<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=christopel-paino-banggai&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/christopel-paino-banggai/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 07 Aug 2026 10:36:37 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Bisakah Ocean Calculator Selamatkan Pesisir Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 10:36:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001444/Hamparan-mangrove-yang-kuat-berfungsi-seperti-benteng-melindungi-masyarakat-dari-badai-ekstrim.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131636</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan Ocean Calculator, platform geospasial yang menggunakan neraca sumber daya laut (NSDL) atau ocean accounting. Tujuannya, untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir secara tepat, akurat, dan berbasis data ilmiah. Penghitungannya, menggunakan teknologi satelit. Fathir Mohamad, Product and Engineering Manager World Resources Insitute (WRI) Indonesia, mengatakan Ocean Calculator [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/">Bisakah Ocean Calculator Selamatkan Pesisir Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan Ocean Calculator, platform geospasial yang menggunakan neraca sumber daya laut (NSDL) atau ocean accounting. Tujuannya, untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir secara tepat, akurat, dan berbasis data ilmiah. Penghitungannya, menggunakan teknologi satelit. Fathir Mohamad, Product and Engineering Manager World Resources Insitute (WRI) Indonesia, mengatakan Ocean Calculator didesain untuk membantu Pemerintah Indonesia membuat kebijakan berkaitan laut dan pesisir. “Namun, saat ini kita masih fokus kawasan pesisir,” jelasnya, Selasa (28/7/26). Ocean Calculator mengadopsi tujuh neraca, yaitu Neraca Aset Lingkungan/Ekosistem, Neraca Arus ke Ekonomi, Neraca Arus ke Lingkungan, Neraca Ekonomi Kelautan, Neraca Tata Kelola dan Kelembagaan, Presentasi Kombinasi/Semua Neraca, dan Neraca Kekayaan Laut yang dilingkupi  konteks sosial dan kelembagaan. Saat ini, platform tersebut baru mengadopsi 1,5 neraca. “Seluruh neraca nantinya digunakan untuk penerapan ocean account, sehingga mudah dipahami para pembuatan kebijakan.” Menjaga kelestarian mangrove bermanfaat bagi jutaan masyarakat pesisir di Indonesia. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Data spasial Untuk menghasilkan hitungan tepat dan akurat, Ocean Calculator akan menggunakan data spasial lengkap. Ada tiga pilar saat Ocean Calculator diproses. Pertama, estimasi ilmiah untuk analisis mendalam jasa ekosistem, khususnya penyerapan karbon dan perlindungan pantai. Hitungannya, menggunakan koefisien berbobot kepadatan dan validasi spektral multi-indeks. “Seluruh metodologi didasarkan ilmu pengetahuan melalui proses peer review,” jelas Fathir. Kedua, pembaruan data otomatis ekologi melalui google earth engine menggunakan citra satelit resolusi tinggi dari Sentinel-2 dan Landsat-8 yang diperbarui otomatis. Ketiga, legitimasi Pemerintah untuk memastikan data yang digunakan resmi. Sumbernya, dari  KKP, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), atau Badan Perencanaan Pembangunan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004156/Nana-1-ban-bekas--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131610</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa. Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/">Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa. Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak menjadi Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Sumedang Bersatu pada 2014, Nana melihat berton-ton ban bekas menumpuk di sana. TPST tersebut sebenarnya telah mengolah berbagai jenis sampah. Sampah organik dijadikan kompos, sedangkan botol plastik, kaca, kertas, dan sampah bernilai ekonomi dikirim ke pabrik daur ulang. Masalahnya, ban bekas tidak laku dan tidak boleh dikirim ke TPA Talangagung. Nana kemudian mencari cara lain. Secara otodidak, pada 2016 dia mulai mengubah ban bekas menjadi karya seni berbentuk burung dan serangga. Awalnya, dia menggunakan kayu sebagai rangka. Potongan ban kemudian dianyam dan dikaitkan menggunakan paku serta kawat. Karya-karya tersebut dipajang di sekitar TPST. Setelah fotonya diunggah ke Facebook, seorang guru dari sekolah Adiwiyata di Kepanjen tertarik membelinya. Pesanan kemudian mulai berdatangan dari berbagai daerah. Seiring waktu, teknik Nana berkembang. Kayu yang mudah rapuh diganti dengan pipa PVC. Untuk karya berukuran besar, ia menggunakan beton eser sebagai kerangka. Prosesnya dimulai dengan mengamati bentuk tubuh atau morfologi satwa yang akan dibuat. Nana lalu menggambar satwa tersebut di dinding sesuai ukuran yang diinginkan. Gambar itu menjadi pola untuk menentukan ukuran besi pembentuk rangka. Kerangka disambungkan menggunakan las listrik. Setelah itu, ban bekas dipotong, disusun, dan dipasang mengelilingi rangka menggunakan sekrup serta kuncian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perdagangan Satwa Langka Ilegal Terus Marak di Sumatera Barat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 05:37:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/03092506/Paruh-burung-rangkong.-Dok-Kemenhut-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131453</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[padang dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[poltiik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satwa lindung dan langka Indonesia terus jadi sasaran perdagangan ilegal, termasuk di Sumatera Barat.  Sebanyak 16 paruh burung rangkong dan satu karung sisik trenggiling petugas sita dari tangan pria inisial RP (23) di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagian tubuh satwa lindung itu hendak RP perdagangkan sebelum tertangkap petugas, Senin (27/7/26). Hari Novianto, Kepala Balai Penegakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/">Perdagangan Satwa Langka Ilegal Terus Marak di Sumatera Barat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satwa lindung dan langka Indonesia terus jadi sasaran perdagangan ilegal, termasuk di Sumatera Barat.  Sebanyak 16 paruh burung rangkong dan satu karung sisik trenggiling petugas sita dari tangan pria inisial RP (23) di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagian tubuh satwa lindung itu hendak RP perdagangkan sebelum tertangkap petugas, Senin (27/7/26). Hari Novianto, Kepala Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Wilayah Sumatera, bilang,  penangkapan PR berawal dari informasi masyarakat. Informasi itu kemudian timnya analisa melalui patroli siber guna memetakan aktivitas dan pergerakan pelaku. “Hasil analisis kemudian ditindaklanjuti melalui operasi lapangan hingga tim berhasil menangkap tersangka beserta barang bukti sekitar pukul 20.00,” katanya. Dari pemeriksaan, belasan burung rangkong dan satu karung sisik trenggiling seberat 10 kilogram itu tersangka dapat dari Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang merupakan domisili RP. Dia terjerat Pasal 40A ayat (1) huruf f juncto Pasal 21 ayat (2) huruf c UU Nomor 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pasal itu melarang setiap orang menyimpan, memiliki, mengangkut, atau memperdagangkan bagian tubuh satwa yang dilindungi. “Terancam hukuman penjara tiga hingga 15 tahun serta denda Rp200 juta hingga Rp5 miliar, untuk detail kasus masih dalam pendalaman.” Jaringan perdagangan sisik trenggiling sangat tertutup dan sulit diketahui. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Populasi terus turun Eko Subrata, peneliti burung dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) menyampaikan, kemungkinan besar burung rangkong yang pelaku perdagangkan adalah jenis kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris). Itu karena spesies itu merupakan satu-satunya rangkong yang ada di Kepulauan Mentawai. Berbeda dengan rangkong gading (Rhinoplax vigil), paruh kangkareng perut putih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 02:16:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/17135031/Ketahanan-Pangan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131568</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belajar tentang pangan tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siswa mempelajarinya dengan menanam, merawat, dan memanen sayuran secara langsung. Di salah satu sudut sekolah terdapat rumah kaca seukuran lapangan bola voli. Tempat itu dipenuhi tanaman hias dan berbagai jenis sayuran. Selada dan pakcoy tumbuh di rak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/">Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belajar tentang pangan tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siswa mempelajarinya dengan menanam, merawat, dan memanen sayuran secara langsung. Di salah satu sudut sekolah terdapat rumah kaca seukuran lapangan bola voli. Tempat itu dipenuhi tanaman hias dan berbagai jenis sayuran. Selada dan pakcoy tumbuh di rak hidroponik, sedangkan cabai, terong, dan tomat ditanam menggunakan polybag. Tanaman tersebut dirawat oleh para siswa yang tergabung dalam Green School. Mereka belajar menyiapkan media tanam, membuat pupuk cair, memilih bibit, dan menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Para siswa juga memperoleh pelatihan dari praktisi dan petani hidroponik. Hidroponik adalah cara menanam tanpa menggunakan tanah. Akar tanaman memperoleh air dan unsur hara dari larutan khusus. Metode ini cocok digunakan di sekolah atau kawasan perkotaan karena tidak membutuhkan lahan luas. Botol plastik bekas pun dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam sederhana. Kegiatan tersebut membuat pelajaran biologi dan lingkungan menjadi lebih mudah dipahami. Siswa tidak hanya menghafal bagian tumbuhan, tetapi juga melihat langsung bagaimana akar menyerap nutrisi, daun melakukan fotosintesis, serta air, cahaya, dan pupuk memengaruhi pertumbuhan. Hasil panen tidak berhenti di kebun. Sebagian sayuran diberikan kepada siswa tata boga untuk diolah menjadi makanan. Dengan demikian, mereka dapat mengikuti perjalanan pangan dari benih, tanaman, panen, hingga menjadi hidangan. Pengalaman dari sekolah juga dibawa pulang. Salah satu siswa mulai membantu orang tuanya menanam cabai, terong, melon, dan tomat di halaman rumah. Tanaman dalam polybag tersebut dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. Selain menanam, para siswa mempelajari pengelolaan sampah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 00:05:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04045916/Made-Kuter-berjalan-menyusuri-sawahnya-sembari-menyebar-racun-tikus-di-beberapa-titik.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131318</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari sedang terik-teriknya. Namun, Made Kuter, masih  menyusuri pematang sawahnya. Tangan kanan lelaki 63 tahun ini memegang sendok. Tangan kiri memegang dua bungkus plastik. Satu bungkus plastik berisi racun tikus, plastik lainnya berisi daun pisang. Sudah beberapa tahun terakhir, Kuter, petani sawah di Subak Padang Legi, Desa Medahan, Kabupaten, Gianyar, Bali, merasakan hama yang terus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/">Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari sedang terik-teriknya. Namun, Made Kuter, masih  menyusuri pematang sawahnya. Tangan kanan lelaki 63 tahun ini memegang sendok. Tangan kiri memegang dua bungkus plastik. Satu bungkus plastik berisi racun tikus, plastik lainnya berisi daun pisang. Sudah beberapa tahun terakhir, Kuter, petani sawah di Subak Padang Legi, Desa Medahan, Kabupaten, Gianyar, Bali, merasakan hama yang terus meningkat, kesulitan air di sawah dan kini terancam banjir. Dia memiliki lahan sawah 30 are. Lahan pun terhimpit bangunan vila. Beberapa langkah berjalan, Kuter berhenti. Tangan kanan menyendok racun tikus yang dia buat secara tradisional.  Dia letakkan di atas daun, lalu  diletakkan di bawah semak-semak. “Ini racun tikus, isinya beras, racun tikus, kacang tanah. Supaya berbau, pang nyak enduse ken bikul, pang nyak amahe (biar mau dicium oleh tikus, biar dimakan sama tikus),” kata Kuter, Rabu (29/7/26). Kadang, dia campur racikan racun tikus itu  dengan ikan asin dan makanan lain yang berbau menyengat. Sejak tahun lalu, serbuan tikus kian merajalela dan terjadi dalam tiga periode tanam. Kini, satu petak sawah hampir sebagian terserang hama tikus. Padi menguning, tetapi tak bisa tumbuh lagi. “Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” katanya. Made Kuter meletakkan racun tikus di sela-sela rumput. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering).&#8221; Pekerjaan di sawah beberapa kali tertunda. Debit air kecil. Pembangunan sekitar juga menutup jalan air. “Kan misalne ada membangun, terpaksa nembok kanan-kiri. Ditutup saluran air, pang ngidang yo&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Agama mwanzae, Kadal Penghuni Bebatuan Sabana yang Seolah Mengenakan Kostum “Spider-Man”</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 23:45:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/06233821/Serengeti_National_Park_03_-_Mwanza_flat-headed_rock_agama_-_Agama_mwanzae-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131622</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara keanekaragaman reptil dunia, sejumlah spesies memiliki ciri visual yang mencolok. Salah satu contohnya adalah Agama mwanzae, kadal dengan perpaduan warna kepala hingga bahu merah violet cerah, serta tubuh dan ekor berwarna biru tua. Kombinasi warna ini membuat Agama mwanzae dikenal secara internasional sebagai &#8220;kadal Spider-Man&#8221; karena kemiripannya dengan warna kostum karakter superhero populer. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/">Agama mwanzae, Kadal Penghuni Bebatuan Sabana yang Seolah Mengenakan Kostum “Spider-Man”</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara keanekaragaman reptil dunia, sejumlah spesies memiliki ciri visual yang mencolok. Salah satu contohnya adalah Agama mwanzae, kadal dengan perpaduan warna kepala hingga bahu merah violet cerah, serta tubuh dan ekor berwarna biru tua. Kombinasi warna ini membuat Agama mwanzae dikenal secara internasional sebagai &#8220;kadal Spider-Man&#8221; karena kemiripannya dengan warna kostum karakter superhero populer. Di balik julukan tersebut, Agama mwanzae, yang juga dikenal dengan nama Mwanza flat-headed rock agama atau kadal agama batu berkepala pipih Mwanza, merupakan spesies reptil yang menghuni kawasan sabana dan ekosistem berbatu di Afrika Timur. Menurut The Reptile Database, wilayah persebarannya mencakup Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Agama mwanzae merupakan anggota famili Agamidae. Ahli zoologi Arthur Loveridge pertama kali mendeskripsikannya pada 1923. Nama &#8220;mwanzae&#8221; merujuk pada wilayah Mwanza di Tanzania, lokasi asal spesimen yang digunakan dalam deskripsi awalnya. Habitatnya meliputi sabana, kawasan semi kering, serta lingkungan dengan banyak singkapan batu. Warna dan Habitat di Bebatuan Sabana Kepala, leher, dan bahu pejantan dominan dapat berwarna merah terang hingga violet. Tubuh dan ekornya berwarna biru tua. Warna ini tidak dimiliki semua individu. Betina, pejantan muda, dan pejantan subordinat memiliki warna yang lebih redup, umumnya cokelat atau abu-abu dengan pola gelap yang membantu menyamarkan tubuh di antara tanah dan bebatuan. Perbedaan fisik antara jantan dan betina disebut dimorfisme seksual. Pada kadal agama, warna pejantan dapat berperan dalam komunikasi visual, digunakan saat berinteraksi dengan betina atau menghadapi pejantan lain. Secara umum, warna kulit reptil terbentuk melalui sel pigmen dan sel pemantul cahaya, namun penelitian mengenai mekanisme pembentukan warna merah dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 18:10:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04044213/WhatsApp-Image-2026-08-03-at-21.39.34-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131485</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penolakan rencana penambangan pasir laut bermodus pengelolaan sedimentasi di Kepulauan Riau (Kepri) kian kencang. Menjelang akhir Juli, ratusan nelayan menggelar unjuk rasa guna menolak rencana yang mereka berdampak terhadap sumber penghidupan mereka itu. Dengan menggunakan 100-an perahu, para nelayan mayoritas berasal dari Kabupaten Karimun itu berorasi dan membentangkan spanduk besar di tengah laut. “Kehadiran kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/">Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penolakan rencana penambangan pasir laut bermodus pengelolaan sedimentasi di Kepulauan Riau (Kepri) kian kencang. Menjelang akhir Juli, ratusan nelayan menggelar unjuk rasa guna menolak rencana yang mereka berdampak terhadap sumber penghidupan mereka itu. Dengan menggunakan 100-an perahu, para nelayan mayoritas berasal dari Kabupaten Karimun itu berorasi dan membentangkan spanduk besar di tengah laut. “Kehadiran kami di atas kapal ini untuk menolak tambang pasir laut berkedok sedimentasi, kita tahu aktivitas ini hanya akan merusak periuk nasi kite,” teriak Liza, nelayan perempuan saat berorasi, Selasa (21/7/26). Pengerukan pasir laut hanya menguntungkan segelintir orang, alih-alih meningkatkan kesejahteraan masyarakat Karimun. “Kami, emak-emak adalah yang paling terdampak,” katanya. Raja Khairuddin, Ketua Gerakan Peduli Nelayan Karimun Kepulauan (GPNKK) mengatakan, aksi penolakan tambang pasir ini sudah beberapa kali nelayan lakukan. Sebelumnya aksi serupa juga dilakukan di Kecamatan Meral dan Kecamatan Tebing. “Semenjak rencana sedimentasi ini muncul, kami sudah menolak,” kata Raja, Jumat (24/7/26). Selain Karimun, perwakilan nelayan dari berbagai lokasi juga turut dalam aksi penolakan ini, seperti nelayan Kecamatan Buru, Moro, Tebing, Meral Barat, dan Meral. Menurut Raja, para nelayan memiliki pengalaman bagaimana tambang pasir laut di masa lalu membawa dampak berkepanjangan terhadap kehidupan mereka. Tahun 1990-an hingga 2005, perairan Karimun menjadi lokasi tambang pasir skala besar untuk jual ke Singapura, sebelum akhirnya Presiden Megawati setop. Dampak dari aktivitas itu, masih nelayan rasakan sampai saat ini. Raja  menyebut, sejumlah kawasan perairan yang sebelumnya menjadi lokasi penangkapan ikan kini sudah tidak lagi produktif akibat kerusakan pascatambang. Kerusakan itu terjadi mulai dari perairan di Kecamatan Moro, Kecamatan Buru, perairan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>3 Cara Unik Hewan Melindungi Diri dari Racunnya Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 10:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/09/22033152/Blue-poison-darf-frog-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131508</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Katak panah beracun merupakan salah satu hewan paling beracun di dunia. Ukuran tubuhnya kecil dan warnanya menarik, tetapi racun yang dibawanya dapat membunuh beberapa manusia dewasa. Lalu, mengapa katak ini tidak mati karena racunnya sendiri? Katak panah beracun ternyata tidak menghasilkan seluruh racunnya sendiri. Racun itu berasal dari makanan mereka, seperti semut, tungau, dan hewan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/">3 Cara Unik Hewan Melindungi Diri dari Racunnya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Katak panah beracun merupakan salah satu hewan paling beracun di dunia. Ukuran tubuhnya kecil dan warnanya menarik, tetapi racun yang dibawanya dapat membunuh beberapa manusia dewasa. Lalu, mengapa katak ini tidak mati karena racunnya sendiri? Katak panah beracun ternyata tidak menghasilkan seluruh racunnya sendiri. Racun itu berasal dari makanan mereka, seperti semut, tungau, dan hewan kecil lainnya. Zat beracun dari makanan tersebut dikumpulkan dan disimpan di dalam tubuh, lalu digunakan untuk melindungi diri dari pemangsa. Salah satu jenis racunnya adalah batrachotoxin. Racun ini menyerang saluran natrium, yaitu bagian kecil pada permukaan sel yang bekerja seperti pintu. Pintu ini mengatur keluar-masuknya natrium agar saraf, otot, dan jantung dapat bekerja dengan baik. Dalam keadaan normal, pintu tersebut akan membuka dan menutup sesuai kebutuhan. Namun, batrachotoxin membuatnya terus terbuka. Akibatnya, aliran natrium menjadi tidak terkendali. Saraf kesulitan mengirimkan pesan, otot tidak dapat berkontraksi dengan normal, dan jantung bisa berhenti bekerja. Untuk melindungi diri dari racun, hewan memiliki beberapa cara. Cara pertama adalah mengubah bentuk bagian tubuh yang menjadi sasaran racun. Perubahan kecil akibat mutasi genetik membuat racun tidak dapat menempel pada targetnya. Bayangkan racun sebagai kunci dan protein di dalam tubuh sebagai lubang kuncinya. Jika bentuk lubang kunci sedikit berubah, kunci tersebut tidak lagi cocok. Racun pun gagal bekerja. Mekanisme ini ditemukan pada sejumlah katak beracun. Cara kedua adalah membuang racun dari tubuh sebelum menimbulkan kerusakan. Kemampuan ini juga dimiliki beberapa hewan yang memangsa satwa beracun. Tubuh mereka dapat memecah, menetralkan, atau mengeluarkan racun yang masuk bersama makanan. Cara ketiga adalah menyimpan racun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk Minim Perhatian Dunia Konservasi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 07:27:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/09033139/Kucing-Kuwuk-Chiki-direhabilitasi-di-Cikananga-Wildlife-Center-Kredit_-Anatasha-Reza-YCKT-7-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131611</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pelepasliaran Chiki, seekor kucing kuwuk di Cagar Alam Takokak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 21 Juli 2026, menjadi kabar baik bagi dunia konservasi. Namun, kisah Prionailurus javanensis yang kembali ke habitat alaminya itu juga memunculkan pertanyaan lebih besar. Sudahkan Indonesia memberi perhatian yang cukup terhadap konservasi kucing liar kecil? Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/">Kucing Kuwuk Minim Perhatian Dunia Konservasi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pelepasliaran Chiki, seekor kucing kuwuk di Cagar Alam Takokak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 21 Juli 2026, menjadi kabar baik bagi dunia konservasi. Namun, kisah Prionailurus javanensis yang kembali ke habitat alaminya itu juga memunculkan pertanyaan lebih besar. Sudahkan Indonesia memberi perhatian yang cukup terhadap konservasi kucing liar kecil? Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia sekaligus anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan perhatian terhadap kelompok kucing liar kecil jauh tertinggal dibandingkan harimau, macan tutul, maupun jenis kucing besar lainnya. “Meski sebagian kucing kecil di Indonesia masuk kategori terancam menurut IUCN, namun perhatian dan investasi konservasi terhadap kelompok ini masih relatif minim,” jelasnya, Jumat (31/8/26). Menurut Erwin, kucing kuwuk yang hidup di Pulau Jawa, kini telah dipisahkan dari kelompok kucing hutan daratan Asia dan diakui sebagai spesies tersendiri, yakni Prionailurus javanensis. Status ini menunjukkan bahwa Indonesia punya tanggung jawab lebih besar untuk menjaga keberlangsungan spesies endemik. Namun demikian, ancaman terhadap kucing kuwuk maupun jenis kucing liar kecil lainnya belum banyak berubah. Perburuan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat masih jadi persoalan utama yang terus menggerus populasi mereka di alam. “Semua itu akibat aktivitas manusia yang hingga kini belum terselesaikan secara komprehensif.” Erwin juga menyoroti masih berkembangnya anggapan keliru di tengah masyarakat saat menemukan kucing liar. Tak sedikit orang yang menganggap memelihara satwa hasil temuan lebih baik dibanding menyerahkannya pada pihak berwenang. Kucing kuwuk merupakan satwa liar dilindungi di Indonesia. Foto: Anatasha Reza Widyantoro/YCKT Kesempatan kembali ke hutan Erwin menjelaskan, narasi seperti ‘lebih baik dipelihara ketimbang hidup di hutan yang tidak aman’ atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Tanpa Minyak Sawit, Kita Bisa Maksimalkan Minyak Kelapa dan Bahan Nabati</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 05:30:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22041824/Lempah-kuning-kuliner-khas-Bangka-Belitung-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131404</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, sawit, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Minyak sawit dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahan ini tidak hanya memenuhi wajan untuk menggoreng makanan, tetapi juga dapat ditemukan dalam sabun, sampo, kosmetik, dan berbagai produk rumah tangga. Karena digunakan begitu luas, muncul kesan bahwa manusia modern tidak dapat memasak atau mandi tanpa minyak sawit. Benarkah demikian? Sebelum minyak sawit mendominasi pasar, masyarakat Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/">Hidup Tanpa Minyak Sawit, Kita Bisa Maksimalkan Minyak Kelapa dan Bahan Nabati</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Minyak sawit dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahan ini tidak hanya memenuhi wajan untuk menggoreng makanan, tetapi juga dapat ditemukan dalam sabun, sampo, kosmetik, dan berbagai produk rumah tangga. Karena digunakan begitu luas, muncul kesan bahwa manusia modern tidak dapat memasak atau mandi tanpa minyak sawit. Benarkah demikian? Sebelum minyak sawit mendominasi pasar, masyarakat Indonesia telah lama menggunakan minyak kelapa. Proses pembuatannya relatif sederhana. Daging kelapa diparut, diambil santannya, kemudian dipanaskan selama beberapa jam. Panas membuat air menguap dan merusak kestabilan emulsi santan, sehingga lemak terpisah dan muncul sebagai minyak di permukaan. Cara lain dilakukan dengan mengeringkan daging kelapa menjadi kopra. Kopra dicincang lalu dipanaskan hingga mengeluarkan minyak. Setelah dingin, minyak disaring dan dapat digunakan untuk memasak. Pengetahuan ini masih dipraktikkan oleh sejumlah masyarakat di Pulau Bangka, pesisir timur Sumatera, dan wilayah lain yang memiliki banyak pohon kelapa. Peralihan besar terjadi ketika minyak sawit tersedia dengan harga lebih terjangkau. Pasokannya yang melimpah turut mengubah kebiasaan memasak. Teknik menggoreng dengan banyak minyak atau deep frying menjadi semakin umum, baik di rumah maupun dalam industri makanan. Padahal, teknik memasak Nusantara pada masa lalu tidak selalu bergantung pada minyak. Berbagai bahan pangan lebih sering direbus, dikukus, dibakar, dipanggang, atau dimasak dalam kuah. Sejumlah makanan yang sekarang lazim digoreng pun sebelumnya memiliki versi rebus dan panggang. Pempek, misalnya, dahulu tidak selalu disajikan dengan cara digoreng. Ketergantungan pada sawit tidak terlepas dari sifat tanamannya yang produktif. Sawit mampu menghasilkan minyak dalam jumlah besar sehingga menarik bagi industri. Namun, keuntungan ini disertai persoalan ketika perkebunan terus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Food Estate Nusa Tenggara Timur,  Berharap Untung Malah Buntung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 04:00:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/06015648/FOTO-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131513</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sose Soares dan Frans da Cruz baru saja membajak kebunnya dengan traktor roda empat. Sejak 2022, kebun mereka menjadi kawasan proyek pengembangan pangan (food estate) Blok A, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu, mereka bisa menanam beragam jenis pangan lokal, kini hanya tanam jagung. “Dulu, kami tanam macam-macam, ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/">Food Estate Nusa Tenggara Timur,  Berharap Untung Malah Buntung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sose Soares dan Frans da Cruz baru saja membajak kebunnya dengan traktor roda empat. Sejak 2022, kebun mereka menjadi kawasan proyek pengembangan pangan (food estate) Blok A, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu, mereka bisa menanam beragam jenis pangan lokal, kini hanya tanam jagung. “Dulu, kami tanam macam-macam, ada jagung, kacang hijau, labu, ubi, dan (jenis tanaman) pakan ternak. Sekarang semua diarahkan untuk tanam jagung,” kata Sose Soares, petani Desa Fatuketi, Sabtu (18/7/26). Siang itu, Sose membersihkan akar-akar tanaman yang masih tertinggal. Sesekali dia memeriksa kelembaban tanah dan saluran sprinkle untuk mengairi kebun. Di depannya ada sekitar 600 meter lahan dengan jagung berumur tiga pekan di food estate Blok B. Di Blok C dan D masih penuh gulma dan ilalang. Total lahan food estate mreka kelola  secara kelompok oleh belasan petani seluas  dua hektar. Pada 2022, Presiden Joko Widodo bersama Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo meresmikan lokasi food estate, sebagai bagian dari proyek strategis nasional (PSN). Dengan luas food estate di Fatuketi  53 hektar untuk perkebunan jagung dan 281 hektar untuk sawah. “Kalau dulu orang di sini bisa ambil dari kebun untuk makan sehari-hari, sekarang semua tergantung jagung. Misalnya gagal, kami juga ikut susah karena harus beli makanan lagi,” ujar Sose. Sose Soares menyusuri lahan food estate Blok A di Desa Fatuketi untuk periksa kelembaban tanah sesudah dibajak gunakan traktor. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Dari asa ke kecewa Awalnya, program&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 03:00:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/05065738/Karhutla-Kalimantan-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131537</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghajar Pulau Kalimantan. Catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), sejak Januari hingga Juli 2026, terdapat 34.262 titik panas (hotspot), dan 33.837 hektar area terbakar, menjadikan pulau ini episentrum bencana itu. Padahal, musim kemarau belum mencapai puncaknya. Secara keseluruhan, terdapat 118.420 hotspot  di seluruh Indonesia dengan luas indikatif kebakaran mencapai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/">Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghajar Pulau Kalimantan. Catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), sejak Januari hingga Juli 2026, terdapat 34.262 titik panas (hotspot), dan 33.837 hektar area terbakar, menjadikan pulau ini episentrum bencana itu. Padahal, musim kemarau belum mencapai puncaknya. Secara keseluruhan, terdapat 118.420 hotspot  di seluruh Indonesia dengan luas indikatif kebakaran mencapai 107.649 hektar. Di Borneo, Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat  hotspot tertinggi, 17.236 titik, dengan luas kebakaran sekitar 28.680 hektar. Titik panas dan kebakaran juga melanda provinsi lain, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Timur (Kaltim), dan Kalimantan Utara (Kaltara). Walhi juga mencatat peningkatan hotspot yang tajam sepanjang Juli 2026. Periode April-Juni hotspot tidak pernah melampaui 74 titik per bulan, namun melonjak signifikan pada Juli menjadi 615 hotspot. Kenaikan mencolok juga terjadi di Kalbar dengan 778 hotspot, atau sekitar 65% total hotspot skala tinggi di Kalimantan. Kobaran api melalap sebuah pondok milik warga saat karhutla terjadi di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru. Relawan berupaya mengendalikan api agar tidak semakin meluas. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. Dominan di konsesi perusahaan? Fakta penting temuan Walhi, sebagian besar hotspot di Kalimantan berada di konsesi perusahaan. Dari total 34.262 hotspot, sebanyak 25.524 titik atau sekitar 74% berada di area berizin. &#8220;Rinciannya, 10.739 hotspot berada di konsesi perkebunan  sawit, 7.880  konsesi pertambangan, dan 6.905  di perizinan berusaha pemanfaatan hutan,&#8221; kata Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, akhir Juli. Untuk itu, masalah karhutla tidak bisa pisah dari tata kelola perizinan dan lemahnya penegakan hukum pada perusahaan. Negara pun gagal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 17:06:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza Diana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/05170006/PLTA-Kerinci-16-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131559</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan ransisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Asap tipis mulai mengepul dari pondok kecil di tepi sawah Desa Tarutung, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci,  Jambi.  Di bawah atap seng yang mulai berkarat, Nur Ainun mengaduk air rebusan ubi dengan sepotong kayu. Di hadapan perempuan 54 tahun ini terbentang hamparan sawah dengan Semak belukar belum lama mereka bersihkan. Suaminya masih berada di tengah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/">Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Asap tipis mulai mengepul dari pondok kecil di tepi sawah Desa Tarutung, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci,  Jambi.  Di bawah atap seng yang mulai berkarat, Nur Ainun mengaduk air rebusan ubi dengan sepotong kayu. Di hadapan perempuan 54 tahun ini terbentang hamparan sawah dengan Semak belukar belum lama mereka bersihkan. Suaminya masih berada di tengah petak sawah. Ayunan parang terdengar berulang-ulang memotong ilalang yang tumbuh hampir setinggi pinggang. Sesekali dia berhenti, mengusap peluh, lalu kembali menebas perdu yang selama dua tahun menguasai lahan. Ini kali ketiga mereka membersihkan lahan tani yang sama. Bukan karena tanah tak lagi subur, bukan pula karena mereka berhenti menjadi petani. Mereka meninggalkan lahan itu karena air tak lagi datang. “Semoga kali ini airnya lancar, supaya kami bisa mulai menyemai padi,” kata Nur Ainun lirih, April lalu. Sawah Nur tidak jauh dari tepian sungai. Selama puluhan tahun, keluarganya tak pernah ada masalah air. Sungai mengalir mengikuti musim, kincir-kincir kayu yang warga pasang mengangkat air menuju saluran irigasi tanpa pernah banyak mereka pikirkan. Sungai bekerja seperti napas. Tenang, teratur dan mereka bisa pahami. Petani tahu kapan mulai membajak, menyemai, memupuk, bahkan panen. Mereka membaca musim dari tinggi permukaan sungai, sebagaimana nelayan membaca arus dari warna air. Kini,  semua pengetahuan itu perlahan kehilangan makna. Air bisa surut pada pagi hari. Beberapa jam kemudian tiba-tiba meluap, lalu menghilang lagi. Tak ada lagi pola yang bisa mereka baca. Tak ada lagi kepastian. “Bulan kedua setelah tanam biasanya kami memberi pupuk,” kata Nur. Lahan sawah yang tak petani tanami lagi karena&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Larangan Dagang Daging Kucing dan Anjing, Percepat Sahkan UU Kesejahteraan Hewan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 14:30:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/09230223/DMT_Idonesia_8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131515</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia belum memiliki regulasi yang jelas-jelas  mengatur maupun melarang perdagangan daging anjing dan kucing. Akibatnya, ada persoalan kompleks dari sisi hukum, kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga kesejahteraan hewan. Berbagai kalangan pun mengingatkan, masuknya Rancangan Undang-undang Perlindungan dan Kesejahteraan Hewan  dalam Program Legislasi Nasional Prioritas  2026 bisa jadi tonggak penting perlindungan hewan termasuk soal perdagangan daging [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/">Larangan Dagang Daging Kucing dan Anjing, Percepat Sahkan UU Kesejahteraan Hewan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia belum memiliki regulasi yang jelas-jelas  mengatur maupun melarang perdagangan daging anjing dan kucing. Akibatnya, ada persoalan kompleks dari sisi hukum, kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga kesejahteraan hewan. Berbagai kalangan pun mengingatkan, masuknya Rancangan Undang-undang Perlindungan dan Kesejahteraan Hewan  dalam Program Legislasi Nasional Prioritas  2026 bisa jadi tonggak penting perlindungan hewan termasuk soal perdagangan daging anjing dan kucing. Meskipun pada prinsipnya, perdagangan daging anjing dan kucing melanggar Undang-undang 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan beserta perubahan dan turunannya. Selain itu, perdagangan kedua hewan ini tidak memenuhi standar pangan dan berpotensi menyebarkan zoonosis terutama rabies. Benedikta Erica, Policy Drafting Coordinator Dog Meat Free Indonesia (DMFI), mengatakan, saat ini lebih 280 penyakit zoonosis. Rabies menjadi salah satu yang paling mematikan, dengan fatalitas kasus 99,9% apabila gejala klinis sudah muncul. “Isu (pelarangan) perdagangan daging anjing dan kucing bukan sekadar kasihan anjingnya, kasihan kucingnya. Lebih dari itu, ada persoalan hukum, kesehatan masyarakat, dan ancaman zoonosis yang sangat serius,” katanya dalam diskusi di Jakarta, belum lama ini. Menurut dia, perdagangan anjing dan kucing memperbesar risiko penyebaran penyakit. Karena rantai distribusi berlangsung tanpa pengawasan kesehatan veteriner yang memadai. “Indonesia memiliki target bebas rabies pada tahun 2030. Namun praktik perdagangan ini justru menjadi ancaman serius terhadap target tersebut.” Perdagangan daging anjing dan kucing melibatkan berbagai pelanggaran hukum. Mulai dari pencurian hewan, transportasi ilegal, pemalsuan dokumen veteriner, hingga pelanggaran terhadap UU Karantina Hewan. Sebagian besar hewan, katanya, berasal dari pencurian, penjeratan, hingga peracunan. Dalam proses distribusi, hewan-hewan tersebut pelaku angkut dalam kondisi yang tidak manusiawi sehingga mengalami dehidrasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Populasi Orangutan Tapanuli Sekitar 716 Individu, Apakah Baik-baik Saja?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 09:59:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/12101103/anak-ou-tapanuli-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131544</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pertahanan Terakhir Orangutan Tapanuli]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jumlah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di alam liar saat ini diperkirakan sekitar 716 individu. Estimasi tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan sepanjang 2021–2023 di seluruh bentang alam Batang Toru, Sumatera Utara. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Global Ecology and Conservation edisi 20 Juni 2026, berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/">Populasi Orangutan Tapanuli Sekitar 716 Individu, Apakah Baik-baik Saja?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jumlah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di alam liar saat ini diperkirakan sekitar 716 individu. Estimasi tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan sepanjang 2021–2023 di seluruh bentang alam Batang Toru, Sumatera Utara. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Global Ecology and Conservation edisi 20 Juni 2026, berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023.” Survei yang dipimpin Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman itu, menggunakan 208 jalur transek sarang sepanjang 198 kilometer, di habitat orangutan sumatera dan orangutan tapanuli. Di Batang Toru, peneliti menyusuri 57 kilometer transek dan mencatat 330 sarang, yang dianalisis menggunakan distance sampling dan pemodelan spasial untuk memperkirakan populasi. “Hasilnya, populasi orangutan tapanuli diperkirakan 716 individu yang seluruhnya hidup di bentang alam Batang Toru seluas 102.185 hektar. Sebanyak 514 individu (72 persen) berada di Batang Toru Barat, 159 individu di Batang Toru Timur, dan 43 individu di Sitandiang–Sibualbuali, dengan kepadatan rata-rata 0,70 individu per kilometer persegi,” tulis Adhi dan kolega. Dibandingkan estimasi 2011 sekitar 767 individu, jumlah tersebut menunjukkan penurunan. “Namun, perbandingan harus dilakukan hati-hati karena metode dan cakupan survei sebelumnya berbeda.” Penelitian ini juga menegaskan orangutan tapanuli memiliki demographic buffer yang sangat kecil, sehingga kematian sekecil apapun dapat mengancam kelangsungan populasi. “Kepadatan orangutan sangat bergantung pada hutan yang masih utuh, sementara tekanan manusia seperti perambahan, konflik, perburuan, dan hilangnya habitat tetap menjadi ancaman utama.” Riset menjelaskan, sekitar 78,6 persen populasi berada di kawasan hutan lindung, hanya 9,5 persen di kawasan konservasi. Sisanya, di hutan produksi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Maluku Utara Ternyata Punya Puluhan Jenis Pangan, Apa Saja?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 06:30:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/03153310/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-08.22.52-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131507</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai kepulauan rempah. Wilayah ini juga menyimpan kekayaan pangan yang tumbuh dari kebun, pekarangan, hingga lahan pertanian masyarakat. Sagu, jagung, pisang, sukun, singkong, kacang-kacangan, dan beragam jenis ubi menjadi bagian dari sumber daya genetik yang berpotensi menopang kebutuhan pangan daerah. Hasil identifikasi sumber daya genetik tanaman pada 2020 menunjukkan sedikitnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/">Maluku Utara Ternyata Punya Puluhan Jenis Pangan, Apa Saja?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai kepulauan rempah. Wilayah ini juga menyimpan kekayaan pangan yang tumbuh dari kebun, pekarangan, hingga lahan pertanian masyarakat. Sagu, jagung, pisang, sukun, singkong, kacang-kacangan, dan beragam jenis ubi menjadi bagian dari sumber daya genetik yang berpotensi menopang kebutuhan pangan daerah. Hasil identifikasi sumber daya genetik tanaman pada 2020 menunjukkan sedikitnya 49 tanaman pangan dan hortikultura asal Maluku Utara telah terdaftar di Kementerian Pertanian. Jumlah tersebut mencakup 41 aksesi tanaman pangan dan delapan tanaman hortikultura. Keragamannya meliputi 13 varietas padi, 11 jenis ubi jalar, 9 jenis ubi kayu, 5 jenis kacang tanah, 2 varietas jagung, 1 jenis satu kacang tunggak. Sementara itu, kelompok hortikultura terdiri dari jeruk, bawang merah, dua jenis pisang, serta empat jenis sukun. Data tersebut menggambarkan bahwa sumber karbohidrat masyarakat Maluku Utara sebenarnya jauh lebih beragam daripada beras. Salah satu pangan yang memiliki potensi besar adalah batatas, sebutan masyarakat setempat untuk ubi jalar. Di Halmahera Barat, tanaman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan petani. Permintaannya datang dari berbagai wilayah, seperti Halmahera Tengah, Ternate, hingga Maluku Tenggara. Sedikitnya terdapat empat jenis batatas lokal yang dikembangkan petani, yakni batatas warna tinta atau ungu, batatas oranye berdaun menjari, batatas kuning berdaun menjari, dan batatas putih berdaun lebar. Perbedaan warna dan bentuk tersebut menunjukkan keragaman genetik yang penting untuk dipertahankan. Setiap varietas dapat memiliki karakter berbeda, mulai dari rasa, tekstur, warna daging, kandungan zat gizi, hingga kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Keragaman ini memberi petani lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan tanaman dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Macan Tutul dan Macan Kumbang: Dua Nama untuk Predator yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 05:08:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21233159/Macan-kumbang1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131448</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Macan tutul mudah dikenali dari bulunya yang berwarna kuning kecokelatan dengan pola totol menyerupai bunga. Sementara itu, macan kumbang tampil dengan mantel hitam legam yang membuatnya terlihat seperti jenis kucing besar berbeda. Padahal, secara ilmiah, keduanya merupakan satwa yang sama. Macan tutul dan macan kumbang sama-sama termasuk spesies Panthera pardus. Di Pulau Jawa, keduanya masuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/">Macan Tutul dan Macan Kumbang: Dua Nama untuk Predator yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Macan tutul mudah dikenali dari bulunya yang berwarna kuning kecokelatan dengan pola totol menyerupai bunga. Sementara itu, macan kumbang tampil dengan mantel hitam legam yang membuatnya terlihat seperti jenis kucing besar berbeda. Padahal, secara ilmiah, keduanya merupakan satwa yang sama. Macan tutul dan macan kumbang sama-sama termasuk spesies Panthera pardus. Di Pulau Jawa, keduanya masuk dalam subspesies macan tutul jawa, Panthera pardus melas. Sebutan “macan tutul” biasanya digunakan untuk individu berwarna terang dan bertotol, sedangkan “macan kumbang” merujuk pada individu berwarna hitam. Jadi, perbedaan utama keduanya hanya terletak pada warna bulu. Warna hitam pada macan kumbang terjadi akibat melanisme, yaitu kondisi genetik yang meningkatkan produksi melanin. Melanin merupakan pigmen yang memberi warna gelap pada kulit, rambut, bulu, dan bagian tubuh lainnya. Meski tampak hitam polos, macan kumbang sebenarnya tetap memiliki pola totol seperti macan tutul biasa. Pola tersebut dapat terlihat ketika tubuhnya terkena cahaya dari sudut tertentu. Artinya, melanisme tidak menghilangkan totol, melainkan membuat warna dasar bulunya menjadi begitu gelap sehingga polanya tersamarkan. Kesamaan keduanya tidak berhenti pada nama ilmiah. Macan tutul dan macan kumbang memiliki bentuk tubuh, kemampuan berburu, jenis makanan, serta perilaku yang sama. Keduanya merupakan pemanjat pohon yang andal. Ekor panjang membantu mereka menjaga keseimbangan ketika bergerak di atas batang dan dahan. Mereka juga sama-sama predator penyergap. Pola totol pada macan tutul terang membantu memecah bentuk tubuhnya di antara cahaya dan bayangan hutan. Sementara itu, mantel gelap macan kumbang diduga memberi keuntungan penyamaran di hutan yang rapat dan lembap. Inilah salah satu alasan individu melanistik cukup sering&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Karhutla dan Krisis Air Hantui Jawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 02:51:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04151454/WhatsApp-Image-2026-07-28-at-02.31.44-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131509</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) sekitar pukul 17.00.Balai Besar TNBTS telah menurunkan tim untuk memadamkan api. Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala  menyebut, demi kelancaran pemadaman, mereka menutup sementara akses wisata ke Gunung Bromo melalui pintu masuk Jemplang, Coban Trisula (Malang), dan Senduro (Lumajang). Sedangkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/">Kemarau Panjang, Karhutla dan Krisis Air Hantui Jawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) sekitar pukul 17.00.Balai Besar TNBTS telah menurunkan tim untuk memadamkan api. Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala  menyebut, demi kelancaran pemadaman, mereka menutup sementara akses wisata ke Gunung Bromo melalui pintu masuk Jemplang, Coban Trisula (Malang), dan Senduro (Lumajang). Sedangkan pengunjung melalui pintu Cemoro Lawang (Probolinggo) dan Wonokitri (Pasuruan) dilakukan pembatasan hingga area Lautan Pasir. “Padang Sabana tidak diperkenankan dikunjungi,” katanya dalam keterangan tertulisnya. Penutupan berlaku sejak Senin (3/8/26) pukul 22.00 sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. Sampai saat ini, belum tahu  luas lahan yang terbakar. Tim masih fokus melakukan pemadaman. Dia pun mengimbau pengunjung, dan pelaku jasa wisata agar menjaga kawasan TNBTS dari kebakaran hutan. “Perhatikan penggunaan api demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bersama,” tulisnya. Selain TNBTS, kebakaran juga melanda ekosistem kawasan Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo merupakan tipe ekosistem kering. Terdiri atas ekosistem sabana, dan hutan jati yang terbakar. Joko Mulyo Ichtiarso, juru bicara TN Baluran menyebut, kuat dugaan kebakaran terpicu aktivitas masyarakat di dalam hutan. Seperti para pencari jamur, kayu bakar, kroto, madu, ubi gadung dan pencari burung. Mereka biasa membakar ranting dan dedaunan dan lupa mematikan. Sehingga, saat ada angin kencang api menyambar rerumputan dan dedaunan kering. “Modus pencari umbi gadung, mereka membakar daun untuk diambil abunya. Abu digunakan menghilangkan getah dari potongan umbi gadung,” katanya. Selain itu, pencari madu hutan kerap membakar pohon hingga tumbang untuk memudahkan pengambilan madu. Lantas, sisa-sisa pohon yang terbakar menjalar lebih jauh. Joko&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Putusan Adil PTUN Serang Atas Gugatan Warga Rancapinang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 23:17:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21072615/Batalyon-Rancapinang_Anggita-Raissa_Foto9-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131517</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kasus gugatan warga Rancapinang kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di PTUN Serang, dekati babak akhir dengan rencana agenda putusan 6 Agustus ini.  Berbagai organsasi masyarakat sipil pun mendesak hakim memberikan putusan yang adil dan berkeadilan bagi warga Rancapinang. Kasus berawal karena Kantor Pertanahan Pandeglang mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) kepada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/">Menanti Putusan Adil PTUN Serang Atas Gugatan Warga Rancapinang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kasus gugatan warga Rancapinang kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di PTUN Serang, dekati babak akhir dengan rencana agenda putusan 6 Agustus ini.  Berbagai organsasi masyarakat sipil pun mendesak hakim memberikan putusan yang adil dan berkeadilan bagi warga Rancapinang. Kasus berawal karena Kantor Pertanahan Pandeglang mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) kepada Kemhan di tanah mereka seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar).  Di atas tanah itu kini terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP). KPA mendesak,  hakim mempertimbangkan fakta-fakta persidangan yang menunjukkan perbedaan keterangan antara ATR/BPN dan Kemhan mengenai proses pengadaan tanah. Dalam persidangan PTUN yang berlangsung pada 3 Juni 2026, muncul perbedaan penjelasan antara Kemhan dan BPN mengenai asal-usul tanah yang kini bersertifikat atas nama Kemhan. Kemhan menyatakan, tanah di Rancapinang melalui mekanisme tukar-menukar aset atau tukar guling (ruislag). Menurut dalil Kemhan, PT Mandiri Nusa Graha Perkasa (MNGP)  mengajukan permohonan kepada Kodam III/Siliwangi untuk menukar aset di Rancapinang dengan aset Kemhan di Maja, Kabupaten Lebak. Proses tukar guling itu berlangsung sekitar 2005. BPN menyampaikan tanah di Rancapinang Kemhan peroleh melalui proses pelepasan hak dari masyarakat yang dibuktikan dengan surat pelepasan hak. Dalam keterangannya, BPN tidak mendasarkan perolehan tanah itu pada mekanisme tukar guling yang melibatkan MNGP. Dewi Kartika, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), mengatakan,  apabila terbukti cacat prosedur, harusnya SHP batal karena mencederai hak konstitusional masyarakat. Dia bilang, persoalan Rancapinang tak hanya menyangkut sengketa administrasi pertanahan, tetapi menunjukkan cacat prosedural dalam proses pengadaan tanah. Empat saksi fakta para penggugat dihadirkan dalam persidangan di Pengadilan Tinggi Tata Usaha&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bunga Ini Tanda Penghormatan Kepada Pendeta Penjaga Alam Poso</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 10:00:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14014949/Orangye-Poso-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131439</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna, Konservasi, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas, tumbuhan ini terlihat seperti tanaman hias biasa. Bunganya kecil, berwarna oranye cerah, dan tumbuh menumpang pada tanaman lain. Namun, setelah diperiksa mendalam, tumbuhan dari Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, itu ternyata spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Spesies tersebut diberi nama Rhododendron yombuwurii. Ia termasuk subgenus Vireya, kelompok rhododendron tropis yang banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/">Bunga Ini Tanda Penghormatan Kepada Pendeta Penjaga Alam Poso</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas, tumbuhan ini terlihat seperti tanaman hias biasa. Bunganya kecil, berwarna oranye cerah, dan tumbuh menumpang pada tanaman lain. Namun, setelah diperiksa mendalam, tumbuhan dari Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, itu ternyata spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Spesies tersebut diberi nama Rhododendron yombuwurii. Ia termasuk subgenus Vireya, kelompok rhododendron tropis yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Penemuannya menambah panjang daftar kekayaan hayati Sulawesi, pulau yang dikenal memiliki banyak spesies unik akibat sejarah geologi dan keterpisahan wilayahnya. Kisah penemuan bermula Juni 2023. Saat melakukan penelitian lapangan di sekitar Tentena, tim peneliti menemukan tanaman hidup dari genus Rhododendron yang tidak menyerupai spesies mana pun yang telah dideskripsikan dari Sulawesi. Tanaman tersebut telah dibudidayakan di sekitar Air Terjun Saluopa. Ia tumbuh pada substrat anggrek sebagai epifit. Istilah epifit digunakan untuk tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain sebagai tempat hidup, tetapi tidak mengambil makanan dari inangnya seperti parasit. Berdasarkan informasi dari pengumpul lokal, seluruh substrat itu berasal dari pohon besar yang tumbang di Petirorano, bagian dari Pegunungan Tokorondo. Wilayah tersebut berada pada ketinggian 1.000–1.800 meter di atas permukaan laut, sekitar 19 kilometer sebelah barat Air Terjun Saluopa. Tanaman itu mampu bertahan setelah dipindahkan ke kawasan air terjun yang berada pada ketinggian 560 meter. Spesimen yang sedang berbunga kemudian dikumpulkan pada Juli dan November 2024 untuk dijadikan bahan herbarium. Menentukan tumbuhan sebagai spesies baru tidak cukup hanya berdasarkan warna bunga atau bentuk yang tampak berbeda. Peneliti harus mencari ciri diagnostik, yakni karakter khusus yang dapat membedakannya secara konsisten dari kerabat terdekat. Dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>