannya. Roda dapat berputar dengan lancar karena berporos pada as yang terpisah dari badan kendaraan. Tubuh hewan tidak memiliki as semacam itu. Jika seluruh badan berputar, kepala dan organ indra ikut berputar sehingga hewan sulit menyesuaikan posisi tubuh dan mengendalikan arah geraknya. Masalah ini makin berat ketika gerakan dilakukan dengan kecepatan tinggi. Ular kerdil dari genus Pseudorabdion, yang dalam bahasa Inggris disebut dwarf reedsnake, termasuk segelintir hewan yang diketahui berguling secara aktif untuk menghindari pemangsa. Tim peneliti dari Toho University, Jepang, menemukan bahwa kecepatan puncak ke depan ular ini saat berguling sekitar empat kali kecepatan puncak gerak menggelombang ke samping, cara bergerak yang umum pada ular. Kepala ular tetap menghadap arah perjalanan dan berada pada ketinggian yang relatif stabil, sementara bagian tubuh belakangnya berputar dengan cepat. Hasil penelitian itu terbit di jurnal Current Biology pada 2026. Dua Ayunan Bergantian yang Menggerakkan Tubuh Pseudorabdion adalah ular kecil yang ditemukan di Asia Tenggara. Perilaku berguling pada genus ini sudah tercantum dalam buku panduan lapangan dan pernah dicatat dalam pengamatan di alam. Namun, gerakan tubuh yang mendasari cara bergerak tidak lazim ini selama ini belum banyak diketahui. Untuk mengetahuinya, para peneliti merekam ular dari berbagai sudut, termasuk tampak samping, lalu menganalisis gerakannya secara rinci. Salah satu spesies yang diteliti adalah Pseudorabdion saravacense. Dari rekaman itu, mereka mengukur kecepatan dan pola gerak tubuh pada setiap siklus berguling. Hasil pengukuran menunjukkan kecepatan puncak ke depan saat berguling mencapai 1,72 sampai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Ambon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 11:54:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *Cristin Pesiwarissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/18155949/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.12.36-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135205</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Maluku]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabut asap mengaburkan Teluk Ambon, Maluku, mengganggu penerbangan, dan memaksa pemerintah mengurangi aktivitas perkantoran serta sekolah. Di Pulau Seram, warga Horale protes kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan, sedang kobaran api merambat ke Taman Nasional Manusela (TNM). Kepungan asap menjadikan garis pantai Kota Ambon ‘menghilang’ di balik kabut kelabu. Bangunan bertingkat di sepanjang pesisir tampak samar. Perbukitan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/">Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Ambon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabut asap mengaburkan Teluk Ambon, Maluku, mengganggu penerbangan, dan memaksa pemerintah mengurangi aktivitas perkantoran serta sekolah. Di Pulau Seram, warga Horale protes kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan, sedang kobaran api merambat ke Taman Nasional Manusela (TNM). Kepungan asap menjadikan garis pantai Kota Ambon ‘menghilang’ di balik kabut kelabu. Bangunan bertingkat di sepanjang pesisir tampak samar. Perbukitan yang biasa menjadi latar Teluk Ambon nyaris menyatu dengan langit. Di kejauhan, permukaan laut terlihat seperti hamparan abu-abu tanpa batas yang jelas. Begitu juga dengan Jembatan Merah Putih. Meski bentang jembatan masih terlihat di atas teluk, namun, dua menara merahnya tampak memudar di antara lapisan kabut. Pemandangan itu terjadi sejak pertengahan Oktober ini. Pada 14 Oktober 2026, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat,  jarak pandang di Bandara Internasional Pattimura Ambon sekitar satu kilomoeter pada pukul 07.00 WIT. Kondisi itu mengganggu operasional bandara selama beberapa hari. Dalam periode 8–12 Oktober, sejumlah penerbangan di Bandara Pattimura mengalami penundaan maupun pembatalan akibat jarak pandang yang menurun. Kondisi berasap menyebabkan jarak pandang pada waktu tertentu berada di bawah 2.000 meter, hingga keselamatan penerbangan menjadi perhatian. Kamari, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, meminta, masyarakat memperhatikan dan mengantisipasi perubahan kondisi udara yang kian memburuk. “Kami menghimbau warga agar tidak mengabaikan perubahan kondisi udara dan jarak pandang,” katanya. Berdasar analisa BMKG, arah angin dan pemantauan satelit Himawari-9 memperlihatkan adanya pergerakan asap menuju wilayah Maluku. Hasil idenfitikasi menunjukkan kepungan asap berasal dari Papua. Sebagian lainnya terpantau berasal dari Pulau Buru dan Pulau Seram. Arah angin yang bertiup dari timur hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Api Membara di Bromo dan Arjuno, Renggut Korban Jiwa hingga Rusaknya Jalur Pipa Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 10:00:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013127/Arjuno-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135225</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan jawa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin kencang mengubah upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi tragedi. Enam personel terjebak kobaran api di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Tiga orang meninggal di lokasi, sementara seorang lainnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas. Dua korban luka bakar berat dirawat di Surabaya. Peristiwa ini memperlihatkan besarnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/">Api Membara di Bromo dan Arjuno, Renggut Korban Jiwa hingga Rusaknya Jalur Pipa Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin kencang mengubah upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi tragedi. Enam personel terjebak kobaran api di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Tiga orang meninggal di lokasi, sementara seorang lainnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas. Dua korban luka bakar berat dirawat di Surabaya. Peristiwa ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas dan relawan ketika medan terjal, keterbatasan air, serta perubahan arah angin bertemu di lokasi kebakaran. Kebakaran bermula dari laporan api di ladang sekitar Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan taman nasional pada 13 Oktober. Petugas dan warga melakukan pemadaman manual menggunakan alat pemukul atau gepyok karena lokasi sulit dijangkau kendaraan dan jauh dari sumber air. Api sempat dinyatakan padam keesokan harinya, tetapi asap tebal kembali terlihat pada 15 Oktober. Ketika personel berusaha mengendalikan api dan membuat penyekatan, angin kencang menyebabkan sejumlah anggota tim terjebak. Balai Besar TNBTS kemudian menutup area wisata Penanjakan mulai 17 Oktober malam hingga waktu yang belum ditentukan. BNPB menekankan bahwa keselamatan personel harus menjadi bagian utama penanganan kebakaran. Kondisi api, arah dan kecepatan angin, karakter medan, serta jalur evakuasi perlu terus diperhitungkan. “Setiap langkah penanganan harus didukung penilaian risiko yang cermat. Juga pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan, jalur evakuasi, komunikasi dan koordinasi,” kata Berton SP Panjaitan dari BNPB. Kesiapan peralatan, prosedur keselamatan, dan kemampuan evakuasi diperlukan agar upaya melindungi lingkungan tidak kembali merenggut nyawa mereka yang berada di garis depan. Sementara itu, kebakaran melanda kawasan Gunung Arjuno dan Tahura R. Soerjo sejak 16 Oktober. Sebanyak 110 pendaki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Perlindungan Dua Spesies Pari Manta di Raja Ampat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 09:38:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20092916/Foto-Manta-02-KI-Abdi-Hasan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135302</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua barat daya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perairan Raja Ampat memang istimewa, karena terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle). Pusat biodiversitas laut tropis global itu memiliki lebih dari 500 jenis karang keras dan rumah bagi 75 persen karang dunia. Ada sekitar 1.700 spesies ikan di perairan yang terletak di wilayah kepala burung Papua itu. Termasuk, dua spesies ikonik pari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/">Bagaimana Perlindungan Dua Spesies Pari Manta di Raja Ampat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perairan Raja Ampat memang istimewa, karena terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle). Pusat biodiversitas laut tropis global itu memiliki lebih dari 500 jenis karang keras dan rumah bagi 75 persen karang dunia. Ada sekitar 1.700 spesies ikan di perairan yang terletak di wilayah kepala burung Papua itu. Termasuk, dua spesies ikonik pari manta, manta oseanik (Mobula birostris) dan manta karang (Mobula alfredi). Kedua spesies tersebut penting secara ekologis dan sosial ekonomi, meski masih menghadapi ancaman. Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist pada Elasmobranch Insitute Indonesia, menjelaskan walau baik dan bermanfaat bagi masyarakat lokal, namun pertumbuhan pariwisata yang terlalu cepat dan masif bisa memicu masalah signifikan pada ekosistem laut. Kepada Mongabay di Pulau Arborek, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Edy bercerita perjalanannya melakukan penelitian pari manta sejak 2013. Dia mengaku bangga bisa menyaksikan pertumbuhan pariwisata. “Namun, semakin cepat perkembangan, semakin tinggi ancaman.” Ancaman yang mengintai, di antaranya adalah kapasitas berlebihan di lokasi penyelaman (dive site) Manta Sandy di perairan Selat Dampier, dekat Pulau Arborek dan Pulau Mansuar. Lokasi tersebut tempat berkumpulnya pari manta untuk membersihkan tubuh dari parasit, atau dikenal sebagai manta cleaning station. Kegiatan unik itu menarik minat para penyelam dari seluruh dunia untuk menyelam di sana. Pada 2015-2016, lokasi tersebut mengalami kelebihan, penyelam bisa mencapai 90 orang dalam waktu bersamaan. Bahkan, pada 2019 pari manta dilaporkan tak terlihat sama sekali di sana. “Bisa mengganggu kenyamanan pari manta,” ungkapnya, Kamis (24/9/26). Pari manta karang (Mobula alfredi) yang berada di perairan Raja Ampat, Papua Barat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jakarta Krisis Ruang Terbuka Hijau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 07:48:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24103111/WARGA-MENIKMATI-RUANG-HIJAU-DI-JAKARTA-FALAHI-MUBAROK_MONGABAY-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135150</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pepohonan rindang memadati kawasan Hutan Kota Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Mulai dari pohon jati, akasia, beringin, lamtoro dan tanaman hias lainnya tampak berdiri tegak. Beberapa bagian sisi hutan kota tampak padat pepohonan hingga menghalau terik matahari dan menahan udara panas siang itu. Sri Rahmawati, warga Kelurahan Joglo bersama dua orang temannya, siang itu sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/">Jakarta Krisis Ruang Terbuka Hijau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pepohonan rindang memadati kawasan Hutan Kota Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Mulai dari pohon jati, akasia, beringin, lamtoro dan tanaman hias lainnya tampak berdiri tegak. Beberapa bagian sisi hutan kota tampak padat pepohonan hingga menghalau terik matahari dan menahan udara panas siang itu. Sri Rahmawati, warga Kelurahan Joglo bersama dua orang temannya, siang itu sekitar pukul 10.00, tampak sedang menikmati Hutan Kota Srengseng, Jumat (25/9/26). Mereka mampir selepas menghadiri rapat di sekolah anaknya. “Saya sering ke sini, di sini sepi dan udaranya bagus. Rasanya paru-paru segar ngirup udara di sini,” katanya, Jumat (25/9/26). Rumahnya tak jauh dari hutan kota ini, setidaknya perlu 10 menit berkendara. Biasanya, tiap akhir pekan, bersama keluarga, dia menyempatkan waktu untuk berolahraga. Hutan Kota Srengseng di Jakarta Barat menjadi ruang nagi masyarakat untuk berolahraga, beristirahat hingga rekreasi. Foto: Indah Suci Safitri/ Mongabay Indonesia Sama dengan Ana Sulastri, warga Meruya, yang rutin datang tiap akhir pekan untuk berjalan santai, baik bersama keluarga atau teman. “Pohonnya rindang, ada suara burung juga,” katanya. Warga bisa menikmati ruang terbuka hijau (RTH) seluas 10,15 hektar ini untuk jogging, jalan santai, menikmati pemandangan danau, hingga memancing. Bahkan ada arena untuk bermain anak. Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta, jumlah pengunjung pada akhir pekan bisa mencapai 200–300 orang per hari. Arie Fajar Septa, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Hutan dan Dinas Pertamanan  Jakarta, mengatakan, pada 1995, kawasan ini merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Jakarta. Awalnya, luas mencapai 15 hektar, kini tinggal 10,15 hektar saja. Penyusutan ini karena normalisasi Kali Pesanggrahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kukang Jawa Ditemukan di Madura, Wilayah yang Bukan Habitat Alaminya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 03:36:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20033136/Kukang-Jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135273</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana seekor kukang jawa bisa ditemukan bergantung pada kabel di wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, padahal pulau yang berpenghasil garam ini tak tercatat sebagai wilayah persebaran alaminya? Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai asal-usul satwa nokturnal bernama ilmiah Nycticebus javanicus ini. Apakah kukang itu merupakan satwa peliharaan yang lepas atau sengaja dilepaskan, atau justru berkaitan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/">Mengapa Kukang Jawa Ditemukan di Madura, Wilayah yang Bukan Habitat Alaminya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana seekor kukang jawa bisa ditemukan bergantung pada kabel di wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, padahal pulau yang berpenghasil garam ini tak tercatat sebagai wilayah persebaran alaminya? Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai asal-usul satwa nokturnal bernama ilmiah Nycticebus javanicus ini. Apakah kukang itu merupakan satwa peliharaan yang lepas atau sengaja dilepaskan, atau justru berkaitan dengan perdagangan ilegal? Robithotul Huda, General Manager Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), mengatakan lembaganya belum menemukan pola perdagangan khusus menuju Madura. Kendati demikian, bukan berarti kemungkinan perdagangan primata berbisa ini ke Madura, bisa langsung dikesampingkan. Menurutnya, aktivitas perdagangan kukang telah ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang dan Kediri. “Beberapa kasus di wilayah tersebut juga pernah berujung pada penindakan hukum,” jelasnya, Kamis (15/10/26). Menurut Huda, menghubungkan temuan kukang di Pamekasan dengan jaringan perdagangan tertentu memerlukan bukti lebih kuat, terutama riwayat kepemilikan dan jalur perpindahan. Perdagangan kukang sebelumnya banyak berlangsung di pasar-pasar konvensional, termasuk pasar burung. Pola ini relatif lebih mudah dipantau karena penjual berkumpul di lokasi tertentu. “Sekarang, polanya menggunakan platform digital.” Perubahan ini berjalan sejak 2017 lalu, sSehingga transaksi bisa berlangsung antara penjual dan pembeli. Perubahan ini menyulitkan pemantauan. Ketika sebuah akun ditutup, penjual bisa kembali beroperasi melalui akun baru atau menggunakan istilah berbeda untuk menyamarkan identitas satwa yang ditawarkan. Kukang jawa yang selama ini wilayah persebarannya diketahui di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan wilayah terbatas di Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Nama satwa tak sesuai identitas Huda mencontohkan penggunaan istilah yang tidak sesuai dengan identitas spesies. Kukang,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petugas Gagalkan Penyelundupan Kuda Laut dan Emas ke Singapura</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 01:32:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/19044927/WhatsApp-Image-2026-10-17-at-01.28.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135230</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) bersama Balai Karantina Kepulauan Riau (Kepri) berhasil gagalkan upaya penyelundupan 1.728 kuda laut kering ke Kendari, Sabtu (10/10/26). Ribuan satwa itu terkemas dalam paket kargo berlabel makanan ringan. Temuan itu bermula saat petugas gabungan melakukan pengawasan barang di Terminal Kargo Bandara RHF. Mereka mencurigai  kardus  perusahaan jasa pengiriman setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/">Petugas Gagalkan Penyelundupan Kuda Laut dan Emas ke Singapura</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) bersama Balai Karantina Kepulauan Riau (Kepri) berhasil gagalkan upaya penyelundupan 1.728 kuda laut kering ke Kendari, Sabtu (10/10/26). Ribuan satwa itu terkemas dalam paket kargo berlabel makanan ringan. Temuan itu bermula saat petugas gabungan melakukan pengawasan barang di Terminal Kargo Bandara RHF. Mereka mencurigai  kardus  perusahaan jasa pengiriman setelah hasil pemeriksaan mesin sinar-X menunjukkan ada yang mencurigakan. Untuk memastikan, petugas lantas membukanya. Hasilnya, paket dalam kemasan tertulis sebagai makanan ringan itu berisi ribuan kuda laut kering. “Modus yang digunakan adalah mengelabui petugas dengan memberikan keterangan makanan ringan,” kata Hasim, Kepala Karantina Kepri, dalam keterangannya, Senin (12/10/26). Petugas sempat meminta dokumen persyaratan kepada perwakilan perusahaan ekspedisi, namun tak bisa menunjukkan. Petugas pun menyitanya. Ribuan kuda laut dari berbagai jenis yang Balai Karantina amankan. Foto: Balai Karantina. Hasil identifikasi bersama Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru, ribuan kuda laut ini terdiri dari tiga jenis. Terbanyak  Hippocampus kuda, sebanyak 1.263 berukuran sekitar 13–19 sentimeter. Berikutnya, Hippocampus spinosissimus  452 berukuran 11–14 sentimeter, serta Hippocampus comes sebanyak 13 berukuran 12–14 sentimeter. Hasim menjelaskan, pengiriman kuda laut harus memenuhi persyaratan tertentu, baik ketentuan karantina maupun aturan dari instansi  berwenang di bidang konservasi. Namun, karena tidak ditemukan dokumen kelengkapan  itu, mereka menghentikan pengirimannya. Karantina Kepri menyebut kewajiban melaporkan dan menyerahkan media pembawa kepada petugas karantina di tempat pengeluaran diatur dalam Pasal 35 Undang-undang Nomor 21/2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Seluruh kuda laut itu mereka serahkan kepada Loka PSPL Pekanbaru Satuan Pelayanan Tanjungpinang serta Satwas PSDKP Tanjungpinang–Pangkalan PSDKP&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Layanan Home Care, Ada Limbah Medis yang Perlu Diurus di Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-layanan-home-care-ada-limbah-medis-yang-perlu-diurus-di-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-layanan-home-care-ada-limbah-medis-yang-perlu-diurus-di-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 00:30:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14212145/IMG_2551-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135178</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hukum dan politik, kalimantan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Enam kantong plastik biru tergeletak di semak pinggir jalan Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ketika diperiksa petugas pada Mei lalu, isinya ternyata limbah medis. Sebagian pembungkus sudah robek, sementara lokasi mudah dijangkau warga, termasuk anak-anak. Temuan tersebut membuka persoalan di balik berkembangnya layanan kesehatan dari rumah ke rumah: setelah pelayanan selesai, siapa memastikan jarum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-layanan-home-care-ada-limbah-medis-yang-perlu-diurus-di-kalimantan-selatan/">Di Balik Layanan Home Care, Ada Limbah Medis yang Perlu Diurus di Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Enam kantong plastik biru tergeletak di semak pinggir jalan Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ketika diperiksa petugas pada Mei lalu, isinya ternyata limbah medis. Sebagian pembungkus sudah robek, sementara lokasi mudah dijangkau warga, termasuk anak-anak. Temuan tersebut membuka persoalan di balik berkembangnya layanan kesehatan dari rumah ke rumah: setelah pelayanan selesai, siapa memastikan jarum suntik, perlengkapan infus, dan bahan medis bekas masuk jalur pengelolaan yang aman? Penelusuran Dinas Lingkungan Hidup Banjarbaru menemukan nota pembelian obat dan perlengkapan medis yang mengarah kepada tenaga kesehatan penyedia layanan home care mandiri. Dia mengakui asal limbah, tetapi membantah membuangnya langsung karena telah membayar pengepul untuk menerimanya. Di tempat pengepul, petugas kembali menemukan limbah medis, tetapi tujuan penyerahan berikutnya tidak jelas. DLH menghentikan penelusuran karena bukti belum cukup untuk memastikan pelaku pembuangan. Limbah kemudian dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara Puskesmas Sungai Besar agar tidak terus berada di ruang terbuka. Persoalan pengawasan turut muncul dalam perubahan perizinan. Menurut Dinas Kesehatan Banjarbaru, pengajuan praktik mandiri melalui Mal Pelayanan Publik Digital tidak lagi disertai verifikasi lapangan seperti sebelumnya. Akibatnya, jalur pemeriksaan langsung terhadap kondisi praktik dan rencana pengelolaan limbah berkurang. Sementara itu, tempat penyimpanan puskesmas diperuntukkan bagi limbah pelayanannya sendiri, bukan sebagai penampungan praktik luar. Temuan serupa di Banjarbaru dan Kabupaten Banjar pada tahun-tahun sebelumnya memperlihatkan masalah yang mencakup pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan akhir. Syamsul Arifin, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat, menegaskan kewajiban tenaga kesehatan memilah limbah sejak sumbernya. Limbah infeksius, benda tajam, farmasi, dan bahan kimia perlu wadah sesuai jenis serta&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-layanan-home-care-ada-limbah-medis-yang-perlu-diurus-di-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-layanan-home-care-ada-limbah-medis-yang-perlu-diurus-di-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Muat di Telapak Tangan, Hiu Terkecil di Dunia Hidup di Kedalaman 400 Meter Bawah Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/muat-di-telapak-tangan-hiu-terkecil-di-dunia-hidup-di-kedalaman-400-meter-bawah-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/muat-di-telapak-tangan-hiu-terkecil-di-dunia-hidup-di-kedalaman-400-meter-bawah-laut/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 00:13:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20000709/etmopterus-perryi-si-d414a8-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135262</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kata hiu biasanya memunculkan gambaran predator besar seperti hiu putih atau hiu harimau, gambaran yang banyak dibentuk oleh film dan pemberitaan tentang gigitan hiu. Padahal, dari lebih dari 500 spesies hiu yang sudah dikenali ilmuwan, ukuran tubuhnya sangat beragam. Di satu ujung ada hiu paus, ikan terbesar di dunia yang panjangnya bisa mencapai sekitar 18 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/muat-di-telapak-tangan-hiu-terkecil-di-dunia-hidup-di-kedalaman-400-meter-bawah-laut/">Muat di Telapak Tangan, Hiu Terkecil di Dunia Hidup di Kedalaman 400 Meter Bawah Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kata hiu biasanya memunculkan gambaran predator besar seperti hiu putih atau hiu harimau, gambaran yang banyak dibentuk oleh film dan pemberitaan tentang gigitan hiu. Padahal, dari lebih dari 500 spesies hiu yang sudah dikenali ilmuwan, ukuran tubuhnya sangat beragam. Di satu ujung ada hiu paus, ikan terbesar di dunia yang panjangnya bisa mencapai sekitar 18 meter, sementara di ujung lain ada spesies yang panjangnya kira-kira seukuran sebatang pensil. Banyak hiu berukuran kecil menghabiskan hidupnya di laut dalam, di bawah kedalaman 200 meter, tempat cahaya matahari makin redup hingga nyaris tidak sampai. Karena habitatnya sulit dijangkau, kelompok hiu ini jarang terlihat manusia dan sebagian besar masih sedikit diteliti. Salah satunya adalah hiu lentera kerdil (Etmopterus perryi), yang sering disebut sebagai hiu terkecil di dunia. Panjang maksimum spesies ini sekitar 20 sentimeter, dengan individu terbesar yang pernah tercatat berukuran 21,2 sentimeter. Dengan ukuran sekecil itu, seekor hiu lentera kerdil dewasa bisa diletakkan di atas telapak tangan orang dewasa. Sebagai perbandingan, hiu paus dewasa bisa sekitar 90 kali lebih panjang. Spesies ini hidup di perairan Karibia bagian selatan, di lepas pantai Kolombia dan Venezuela, pada kedalaman ratusan meter. Seperti namanya, hiu ini termasuk kelompok hiu lentera, yaitu hiu yang tubuhnya mampu memancarkan cahaya sendiri. Dikenal dari Spesimen Kapal Riset Spesies ini dideskripsikan secara ilmiah oleh dua ahli ikan asal Amerika Serikat, Stewart Springer dan George H. Burgess, dalam jurnal Copeia pada 1985. Deskripsi tersebut didasarkan pada spesimen yang ditangkap dengan pukat oleh kapal riset Oregon milik U.S. Fish and Wildlife Service pada 1964.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/muat-di-telapak-tangan-hiu-terkecil-di-dunia-hidup-di-kedalaman-400-meter-bawah-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/muat-di-telapak-tangan-hiu-terkecil-di-dunia-hidup-di-kedalaman-400-meter-bawah-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cat Indonesia Masih Bertimbal Tinggi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/19/cat-indonesia-masih-bertimbal-tinggi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/19/cat-indonesia-masih-bertimbal-tinggi/#respond</comments>
					<pubDate>19 Okt 2026 23:44:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094424/Mainan-dengan-cat-warna-warni-mengandung-timbal-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135258</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Produk cat dari perusahaan pemimpin pasar Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia masih mengandung timbal dengan konsentrasi tinggi yang membahayakan kesehatan konsumen, terutama anak-anak. Begitu temuan dari pengujian ulang Nexus3 Foundation, lima tahun setelah pertama kali mengungkap tingginya kadar timbal pada produk cat Avian Brands, pada 2021. Studi 2026 ini, terhadap enam sampel [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/cat-indonesia-masih-bertimbal-tinggi/">Cat Indonesia Masih Bertimbal Tinggi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Produk cat dari perusahaan pemimpin pasar Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia masih mengandung timbal dengan konsentrasi tinggi yang membahayakan kesehatan konsumen, terutama anak-anak. Begitu temuan dari pengujian ulang Nexus3 Foundation, lima tahun setelah pertama kali mengungkap tingginya kadar timbal pada produk cat Avian Brands, pada 2021. Studi 2026 ini, terhadap enam sampel produk cat PT Avia Avian Tbk menemukan bahwa lima produk, atau 83% dari sampel, memiliki konsentrasi timbal di atas standar 90 part per million (ppm). Dari hasil itu, produsen cat nasional yang menguasai 24% pangsa pasar itu masih menjual sebagian besar produk dengan kadar timbal puluhan hingga ratusan kali di atas ambang aman. Yuyun Ismawati, Pendiri dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation menjelaskan, hasil itu berdasarkan enam sampel cat dekoratif dan industrial paint Avian Brands dari Nexus3 di sejumlah toko di Bekasi, Jakarta, dan Depok pada 24–29 Juli 2026. Jenis dan warna sampel sama dengan yang Nexus3 uji pada 2021. “Kadar timbal yang sebenarnya pada keenam sampel berpotensi jauh lebih tinggi daripada angka yang dilaporkan dalam studi ini, bukan lebih rendah,” kata Yuyun dalam konferensi pers September lalu. Dia menyayangkan,  pemimpin pasar cat di Indonesia ini masih meraup keuntungan dari konsumen dengan menggunakan timbal, kimia yang tergolong bahan berbahaya dan beracun. Padahal, timbal sudah dilarang satu abad lalu oleh ILO dan perjanjian internasional sudah menetapkan target penghapusan timbal dalam cat tahun 2020. “Sebagai perusahaan yang sudah terdaftar di bursa efek Indonesia, saya berharap banyak kepada Avia untuk menjadi contoh terbaik praktik bisnis yang berkelanjutan, akuntabel dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/cat-indonesia-masih-bertimbal-tinggi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/19/cat-indonesia-masih-bertimbal-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koalisi Persoalkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati, Catatan untuk Delegasi Indonesia di COP17</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/19/koalisi-persoalkan-rencana-aksi-keanekaragaman-hayati-catatan-untuk-delegasi-indonesia-di-cop17/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/19/koalisi-persoalkan-rencana-aksi-keanekaragaman-hayati-catatan-untuk-delegasi-indonesia-di-cop17/#respond</comments>
					<pubDate>19 Okt 2026 22:52:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhibar Sobary Ardan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235046/Pulau-ENGGANO-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135252</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Koalisi masyarakat sipil JustCOP menilai komitmen keanekaragaman hayati Indonesia sebatas kuat di atas kertas tetapi tumpul di lapangan. Strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan/IBSAP) 2025–2045 baik isinya, tetapi belum memiliki kedudukan dalam hierarki peraturan perundang-undangan. “Indonesia punya rujukan strategi keanekaragaman hayati yang isinya bagus, tetapi belum punya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/koalisi-persoalkan-rencana-aksi-keanekaragaman-hayati-catatan-untuk-delegasi-indonesia-di-cop17/">Koalisi Persoalkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati, Catatan untuk Delegasi Indonesia di COP17</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Koalisi masyarakat sipil JustCOP menilai komitmen keanekaragaman hayati Indonesia sebatas kuat di atas kertas tetapi tumpul di lapangan. Strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan/IBSAP) 2025–2045 baik isinya, tetapi belum memiliki kedudukan dalam hierarki peraturan perundang-undangan. “Indonesia punya rujukan strategi keanekaragaman hayati yang isinya bagus, tetapi belum punya kewenangan kuat,” kata Giorgio Budi Indrarto, Badan Pengurus Madani Berkelanjutan, dalam rilis kepada media terkait diskusi di Jakarta, jelang The 17th Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP17) di Yerevan, 19-30 Oktober 2026. Seharusnya, IBSAP menjadi dokumen yang menentukan arah pembangunan. Senada Syahrul Fitra, Pengkampanye Senior Isu Hutan Greenpeace Indonesia. Dia bilang, IBSAP belum mengikat pemerintah daerah dan belum menjadi rujukan di tingkat kementerian/lembaga. “Komitmen dari konvensi tidak otomatis dijalankan. Ia harus diturunkan menjadi regulasi dan kebijakan,” katanya. Andi Muttaqin, Direktur Eksekutif Satya Bumi pun punya pandangan serupa. Ketika IBSAP tidak memiliki kewenangan, cita-cita yang bagus termentahkan begitu bertemu proyek investasi yang merusak. Giorgio bilang, COP17 menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya para pihak melakukan tinjauan global atas kemajuan pelaksanaan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM- GBF). Menurut dia, perlindungan keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan pembangunan tidak bisa terpisahkan karena Indonesia menghadapi krisis multidimensi. &#8211; Masyarakat adat hingga peneliti menyampaikan rekomendasi kunci perlindungan keanekaragaman hayati kepada pemerintah Indonesia di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada awal September 2026. Foto:The Working Group on Indigenous People and Community Conserved Areas Indonesia (WGII). Catatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/koalisi-persoalkan-rencana-aksi-keanekaragaman-hayati-catatan-untuk-delegasi-indonesia-di-cop17/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/19/koalisi-persoalkan-rencana-aksi-keanekaragaman-hayati-catatan-untuk-delegasi-indonesia-di-cop17/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perjalanan Tukik dan Misteri Pulang ke Pantai Kelahiran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perjalanan-tukik-dan-misteri-pulang-ke-pantai-kelahiran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perjalanan-tukik-dan-misteri-pulang-ke-pantai-kelahiran/#respond</comments>
					<pubDate>19 Okt 2026 10:00:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22010542/penyu-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135179</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi tukik, jarak antara sarang dan laut merupakan ujian pertama kehidupan. Setelah menetas di pantai berpasir, anak penyu harus merangkak menuju air sambil menghadapi predator. Sebagian tidak pernah mencapai laut, sementara yang berhasil masih harus melanjutkan perjuangan di habitatnya. “Ancaman akan selalu mengintai tukik yang merangkak pelan menuju laut. Tak jarang, saat proses tersebut dilakukan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perjalanan-tukik-dan-misteri-pulang-ke-pantai-kelahiran/">Perjalanan Tukik dan Misteri Pulang ke Pantai Kelahiran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi tukik, jarak antara sarang dan laut merupakan ujian pertama kehidupan. Setelah menetas di pantai berpasir, anak penyu harus merangkak menuju air sambil menghadapi predator. Sebagian tidak pernah mencapai laut, sementara yang berhasil masih harus melanjutkan perjuangan di habitatnya. “Ancaman akan selalu mengintai tukik yang merangkak pelan menuju laut. Tak jarang, saat proses tersebut dilakukan, predator di darat memakannya,” kata Mohammad Mukhlis Kamal, pakar ekologi perairan dari IPB University. Perjalanan singkat di pantai menjadi fase kritis yang menentukan kesempatan mereka bertahan hidup. Sebagian besar kehidupan penyu berlangsung di laut, tetapi betina kembali ke pantai untuk bertelur. Menariknya, lokasi tersebut bisa merupakan tempat mereka dahulu menetas. Penelitian J. Roger Brothers dan Kenneth J. Lohmann dari University of North Carolina, yang diterbitkan dalam Current Biology pada 2015, menemukan hubungan antara kepadatan sarang dan perubahan kecil medan magnet bumi. Temuan itu mendukung dugaan bahwa penyu menggunakan petunjuk geomagnetik untuk menemukan kawasan bertelur, serta mungkin menyimpan ingatan terhadap medan magnet pantai kelahirannya. Namun, mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Mukhlis juga mengingatkan bahwa dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian khusus di Indonesia. Dari tujuh spesies penyu dunia, enam ditemukan di Indonesia: penyu hijau, sisik, lekang, belimbing, tempayan, dan pipih. Perlindungan sarang serta pendampingan pelepasan tukik menjadi bagian dari kegiatan konservasi. Namun, bantuan manusia tetap perlu memperhatikan kesejahteraan hewan, termasuk kebebasan dari rasa takut, stres, sakit, dan ketidaknyamanan, serta kesempatan mengekspresikan perilaku alami. Pelepasliaran bukan jaminan seluruh tukik akan bertahan. “Alamiahnya, tukik yang dilepasliarkan itu tidak semuanya hidup,” ujar Mukhlis. Upaya konservasi membantu mengurangi ancaman tanpa menghilangkan seluruh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perjalanan-tukik-dan-misteri-pulang-ke-pantai-kelahiran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perjalanan-tukik-dan-misteri-pulang-ke-pantai-kelahiran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waswas Megaproyek Data Center AI Jatiluhur Ganggu Pasokan Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/19/waswas-megaproyek-data-center-ai-jatiluhur-ganggu-pasokan-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/19/waswas-megaproyek-data-center-ai-jatiluhur-ganggu-pasokan-air/#respond</comments>
					<pubDate>19 Okt 2026 07:15:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/09/22083131/waduk-jatiluhur-panorama-purwakartakab.go_.id_-768x480.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135211</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, infrastruktur, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pembangunan proyek pusat data akal imitasi atau (AI) Campus 2 CGK4 milik BDx Data Center di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, menjadi sorotan. Walau berhenti sementara seminggu setelah peresmiannya 22 September, berbagai kalangan waswas dan wanti-wanti jika proyek ini kembali lanjut. Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, mengatakan, alasan penghentian pembangunan karena proyek itu belum kantongi analisis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/waswas-megaproyek-data-center-ai-jatiluhur-ganggu-pasokan-air/">Waswas Megaproyek Data Center AI Jatiluhur Ganggu Pasokan Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pembangunan proyek pusat data akal imitasi atau (AI) Campus 2 CGK4 milik BDx Data Center di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, menjadi sorotan. Walau berhenti sementara seminggu setelah peresmiannya 22 September, berbagai kalangan waswas dan wanti-wanti jika proyek ini kembali lanjut. Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, mengatakan, alasan penghentian pembangunan karena proyek itu belum kantongi analisis dampak lingkungan (Amdal) dan persetujuan bangunan gedung (PBG). Ketiadaan dua dokumen itu berpotensi menimbulkan masalah dalam pembangunan proyek. “PBG dan Amdal belum keluar. Jangan dulu berjalan proyeknya. Berhentikan dulu pembangunannya,” kata KDM, sapaan akrabnya, pasca inspeksi, dalam laman resmi pemerintah provinsi. Proyek pusat data AI tersebut berkapasitas hingga 640 megawatt. Pembangunan berjarak sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur. Pengembang merencanakan enam gedung bertahap. Pada fase awal, gedungnya berkapasitas 120 MW target mulai beroperasi awal 2027. Ekspansi ini melanjutkan operasional pusat data yang sebelumnya telah berjalan di kawasan itu. Polemik muncul setelah perkiraan kebutuhan air dari fasilitas proyek data center mencapai 383 liter per detik atau sekitar 0,4 meter kubik per detik, setara dengan 33 juta liter per hari. Masyarakat sipil mempertanyakan terkait sumber air kebutuhan proyek, dampaknya bagi masyarakat, hingga risiko dari pembangunan pusat data itu. Waduk Jatiluhur  bagian dari sistem pengelolaan air di wilayah Sungai Citarum. Bendungan terbesar yang berdiri sejak 1967 ini  untuk irigasi dan berbagai kebutuhan lain, termasuk pasokan air baku. Bendungan Jatiluhur. Foto: dari laman Perum Jasa Tirta II Informasi tidak terbuka? Wahyudin, Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, mempersoalkan keterbukaan informasi dalam proses penilaian lingkungan proyek&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/waswas-megaproyek-data-center-ai-jatiluhur-ganggu-pasokan-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/19/waswas-megaproyek-data-center-ai-jatiluhur-ganggu-pasokan-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Nenek Moyang Kelelawar di Indonesia Berasal dari Eropa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/19/apakah-nenek-moyang-kelelawar-di-indonesia-berasal-dari-eropa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/19/apakah-nenek-moyang-kelelawar-di-indonesia-berasal-dari-eropa/#respond</comments>
					<pubDate>19 Okt 2026 02:17:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053334/Kelelawar-di-Tapanuli2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135221</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak lama, asal-usul geografis kelelawar menjadi perdebatan hangat di kalangan ilmuwan akibat keterbatasan fosil dan sinyal molekuler yang saling bertentangan. Jika sebelumnya, kelelawar diduga berasal dari Afrika atau Amerika Utara, maka penelitian genomik skala besar yang digagas konsorsium internasional Bat1K, berhasil merombak peta evolusi kelelawar secara komprehensif. Alhasil, kesimpulan para peneliti menyebut nenek moyang kelelawar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/apakah-nenek-moyang-kelelawar-di-indonesia-berasal-dari-eropa/">Apakah Nenek Moyang Kelelawar di Indonesia Berasal dari Eropa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak lama, asal-usul geografis kelelawar menjadi perdebatan hangat di kalangan ilmuwan akibat keterbatasan fosil dan sinyal molekuler yang saling bertentangan. Jika sebelumnya, kelelawar diduga berasal dari Afrika atau Amerika Utara, maka penelitian genomik skala besar yang digagas konsorsium internasional Bat1K, berhasil merombak peta evolusi kelelawar secara komprehensif. Alhasil, kesimpulan para peneliti menyebut nenek moyang kelelawar kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir periode Paleosen. Penelitian yang dilakukan Ariadna E. Morales dan tim dalam studi berjudul &#8220;Reference genomes and fossils revise bat family phylogeny and biogeography&#8221; di Nature (2026), menganalisis rakitan genom tingkat kromosom dari 103 spesies yang mewakili seluruh 21 famili kelelawar hidup, serta mengintegrasikan data dari 44 fosil prasejarah. Para peneliti berhasil menyusun pohon filogeni dan garis waktu biogeografi yang akurat hingga saat ini. Hasil analisis menunjukkan, nenek moyang kelelawar modern berasal dari Eropa dengan tingkat dukungan statistik 99,2%. Keturunannya kemudian menyebar ke Afrika, lalu ke Amerika, Asia, dan Australia pada awal era Eosen. &#8220;Kelelawar, dan dengan demikian terbang bertenaga (powered flight), kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir Paleosen,&#8221; tulis Morales dan tim dalam publikasinya. Setelah muncul di Eropa, garis keturunan kelelawar purba ini menyebar ke Afrika dan menjadikan kawasan Eropa–Afrika sebagai pusat migrasi utama. Dari sana, mereka melakukan radiasi adaptif dan ekspansi wilayah secara pesat ke Benua Amerika, Asia, hingga Australia, yang terdorong kondisi iklim hangat selama periode Paleocene Eocene Thermal Maximum (PETM) atau sekitar 56 juta tahun lalu. Warga Tapanuli, Sumatera Utara, menunjukkan kelelawar yang ukurannya besar. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Selain itu, penempatan fosil purba&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/19/apakah-nenek-moyang-kelelawar-di-indonesia-berasal-dari-eropa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/19/apakah-nenek-moyang-kelelawar-di-indonesia-berasal-dari-eropa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ngengat Kepala Maut, Mengapa Namanya Begitu Menyeramkan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ngengat-kepala-maut-mengapa-namanya-begitu-menyeramkan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ngengat-kepala-maut-mengapa-namanya-begitu-menyeramkan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Okt 2026 00:30:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015539/Ngengat1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135151</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nama ngengat kepala maut terdengar seperti tokoh dalam cerita horor. Corak menyerupai tengkorak manusia pada tubuhnya memperkuat kesan menyeramkan tersebut. Namun, serangga ini tidak membahayakan manusia dan tidak beracun. Kehidupannya justru menyimpan cerita tentang perubahan dari ulat pemakan daun menjadi ngengat pencari madu. Di Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, masyarakat terbiasa menjumpai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ngengat-kepala-maut-mengapa-namanya-begitu-menyeramkan/">Ngengat Kepala Maut, Mengapa Namanya Begitu Menyeramkan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nama ngengat kepala maut terdengar seperti tokoh dalam cerita horor. Corak menyerupai tengkorak manusia pada tubuhnya memperkuat kesan menyeramkan tersebut. Namun, serangga ini tidak membahayakan manusia dan tidak beracun. Kehidupannya justru menyimpan cerita tentang perubahan dari ulat pemakan daun menjadi ngengat pencari madu. Di Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, masyarakat terbiasa menjumpai fase ulatnya di sekitar tempat tinggal. Mereka membiarkannya hidup. “Ulat ini sering terlihat di pohon-pohon kecil di pinggir jalan,” kata Aman Tris, warga setempat. Ngengat kepala maut termasuk genus Acherontia, yang terdiri dari tiga jenis. Acherontia atropos tersebar di Eropa, sementara Acherontia styx dan Acherontia lachesis ditemukan di Asia. Ketiganya memiliki kemiripan yang membuat pengenalan jenis perlu memperhatikan cirinya secara teliti. “Ketiganya sangat mirip dari ukuran, warna, dan siklus hidup. Dinamakan ngengat kepala maut, karena ada bentuk tengkorak manusia di bagian toraks,” jelas Mardili, alumni Biologi Sains Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh. Corak pada bagian dada itulah yang melekat pada namanya dan membuat penampilannya mudah diingat. Sebelum memiliki sayap, ngengat ini menjalani kehidupan sebagai ulat yang memakan daun muda. Menurut Mardili, larva yang baru menetas berukuran sekitar satu milimeter, kemudian dapat membesar hingga 130 milimeter. Pada ujung ekornya terdapat bagian menyerupai tanduk. Ketika didekati, ulat biasanya membungkukkan sebagian tubuhnya ke belakang. Setelah melewati fase kepompong dan menjadi dewasa, makanannya berubah menjadi madu lebah. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan makan serangga ini berbeda sepanjang siklus hidupnya, dari masa pertumbuhan sebagai larva hingga tahap dewasa. Kebiasaan mencari madu membawa ngengat kepala maut masuk ke sarang lebah.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ngengat-kepala-maut-mengapa-namanya-begitu-menyeramkan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ngengat-kepala-maut-mengapa-namanya-begitu-menyeramkan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Keadilan Terabaikan, Gugat Arah Hukum di KTT Hukum Rakyat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/18/keadilan-terabaikan-gugat-arah-hukum-di-ktt-hukum-rakyat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/18/keadilan-terabaikan-gugat-arah-hukum-di-ktt-hukum-rakyat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Okt 2026 21:19:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05135126/Atuk-Sukar-Ketua-Adat-Suku-Mapur-di-Dusun-Pejem-Pulau-Bangka-yang-masih-menetap-di-sekitar-hutan-larangan-Bukit-Tabun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135217</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Semestinya hukum menjadi instrumen untuk menghadirkan keadilan.  Sayangnya, dalam praktik, aturan formal tak selalu sejalan dengan nilai, kebutuhan, dan rasa keadilan yang tumbuh di tengah masyarakat. Masalah itu menjadi makin mendesak ketika berhadapan dalam konteks konflik agraria, pengelolaan hutan, krisis iklim, dan pengakuan hak masyarakat adat dalam kehidupan bernegara. Demikian antara lain bahasan dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/18/keadilan-terabaikan-gugat-arah-hukum-di-ktt-hukum-rakyat/">Keadilan Terabaikan, Gugat Arah Hukum di KTT Hukum Rakyat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Semestinya hukum menjadi instrumen untuk menghadirkan keadilan.  Sayangnya, dalam praktik, aturan formal tak selalu sejalan dengan nilai, kebutuhan, dan rasa keadilan yang tumbuh di tengah masyarakat. Masalah itu menjadi makin mendesak ketika berhadapan dalam konteks konflik agraria, pengelolaan hutan, krisis iklim, dan pengakuan hak masyarakat adat dalam kehidupan bernegara. Demikian antara lain bahasan dalam konferensi pers bertajuk “Hukum Rakyat di Tengah Krisis Demokrasi dan Ekologis” yang Perkumpulan HuMa adakan di Jakarta pada 14 Oktober lalu. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Hukum Rakyat 2026 pada 19 &#8211; 20 Oktober 2026. Chalid Muhammad, anggota HuMa sekaligus Steering Committee KTT Hukum Rakyat 2026, menjelaskan,  Indonesia sejak awal tumbuh dari keragaman budaya, adat istiadat, nilai, dan tatanan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Realitas itu turut menjadi konteks dalam perumusan dasar kehidupan bernegara termasuk Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam perkembangan sistem hukum formal memperlihatkan kecenderungan yang makin menjauh dari nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Hukum perlahan-lahan dipersempit menjadi sekumpulan peraturan perundang-undangan yang diproduksi oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan formal. Sedang norma, pengetahuan, dan mekanisme pengaturan yang tumbuh melalui interaksi panjang masyarakat kerap tidak memperoleh tempat yang sepadan. “Mirisnya kemudian nilai-nilai, tatanan-tatanan, aturan-aturan yang tumbuh dalam masyarakat itu dikerucutkan seolah-olah hukum itu hanyalah satu kumpulan peraturan perundang-perundangan,” katanya. Persoalannya bukan terletak pada keberadaan hukum formal itu melainkan kecenderungan pembentukannya  yang mengabaikan kenyataan sosial dan rasa keadilan masyarakat. Dia menyoroti dominasi kekuatan ekonomi dan politik oleh segelintir kelompok yang dia nilai memiliki implikasi terhadap arah pembentukan peraturan. Dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/18/keadilan-terabaikan-gugat-arah-hukum-di-ktt-hukum-rakyat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/18/keadilan-terabaikan-gugat-arah-hukum-di-ktt-hukum-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lautan dan Isolasi, Rahasia Selandia Baru Tanpa Ular Darat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lautan-dan-isolasi-rahasia-selandia-baru-tanpa-ular-darat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lautan-dan-isolasi-rahasia-selandia-baru-tanpa-ular-darat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Okt 2026 10:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/10/22032720/Male_takahe_walking_on_grass-700x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135140</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Australia, ular menjadi bagian dari kehidupan alam, dari taipan pedalama (Oxyuranus microlepidotus) hingga ular cokelat timur (Pseudonaja textilis). Indonesia juga memiliki beragam jenis, termasuk kobra dan sanca. Namun, di Selandia Baru, ular darat bukan penghuni alami hutan dan padang rumputnya. Perbedaan ini menyimpan cerita tentang daratan yang terpisah, lautan yang menghalangi perpindahan satwa, serta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lautan-dan-isolasi-rahasia-selandia-baru-tanpa-ular-darat/">Lautan dan Isolasi, Rahasia Selandia Baru Tanpa Ular Darat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Australia, ular menjadi bagian dari kehidupan alam, dari taipan pedalama (Oxyuranus microlepidotus) hingga ular cokelat timur (Pseudonaja textilis). Indonesia juga memiliki beragam jenis, termasuk kobra dan sanca. Namun, di Selandia Baru, ular darat bukan penghuni alami hutan dan padang rumputnya. Perbedaan ini menyimpan cerita tentang daratan yang terpisah, lautan yang menghalangi perpindahan satwa, serta ekosistem yang berkembang melalui jalur berbeda selama jutaan tahun. Untuk memahami keunikan tersebut, kita perlu melihat jauh ke masa ketika Selandia Baru masih menjadi bagian dari Gondwana. Sekitar 80 juta tahun lalu, daratan yang kemudian menjadi Selandia Baru mulai memisahkan diri dari benua besar tersebut. Pemisahan ini menghasilkan isolasi geografis yang panjang. Lautan luas, dalam, dan dingin menjadi penghalang bagi perpindahan reptil darat dari wilayah lain. Berbeda dengan Indonesia yang berdekatan dengan daratan Asia, Selandia Baru tidak memiliki jalur darat yang memungkinkan ular datang dengan mudah. Jarak antardaratan menjadi faktor penting yang membatasi jenis satwa yang dapat mencapai dan menetap di kepulauan tersebut. Isolasi juga membentuk kehidupan burung-burungnya. Kiwi, kakapo, dan takahe merupakan contoh burung yang hidup tanpa kemampuan terbang, dengan aktivitas yang banyak berlangsung di permukaan tanah. Dalam ekosistem tempat mereka berevolusi, cara hidup tersebut dapat bertahan. Namun, kebiasaan bersarang di tanah dan keterbatasan menghindari predator pendatang membuat mereka rentan ketika lingkungan berubah. Karena itu, masuknya spesies asing menjadi persoalan besar bagi perlindungan satwa endemik. Keunikan yang terbentuk selama jutaan tahun dapat menghadapi tekanan baru dalam waktu jauh lebih singkat. Ancaman masuknya ular kini berkaitan dengan aktivitas manusia. Kapal, pesawat, dan kargo perdagangan membuka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lautan-dan-isolasi-rahasia-selandia-baru-tanpa-ular-darat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lautan-dan-isolasi-rahasia-selandia-baru-tanpa-ular-darat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Empat Orang Tewas Saat Padamkan Kebakaran di Taman Nasional Bromo</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/18/empat-orang-tewas-saat-padamkan-kebakaran-di-taman-nasional-bromo/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/18/empat-orang-tewas-saat-padamkan-kebakaran-di-taman-nasional-bromo/#respond</comments>
					<pubDate>18 Okt 2026 04:40:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/10174156/TNBTS-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135180</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menelan korban jiwa.  Empat personel pemadam kebakaran tewas usai berjuang memadamkan api. Tiga korban meninggal di lokasi kebakaran di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo Kamis (15/10/26) sore. Ketiganya adalah Sukaris, pegawai Balai Besar TNBTS (BBTNBTS),  Wisnu Yuda Pratama, dan Sefriel Ardiansyah pegawai PT [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/18/empat-orang-tewas-saat-padamkan-kebakaran-di-taman-nasional-bromo/">Empat Orang Tewas Saat Padamkan Kebakaran di Taman Nasional Bromo</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menelan korban jiwa.  Empat personel pemadam kebakaran tewas usai berjuang memadamkan api. Tiga korban meninggal di lokasi kebakaran di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo Kamis (15/10/26) sore. Ketiganya adalah Sukaris, pegawai Balai Besar TNBTS (BBTNBTS),  Wisnu Yuda Pratama, dan Sefriel Ardiansyah pegawai PT Mitra Indo Permai (MIP). Sedangkan satu korban lain,  Hendra Rony Wagiyanata, personel Manggala Agni BBTNBTS. Dia menghembuskan napas terakhir setelah tiga jam jalani perawatan di RSUD Tongas, Probolinggo. “Turut berduka cita atas meninggalnya personel saat memadamkan kebakaran,” kata Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala BBTNBTS dalam siaran pers yang Mongabay terima. Kebakaran bermula pada Selasa (13/10/26). Petugas BBTNBTS menerima informasi dari Kepala Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo pukul 14.23. Informasinya, kebakaran ladang di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan TNBTS. “Menindaklanjuti informasi, petugas TNBTS menuju lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk meminta bantuan personel memadamkan kebakaran,” kata Rudi. Sejumlah warga bersama perangkat desa berupaya memadamkan api. Karena jauh dari sumber air dan lokasi yang sulit untuk kendaraan penyemprot, pemadaman pun berlangsung secara manual menggunakan alat pemukul atau gepyok. Ternyata  api terus merambat masuk ke kawasan TNBTS hingga mencapai lokasi dengan medan yang terjal dan sulit terjangkau. “Akhirnya api berhasil dipadamkan Rabu 14 Oktober 2026 pukul 11.45,” katanya. Petugas terus memantau hingga malam dan memastikan tak ada api dan asap. Pada Kamis (15/10/26), pukul 09.20 dari Posko Karhut Cemoro Lawang, Probolinggo terlihat asap tebal di lokasi sebelumnya. Empat personel menuju lokasi dan berusaha memadamkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/18/empat-orang-tewas-saat-padamkan-kebakaran-di-taman-nasional-bromo/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/18/empat-orang-tewas-saat-padamkan-kebakaran-di-taman-nasional-bromo/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Sedih Novita dan Penderitaan Puluhan Orangutan Kalimantan Akibat Hutannya Terbakar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/18/kisah-sedih-novita-dan-penderitaan-puluhan-orangutan-kalimantan-akibat-hutannya-terbakar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/18/kisah-sedih-novita-dan-penderitaan-puluhan-orangutan-kalimantan-akibat-hutannya-terbakar/#respond</comments>
					<pubDate>18 Okt 2026 03:51:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/18034505/Orangutan-Novita1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135183</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, kalimantan, kera besar, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Novita adalah nama yang disematkan untuk orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) betina usia sekitar 5 tahun. Dia ditemukan bertahan di atas pohon sengon di kawasan Katune, Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 25 September 2026. Kawasan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar hebat. Selama dua hari, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/18/kisah-sedih-novita-dan-penderitaan-puluhan-orangutan-kalimantan-akibat-hutannya-terbakar/">Kisah Sedih Novita dan Penderitaan Puluhan Orangutan Kalimantan Akibat Hutannya Terbakar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Novita adalah nama yang disematkan untuk orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) betina usia sekitar 5 tahun. Dia ditemukan bertahan di atas pohon sengon di kawasan Katune, Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 25 September 2026. Kawasan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar hebat. Selama dua hari, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI berupaya mengevakuasinya dari lokasi tersebut. Novita berhasil diselamatkan, namun penderitaannya belum berakhir. &#8220;Kami menyelamatkannya dari area yang terbakar. Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,&#8221; kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS, seperti dikutip Phys.org, Jumat (9/10/26). Hal itu membuat jaringan di beberapa bagian tubuhnya rusak. Dokter hewan akhirnya memutuskan untuk mengamputasi empat ruas jari kaki Novita. Luka bakar itu bukan sekadar meninggalkan bekas pada tubuhnya. Cedera pada tangan dan kaki berpotensi memengaruhi kemampuan Novita untuk bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Proses pemulihannya butuh perhatian berkelanjutan. Yayasan BOS lalu meluncurkan kampanye penggalangan dana bertajuk “Beri Novita Kesempatan Kedua”. Kampanye diumumkan pada 10 Oktober 2026 lalu, dengan menargetkan penggalangan dana hingga US$20.000. Pada Sabtu malam (17/10/26), dana yang terkumpul telah mencapai US$3.427. Dana tersebut ditujukan untuk mendukung pemulihan Novita setelah berhasil diselamatkan dari kebakaran. Novita bukan satu-satunya orangutan korban kebakaran hutan yang berhasil diselamatkan. Pada 14 Oktober, seekor orangutan betina berumur sekitar 20 tahun yang kemungkinan kelaparan, dievakuasi oleh BKSDA Kalimantan Tengah dan Orangutan Foundation International (OFI), di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/18/kisah-sedih-novita-dan-penderitaan-puluhan-orangutan-kalimantan-akibat-hutannya-terbakar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/18/kisah-sedih-novita-dan-penderitaan-puluhan-orangutan-kalimantan-akibat-hutannya-terbakar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelusuri Asal-Usul Monyet Ekor Panjang untuk Kepentingan Penelitian, Benarkah dari Penangkaran?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/menelusuri-asal-usul-monyet-ekor-panjang-untuk-kepentingan-penelitian-benarkah-dari-penangkaran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/menelusuri-asal-usul-monyet-ekor-panjang-untuk-kepentingan-penelitian-benarkah-dari-penangkaran/#respond</comments>
					<pubDate>18 Okt 2026 00:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26153234/Monyet-Ekor-Panjang-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135139</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Label “hasil penangkaran” dalam dokumen perdagangan belum menjawab seluruh pertanyaan tentang asal-usul seekor monyet ekor panjang. Dari mana induknya berasal? Apakah kelahirannya tercatat? Apakah jumlah satwa sesuai dengan kemampuan fasilitas membiakkannya? Pertanyaan tersebut penting untuk menutup celah pengambilan Macaca fascicularis dari alam yang kemudian diklaim sebagai hasil penangkaran. Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menekankan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/menelusuri-asal-usul-monyet-ekor-panjang-untuk-kepentingan-penelitian-benarkah-dari-penangkaran/">Menelusuri Asal-Usul Monyet Ekor Panjang untuk Kepentingan Penelitian, Benarkah dari Penangkaran?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Label “hasil penangkaran” dalam dokumen perdagangan belum menjawab seluruh pertanyaan tentang asal-usul seekor monyet ekor panjang. Dari mana induknya berasal? Apakah kelahirannya tercatat? Apakah jumlah satwa sesuai dengan kemampuan fasilitas membiakkannya? Pertanyaan tersebut penting untuk menutup celah pengambilan Macaca fascicularis dari alam yang kemudian diklaim sebagai hasil penangkaran. Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menekankan perlunya pemeriksaan yang melampaui administrasi. “Yang pertama adalah tidak hanya mempercayai ‘klaim hasil penangkaran’ pada dokumen CITES,” katanya. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui penelusuran silsilah, identifikasi individu, catatan reproduksi, pemeriksaan genetik, dan pencocokan jumlah populasi. Riwayat setiap individu membantu menjelaskan asal-usul serta hubungan kekerabatannya, sementara rekaman kelahiran dapat dibandingkan dengan jumlah satwa yang dilaporkan. Audit fasilitas juga diperlukan untuk menilai kesesuaian data dengan kapasitas penangkaran. Rangkaian pemeriksaan tersebut memungkinkan klaim diuji menggunakan bukti pendukung. Dengan demikian, pencantuman kategori hasil penangkaran menjadi bagian dari proses verifikasi, bukan satu-satunya dasar untuk memastikan asal-usul satwa. Pengawasan juga perlu menjangkau penentuan jumlah monyet yang dapat dimanfaatkan dari alam. Menurut Fahma, kuota tidak semestinya hanya dihitung sebagai persentase perkiraan populasi. Penetapannya memerlukan analisis populasi dan Non-Detriment Finding, yakni penilaian untuk memastikan pemanfaatan tidak merugikan kelangsungan populasi liar. Tren jumlah individu, struktur umur, rasio kelamin, kemampuan reproduksi, dan tingkat kematian perlu diperhitungkan. Namun, kajian Mardiastuti dan kolega terhadap 369 publikasi periode 1992–2024 menemukan kesenjangan data populasi nasional serta pemantauan jangka panjang. Perbedaan metode survei juga menyulitkan perbandingan antarlokasi dan waktu. Dalam perdagangan lintas negara, konsistensi pencatatan menjadi perhatian lain. Amanda Faradifa dari AfA Macaque Coalition mengatakan perbedaan laporan negara pengekspor dan pengimpor&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/menelusuri-asal-usul-monyet-ekor-panjang-untuk-kepentingan-penelitian-benarkah-dari-penangkaran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/menelusuri-asal-usul-monyet-ekor-panjang-untuk-kepentingan-penelitian-benarkah-dari-penangkaran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>