<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=agus-mawan-majene&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/agus-mawan-majene/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 16 Oct 2026 11:46:01 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Empat Penambang Emas Tewas Terimbun Longsor di Sumbar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/16/empat-penambang-emas-tewas-tertimbun-longsor-di-sumbar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/16/empat-penambang-emas-tewas-tertimbun-longsor-di-sumbar/#respond</comments>
					<pubDate>16 Okt 2026 11:46:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/12031138/WhatsApp-Image-2026-10-11-at-15.29.24-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134849</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas penambangan emas ilegal di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) kembali menelan korban jiwa. Empat orang penambang tewas setelah longsor terjadi pada, Selasa (6/10/26). Lokasi kejadian berada di hutan Jorong Jujutan, Nagari Lubik Gadang, Kecamatan Sangir. AKBP Andreanaldo Ademi, Kapolres Solok mengtakan, para korban tertimbun longsoran saat mengambil material tambang sekitar pukul 01.00 dini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/16/empat-penambang-emas-tewas-tertimbun-longsor-di-sumbar/">Empat Penambang Emas Tewas Terimbun Longsor di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas penambangan emas ilegal di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) kembali menelan korban jiwa. Empat orang penambang tewas setelah longsor terjadi pada, Selasa (6/10/26). Lokasi kejadian berada di hutan Jorong Jujutan, Nagari Lubik Gadang, Kecamatan Sangir. AKBP Andreanaldo Ademi, Kapolres Solok mengtakan, para korban tertimbun longsoran saat mengambil material tambang sekitar pukul 01.00 dini hari. “Saat mereka bekerja, tebing tiba-tiba longsor dan langsung menimbun para korban. Pekerja lain di sekitar lokasi sempat berupaya memberikan pertolongan, namun tebalnya material tanah bercampur batu membuat nyawa keempatnya tidak tertolong,” katanya saat Mongabay hubungi. Keempat korban merupakan warga Sangir yang teridentifikasi atas nama Defriadi, Rafli, Dani dan Zul Fatrianto. Kapolres menambahkan, proses evakuasi memakan waktu cukup lama mengingat lokasi tambang berada jauh di dalam hutan. Para korban baru berhasil dievakuasi oleh sesama pendulang sekitar pukul 05.00, untuk kemudian mereka bawa ke rumah duka masing-masing. “Keluarga korban telah mengikhlaskan dan menganggap peristiwa ini sebagai musibah.&#8221; Selama ini, dia cukup aktif melakukan penertiban tambang emas ilegal. Hingga Oktober ini, tercatat belasan lokasi peti dia tertibkan dengan sejumlah alat berat disita. Namun, para pelaku acapkali kembali beroperasi setelah aparat pergi. “Ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi kami di Solok Selatan. Namun, kami tetap berkomitmen penuh untuk melakukan penegakan hukum terhadap penambangan ilegal,” ujar Andreanaldo. Tambang emas yeng beroperasi di kawasan hutan di Batang, hulu Batang Sangir Solok Selatan. Foto: Vinolia/Mongabay Indonesia. Kasus berulang Meninggalnya empat penambang emas ilegal ini menambah panjang daftar korban jiwa akibat aktivitas peti di Sumbar. Catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walih) Sumbar, sedikitnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/16/empat-penambang-emas-tewas-tertimbun-longsor-di-sumbar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/16/empat-penambang-emas-tewas-tertimbun-longsor-di-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Banyak Diekspor, Bagaimana Masa Depan Kura-kura Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/banyak-diekspor-bagaimana-masa-depan-kura-kura-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/banyak-diekspor-bagaimana-masa-depan-kura-kura-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>16 Okt 2026 10:00:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/04/22025013/kura-kura-matahari1-600x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134905</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan ribu kura-kura dari alam Indonesia diperdagangkan secara legal setiap tahun untuk diambil dagingnya dan diekspor, terutama ke Tiongkok. Perdagangan ini kerap dikaitkan dengan penghidupan masyarakat, tetapi penelitian dalam jurnal Discover Animals mempertanyakan seberapa besar manfaat ekonominya. Di tengah populasi yang menurun dan kemampuan reproduksi yang lambat, para peneliti menemukan bahwa pendapatan dari perdagangan legal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/banyak-diekspor-bagaimana-masa-depan-kura-kura-indonesia/">Banyak Diekspor, Bagaimana Masa Depan Kura-kura Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan ribu kura-kura dari alam Indonesia diperdagangkan secara legal setiap tahun untuk diambil dagingnya dan diekspor, terutama ke Tiongkok. Perdagangan ini kerap dikaitkan dengan penghidupan masyarakat, tetapi penelitian dalam jurnal Discover Animals mempertanyakan seberapa besar manfaat ekonominya. Di tengah populasi yang menurun dan kemampuan reproduksi yang lambat, para peneliti menemukan bahwa pendapatan dari perdagangan legal hanya mampu menopang beberapa ratus pengumpul dengan standar upah minimum. “Kami coba cari tahu apakah perdagangan satwa liar, -dalam hal ini kura-kura, berkontribusi pada mata pencaharian mereka,” kata Vincent Nijman, penulis utama dari Universitas Oxford Brookes. Penelitian tersebut menghitung potensi pendapatan berdasarkan harga pasar dan kuota penangkapan di 27 provinsi sepanjang 2016-2022, kemudian membandingkannya dengan upah minimum provinsi. Empat jenis menjadi target perdagangan daging: kura-kura cangkang lunak asia, kura-kura kotak asia tenggara, kura-kura daun asia, dan kura-kura cangkang lunak malaya. Dengan kuota tahunan hampir 50.000 individu dan harga sekitar US$1,10-20 per ekor, perdagangan legal diperkirakan hanya dapat memberikan pendapatan setara upah minimum bagi 241-306 pengumpul. Angka itu turun menjadi 161-204 orang jika pendapatan yang ditargetkan sebesar satu setengah kali upah minimum. Perhitungan tersebut bahkan belum mengurangi biaya izin, transportasi, peralatan, dan pengeluaran usaha lainnya. Jika penangkapan hanya dilakukan beberapa bulan atau kura-kura dijual setelah ditemukan secara tidak sengaja, perdagangan diperkirakan dapat menjangkau sekitar 2.400–3.000 orang, tetapi hanya menyumbang sekitar 10 persen pendapatan tahunan mereka. Memperbesar manfaat ekonomi melalui penambahan tangkapan juga menghadapi keterbatasan ekologis. Menurut Nijman, populasi yang sudah menurun tidak menyediakan banyak ruang untuk menaikkan kuota. Chris Shepherd, salah satu penulis penelitian, menilai perdagangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/banyak-diekspor-bagaimana-masa-depan-kura-kura-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/banyak-diekspor-bagaimana-masa-depan-kura-kura-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Menutup Celah Pengambilan Monyet Ekor Panjang dari Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/16/bagaimana-menutup-celah-pengambilan-monyet-ekor-panjang-dari-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/16/bagaimana-menutup-celah-pengambilan-monyet-ekor-panjang-dari-alam/#respond</comments>
					<pubDate>16 Okt 2026 04:12:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/16040648/Monyet-Ekor-Panjang-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135120</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana pemerintah bisa menutup celah pengambilan monyet ekor panjang dari alam di tengah pemanfaatannya untuk berbagai kepentingan? Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menekankan pentingnya verifikasi asal-usul Macaca fascicularis tersebut beserta dan audit fasilitas penangkarannya. Ini bertujuan agar klaim hasil penangkaran tak hanya bertumpu pada dokumen. Menurutnya, memastikan primata pintar ini benar-benar berasal dari penangkaran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/16/bagaimana-menutup-celah-pengambilan-monyet-ekor-panjang-dari-alam/">Bagaimana Menutup Celah Pengambilan Monyet Ekor Panjang dari Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana pemerintah bisa menutup celah pengambilan monyet ekor panjang dari alam di tengah pemanfaatannya untuk berbagai kepentingan? Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menekankan pentingnya verifikasi asal-usul Macaca fascicularis tersebut beserta dan audit fasilitas penangkarannya. Ini bertujuan agar klaim hasil penangkaran tak hanya bertumpu pada dokumen. Menurutnya, memastikan primata pintar ini benar-benar berasal dari penangkaran memerlukan serangkaian pemeriksaan ilmiah. Penelusuran silsilah, identifikasi individu, rekaman reproduksi, pemeriksaan genetik, hingga rekonsiliasi jumlah populasi perlu dilakukan untuk menguji asal-usul satwa. “Yang pertama adalah tidak hanya mempercayai ‘klaim hasil penangkaran’ pada dokumen CITES,” jelas Fahma, Senin (12/10/26). Penelusuran silsilah dan identifikasi individu bisa membantu memastikan riwayat setiap monyet, termasuk asal-usul dan hubungan kekerabatannya. Catatan reproduksi juga diperlukan, untuk mencocokkan jumlah kelahiran dengan jumlah satwa disebut kethek ini, yang dimiliki fasilitas penangkaran. Sementara itu, audit fasilitas bisa digunakan untuk memeriksa kesesuaian data populasi dengan kapasitas penangkaran. Pemeriksaan jadi penting untuk memastikan bahwa klaim hasil penangkaran didukung data yang bisa diuji, bukan sekadar keterangan administrasi. Pemerintah, kata Fahma, juga perlu memastikan bahwa pengambilan monyet ekor panjang dari alam tak ancam populasinya. “Penentuan jumlah yang bisa dimanfaatkan tidak semestinya hanya didasarkan pada presentase dari perkiraan populasi.” Penentuan kuota, menurutnya, harus didukung analisis populasi dan Non-Detriment Finding (NDF), yakni penilaian untuk memastikan pemanfaatan tidak merugikan kelangsungan hidup populasinya di alam. Monyet ekor panjang yang kehidupannya dekat dengan manusia. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Perlu berhitung sejumlah parameter Sejumlah parameter yang perlu diperhitungkan, antara lain tren populasi, struktur umur, rasio kelamin, populasi reproduksi efektif, tingkat kematian, serta keberadaan predator dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/16/bagaimana-menutup-celah-pengambilan-monyet-ekor-panjang-dari-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/16/bagaimana-menutup-celah-pengambilan-monyet-ekor-panjang-dari-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karut Marut Tata Kelola Limbah Medis di Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/16/karut-marut-tata-kelola-limbah-medis-di-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/16/karut-marut-tata-kelola-limbah-medis-di-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>16 Okt 2026 03:00:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14212300/IMG_2546-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135025</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Praktik kesehatan di Kalimantan Selatan (Kalsel) kian berkembang. Tak lagi hanya di rumah sakit dan klinik, juga menyasar rumah ke rumah. Namun, kemudahan itu membawa persoalan pengelolaan limbah medis yang masuk bahan berbahaya dan beracun (B3) terus muncul dari tahun ke tahun. Di Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru, misal, enam plastik biru berisi limbah medis tergeletak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/16/karut-marut-tata-kelola-limbah-medis-di-kalimantan-selatan/">Karut Marut Tata Kelola Limbah Medis di Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Praktik kesehatan di Kalimantan Selatan (Kalsel) kian berkembang. Tak lagi hanya di rumah sakit dan klinik, juga menyasar rumah ke rumah. Namun, kemudahan itu membawa persoalan pengelolaan limbah medis yang masuk bahan berbahaya dan beracun (B3) terus muncul dari tahun ke tahun. Di Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru, misal, enam plastik biru berisi limbah medis tergeletak di antara semak belukar di pinggir jalan, Mei lalu. Waktu bersamaan, kelurahan sedang patroli lingkungan dan membenahi sejumlah titik pembuangan sampah. Anindya Risa Destiana, Lurah Sungai Besar, bilang, saat petugas memeriksa, tumpukan ternyata berisi limbah medis. Sebagian plastik pembungkus sudah robek, tetapi sejumlah limbah masih dalam tertutup. Karena lokasi mudah masyarakat jangkau, kelurahan khawatir limbah akan membahayakan, terutama bagi anak-anak. Penanganannya pun kemudian berkoordinasi dengan camat dan instansi terkait. “Yang plastiknya bisa diangkat langsung kami bawa, sisanya kami laporkan kepada Pak Camat,” katanya kepada Mongabay. Kelurahan tidak tahu yang buang limbah sembarangan. Mereka juga tidak melakukan penelusuran karena menganggap hal itu di luar kewenangan. kelurahan lakukan pencegahan melalui sosialisasi kepada warga, termasuk lewat media sosial, pertemuan rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) serta Posyandu. Warga mereka minta lapor jika menemukan pembuangan limbah medis atau sampah lainnya. Di sejumlah titik yang pernah menjadi lokasi pembuangan, warga juga memasang kamera pengawas dan spanduk larangan membuang sampah sembarangan. A. Muhramsyah, Kepala Seksi Pengawasan dan Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, sempat menelusuri asal limbah di Sungai Besar itu. Petugas menemukan nota pembelian obat dan perlengkapan medis di antara limbah. Dari petunjuk itu, penelusuran mengarah kepada tenaga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/16/karut-marut-tata-kelola-limbah-medis-di-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/16/karut-marut-tata-kelola-limbah-medis-di-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asap Karhutla Ancam Kesehatan, Warga Kalbar Desak Pertanggungjawaban Negara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-karhutla-ancam-kesehatan-warga-kalbar-desak-pertanggungjawaban-negara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-karhutla-ancam-kesehatan-warga-kalbar-desak-pertanggungjawaban-negara/#respond</comments>
					<pubDate>16 Okt 2026 00:30:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10232856/Karhutla-Kalbar-Widya--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135017</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hardiansyah tetap bekerja sebagai pengemudi ojek daring ketika kabut asap menyelimuti Palembang. Memiliki riwayat asma, kesehatannya memburuk sebelum ia meninggal pada 2 Oktober setelah mengalami sesak napas berat. Di Banjarmasin, guru sekolah dasar bernama Lisna juga meninggal setelah sesak nafas di tengah kabut asap. Kisah keduanya memperlihatkan ancaman yang dihadapi warga ketika kebakaran hutan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-karhutla-ancam-kesehatan-warga-kalbar-desak-pertanggungjawaban-negara/">Asap Karhutla Ancam Kesehatan, Warga Kalbar Desak Pertanggungjawaban Negara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hardiansyah tetap bekerja sebagai pengemudi ojek daring ketika kabut asap menyelimuti Palembang. Memiliki riwayat asma, kesehatannya memburuk sebelum ia meninggal pada 2 Oktober setelah mengalami sesak napas berat. Di Banjarmasin, guru sekolah dasar bernama Lisna juga meninggal setelah sesak nafas di tengah kabut asap. Kisah keduanya memperlihatkan ancaman yang dihadapi warga ketika kebakaran hutan dan lahan terus berlangsung. Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut di tujuh provinsi terdampak sepanjang 18 Agustus–21 September 2026, termasuk 40.363 kasus pada balita. Dampak asap menjangkau kehidupan sehari-hari, dari terganggunya pendidikan hingga kecelakaan lalu lintas. Sejumlah sekolah dan kampus meliburkan peserta didik atau mengalihkan pembelajaran secara daring. Pemantauan Greenpeace di Pontianak juga beberapa kali mencatat konsentrasi PM2,5 melampaui 250,5 mikrogram per meter kubik, yang masuk kategori berbahaya. Belgis Habiba, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, menilai perlindungan masyarakat belum memadai. “Belum ada langkah konkret untuk menangani dampak kesehatan dan meringankan beban masyarakat terdampak,” katanya. Ia mendesak akses layanan kesehatan dan pengobatan yang cepat serta gratis bagi korban asap. Di balik krisis kesehatan, kerusakan gambut menjadi persoalan yang terus disorot. Secara alami, gambut menyimpan air dan berada dalam kondisi basah. Kanal yang mengeringkan lahan membuatnya semakin rentan terbakar. Analisis Greenpeace menemukan 5.540 titik sumber asap di 22 provinsi selama 8 Agustus-20 September, termasuk 859 titik dalam 115 konsesi kehutanan dan 774 titik dalam 210 konsesi sawit. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Nasional Walhi, menilai kebakaran berulang berkaitan dengan kebijakan perizinan dan lemahnya pengawasan. Menurutnya, penanganan harus mencakup evaluasi izin, pemeriksaan kepatuhan, serta pemulihan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-karhutla-ancam-kesehatan-warga-kalbar-desak-pertanggungjawaban-negara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-karhutla-ancam-kesehatan-warga-kalbar-desak-pertanggungjawaban-negara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Long Isun Tolak Dana Karbon Demi Jaga Hutan dan Kelestarian Tradisi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/15/masyarakat-long-isun-tolak-dana-karbon-demi-jaga-hutan-dan-kelestarian-tradisi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/15/masyarakat-long-isun-tolak-dana-karbon-demi-jaga-hutan-dan-kelestarian-tradisi/#respond</comments>
					<pubDate>15 Okt 2026 14:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/15142646/Foto-11-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135091</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Embun masih menempel di dedaunan. Kabut masih menggantung di atas rimba Kampung Long Isun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, pagi itu. Bonaventura Bayau,  Kepala Adat Dayak Bahau Umaq Suling di Kampung Long Isun, sedang menyusuri jalan kampung menuju hutan, tempat berladang sembari menyapa warga seperti biasa. “Masyarakat Suku Umaq Suling sangat mencintai dan menjaga hutan,” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/masyarakat-long-isun-tolak-dana-karbon-demi-jaga-hutan-dan-kelestarian-tradisi/">Masyarakat Long Isun Tolak Dana Karbon Demi Jaga Hutan dan Kelestarian Tradisi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Embun masih menempel di dedaunan. Kabut masih menggantung di atas rimba Kampung Long Isun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, pagi itu. Bonaventura Bayau,  Kepala Adat Dayak Bahau Umaq Suling di Kampung Long Isun, sedang menyusuri jalan kampung menuju hutan, tempat berladang sembari menyapa warga seperti biasa. “Masyarakat Suku Umaq Suling sangat mencintai dan menjaga hutan,” katanya,  awal Juni 2026. Masyarakat adat di Long Isun punya tradisi berladang. Tradisi itu sudah berjalan turun menurun, jauh sebelum warga mengenal kata “karbon” dan “deforestasi.” Selama tujuh tahun terakhir, tradisi turun-temurun kini harus berhadapan dengan program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF). Ini adalah proyek karbon gagasan Bank Dunia bersama Pemerintah Indonesia. Tujuannya,  memangkas emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan atau yang dikenal sebagai  reducing emissions from deforestation and forest degradation  (REDD+). Bank Dunia akan mengucurkan insentif US$100 juta, setara Rp1,6 triliun sampai 2028 bila Pemerintah Indonesia bisa mengurangi emisi gas rumah kaca 22 juta ton CO2e. Tahap pertama, duit karbon ini mengalir ke 417 desa dan 24 kelurahan, serta 143 kelompok masyarakat dan tujuh masyarakat adat. Insentif ini untuk kegiatan yang berkontribusi pada perlindungan hutan dan peningkatan mata pencaharian. Kalimantan Timur, salah satu wilayah percontohan dan penerima pertama di Asia-Pasifik untuk pendanaan karbon berbasis kinerja dari FCPF-CF. Lanskap udara Kampung Long Isun yang dibelah kelok Sungai Mahakam dan dikelilingi hamparan hutan lebat. Tutupan hutan yang masih terjaga rapat ini menjadi alasan wilayah Long Isun masuk dalam bentang target kompensasi dana karbon. Foto: Yuda Almerio/Mongabay Indonesia Alasannya, provinsi ini memiliki tutupan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/masyarakat-long-isun-tolak-dana-karbon-demi-jaga-hutan-dan-kelestarian-tradisi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/15/masyarakat-long-isun-tolak-dana-karbon-demi-jaga-hutan-dan-kelestarian-tradisi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gugat Kebijakan Panas Bumi Flores, Keuskupan Agung Ende Soroti Hak Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gugat-kebijakan-panas-bumi-flores-keuskupan-agung-ende-soroti-hak-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gugat-kebijakan-panas-bumi-flores-keuskupan-agung-ende-soroti-hak-warga/#respond</comments>
					<pubDate>15 Okt 2026 10:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230843/Panas-bumi--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134973</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Flores, air dan lahan pertanian menopang kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran terhadap keduanya menjadi bagian dari penolakan proyek panas bumi. Di Mataloko, warga mengeluhkan kekurangan air serta semburan lumpur panas di lahan dan sekitar rumah. Di Desa Laja, Manggarai, warga khawatir penggunaan Sungai Tiwu Bala untuk proyek geothermal memperberat kekeringan. Keluhan tersebut mengiringi langkah Keuskupan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gugat-kebijakan-panas-bumi-flores-keuskupan-agung-ende-soroti-hak-warga/">Gugat Kebijakan Panas Bumi Flores, Keuskupan Agung Ende Soroti Hak Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Flores, air dan lahan pertanian menopang kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran terhadap keduanya menjadi bagian dari penolakan proyek panas bumi. Di Mataloko, warga mengeluhkan kekurangan air serta semburan lumpur panas di lahan dan sekitar rumah. Di Desa Laja, Manggarai, warga khawatir penggunaan Sungai Tiwu Bala untuk proyek geothermal memperberat kekeringan. Keluhan tersebut mengiringi langkah Keuskupan Agung Ende mengajukan uji materi ke Mahkamah Agung atas tiga keputusan Menteri ESDM mengenai wilayah kerja panas bumi Sokoria, Mataloko, dan penetapan Flores sebagai “pulau panas bumi”. Gugatan didaftarkan pada 4 September 2026. Azas Tigor Nainggolan, anggota tim kuasa hukum keuskupan, menjelaskan bahwa permohonan berangkat dari persoalan keterbukaan informasi, partisipasi publik, dan kajian dampak lingkungan. Menurutnya, masyarakat kesulitan memperoleh dokumen lengkap keputusan tersebut, meski telah menyampaikan keberatan administratif. “Tanpa akses dokumen, partisipasi bermakna tidak mungkin terwujud,” katanya. Keuskupan meminta ketiga keputusan dinyatakan tidak sah dan dicabut. Tigor menekankan bahwa kebijakan yang mengubah kawasan hulu, penggunaan lahan, dan ekosistem harus dilakukan secara hati-hati, berbasis ilmiah, transparan, serta melibatkan masyarakat. Kekhawatiran itu berkaitan dengan bentang Flores yang memiliki pegunungan vulkanik, hutan, daerah resapan, dan mata air bagi rumah tangga, pertanian, serta peternakan. Uskup Agung Ende, Paulus Budi Kleden, menilai proyek panas bumi berskala besar tidak sesuai dengan topografi pulau dan berpotensi mengambil lahan permukiman maupun pertanian. Ia juga menyoroti kebutuhan air untuk pengeboran ketika sebagian warga sudah menghadapi kekurangan. “Air yang sudah berkurang itu digunakan lagi untuk geothermal, maka masyarakat akan sangat menderita,” ujarnya. Pengalaman proyek Mataloko turut membentuk kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah menangani risiko. Antoni, warga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gugat-kebijakan-panas-bumi-flores-keuskupan-agung-ende-soroti-hak-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gugat-kebijakan-panas-bumi-flores-keuskupan-agung-ende-soroti-hak-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Asuh dari Hutan Nagari Simarasok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/15/pohon-asuh-dari-hutan-nagari-simarasok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/15/pohon-asuh-dari-hutan-nagari-simarasok/#respond</comments>
					<pubDate>15 Okt 2026 09:55:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/12040808/Pengelola-memperbaharui-tagging-di-Pohon-Asuh-Hutan-Simarasok.-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134884</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Zakir menunjukkan pesan di telepon pintarnya dari salah seorang pengasuh pohon di Hutan Nagari (desa adat) Simarasok, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar). “Terimakasih warga Nagari Simarasok, masih ada yang peduli dengan hutan dan menjaga hutan.” tulis pesan singkat itu. Warga Nagari Simarasok tidak pernah bertemu para pengasuh pohon di nagarinya itu. Sebab, kebanyakan mereka dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/pohon-asuh-dari-hutan-nagari-simarasok/">Pohon Asuh dari Hutan Nagari Simarasok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Zakir menunjukkan pesan di telepon pintarnya dari salah seorang pengasuh pohon di Hutan Nagari (desa adat) Simarasok, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar). “Terimakasih warga Nagari Simarasok, masih ada yang peduli dengan hutan dan menjaga hutan.” tulis pesan singkat itu. Warga Nagari Simarasok tidak pernah bertemu para pengasuh pohon di nagarinya itu. Sebab, kebanyakan mereka dari luar daerah. Salah satunya yang berkirim pesan dengan Zakir. Dia adalah warga Jambi dan mengasuh sejumlah pohon di Nagari Simarasok. Pohon asuh merupakan salah satu model pengelolaan hutan di Nagari Simarasok setelah pengesahan kawasan hutan nagari oleh Menteri Kehutanan pada Juli 2017. Luasnya sekitar 397 hektar. Zakir, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Simarasok bilang,  menjaga hutan tidak hanya  dengan menanam dan merawatnya.  Dengan dampingan  KKI Warsi  juga mengembangkan program pohon asuh, yang memungkinkan orang atau lembaga mengadopsi pohon tertentu dan membiayai pemeliharaannya. “Melalui program ini, orang yang menjadi pengasuh pohon mendapatkan sertifikat digital serta laporan mengenai kondisi pohon sebanyak tiga kali dalam setahun. Pohon yang ditawarkan telah diberi tagging sehingga pengasuh dapat mengetahui pohon yang mereka pilih,” ujarnya. Pengelola memperbaharui tagging di Pohon Asuh Hutan Simarasok. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesoia. Pengasuh memilih sendiri pohon asuhan Program itu  membuka tiga pilihan berdasarkan diameter pohon. Pohon dengan diameter 60 sentimeter ke atas dapat diasuh dengan biaya Rp200.000 per tahun per batang. Untuk diameter 40-60 sentimeter, biayanya Rp150.000 per tahun. Sementara pohon dengan diameter di bawah 40 sentimeter ditawarkan dengan biaya Rp100.000 per tahun, yang Zakir sebut sebagai paket mahasiswa. “Calon pengasuh dapat memilih sendiri pohon melalui&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/pohon-asuh-dari-hutan-nagari-simarasok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/15/pohon-asuh-dari-hutan-nagari-simarasok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Izin Tambang Seluas 155 Ribu Hektar Membentang di Aceh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/15/izin-tambang-seluas-155-ribu-hektar-membentang-di-aceh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/15/izin-tambang-seluas-155-ribu-hektar-membentang-di-aceh/#respond</comments>
					<pubDate>15 Okt 2026 07:16:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/21235932/Aceh-Barat3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135076</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebanyak 85 izin usaha pertambangan (IUP) mineral logam dan batubara membentang di Provinsi Aceh. Izin tersebut tersebar di 12 kabupaten/kota dengan total luas 155.307,50 hektar. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berstatus eksplorasi, yakni 56 izin (117.727,67 hektar). Sementara, tahap operasi produksi sebanyak 29 izin (37.579,83 hektar). Data yang dipublikasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/izin-tambang-seluas-155-ribu-hektar-membentang-di-aceh/">Izin Tambang Seluas 155 Ribu Hektar Membentang di Aceh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebanyak 85 izin usaha pertambangan (IUP) mineral logam dan batubara membentang di Provinsi Aceh. Izin tersebut tersebar di 12 kabupaten/kota dengan total luas 155.307,50 hektar. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berstatus eksplorasi, yakni 56 izin (117.727,67 hektar). Sementara, tahap operasi produksi sebanyak 29 izin (37.579,83 hektar). Data yang dipublikasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Aceh tersebut, mencantumkan nama perusahaan, tahap izin, nomor izin, tanggal penerbitan dan berakhirnya izin, jenis komoditas, luas konsesi, serta kabupaten/kota lokasi pertambangan. Aceh Jaya menjadi daerah dengan luasan IUP terbesar, mencapai 48.324,30 hektar. Berikutnya, Kabupaten Aceh Barat (30.926 hektar), Kabupaten Aceh Singkil (22.049 hektar), Kabupaten Nagan Raya (20.648,48 hektar), Kabupaten Aceh Selatan (13.980,17 hektar), Kabupaten Aceh Tengah (5.577 hektar), Kabupaten Pidie (4.217,60 hektar), Kabupaten Aceh Barat Daya (3.264 hektar), Kabupaten Aceh Besar (3.134,63 hektar), Kota Subulussalam (1.955 hektar), Kabupaten Aceh Tamiang (1.016,12 hektar), dan Kabupaten Gayo Lues (215,20 hektar). Sungai di Aceh Barat ini rusak akibat airnya tercemar tambang emas ilegal. Foto drone: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Marwan Nusuf, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh, menjelaskan bahwa, penerbitan IUP dilakukan melalui serangkaian tahapan yang ketat. Seluruh prosesnya berlangsung secara elektronik melalui sistem perizinan, bukan manual. &#8220;Tidak ada tatap muka antara pemohon dengan petugas dalam proses penerbitan izin. Tanggal pengajuan, pemeriksaan, hingga penandatanganan izin semuanya tercatat secara elektronik,&#8221; ujarnya, Kamis (9/7/26). Dia mengatakan, sebelum izin diterbitkan, DPMPTSP terlebih dahulu memverifikasi kelengkapan dan keabsahan seluruh dokumen yang diajukan. Selain memeriksa administrasi perusahaan, instansinya juga memastikan dokumen-dokumen pendukung, termasuk keaslian tanda tangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/izin-tambang-seluas-155-ribu-hektar-membentang-di-aceh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/15/izin-tambang-seluas-155-ribu-hektar-membentang-di-aceh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terpisah Laut Dua Juta Tahun Lalu, Ular Kobra Kacamata di Sri Lanka dan India Bermula dari Afrika</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/15/terpisah-laut-dua-juta-tahun-lalu-ular-kobra-kacamata-di-sri-lanka-dan-india-bermula-dari-afrika/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/15/terpisah-laut-dua-juta-tahun-lalu-ular-kobra-kacamata-di-sri-lanka-dan-india-bermula-dari-afrika/#respond</comments>
					<pubDate>15 Okt 2026 04:13:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/15035257/Naja_naja_123020903-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135062</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Indonesia, kobra lebih akrab disebut ular sendok. Ular berbisa ini juga punya tempat yang kuat dalam kebudayaan Sri Lanka, tempat jejaknya mudah ditemukan. Sosok kobra terpahat pada batu, mulai dari kisah Buddha yang dilindungi kobra mitos Muchalinda dari badai hingga ukiran kobra berkepala tujuh di dekat waduk kuno. Kobra juga hadir dalam tarian topeng [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/terpisah-laut-dua-juta-tahun-lalu-ular-kobra-kacamata-di-sri-lanka-dan-india-bermula-dari-afrika/">Terpisah Laut Dua Juta Tahun Lalu, Ular Kobra Kacamata di Sri Lanka dan India Bermula dari Afrika</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Indonesia, kobra lebih akrab disebut ular sendok. Ular berbisa ini juga punya tempat yang kuat dalam kebudayaan Sri Lanka, tempat jejaknya mudah ditemukan. Sosok kobra terpahat pada batu, mulai dari kisah Buddha yang dilindungi kobra mitos Muchalinda dari badai hingga ukiran kobra berkepala tujuh di dekat waduk kuno. Kobra juga hadir dalam tarian topeng Naga Raksha dan menjadi bagian lambang kongres ular pertama di dunia. Hubungan yang berlangsung berabad-abad itu membuat kobra dikenal sebagai simbol sekaligus satwa. Di balik itu, ada pertanyaan ilmiah yang belum tuntas: apakah kobra Sri Lanka layak dianggap spesies tersendiri? Kobra kacamata (Naja naja) tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Bhutan, dan Sri Lanka, dan secara umum diperlakukan sebagai satu spesies. Studi terbaru yang melibatkan peneliti Indian Institute of Science menemukan bahwa kobra di pulau itu membentuk garis keturunan genetik yang berbeda dari populasi di daratan India. Temuan ini menghidupkan lagi persoalan taksonomi yang diangkat seorang ahli zoologi Sri Lanka hampir sembilan dekade lalu. Para peneliti sendiri belum menyatakan kobra Sri Lanka sebagai spesies terpisah, dan keputusan itu masih berada di tangan para taksonom. Hampir Sembilan Dekade Perdebatan Taksonomi Ceritanya bermula pada 1939, ketika ahli zoologi Sri Lanka, P. E. P. Deraniyagala, menjelaskan kobra kacamata dengan tambahan corak mirip mata pada tudungnya. Ia menamainya variasi warna polyocellata. Saat itu, bentuk tersebut diperlakukan sebagai variasi warna kobra India, bukan subspesies khas Sri Lanka. Deraniyagala kembali menulis soal taksonomi kobra pada 1945 dan 1960, termasuk mengusulkan beberapa ras geografis di anak benua India. Namun, penelitian morfologi sesudahnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/terpisah-laut-dua-juta-tahun-lalu-ular-kobra-kacamata-di-sri-lanka-dan-india-bermula-dari-afrika/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/15/terpisah-laut-dua-juta-tahun-lalu-ular-kobra-kacamata-di-sri-lanka-dan-india-bermula-dari-afrika/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Burung Kasuari Diburu, Regenerasi Hutan Papua Ikut Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/burung-kasuari-diburu-regenerasi-hutan-papua-ikut-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/burung-kasuari-diburu-regenerasi-hutan-papua-ikut-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>15 Okt 2026 01:49:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/11004158/Kasuari_Malagufuk-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135018</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasuari berjalan di lantai hutan, memakan buah, lalu membawa bijinya ke tempat lain. Burung besar yang tidak bisa terbang ini membantu tumbuhan menyebar dan hutan memperbarui dirinya. Namun, perannya sebagai penebar biji menghadapi ancaman perburuan. Pada Agustus 2026, pasangan warga Tiongkok dideportasi setelah petugas menemukan foto dan video perburuan satwa dilindungi di Papua, termasuk kasuari. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/burung-kasuari-diburu-regenerasi-hutan-papua-ikut-terancam/">Burung Kasuari Diburu, Regenerasi Hutan Papua Ikut Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasuari berjalan di lantai hutan, memakan buah, lalu membawa bijinya ke tempat lain. Burung besar yang tidak bisa terbang ini membantu tumbuhan menyebar dan hutan memperbarui dirinya. Namun, perannya sebagai penebar biji menghadapi ancaman perburuan. Pada Agustus 2026, pasangan warga Tiongkok dideportasi setelah petugas menemukan foto dan video perburuan satwa dilindungi di Papua, termasuk kasuari. Kegiatan itu juga disiarkan melalui platform Douyin. Perkara ditangani sebagai pelanggaran izin tinggal, sementara jumlah satwa yang ditangkap atau dibunuh tidak dirinci. Di balik tubuh besar dan cakar tajamnya, kasuari memiliki hubungan erat dengan kehidupan tumbuhan. Penelitian Anderson dan kolega dalam jurnal Ecology and Evolution menjelaskan bahwa burung pemakan buah ini berperan penting dalam menyebarkan biji berukuran besar. “Penyebaran tumbuhan berbiji besar oleh kasuari adalah interaksi spesies kunci yang menopang regenerasi hutan,” tulis mereka. Kasuari dapat membawa biji hingga sekitar 1,5 kilometer dari pohon induk, membantu menghubungkan tumbuhan di antara petak-petak hutan. Saluran pencernaannya memungkinkan biji tetap utuh dan siap berkecambah. Meski dilakukan di Australia, penelitian tersebut memberikan prinsip ekologis yang dapat menjadi acuan studi di Papua. Hubungan manusia dengan kasuari memiliki sejarah panjang. Penelitian Kristina Douglass dan kolega pada situs Yuku dan Kiowa, Papua Nugini, menunjukkan pemanfaatannya sejak lebih dari 18.000 tahun lalu. Analisis cangkang telur menemukan pola pengambilan pada tahap perkembangan embrio akhir, mendekati penetasan. Temuan itu mendukung dugaan bahwa manusia mengumpulkan telur untuk ditetaskan dan membesarkan anak kasuari. Kini, pemanfaatan satwa tersebut menghadapi tekanan tambahan berupa kerusakan serta fragmentasi habitat, perburuan tidak terkendali, dan predator introduksi seperti babi atau anjing. Pengeraman panjang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/burung-kasuari-diburu-regenerasi-hutan-papua-ikut-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/burung-kasuari-diburu-regenerasi-hutan-papua-ikut-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gambut Jambi Terus Membara,  Derita Warga Terpapar Kabut Asap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/15/gambut-jambi-terus-membara-derita-warga-terpapar-kabut-asap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/15/gambut-jambi-terus-membara-derita-warga-terpapar-kabut-asap/#respond</comments>
					<pubDate>15 Okt 2026 01:23:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14234116/Personel-pemadaman-berusaha-memadamkan-api-yang-membakar-wilayah-gambut-di-Londerang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135032</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Bara api di hutan dan lahan gambut Jambi tak jua padam. Jutaan masyarakat menghadapi pekatnya asap, alami gangguan pernapasan. Jarak pandang pun menyempit, ruang-ruang kelas belajar sementara tutup. Berbulan-bulan Anjeli batuk tanpa henti. Hasil rekam medis bocah dua tahun itu menunjukkan pembuluh darah pada parunya terlihat menonjol. Di bagian tengah paru kanan dan kiri, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/gambut-jambi-terus-membara-derita-warga-terpapar-kabut-asap/">Gambut Jambi Terus Membara,  Derita Warga Terpapar Kabut Asap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Bara api di hutan dan lahan gambut Jambi tak jua padam. Jutaan masyarakat menghadapi pekatnya asap, alami gangguan pernapasan. Jarak pandang pun menyempit, ruang-ruang kelas belajar sementara tutup. Berbulan-bulan Anjeli batuk tanpa henti. Hasil rekam medis bocah dua tahun itu menunjukkan pembuluh darah pada parunya terlihat menonjol. Di bagian tengah paru kanan dan kiri, ada bayangan yang berkaitan infeksi paru. “Batuk nggak sembuh-sembuh, kadang sampai muntah. Kata dokternya, pengaruh asap kebakaran,” kata Purba, ayah Anjeli. Sejak Juli 2026, masyarakat Dusun Trans III, Desa Sepintun, Kecamatan Pauh, Sarolangun, tempat mereka tinggal terkepung asap kebakaran di konsesi PT Alam Lestari Nusantara, anak perusahaan PTPN III. Analisis citra satelit GIS Walhi Jambi, luas kebakaran lebih 2.500 hektar. “Asap nggak ilang-ilang, ALN kebakaran terus,” keluh Purba. Kabut asap juga mencekik masyarakat di Kota Jambi. Sudah seminggu Hanafia mengeluh pusing dan sakit tenggorokan. Dia pun harus mengkonsumsi obat dari Puskesmas. “Minggu ini kabutnya pekat banget. Napas jadi sesak,” kata perempuan 30 tahun itu. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi menunjukkan, sepanjang September 2026 pasien infeksi saluran pernapasan (ISPA) mencapai 26.957 orang. Kota Jambi jadi penyumbang kasus paling banyak. Sejak Agustus-24 September tercatat 9.281 orang menderita gangguan pernapasan. Purba menunjukkan hasil rontgen paru anaknya yang menderita infeksi paru dampak kabut asap. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia Zakaria, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, mengatakan, dampak kabut asap tidak hanya ISPA, partikel polutan halus yang terhirup dapat memicu risiko serangan asma, gangguan paru-paru, bahkan serangan jantung. “Saya mengimbau kelompok rentan—anak-anak dan lansia—dan masyarakat yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/15/gambut-jambi-terus-membara-derita-warga-terpapar-kabut-asap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/15/gambut-jambi-terus-membara-derita-warga-terpapar-kabut-asap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Perempuan Pesisir Baliara Terdampak Tambang Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nestapa-perempuan-pesisir-baliara-terdampak-tambang-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nestapa-perempuan-pesisir-baliara-terdampak-tambang-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 16:49:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Muhlas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[poltiik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29174202/WhatsApp-Image-2026-09-13-at-23.39.20-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134333</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Foto mi baru kirimkan di nasional sana, supaya kita orang miskin ini dilihat juga sama Prabowo (Presiden Prabowo Subianto),” kata Mpila, emosional saat lensa kamera menyorotnya malam itu. Perempuan nelayan tradisional Suku Bajo ini keluhkan makin sulitnya menangkap ikan karena laut dan pesisir Desa Baliara, Pulau Kabaena,  Sulawesi Tenggara (Sultra),  berwarna oranye karena  tercemar lumpur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/nestapa-perempuan-pesisir-baliara-terdampak-tambang-nikel/">Nestapa Perempuan Pesisir Baliara Terdampak Tambang Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Foto mi baru kirimkan di nasional sana, supaya kita orang miskin ini dilihat juga sama Prabowo (Presiden Prabowo Subianto),” kata Mpila, emosional saat lensa kamera menyorotnya malam itu. Perempuan nelayan tradisional Suku Bajo ini keluhkan makin sulitnya menangkap ikan karena laut dan pesisir Desa Baliara, Pulau Kabaena,  Sulawesi Tenggara (Sultra),  berwarna oranye karena  tercemar lumpur tambang nikel. Dia kelimpungan lantaran angsuran di koperasi yang hampir jatuh tempo. “Kasihan memancing dari jam 6.00 pagi pulang jam 3.00 sore cuma lima ekor didapat. Datang penagih [utang] mo kasih apa mi, tiada uang. Kalau begini terus mo bikin apa?” Mpila terpaksa terlilit pinjaman berbunga demi tungku dapurnya mengepul buntut penghasilan melaut yang katanya ‘setengah mati.’ Dia ibu tunggal sejak suami mangkat hampir sedekade lalu. Padahal, katanya, dulu kehidupan nelayan lintas generasi berlangsung tentram dengan ikan yang sangat melimpah. Untuk konsumsi sehari-hari, warga bahkan cukup memancingnya dari sela papan lantai rumah. Warga juga bisa menjualnya untuk pemasukan tambahan. “Kalau masih bersih air laut, jarum jatuh saja bisa kita lihat.” Itu dulu. Sejak  laut pesisir penuh lumpur, ikan pun tak ada hingga memaksa nelayan mendayung lebih jauh. Bagi Mpila, dengan  usia lebih  60 tahun, jelas  bukan pekerjaan mudah. Mpila kerap pulang hanya dengan tiga kilogram ikan hasil memancing sejak pagi hingga petang yang setara Rp20.000. “Uang segitu cuma bisa beli beras dua liter untuk makan satu dua hari. Habis itu tidak tahu mo bagimana lagi.” Meski terus menghadapi ketidakpastian hasil tangkap, Mpila tetap harus melaut. Sebab, hanya itu satu-satunya sumber penghidupannya. “Kalau tidak begitu kita&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/nestapa-perempuan-pesisir-baliara-terdampak-tambang-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nestapa-perempuan-pesisir-baliara-terdampak-tambang-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Berkah El Nino Bagi Nelayan Cilacap, Sekali Melaut Panen Ubur-ubur hingga 2 Ton</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 14:01:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14135556/ubur1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135010</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ancaman Nyata El Nino Godzilla]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ikomunitas lokal, jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belasan perahu nelayan ukuran 2 x 9 meter bersandar di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/26). Bentuk perahu tersebut agak berbeda, ada tambahan wadah berbentuk kotak kayu yang sengaja dibuat di badan perahu. Tempat tersebut digunakan untuk menampung ubur-ubur. Sejak Agustus hingga pertengahan Oktober [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/">Berkah El Nino Bagi Nelayan Cilacap, Sekali Melaut Panen Ubur-ubur hingga 2 Ton</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belasan perahu nelayan ukuran 2 x 9 meter bersandar di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/26). Bentuk perahu tersebut agak berbeda, ada tambahan wadah berbentuk kotak kayu yang sengaja dibuat di badan perahu. Tempat tersebut digunakan untuk menampung ubur-ubur. Sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026, nelayan pesisir Cilacap menikmati musim panen ubur-ubur yang melimpah. Bagi mereka, fenomena alam yang berkaitan dengan kemarau panjang dan El Nino ini membawa berkah saat tiada kepastian tangkapn ikan dari laut. “Hasil tangkapan masih cukup banyak,” ujar Rahmat (32), nelayan Tegalkatilayu. Setiap hari, sekitar pukul 04.00 WIB, dia melaut menggunakan perahu kecil, sekitar 1–2 kilometer dari garis pantai. Sekitar tiga jam, Rahmat maupun nelayan lain bisa memperoleh dua dua ton ubur-ubur. Di tempat penerimaan, ubur-ubur ditimbang sebelum masuk ke rantai perdagangan dan pengolahan. Nono (44), nelayan Tegalkatilayu, harga jual ubur-ubur di tingkat nelayan kisaran Rp800 per kilogram. Dengan hasil tangkapan dua ton, pendapatan kotor yang diperoleh sekitar Rp1,6 juta sekali melaut. “Hasil ini belum dikurangi biaya operasional, termasuk bahan bakar dan kebutuhan melaut,” ujarnya. Nelayan di Cilacap siap untuk membongkar ubur-ubur hasil tangkapan. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Supri, pengepul ubur-ubur di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, mengatakan musim panen mulai berlangsung sejak Agustus. “Sampai saat ini masih berlangsung dan kami bersyukur hasilnya bagus.” Di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, terdapat sekitar 10 lapak penerimaan ubur-ubur untuk menampung hasil tangkapan 500 nelayan. Setiap lapak melayani 50 perahu dengan target harian pengolahan 50–80 ton. “Potensi ini mmeberikan pemasukan tambahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Geophilus hadesi, Kelabang Buta yang Hidup 1.100 Meter di Bawah Permukaan Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 11:35:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14113340/oo_46049-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135004</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gua dan sistem rongga bawah tanah masih menjadi tempat ditemukannya hewan-hewan baru bagi sains. Lingkungan tanpa cahaya matahari, bersuhu rendah, dan miskin pasokan makanan membentuk penghuni dengan penyesuaian khusus, seperti antena, ruas tubuh, dan cakar yang memanjang. Hewan yang seluruh daur hidupnya berlangsung di dalam gua disebut troglobit, dan kelompok ini tersebar di berbagai golongan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/">Geophilus hadesi, Kelabang Buta yang Hidup 1.100 Meter di Bawah Permukaan Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gua dan sistem rongga bawah tanah masih menjadi tempat ditemukannya hewan-hewan baru bagi sains. Lingkungan tanpa cahaya matahari, bersuhu rendah, dan miskin pasokan makanan membentuk penghuni dengan penyesuaian khusus, seperti antena, ruas tubuh, dan cakar yang memanjang. Hewan yang seluruh daur hidupnya berlangsung di dalam gua disebut troglobit, dan kelompok ini tersebar di berbagai golongan invertebrata, termasuk kelabang. Salah satu penghuni gua itu adalah Geophilus hadesi, kelabang berukuran kecil yang dideskripsikan pada 2015 dari gua-gua vertikal di Gunung Velebit, Kroasia tengah. Satu individunya teramati pada kedalaman sekitar 1.100 meter, dan angka itu tercatat sebagai kedalaman terjauh yang pernah dilaporkan untuk seluruh kelabang. Temuan tersebut dimuat di jurnal ZooKeys oleh tim yang dipimpin Pavel Stoev dari Pensoft Publishers dan Museum Sejarah Alam Nasional Bulgaria. Spesimen dari gua-gua Velebit Stoev dan rekan-rekannya mendeskripsikan spesies baru ini dari spesimen yang dikumpulkan di gua-gua Velebit pada kedalaman sekitar 250 meter ke bawah. Holotipenya, yaitu spesimen acuan penamaan spesies, berupa betina sepanjang 28 milimeter dengan 33 pasang kaki. Spesimen itu diambil dengan tangan pada Februari 2011 di Gua Munižaba, kawasan Gračac, yang mulut guanya berada di ketinggian 915 meter di atas permukaan laut. Individu lain tercatat di sistem gua vertikal Lukina jama-Trojama pada kedalaman 980 meter dan 1.100 meter. Yang pertama dikoleksi di sebuah ruang gua yang luas, sedangkan yang kedua hanya teramati di titik yang tidak dapat dijangkau sehingga tidak bisa diambil. Para penulis menyebut keduanya tampaknya berasal dari spesies yang sama, dan menyebut angka 1.100 meter sebagai catatan kedalaman terjauh untuk seluruh Chilopoda.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Udang Purba Yang Hidup Dalam Gelapnya Gua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 10:00:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/02/22041317/Stenasellus-javanicus2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134974</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, karst, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gua bukan sekadar lorong gelap di bawah permukaan bumi. Di balik batuan, aliran air, dan ruang yang nyaris tidak tersentuh cahaya, tersimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Salah satunya adalah “udang purba”, hewan berukuran kurang dari satu sentimeter yang hidup di kolam-kolam kecil di lantai gua. Meski disebut udang, satwa ini sebenarnya termasuk kelompok isopoda. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/">Ada Udang Purba Yang Hidup Dalam Gelapnya Gua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gua bukan sekadar lorong gelap di bawah permukaan bumi. Di balik batuan, aliran air, dan ruang yang nyaris tidak tersentuh cahaya, tersimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Salah satunya adalah “udang purba”, hewan berukuran kurang dari satu sentimeter yang hidup di kolam-kolam kecil di lantai gua. Meski disebut udang, satwa ini sebenarnya termasuk kelompok isopoda. Salah satu jenisnya, Stenasellus javanicus, pertama kali ditemukan di Jawa pada 2004 melalui kegiatan penelusuran Gua Cikarai di kawasan karst Klapanunggal, Bogor. Dua individu yang ditemukan saat itu kemudian diteliti dan dideskripsikan sebagai spesies baru. Keunikan Stenasellus tidak hanya terlihat dari tubuhnya yang beruas dan berwarna merah muda. Kerabat jauhnya hidup di laut, tetapi kelompok yang ditemukan di Indonesia sejauh ini hanya dijumpai di perairan tawar dalam gua. Mereka menghuni kolam yang terbentuk dari tetesan air di atap dan dinding gua, bukan dari sungai permukaan. Peralihan dari laut menuju habitat air tawar diperkirakan berlangsung melalui proses evolusi yang sangat panjang. Sebarannya telah tercatat di sejumlah wilayah, dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, hingga Kalimantan. Namun, tiap populasi dapat terisolasi dalam kawasan karst yang berbeda. Kondisi ini membuka kemungkinan adanya jenis-jenis lain yang belum dikenali. Habitatnya yang sempit juga membuat udang purba rentan terhadap gangguan. Aktivitas wisata, penelusuran yang tidak bertanggung jawab, sampah, pencemaran, serta pertambangan dapat mengubah kualitas air dan merusak kolam tempat hidupnya. Bagaimana udang purba bertahan dalam kegelapan gua? Mengapa satwa yang leluhurnya berasal dari laut kini ditemukan jauh di daratan? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Dr. Cahyo Rahmadi, peneliti zoologi LIPI&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Masyarakat Long Beluah, Ladang Makin Jauh dan Pengakuan Adat Belum Tiba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 10:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05084054/Screenshot-2026-08-10-at-18.54.46-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134904</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di depan rumah Lihiu Yohanes, truk pengangkut tandan buah segar sawit melintas siang dan malam. Jalan Desa Long Beluah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berlumpur ketika hujan dan berdebu saat panas. Bagi tokoh adat Gaai Kung Kemul tersebut, kerusakan jalan merupakan bagian dari perubahan yang telah dirasakan masyarakat selama puluhan tahun. “Sarana transportasi kita pun rusak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/">Nestapa Masyarakat Long Beluah, Ladang Makin Jauh dan Pengakuan Adat Belum Tiba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di depan rumah Lihiu Yohanes, truk pengangkut tandan buah segar sawit melintas siang dan malam. Jalan Desa Long Beluah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berlumpur ketika hujan dan berdebu saat panas. Bagi tokoh adat Gaai Kung Kemul tersebut, kerusakan jalan merupakan bagian dari perubahan yang telah dirasakan masyarakat selama puluhan tahun. “Sarana transportasi kita pun rusak karena dia (perusahaan) lintasi jalan kita ini,” katanya. Aktivitas perusahaan juga disebut mempersempit lahan garapan dan menjauhkan warga dari sumber pangan serta tumbuhan obat. Sebelum perkebunan sawit berkembang, PT ITCI Kayan Hutani telah masuk dengan konsesi kehutanan sekitar 200.000 hektar. Pada 2007, Gawi Plantations, bagian dari Wings Group, hadir melalui tiga anak perusahaan dengan konsesi sekitar 50.000 hektar di empat kecamatan. Lihiu mengatakan masyarakat tidak mendapat sosialisasi mengenai rencana tersebut. Kini, sebagian warga harus berladang hingga sekitar kilometer 60, mendekati perbatasan Berau. Perjalanan yang semakin jauh menambah pengeluaran, sementara tanaman seperti pasak bumi dan akar bajakah tidak lagi mudah ditemukan di sekitar kampung. Persoalan juga muncul dalam skema plasma yang dijanjikan untuk 100 keluarga. Menurut Lihiu, biaya pembukaan jalan dan penggarapan lahan senilai lebih dari Rp8 miliar semula disampaikan sebagai bantuan, tetapi kemudian dianggap sebagai utang petani. Di tengah persoalan itu, pengajuan pengakuan masyarakat adat sejak 2020 belum menghasilkan penetapan. Pengaduan kepada Compliance Advisor Ombudsman Bank Dunia pada 2023 juga disebut belum memberikan penyelesaian berarti. Bagi masyarakat, kehilangan akses hutan menyentuh hubungan dengan leluhur. “Interaksinya kita sama kawasan (hutan) itu, sebenarnya sama dengan kita interaksi sama leluhur kita,” ujar Lihiu. Decmonth Pasaribu, peneliti ICEL, menilai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nahas Warga Langkat Ketika Beraktivitas di Wilayah Jelajah Gajah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 09:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/12050247/gajah-roby-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134893</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Desa Mekar Makmur, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) heboh ketika Donigan Sahat Martua Silaban tergopoh-gopoh lari dan berteriak minta tolong pada warga lokal yang tinggal di lanskap Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) itu. &#8220;Teman saya! Diserang gajah!&#8221; teriaknya gemetar. Warga terkejut. Tanpa pikir panjang, puluhan orang bergegas menuju lokasi yang dia tunjuk. Sesampainya di pinggir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/">Nahas Warga Langkat Ketika Beraktivitas di Wilayah Jelajah Gajah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Desa Mekar Makmur, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) heboh ketika Donigan Sahat Martua Silaban tergopoh-gopoh lari dan berteriak minta tolong pada warga lokal yang tinggal di lanskap Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) itu. &#8220;Teman saya! Diserang gajah!&#8221; teriaknya gemetar. Warga terkejut. Tanpa pikir panjang, puluhan orang bergegas menuju lokasi yang dia tunjuk. Sesampainya di pinggir sungai, di tepi kawasan TNGL, Hodin Sihotang, kawannya, terbujur kaku. Mereka berdua bukan warga setempat. Melainkan warga Sawit Seberang yang datang memancing di lokasi itu. Donigan bilang, peristiwa itu terjadi ketika mereka berpapasan dengan sekelompok gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang tengah melintas di pinggiran TNGL. Nahas, Hodin tidak sempat menyelamatkan diri. Donigan yang bisa lari hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat kawannya yang berusia 59 tahun itu tak berdaya terserang gajah. Esoknya, tim gabungan dari Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, BBTNGL, dan Polsek Babalan turun meninjau tempat kejadian. Di sekitar lokasi, tanah  masih lembap menyimpan jejak tapak kaki hewan tambun itu bertebaran di sekitar tempat korban. Gajah-gajah itu sudah kembali masuk ke  TNGL. Bersama warga, tim gabungan  bersiaga di lokasi. Kesaksian warga, peristiwa itu merupakan kali kedua. Tahun lalu, terjadi di Mekar Makmur yang berujung maut. Syukur Al Fajar, konservasionis Gajah Sumatera, menyatakan, peristiwa itu bukan sekadar insiden tunggal, melainkan gejala dari tekanan yang makin menumpuk di wilayah jelajah gajah. &#8220;Ketika manusia dan satwa sama-sama terdorong masuk ke ruang yang semakin sempit, interaksi negatif tak terelakkan — dan harganya, seperti yang terlihat, sangat mahal bagi kedua belah pihak,&#8221; ucap Sugeng,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Pucuk, Penghuni Pepohonan yang Bantu Petani Kendalikan Hama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 06:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14012100/Ular-Pucuk-Daun-Foto-Clarissa-Amelia-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134972</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara dedaunan, tubuh hijau ular pucuk mudah luput dari pandangan. Reptil ramping ini kerap melingkar pada batang atau daun, menyamarkan diri sekaligus memanfaatkan pepohonan sebagai tempat berlindung. Bagi Clarissa Amelia, mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung, perjumpaan langsung dengan ular tersebut mengubah pandangannya terhadap satwa yang sering dianggap menakutkan. Dia mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/">Ular Pucuk, Penghuni Pepohonan yang Bantu Petani Kendalikan Hama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara dedaunan, tubuh hijau ular pucuk mudah luput dari pandangan. Reptil ramping ini kerap melingkar pada batang atau daun, menyamarkan diri sekaligus memanfaatkan pepohonan sebagai tempat berlindung. Bagi Clarissa Amelia, mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung, perjumpaan langsung dengan ular tersebut mengubah pandangannya terhadap satwa yang sering dianggap menakutkan. Dia mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung, kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia, serta di Taman Buru Masigit Kareumbi, Sumedang, yang vegetasinya relatif terjaga. “Dapat bertahan hidup di dua kondisi habitat berbeda,” katanya. Sebagian besar perjumpaan Clarissa berlangsung malam hari. Ketika kembali pada pagi hari, dia pernah menemukan ular masih berada di tempat semula. “Kemungkinan tidurnya di situ. Setahu saya, ular ini justru lebih aktif siang hari,” ujarnya. Selama pengamatan, ular pucuk cenderung diam dan tenang, tanpa menunjukkan perilaku agresif. Bentuk mata horizontalnya memberi kesan seperti sedang memejamkan mata. Meski dikenal memiliki bisa lemah, perilaku yang diamati Clarissa memperlihatkan bahwa perjumpaan dengan ular tidak selalu berlangsung seperti yang dibayangkan melalui ketakutan terhadap reptil ini. Kehidupan ular pucuk sangat bergantung pada vegetasi. Sebagai satwa arboreal, ia lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Adian Dwi Sulistio dari Endemic Indonesia Society menjelaskan bahwa semak, akar, batang pohon, dan rawa menyediakan perlindungan alami bagi ular. “Vegetasi itu surga persembunyian bagi ular,” katanya. Ketika ruang hijau menyusut, ular semakin mudah terlihat dan berpotensi bertemu manusia. Gorong-gorong atau bangunan yang terkadang menjadi tempat ditemukannya ular bukan habitat ideal. Vegetasi juga menyediakan mangsa; kualitas tutupan yang baik mendukung keberadaan berbagai satwa kecil sebagai sumber makanan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan Parah, Pemerintah Kedodoran, Warga Kalbar Menggugat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 04:30:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10232856/Karhutla-Kalbar-Widya--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134942</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia dari Kalimantan, Sumatera, sampai Papua.  tak kunjung teratasi. Korban dari masyarakat yang terdampak kabut asap atau  satwa yang hangun terpanggang terus berjatuhan. Langkah dan upaya penanganan pemerintah kian kedodoran menangani tragedi berulang yang mengancam kesehatan ini. Di Palembang, Hardiansyah, seorang pengemudi ojek daring, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/">Kebakaran Hutan Parah, Pemerintah Kedodoran, Warga Kalbar Menggugat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia dari Kalimantan, Sumatera, sampai Papua.  tak kunjung teratasi. Korban dari masyarakat yang terdampak kabut asap atau  satwa yang hangun terpanggang terus berjatuhan. Langkah dan upaya penanganan pemerintah kian kedodoran menangani tragedi berulang yang mengancam kesehatan ini. Di Palembang, Hardiansyah, seorang pengemudi ojek daring, meninggal dunia pada 2 Oktober setelah mengalami sesak napas berat. Kesehatan korban memburuk sejak kabut asap karhutla menyelimuti kota sejak pertengahan September. Korban  memiliki riwayat asma dan tetap bekerja di tengah kepungan asap. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Lisna guru sekolah dasar, juga meninggal setelah alami sesak napas di tengah kabut asap pada akhir September.  Sebelumnya,  beberapa relawan pemadam kebakaran di Kalimantan Tengah (Kalteng) juga meninggal dunia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sejak 18 Agustus-21 September 2026. Sebanyak 40.363 kasus merupakan bayi di bawah lima tahun (balita). Data itu berasal dari tujuh provinsi terdampak, yakni,  Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Beberapa provinsi di Papua, terutama Papua Selatan&#8211;wilayah proyek strategis nasional&#8211; juga alami karhutla dan kabut asap belum masuk hitungan. &#8220;Kita melakukan mobilisasi bantuan logistik berupa konsentrator oksigen, masker, tabung oksigen, dan termasuk menyiapkan Labkesmas untuk membantu pengujian kualitas udara, dan menggerakkan Tenaga Cadangan Kesehatan di kabupaten/kota,&#8221; kata Then Suyanti, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, mengutip Antara. Ancaman asap tidak berhenti pada gangguan kesehatan. Di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, kepungan kabut asap telah memicu kecelakaan beruntun hingga menyebabkan dua&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>