<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=sapariah-saturi&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/sapariah-saturi/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 14 Jul 2026 09:23:57 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 09:23:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14090910/Orangutan-Sumatera-di-SRA-12-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130571</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam kurun waktu sekitar satu dekade, hutan-hutan di utara Sumatera diperkirakan kehilangan sekitar 2.700 individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut. Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/">Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam kurun waktu sekitar satu dekade, hutan-hutan di utara Sumatera diperkirakan kehilangan sekitar 2.700 individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut. Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di Sumatera. Hasil penelitian itu dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Global Ecology and Conservation berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023” edisi 20 Juni 2026. Riset ini dipimpin Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar, bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman. Dengan menggunakan metode yang sama seperti survei 2011, para peneliti menemukan populasi orangutan sumatera menurun sekitar 19,5 persen dalam satu dekade terakhir, atau rata-rata 1,8 persen setiap tahun. Dalam wilayah pembanding yang sama, jumlah orangutan sumatera diperkirakan turun dari sekitar 13.846 individu (2011) menjadi 11.146 individu (2023). Artinya, sedikitnya 2.700 orangutan sumatera hilang dalam periode tersebut, atau rata-rata sekitar 225 individu setiap tahun. “Perbandingan distribusi yang sama menunjukkan penurunan populasi orangutan sumatera sebesar 19,5 persen. Ini setara 1,8 persen per tahun,” tulis Adhi dan kolega dalam laporannya. Di tengah tren penurunan itu, Ekosistem Leuser masih menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84 persen populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat dan Leuser Timur, yang masing-masing diperkirakan menampung sekitar 4.935 individu dan 4.926 individu. Kepadatan tertinggi, ditemukan di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi. Kondisi ini, menjadikannya sebagai habitat orangutan sumatera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:56:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/05/22024852/Penyidik-kepolisian-dari-Polres-Mandailing-olah-TKP-di-lokasi-lubang-tambang-ilegal-menimbun-12-perempuan-pencari-butiran-emas-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130517</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatara Utara dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Situs penambangan emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) longsor dan menimbun sembilan orang pekerja, Sabtu (4/7/26). Dua orang meninggal dunia, yakni Erlin Nasution, warga Desa Tarlola dan Zulparman, warga Desa Aek Guo, Kecamatan Kotanopan. Insiden longsor hanya selang sehari setelah tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Perindustrian dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/">9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Situs penambangan emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) longsor dan menimbun sembilan orang pekerja, Sabtu (4/7/26). Dua orang meninggal dunia, yakni Erlin Nasution, warga Desa Tarlola dan Zulparman, warga Desa Aek Guo, Kecamatan Kotanopan. Insiden longsor hanya selang sehari setelah tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Perindustrian dan perdagangan, serta Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar operasi terpadu. Hingga laporan ini terbit, proses pencarian terhadap korban tersisa masih berlangsung. AKP Tri Boy Alvin Siahaan, Kasat Reskrim Polres Madina Siahaan, mengatakan, tim penyidik dari Satreskrim Polres Madina telah turun untuk amankan lokasi dengan memasang garis polisi. Selain membantu pencarian korban, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. &#8220;Untuk data kronologi lengkapnya masih kami kumpulkan. Beberapa saksi sudah kami mintai keterangan,” katanya Dia katakan, upaya penyelidikan tidak hanya menyangkut kecelakaan kerja yang merenggut korban jiwa juga mendalami aktor yang terlibat dalam penambangan emas tanpa izin  termasuk mencari tahu pemodalnya. “Terhadap dua korban meninggal, sudah berhasil dievakuasi ke rumah sakit. Untuk yang lain masih dalam proses pencarian,” katanya.  Dia bilang, proses pencarian berlangsung sangat hati-hati lantaran kondisi tanah di lokasi  belum stabil. Salah satu lokasi tambang emas ilegal di Madina, Sumatera Utara. Foto: Roby Ayat Karo-karo/Mongabay Indonesia. Bukan pertama kali Longsornya tambang emas ilegal di Madina bukan kali pertama terjadi. Azura Borotan, tim periset dari For Madina, mengatakan,  total ada belasan orang meninggal dunia di lokasi tambang  dalam  Januari 2025-Juli 2026. Beberapa insiden longsor  antara lain,  di Pegunungan Huta Bargot  Januari 2025 ada dua orang jadi &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:42:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14053428/20231020_on_mice_high_altitude_mouse-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130558</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertahan hidup di ketinggian ekstrem saja sudah cukup berat bagi kebanyakan mamalia, apalagi jika lingkungan tersebut juga menyimpan ancaman lain yang tidak kalah mematikan. Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) tidak hanya mampu hidup di puncak gunung berapi setinggi hampir 7.000 meter, tempat suhu nyaris selalu berada di bawah titik beku dan oksigen sangat tipis, tikus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/">Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertahan hidup di ketinggian ekstrem saja sudah cukup berat bagi kebanyakan mamalia, apalagi jika lingkungan tersebut juga menyimpan ancaman lain yang tidak kalah mematikan. Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) tidak hanya mampu hidup di puncak gunung berapi setinggi hampir 7.000 meter, tempat suhu nyaris selalu berada di bawah titik beku dan oksigen sangat tipis, tikus ini juga harus bertahan dari racun yang terkandung dalam tanah vulkanik dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 9 Juli 2026 mengungkap bagaimana mamalia kecil ini menjadi salah satu makhluk paling tangguh di dunia, dengan sebaran hidup terluas dari permukaan laut hingga puncak Andes. Puncak Gunung Berapi Salín (6.029 meter), salah satu lokasi penemuan tikus daun Andes di ketinggian ekstrem. Foto: Jay Storz Populasi tikus daun Andes yang hidup di puncak gunung berapi Llullaillaco, di perbatasan Argentina dan Chili, bertahan pada ketinggian 6.739 meter, tempat tekanan udara hanya 45 kilopascal, setara dengan kadar oksigen sekitar 44 persen dari yang tersedia di permukaan laut. Penelitian yang dipimpin oleh Schuyler Liphardt bersama tim dari University of Nebraska-Lincoln dan sejumlah institusi lain ini menggabungkan eksperimen fisiologis dengan analisis genom untuk memahami mekanisme adaptasi tikus daun Andes. Sebelum temuan ini, ketinggian seperti itu diyakini berada di luar batas kemampuan bertahan hidup mamalia mana pun, bahkan pendaki manusia yang terlatih dan teraklimatisasi hanya sanggup menahan kadar oksigen serendah itu selama pendakian satu hari, bukan untuk hidup menetap. Produksi Panas Tubuh yang Lebih Efisien Tim peneliti menguji kemampuan bernapas dan menghasilkan panas tubuh tikus dari populasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perairan Taman Nasional Komodo, Benteng Terakhir Pari Manta Karang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:40:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/06/22024331/Pari-manta-karang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130562</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah tekanan perikanan, pariwisata, dan perubahan iklim, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat paling penting bagi kelangsungan hidup pari manta karang (Mobula alfredi). Sebuah penelitian terbaru tahun 2022, mencatat sedikitnya 1.085 individu pari manta karang hidup di kawasan ini, menjadikannya populasi terbesar yang pernah didokumentasikan di dunia. Pari manta memilih perairan Komodo karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/">Perairan Taman Nasional Komodo, Benteng Terakhir Pari Manta Karang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah tekanan perikanan, pariwisata, dan perubahan iklim, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat paling penting bagi kelangsungan hidup pari manta karang (Mobula alfredi). Sebuah penelitian terbaru tahun 2022, mencatat sedikitnya 1.085 individu pari manta karang hidup di kawasan ini, menjadikannya populasi terbesar yang pernah didokumentasikan di dunia. Pari manta memilih perairan Komodo karena kaya plankton, sumber makanan utama mereka. Selain mencari makan, kawasan ini juga menjadi lokasi berkembang biak dan &#8220;stasiun pembersihan&#8221;, tempat ikan-ikan kecil membersihkan parasit dari tubuh pari manta. Menurut peneliti utama riset tersebut, Elitza Germanov dari Marine Megafauna Foundation, jumlah ini kemungkinan masih belum mencakup seluruh individu yang menghuni seluruh kawasan. Temuan ini memberi secercah harapan bagi spesies yang kini berstatus Rentan menurut Daftar Merah IUCN. Para ilmuwan menyebut populasi besar seperti di perairan TN Komodo dapat menjadi benteng terakhir yang menjaga spesies ini dari kepunahan lokal di berbagai wilayah lain. Meski Indonesia telah melarang penangkapan dan perdagangan pari manta sejak 2014, ancaman belum sepenuhnya hilang. Penangkapan ikan ilegal masih terjadi, sementara pari manta juga kerap menjadi tangkapan sampingan yang tidak disengaja. Dalam penelitian tersebut, 56 individu ditemukan memiliki luka yang diduga berasal dari alat tangkap perikanan. Tekanan juga datang dari sektor pariwisata. Meningkatnya aktivitas wisata bahari berpotensi mengganggu perilaku alami pari manta. Satwa ini dapat tertabrak kapal atau baling-baling, serta sensitif terhadap kebisingan dan kehadiran manusia yang berlebihan. Jika berlangsung terus-menerus, gangguan tersebut dikhawatirkan mempengaruhi kesehatan hingga keberhasilan reproduksi mereka. Di luar aktivitas manusia, krisis iklim memperumit keadaan. Kenaikan suhu laut, pengasaman laut, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mau Buat Mie, Donat, atau Pizza? Tepungnya Tersedia di Hutan Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 04:47:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/21101907/buah-aibon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130556</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi banyak orang, hutan mangrove identik dengan benteng alami penahan abrasi atau tempat hidup beragam satwa pesisir. Padahal, bagi banyak masyarakat pesisir Indonesia, mangrove juga merupakan dapur alami. Di dalam ekosistem inilah ikan, kepiting, kerang, hingga buah-buahan tumbuh dan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari. Kekayaan itu masih dapat dijumpai di Kampung Friwen, Raja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/">Mau Buat Mie, Donat, atau Pizza? Tepungnya Tersedia di Hutan Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi banyak orang, hutan mangrove identik dengan benteng alami penahan abrasi atau tempat hidup beragam satwa pesisir. Padahal, bagi banyak masyarakat pesisir Indonesia, mangrove juga merupakan dapur alami. Di dalam ekosistem inilah ikan, kepiting, kerang, hingga buah-buahan tumbuh dan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari. Kekayaan itu masih dapat dijumpai di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Bagi masyarakat setempat, mangrove bukan sekadar hutan yang harus dijaga, tetapi lumbung pangan yang menyediakan beragam bahan makanan. Saat air surut, warga mencari bia atau kerang di sela-sela akar mangrove. Kepiting bakau juga menjadi hasil tangkapan bernilai ekonomi tinggi, sementara berbagai jenis ikan memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat memijah, mencari makan, dan membesarkan anak sebelum berpindah ke laut lepas. Tak heran, kondisi mangrove yang sehat berbanding lurus dengan melimpahnya hasil tangkapan nelayan. Namun, ada satu sumber pangan mangrove yang mungkin belum banyak dikenal: buah mangrove. Di Friwen, masyarakat mengenalnya sebagai buah aibon, yang berasal dari kelompok mangrove Bruguiera. Dahulu, buah ini menjadi salah satu bahan pangan penting masyarakat pesisir Raja Ampat. Para tetua di kampung ini, mengisahkan bahwa tepung dari buah aibon kerap dibawa sebagai bekal perjalanan karena dapat disimpan dalam waktu lama. Seiring perubahan pola konsumsi dan masuknya bahan pangan dari luar, tradisi tersebut perlahan menghilang, hingga hanya sedikit orang yang masih menguasai cara mengolahnya. Mengolah buah mangrove memang membutuhkan kesabaran. Buah aibon tidak bisa langsung dimakan karena mengandung tanin yang membuat rasanya pahit. Setelah dipanen, kulit buah dikupas, lalu direbus untuk mengurangi kandungan tanin. Selanjutnya buah ditumbuk hingga menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 03:30:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13014901/FB_IMG_1783332340719-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130346</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, kelautan dan perikanan, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pencemaran, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Siang itu, akhir Juni lalu, air laut di Pantai Ciberi mulai bergelombang pasang surut, dedaunan tertiup angin, sebagian sampah plastik terbang masuk ke laut Teluk Youtefa. Hanya sekitar 100 meter dari situ, ada para perempuan adat Suku Enggros-Tobati menjaga dan melestarikan hutan mangrove di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua setiap hari. Tiap hari, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/">Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Siang itu, akhir Juni lalu, air laut di Pantai Ciberi mulai bergelombang pasang surut, dedaunan tertiup angin, sebagian sampah plastik terbang masuk ke laut Teluk Youtefa. Hanya sekitar 100 meter dari situ, ada para perempuan adat Suku Enggros-Tobati menjaga dan melestarikan hutan mangrove di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua setiap hari. Tiap hari, saat air surut, Persila Sanyi bersama perempuan adat Suku Enggros-Tobati yang lain pergi ke hutan mangrove yang mereka sebut hutan perempuan. Hanya perempuan yang boleh mengunjungi kawasan itu dan pergi tanpa busana. Tradisi ini mereka sebut tonot wiyat atau hutan perempuan. Tonot artinya hutan bakau dan wiyat berarti ajakan. Tradisi ini mengajak para perempuan Enggros Tobati untuk mengunjungi hutan mangrove. “Di dalam hutan itu ada budaya yang kami jaga, yang kami pelihara. Yang kami lestarikan itu bagaimana perempuan, ketika ada di dalam hutan, perempuan beraktivitas tidak menggunakan busana. Jadi di situlah kebebasan perempuan didapat,” ujar Mama Persila, di Kampung Enggros, Kamis (14/5/26). Perempuan adat Enggros membudidaya mangrove yang sudah ditanam di hutan perempuan, di Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua. Foto: Larius Kogoya/Mongabay. Indonesia Tiap hari, mereka ke hutan perempuan ketika air surut. Mereka mencari bia (kerang), kepiting, udang, burung, kayu bakar dan ikan. Biasanya di hutan perempuan mereka sambil bercerita, tertawa dan bertukar pikiran. “Perempuan merasakan kebebasan sepenuhnya di hutan perempuan. Hutan itu juga menjadi ruang belajar dan pendidikan di hutan bakau,” katanya. Kadang-kadang, mereka juga membuat bibit mangrove, lalu menanamnya. Enggros menjadi satu dari beberapa kampung di Kota Jayapura, seperti Kampung Tobati, Kayo Pulo,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Udara Bisa Bahayakan Kesehatan Fisik dan Mental</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 00:20:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22011025/Polusi-udara-Jakarta-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130546</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polusi udara di Jakarta dan sekitar sudah jadi keseharian. Tanggerang Selatan, Banten, salah satu titik episentrum polusi. Masyarakat perlu menyadari dan melakukan aksi atau ubah perilaku untuk meminimalisir risiko kesehatan fisik dan mental serta mengurang kondisi jadi lebih buruk. Wisya Aulia Prayudi,  Urban &#38; Environmental Health Lead CISDI mengatakan, Tangerang Selatan, salah satu kota paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/">Polusi Udara Bisa Bahayakan Kesehatan Fisik dan Mental</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polusi udara di Jakarta dan sekitar sudah jadi keseharian. Tanggerang Selatan, Banten, salah satu titik episentrum polusi. Masyarakat perlu menyadari dan melakukan aksi atau ubah perilaku untuk meminimalisir risiko kesehatan fisik dan mental serta mengurang kondisi jadi lebih buruk. Wisya Aulia Prayudi,  Urban &amp; Environmental Health Lead CISDI mengatakan, Tangerang Selatan, salah satu kota paling berpolusi di Indonesia. Rata-rata dari kualitas udara mulai dari tidak sehat sampai ke buruk. Aktivitas manusia sangat mempengaruhi kualitas udara. “Makin banyak mobilitas menggunakan kendaraan bermotor maka makin besar emisi gas buang hingga tingkat polusi udara cenderung meningkat,” katanya, dalam diskusi “Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel” inisiasi Center for Indonesia&#8217;s Strategic Development Initiatives (CISDI) di Tangerang Selatan,  Juni lalu. Cuaca, katanya,  turut andil memberikan dampak. Biasa rata-rata kualitas udara itu membaik pada musim hujan. Karena hujan bisa “mencuci’ polutan di udara dan menurunkan ke tanah. Sebaliknya,  ketika musim kemarau kualitas udara memburuk. Wisya katakan, polusi udara di Tangerang Selatan antara lain karena kendaraan bermotor yang terus meningkat seiring kemudahan kepemilikan seperti sistem cicilan. Sampai 2025,  menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, ada 1,3 juta kendaraan bermotor. Kawasan industri yang berdekatan dengan Tangerang Selatan turut menjadi penyumbang emisi signifikan. Faktor lain, yang sering tidak disadari adalah pembakaran sampah sembarangan. Praktik ini, katanya,  dapat menghasilkan super polutan berbahaya bagi kualitas udara dan berdampak pada kesehatan. ‘Kan ini cukup ramai di Tangerang Selatan kemarin-kemarin. Asap hitamnya itu berbahaya banget,” katanya. Kualiatas udara buruk di Jakarta dan beberapa daerah sekitar (Jabodetabek). Masyarakat sudah sulit dapatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 09:15:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07064905/SaveClip.App_568176351_18382487137183415_733977403012204759_n-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130181</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak 2019, Julian Puput Lendri tinggal di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta. Tiap hari, sayur dan bahan dapur menjadi barang rebutan. Saat kapal sayur datang, banyak orang berkerumun. Pengalaman ini tak pernah terjadi saat dia tinggal di Jakarta. Tiap tengah hari atau sekitar pukul 2 siang, para perempuan mulai berkumpul di sekitar Dermaga Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/">Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak 2019, Julian Puput Lendri tinggal di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta. Tiap hari, sayur dan bahan dapur menjadi barang rebutan. Saat kapal sayur datang, banyak orang berkerumun. Pengalaman ini tak pernah terjadi saat dia tinggal di Jakarta. Tiap tengah hari atau sekitar pukul 2 siang, para perempuan mulai berkumpul di sekitar Dermaga Pulau Kelapa. Semula, mereka membuat antrean, tetapi itu menjadi kacau saat kapal sayur mulai merapat. Ibu-ibu saling berebutan kebutuhan untuk mengisi meja makan hari ini. Suasananya sangat riuh. “Di sini kalau sayur berebut. Kita sampai ke tukang sayur, semuanya habis. Mending kalau segar, nggak segar pula kita dapetnya, tapi cepat habis,” kata Julian sambil tertawa, Selasa (10/6/25). Semua kebutuhan sayur, warga Pulau Kelapa masih bergantung pada Jakarta. Kapal sayur setidaknya menempuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai tepian dermaga. Jika cuaca tak bersahabat, kapal tak akan merapat. “Itu (sayur) kadang (di kapal) ya keinjek-injek, kena panas hawa mesin. Sampai sini, ya layu,” ujarnya. Julian tak ada pilihan, dia tetap memburunya. “Kalau disini tetap, walaupun kuning, berebut,&#8221; katanya. Akibat biaya transportasi yang tinggi, harga sayuran pun meningkat dua kali lipat, misal, kangkung seharga Rp2.000-2.500 per ikat menjadi Rp5.000-Rp7.500. Rak hidroponik berisi berbagai jenis sayuran daun di kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. Foto: Dokumentasi pulauseribu.jakarta.go.id Keresahan Julian juga warga Pulau Kelapa rasakan. Hingga akhirnya, sejak 2018, para perempuan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun dengan binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Kepulauan Seribu. Mereka mengajukan inisiatif untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Tokek Lebih Nyaman Hidup Dekat Manusia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 08:12:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13080533/Tokek-rumah-Foto-Falahi-Mubarok-Mongabay2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130533</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Benarkah tokek lebih suka hidup di sekitar manusia ketimbang hutan? Pertanyaan tersebut mendorong para peneliti menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu, untuk membuktikan anggapan tersebut Hasilnya menunjukkan bahwa dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Temuan tersebut membuka cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/">Apakah Tokek Lebih Nyaman Hidup Dekat Manusia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Benarkah tokek lebih suka hidup di sekitar manusia ketimbang hutan? Pertanyaan tersebut mendorong para peneliti menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu, untuk membuktikan anggapan tersebut Hasilnya menunjukkan bahwa dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Temuan tersebut membuka cara pandang kita tentang kemampuan reptil yang dikenal Gekko gecko ini beradaptasi di tengah perubahan bentang alam. Muhammad Fakhri Fauzan (31), peneliti utama dalam studi yang dipublikasikan di Jurnal Biologi Indonesia (2022), menjelaskan temuan paling menarik tak sekedar jumlah individu, tetapi juga  kemampuan tokek beradaptasi. “Hampir setiap tiang listrik yang kami lewati ada tokeknya,” jelas Fakhri, kandidat doktor Biosains Hewan, IPB University, Jum’at (10/7/26). Penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan IPB itu, mencatat 273 individu tokek melalui pengamatan langsung. Berdasarkan kepadatan populasi, tim memperkirakan daratan Kepulauan Seribu dihuni sekitar 11.930 individu dengan kepadatan rata-rata 13,6 individu per hektar. Habitat tokay gecko sebenarnya berada di kawasan hutan. Namun, perubahan bentang alam membuat satwa nokutrnal ini beradaptasi dengan lingkungan permukiman. “Kondisi yang menguntungkan bagi mereka.” Tokek rumah yang sering terdengar keras suaranya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Menurut Fakhri, lampu-lampu rumah yang menyala malam hari menarik kehadiran berbagai serangga mulai ngengat, laron, hingga kumbang. Bagi reptil yang masuk CITES Apendiks II ini, kondisi tersebut menyediakan sumber pakan melimpah. “Tokek hanya menunggu mangsa datang.” Bangunan juga menjadi tempat berlindung. Celah dinding, rongga di balik atap, hingga lubang pada tiang listrik merupakan lokasi aman untuk tokek beristirahat dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya &#8220;Mata Kedua&#8221; di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:41:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13033756/Aipysurus_laevis_23225579-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130507</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/">Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya &#8220;Mata Kedua&#8221; di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons terhadap cahaya yang terjadi langsung melalui kulit, tanpa melibatkan organ mata sama sekali. Fenomena ini pertama kali diungkap secara menyeluruh oleh tim peneliti dari University of Adelaide yang dipimpin Jenna Crowe-Riddell. Hasil penelitian mereka terbit di jurnal Molecular Ecology, dengan judul &#8220;Phototactic tails: Evolution and molecular basis of a novel sensory trait in sea snakes&#8220;. Sebelum penelitian ini, kemampuan serupa memang sempat tercatat pada beberapa hewan air lain seperti ikan dan amfibi, namun belum pernah diteliti secara sistematis pada reptil. Untuk memastikan sejauh mana kemampuan ini tersebar, tim peneliti menguji 17 ekor ular laut dari delapan spesies berbeda. Hasilnya, kemampuan mendeteksi cahaya lewat ekor tidak hanya dimiliki ular laut zaitun, tapi juga ditemukan pada dua spesies lain, yaitu A. duboisii dan A. tenuis. Sebaliknya, lima spesies lain yang diuji, termasuk beberapa dari genus Hydrophis, tidak menunjukkan respons serupa sama sekali. Dari pola ini, peneliti menduga kemampuan tersebut berevolusi pada nenek moyang bersama dari enam spesies dalam genus Aipysurus, atau sekitar 10 persen dari total spesies ular laut yang ada saat ini. Secara biologis, kulit di bagian ekor ular ini mengandung sel-sel yang peka terhadap cahaya, tapi cara kerjanya jauh berbeda dari mata. Sel ini tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Semua Spesies Badak Bernasib Sama, Apa yang Membedakan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:37:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/24042744/Sumatran_rhinoceros_four_days_old-1200x817-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130508</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/">Tidak Semua Spesies Badak Bernasib Sama, Apa yang Membedakan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang terlalu kecil untuk dapat bertahan dalam jangka panjang. Selama lebih dari dua dekade, konservasionis berupaya melindungi badak dari pemburu liar. Pendorong utamanya masih sama: tingginya permintaan cula badak di Asia Timur. Cula diperdagangkan sebagai simbol status dan digunakan dalam pengobatan tradisional, meski berbagai penelitian telah membantah manfaat medisnya. Nilai jualnya di pasar gelap bahkan dilaporkan dapat melampaui emas atau berlian. Berbagai strategi konservasi pun diterapkan, mulai dari patroli bersenjata, pemotongan cula (dehorning), hingga penelitian reproduksi berbantu. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, tetapi belum cukup untuk mengamankan seluruh spesies badak. Laporan terbaru tersebut memperlihatkan bahwa kondisi lima spesies badak kini berkembang ke arah berbeda. Badak bercula satu besar (Rhinoceros unicornis) di India dan Nepal berhasil menunjukkan pemulihan populasi signifikan. Badak hitam (Diceros bicornis) di Afrika juga mengalami peningkatan, dengan jumlah populasi diperkirakan naik sekitar 10 persen, dari 6.195 individu pada 2021 menjadi 6.788 individu pada 2024. Sebaliknya, tiga spesies lainnya masih berada dalam tren penurunan. Populasi badak putih (Ceratotherium simum) di Afrika turun dari 15.942 menjadi 15.752 individu dan kini mencapai titik terendah dalam hampir dua dekade. Menurut para peneliti, ancaman terhadap badak putih tidak lagi hanya berasal dari perburuan. Kekeringan berkepanjangan yang diperparah krisis iklim&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Logam Berat pada Daging Hiu Ancam Perkembangan Janin dan Anak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:08:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/18101114/Seorang-nelayan-mengangkat-hiu-hasil-tangkapannya-di-sekitar-Pulau-Semujur-Kepulauan-Bangka-Belitung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130504</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan. Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/">Logam Berat pada Daging Hiu Ancam Perkembangan Janin dan Anak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan. Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling berisiko mengalami dampaknya bukanlah orang dewasa sehat, melainkan ibu hamil, janin yang sedang dikandung, serta anak-anak yang sistem sarafnya masih berkembang. Ancaman ini berawal dari posisi hiu sebagai predator puncak di lautan. Sepanjang hidupnya, hiu memangsa berbagai ikan dan hewan laut lain yang telah menyerap polutan dari lingkungan. Merkuri, arsenik, kadmium, dan timbal menumpuk di tubuh hiu melalui proses bioakumulasi. Akibatnya, kadar logam berat pada hiu jauh lebih tinggi dibandingkan banyak jenis ikan lainnya. Di antara berbagai logam berat tersebut, merkuri dalam bentuk metilmerkuri menjadi perhatian utama karena mampu menyerang sistem saraf manusia. Para peneliti menggunakan indikator yang disebut Target Hazard Quotient (THQ) untuk memperkirakan risiko kesehatan akibat paparan logam berat sepanjang hidup. Nilai THQ di bawah satu umumnya dianggap masih dapat ditoleransi, sedangkan di atas satu menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan. Pada beberapa spesies hiu yang banyak dikonsumsi, nilai THQ bahkan mencapai puluhan kali di atas batas tersebut, sehingga para peneliti tidak lagi merekomendasikan mengkonsumsinya. Risiko terbesar muncul pada masa kehamilan. Berbeda dengan banyak zat lain yang dapat disaring tubuh, metilmerkuri mampu menembus plasenta. Artinya, ketika seorang ibu hamil mengkonsumsi daging hiu yang mengandung metilmerkuri, zat tersebut tidak hanya masuk ke tubuh sang ibu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 01:12:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/11163802/Jajaran-Bukit-Gunung-Salakan-dan-Papan-Penunjuk-Arah-Untuk-Evakuasi-Saat-Bencana-Datang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130452</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nur Aini melangkah menyusuri jalan setapak menuju kebunnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (8/6/26). Dia sudah hafal betul setiap sudut kawasan itu. Termasuk, letak pondokan para petani, jalur ke kebun, hingga batas-batas lahan yang masyarakat kelola. Hari itu, Paini, sapaan akrabnya,  menemukan ada yang berbeda. Di satu sudut areal kerja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/">Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nur Aini melangkah menyusuri jalan setapak menuju kebunnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (8/6/26). Dia sudah hafal betul setiap sudut kawasan itu. Termasuk, letak pondokan para petani, jalur ke kebun, hingga batas-batas lahan yang masyarakat kelola. Hari itu, Paini, sapaan akrabnya,  menemukan ada yang berbeda. Di satu sudut areal kerja Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonoasih Makmur Sejahtera (WAMS), berdiri  pondok beratap terpal yang belum pernah dia lihat sebelumnya. &#8220;Saya langsung tahu itu bukan pondok petani. Saya hafal semua pondok yang ada di sini,&#8221; katanya. Rasa penasaran segera berubah menjadi kegelisahan ketika Paini bersama 15 petani lain mengetahui pondok itu milik tim survei geolistrik yang tengah bekerja di Gunung Salakan. &#8220;Yang membuat saya heran, mereka mendirikan pondok di lahan  yang kami kelola tanpa pernah memberitahu saya ataupun pengurus kelompok tani,&#8221; katanya. Menurut Paini, sekitar 20 orang berada di lokasi ketika itu. Dia menduga aktivitas itu  berkaitan dengan rencana eksplorasi emas di wilayah yang selama beberapa tahun terakhir masuk dalam konsesi eksplorasi perusahaan tambang. Bagi sebagian orang, survei geolistrik mungkin hanya kegiatan ilmiah untuk memetakan kondisi bawah permukaan bumi. Namun bagi warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi itu, aktivitas ini membangkitkan ingatan lama soal  berubahnya  Gunung Tumpang Pitu akibat tambang emas. &#8220;Kami tidak ingin Salakan bernasib seperti Tumpang Pitu. Gunung ini bukan hanya tempat kami bertani, tetapi juga jalur penyelamatan jika tsunami datang. Salakan harus tetap lestari,&#8221; tegas Paini. Aksi solidaritas warga Banyuwangi tolak tambang emas Tumpang Pitu, PT Bumi Suksesindo, kala sidang putusan Budi Pego di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 07:30:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/23195051/Setelah-gagal-operasi-sejumlah-peralatan-di-PLTU-Koto-Ringin-dicuri.-Kasusnya-sampai-ke-pengadilan.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125143</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Setengah Hati Beralih ke Energi Terbarukan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Yayasan Indonesia Cerah mengusulkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Koto Ringin, Kabupaten Siak, Riau, yang mangkrak hampir dua dekade, jadi sumber pembangkit energi bersih dan terbarukan, bersumber matahari (surya). Mereka sampaikan itu pada sejumlah pejabat Siak, akhir Mei. “Kami ingin bantu Pemkab Siak cari pilihan atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/">Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Yayasan Indonesia Cerah mengusulkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Koto Ringin, Kabupaten Siak, Riau, yang mangkrak hampir dua dekade, jadi sumber pembangkit energi bersih dan terbarukan, bersumber matahari (surya). Mereka sampaikan itu pada sejumlah pejabat Siak, akhir Mei. “Kami ingin bantu Pemkab Siak cari pilihan atau alternatif, agar aset ini tidak terhenti dengan menggunakan peluang yang ada. Pemerintah daerah harus berperan dan kontribusi dalam kebijakan transisi energi berkeadilan,” kata Ahlul Fadli, Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Riau. Kedua lembaga ini menawarkan dua sumber energi bersih untuk menggantikan aset PLTU Koto Ringin yang terbengkalai itu yakni pembangkit listrik energi surya dan hibrid, gabungan surya dan bersumber air (mini hidro). Data Global Horizontal Irradiation (GHI) mencatat potensi energi surya di Siak, berkisar antara 1.580-1.657 kWh/m2/tahun. Angka ini tergolong baik dengan estimasi kapasitas antara 18%-18,9% jadi perlu  PLTS sekitar 23,3 MWp untuk menghasilkan energi listrik 36.792 MWh per tahun,  setara kapasitas PLTU Koto Ringin 2&#215;3,5 megawatt (MW) itu. Lahan pun hanya 24,2 hektar, lebih sedikit ketimbang areal PLTU Koto Ringin saat ini, 30 hektar. “Sehingga menyisakan ruang cukup luas untuk pengembangan lanjutan atau fungsi pendukung lainnya,” kata Sartika Nur Shalati, Peneliti Yayasan Indonesia Cerah. Kondisi itu makin memperkuat argumen PLTS merupakan alternatif pembangkit efisien secara spasial dan lebih ramah lingkungan. Dari segi investasi, proyek PLTS 23,3 MWp akan memerlukan estimasi capital expenditure (capex) antara US$16,31 juta&#8211;US$20,97 juta,  kurs Rp16.500, dengan biaya  Rp269 miliar-Rp346 miliar. PLTU, katanya, memang lebih konsisten menghasilkan daya listrik sepanjang waktu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anatomi Hujan Jakarta: Ada &#8220;Penumpang Gelap&#8221; Beracun di Setiap Tetesnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 04:49:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22002556/ANTISIPASI-MENINGKATNYA-POLUSI-UDARA-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130468</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, pencemaran air, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan Anda sedang berdiri di bawah rintik hujan Jakarta, menikmati udara yang perlahan mendingin. Namun, sains punya kabar kurang romantis: air hujan tersebut tidak lagi murni. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa setiap tetes air hujan yang membasahi Ibu Kota kini telah terkontaminasi mikroplastik, serpihan plastik tak kasat mata yang berukuran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/">Anatomi Hujan Jakarta: Ada &#8220;Penumpang Gelap&#8221; Beracun di Setiap Tetesnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan Anda sedang berdiri di bawah rintik hujan Jakarta, menikmati udara yang perlahan mendingin. Namun, sains punya kabar kurang romantis: air hujan tersebut tidak lagi murni. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa setiap tetes air hujan yang membasahi Ibu Kota kini telah terkontaminasi mikroplastik, serpihan plastik tak kasat mata yang berukuran kurang dari 5 milimeter hingga 1 mikrometer. Muhammad Reza Cordova, Profesor Riset BRIN, bersama timnya telah melacak fenomena ini sejak 2022. Hasilnya mengejutkan: di wilayah pesisir Jakarta saja, rata-rata ada 15 partikel mikroplastik yang jatuh di setiap meter persegi tanah setiap harinya. Dalam dunia sains, fenomena langit yang &#8220;muntah&#8221; plastik ini disebut sebagai atmospheric microplastic deposition. Bagaimana bisa plastik naik ke langit? Ini adalah konsekuensi dari hukum alam yang brutal: plastik tidak pernah benar-benar hancur, mereka hanya menolak hancur dan memilih menua menjadi potongan yang lebih kecil. Di kota sibuk seperti Jakarta, yang menghasilkan ribuan ton sampah plastik setiap hari, degradasi plastik terjadi secara masif di ruang terbuka. Ditambah lagi dengan gesekan ban kendaraan di aspal, asap pembakaran, hingga serat kain sintetis dari pakaian yang kita jemur. Partikel yang super ringan ini kemudian terbawa oleh hembusan angin dan udara hangat, terbang tinggi ke atmosfer, berbaur dengan awan, dan akhirnya turun kembali ke bumi saat hujan deras tiba. Masalahnya, partikel mikroplastik ini bukanlah remahan biasa. Mereka layaknya &#8220;spons beracun&#8221; yang membawa zat kimia berbahaya seperti BPA (Bisphenol A) dan ftalat. Ketika jatuh ke bumi, mikroplastik ini mengalir ke sungai, meresap ke lahan pertanian, hingga mencemari sumber&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Efek Deforestasi, Nyamuk Hutan Terpaksa &#8220;Ganti Selera&#8221; Gigit Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 04:37:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/18165148/51264-1.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130466</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kerusakan hutan ternyata tidak hanya membuat satwa besar kehilangan rumah, tetapi juga mengubah perilaku serangga kecil seperti nyamuk. Sebuah studi terbaru dari Hutan Atlantik (Atlantic Forest) di Brasil mengungkapkan fenomena sains yang mengkhawatirkan: nyamuk-nyamuk liar kini mulai beralih memburu darah manusia sebagai menu makanan utama mereka. Fenomena ini dipicu oleh menyusutnya habitat alami akibat ulah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/">Efek Deforestasi, Nyamuk Hutan Terpaksa &#8220;Ganti Selera&#8221; Gigit Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kerusakan hutan ternyata tidak hanya membuat satwa besar kehilangan rumah, tetapi juga mengubah perilaku serangga kecil seperti nyamuk. Sebuah studi terbaru dari Hutan Atlantik (Atlantic Forest) di Brasil mengungkapkan fenomena sains yang mengkhawatirkan: nyamuk-nyamuk liar kini mulai beralih memburu darah manusia sebagai menu makanan utama mereka. Fenomena ini dipicu oleh menyusutnya habitat alami akibat ulah manusia. Hutan Atlantik dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Namun, akibat ekspansi manusia dan deforestasi, kini hanya tersisa sepertiga dari luas aslinya dalam bentuk potongan-potongan hutan yang terisolasi. Kehilangan habitat ini memicu efek domino: mamalia, burung, dan amfibi yang biasanya menjadi inang alami, alias sumber darah bagi nyamuk hutan, mulai punah atau bermigrasi. Ketika &#8220;makanan&#8221; alami mereka menghilang, nyamuk-nyamuk ini harus beradaptasi untuk bertahan hidup. Pilihan paling mudah dan melimpah di sekitar mereka tak lain adalah manusia. Untuk membuktikan pergeseran perilaku ini, tim peneliti dari Institut Oswaldo Cruz dan Universitas Federal Rio de Janeiro melakukan eksperimen di dua cagar alam yang dikelilingi permukiman. Mereka memasang perangkap cahaya dan berhasil mengumpulkan 1.714 ekor nyamuk dari 52 spesies berbeda. Fokus utama mereka adalah nyamuk betina yang perutnya buncit karena kekenyangan mengisap darah. Di laboratorium, para ilmuwan menggunakan teknik canggih berupa analisis DNA untuk melacak dari mana asal darah di dalam perut nyamuk tersebut. Hasilnya mengejutkan! Dari sampel yang teridentifikasi secara akurat, mayoritas besar, yaitu 18 dari 24 sampel, berisi darah manusia. Sisanya hanyalah campuran kecil dari darah anjing, tikus, burung, dan amfibi. Bahkan, ada nyamuk yang terdeteksi membawa darah campuran antara amfibi dan manusia, membuktikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>12 Individu Spesies Baru Hiu Berjalan Ditemukan di Perairan Dangkal, Berpotensi Rentan Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 02:15:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/12020850/Currie_BREAKER_dcd534.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130460</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim peneliti kelautan dari University of the Sunshine Coast, Australia, mengumumkan penemuan spesies baru hiu berjalan di perairan Milne Bay, ujung tenggara Papua Nugini. Spesies ini diberi nama Hemiscyllium dudgeonae, atau Dudgeon&#8217;s Walking Shark, sesuai nama peneliti yang menangkap spesimen pertamanya secara langsung dengan tangan, Christine Dudgeon. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the Ocean [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/">12 Individu Spesies Baru Hiu Berjalan Ditemukan di Perairan Dangkal, Berpotensi Rentan Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim peneliti kelautan dari University of the Sunshine Coast, Australia, mengumumkan penemuan spesies baru hiu berjalan di perairan Milne Bay, ujung tenggara Papua Nugini. Spesies ini diberi nama Hemiscyllium dudgeonae, atau Dudgeon&#8217;s Walking Shark, sesuai nama peneliti yang menangkap spesimen pertamanya secara langsung dengan tangan, Christine Dudgeon. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the Ocean Science Foundation. Hiu berjalan adalah kelompok hiu kecil dalam genus Hemiscyllium yang menggunakan sirip dada dan sirip perut yang berotot untuk bergerak melintasi rataan terumbu karang (reef flat) yang terpapar udara saat air surut. Dengan cara ini, mereka berpindah antar kolam-kolam kecil sisa air laut di celah karang untuk mencari mangsa, dan mampu bertahan hingga dua jam dalam kondisi kadar oksigen rendah tersebut. Kemampuan bertahan dalam kondisi hipoksia ini sebelumnya sudah diteliti pada spesies yang lebih dulu dikenal, hiu epaulette (Hemiscyllium ocellatum), yang mendapat namanya dari bercak gelap di belakang sirip depan menyerupai tanda pangkat militer. Menurut Dudgeon, penemuan spesies hiu baru tergolong jarang terjadi. &#8220;Spesies hiu baru tidak sering ditemukan, dan ini jelas yang pertama diberi nama sesuai nama saya,&#8221; ujarnya dalam pernyataan resmi dari University of the Sunshine Coast. Pola Garis Putih yang Berbeda dari Perkiraan Setelah spesimen pertama dibawa ke atas kapal, tim peneliti mengukur panjang tubuhnya, sekitar 90 sentimeter, dan mengambil sampel darah untuk analisis genetik. Hasil analisis ini yang menjadi dasar utama konfirmasi bahwa hiu tersebut merupakan spesies baru, bukan sekadar variasi dari spesies yang sudah dikenal. Spesies ini menjadi hiu berjalan pertama yang dideskripsikan sejak 2013. Yang menarik perhatian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Biarkan Siamang Hidup Liar di Hutan [3]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 01:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08150745/Siamang-di-Taman-Wisata-Kera-Sibaganding-Sumatera-Utara-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130298</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tepi Danau Toba, tepatnya di Monkey Forest Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, suara dedaunan yang bergesekan kerap bersahutan dengan pekikan suara primata. Di antara rimbun pepohonan itu, seorang pria berdiri sambil membawa pisang. Dia memanggil satu per satu “penghuni” hutan. Baginya, merekaini bukan sekadar satwa liar, melainkan keluarga. “Keinginan saya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/">Biarkan Siamang Hidup Liar di Hutan [3]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tepi Danau Toba, tepatnya di Monkey Forest Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, suara dedaunan yang bergesekan kerap bersahutan dengan pekikan suara primata. Di antara rimbun pepohonan itu, seorang pria berdiri sambil membawa pisang. Dia memanggil satu per satu “penghuni” hutan. Baginya, merekaini bukan sekadar satwa liar, melainkan keluarga. “Keinginan saya, tidak ada lagi primata mengemis di jalan,” kata Abdul Rahman Manik, Minggu (12/10/26). Selain itu, keselamatan pengguna jalan juga penting. Jalan di pinggir Danau Toba terjal, sempit dengan tikungan tajam, serta  banyak jurang. “Ketika fokus pengemudi terganggu, karena memberi makan primata, bisa berbahaya untuk mereka sendiri dan pengguna jalan lain.” Abdul Rahman Manik yang peduli pada kehidupan siamang dan berharap mereka hidup liar di hutan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Pria yang akrab disapa Detim Manik itu bukan orang baru. Dia anaknya Umar Manik, seorang parherek, sebutan lokal bagi penjaga kera yang sejak 1984 merawat hutan kecil di Sibaganding. Tradisi itu turun kepadanya, meski dengan cara berbeda. Saat mengambil alih pengelolaan kawasan pada usia 22 tahun pada 2013, Detim berhadapan pada kenyataan mengusik. Kawanan primata turun ke jalan raya, mengais makanan dari pengendara. “Kera di sini juga kerap berkonflik dengan warga, bahkan ada yang ke setrum pagar listrik di area pertanian warga.” Di kawasan ini terdapat empat jenis primata, yaitu beruk, kera ekor panjang, siamang, dan kiak-kiak. Namun keterbatasan pakan membuat mereka meninggalkan habitatnya. Risiko paling besar mengintai siamang. Primata arboreal itu, jika turun ke jalan, rentan kena buru atau ditangkap. “Kalau siamang turun, bisa diambil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Tapir di Mesuji, Muncul di Jalan Lintas Sumatera Berakhir Jadi Rica-rica</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 10:06:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/11095550/Tapirus-indicus-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130439</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangkapan video viral memperlihatkan seekor tapir tampak kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, pada Kamis sore (2/7/26). Beberapa jam lagi, malam tiba. Waktu bagi tapir ini mencari makan karena sifatnya nokturnal/aktif malam hari. Beberapa orang terlihat mengelilinginya. Mereka berusaha menghalau satwa liar dilindungi itu ke pinggir. Jalan Lintas Sumatera di wilayah Register 45, Mesuji, Lampung, sore [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/">Kisah Tapir di Mesuji, Muncul di Jalan Lintas Sumatera Berakhir Jadi Rica-rica</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangkapan video viral memperlihatkan seekor tapir tampak kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, pada Kamis sore (2/7/26). Beberapa jam lagi, malam tiba. Waktu bagi tapir ini mencari makan karena sifatnya nokturnal/aktif malam hari. Beberapa orang terlihat mengelilinginya. Mereka berusaha menghalau satwa liar dilindungi itu ke pinggir. Jalan Lintas Sumatera di wilayah Register 45, Mesuji, Lampung, sore itu ramai kendaraan lalu lalang. Sejurus kemudian tapir menepi dan berlari mencoba menemukan jalan pulang. Di ujung video sepanjang 42 detik itu, terekam seorang pria bertelanjang dada berlari ke arah tapir yang malang sambil membawa tombak. Aparat keamanan yang mendapat laporan segera menuju lokasi. Tapi polisi mendapati tapir yang melintasi kawasan permukiman warga itu telah mati. Kepalanya dipenggal, dagingnya dibagikan ke sejumlah warga, ada yang dimasak rica-rica. Polisi menangkap empat dari enam tersangka. Dua orang masih buron. Sontak peristiwa itu mengundang keprihatinan banyak pihak. Di antaranya dari Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI). Budi Setiadi Daryono, Ketua KOBI. Mengutuk keras dan menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa pembunuhan tapir (Tapirus indicus) yang terjadi di wilayah Lampung. “Tapirus indicus merupakan satu-satunya spesies tapir di Asia yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Pembunuhan tapir adalah pelanggaran hukum sekaligus kemunduran upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Tindakan ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun,&#8221; tegas Budi, yang juga Dekan Fakultas Biologi UGM itu, Rabu (8/7/26). Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, menyatakan keprihatinan mendalam. Hilangnya satu individu tapir merupakan kerugian besar bagi kekayaan biodiversitas dan keseimbangan ekosistem. “Kementerian Kehutanan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 07:46:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/05/22051254/Banjir-Siberut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130393</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tiga jam setelah hujan turun, air Sungai Sirilanggai mulai meluap hingga menggenangi jalan dan halaman rumah warga Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang siang, banjir sudah lebih dari satu meter. Dapur dan kamar mandi rumah Barnabas Saerejen, tokoh masyarakat Siberut  tak luput dari banjir hari itu. &#8220;Nanti kalau hujannya berhenti, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/">Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tiga jam setelah hujan turun, air Sungai Sirilanggai mulai meluap hingga menggenangi jalan dan halaman rumah warga Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang siang, banjir sudah lebih dari satu meter. Dapur dan kamar mandi rumah Barnabas Saerejen, tokoh masyarakat Siberut  tak luput dari banjir hari itu. &#8220;Nanti kalau hujannya berhenti, baru airnya pelan-pelan surut,&#8221; katanya, awal Juli. Meski banjir terus meninggi, sebagian warga tetap beraktivitas ke ladang. Mereka melewati banjir dengan berjalan kaki sambil menyandang orek (tas tradisional Suku Mentawai untuk membawa hasil ladang), sedang  anak-anak bermain bola di lapangan sekitar kampung.  Barnabas bilang, banjir  bukan hal baru bagi warga sekitar. Kampung mereka berada di dataran rendah hingga kerap kebanjiran saat sungai meluap. Namun, beberapa tahun terakhir, frekuensi makin meningkat. Dulu,  banjir besar hanya terjadi sekali dalam setahun,  kini, setiap kali hujan turun dalam dua jam, hampir pasti kebanjiran.  Menurut dia, banjir makin sering terjadi sejak hutan di hulu mulai terbuka untuk aktivitas penebangan kayu. Dia tidak bisa memastikan secara ilmiah bahwa pembalakan menjadi penyebab banjir yang semakin sering terjadi. Namun sebagai orang yang lahir dan besar di kampung itu, dia merasakan sendiri perubahan aliran sungai dan kondisi hutan yang berbeda ketimbang puluhan tahun lalu. &#8220;Kalau hujan lebih dari dua jam saja, apalagi cukup lebat, kami pasti kebanjiran,&#8221; katanya. Banjir besar pada akhir November 2025 menjadi peristiwa yang paling membekas dalam ingatan warga. Selama hampir tiga pekan, banjir merendam sebagian besar Kecamatan Siberut Utara. Rumah-rumah warga terendam, lahan pertanian rusak, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>