- Nelayan Cilacap panen ubur-ubur hingga dua ton sekali melaut. fenomena alam yang berkaitan dengan kemarau panjang dan El Nino ini membawa berkah saat tiada kepastian tangkapn ikan dari laut.
- Di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, terdapat sekitar 10 lapak penerimaan ubur-ubur untuk menampung hasil tangkapan 500 nelayan. Setiap lapak melayani 50 perahu dengan target harian pengolahan 50–80 ton.
- Kemunculan ubur-ubur merupakan fenomena musiman yang tidak selalu terjadi setiap tahun. Lima tahun terakhir, ada dua tahun tanpa ubur-ubur yang bisa ditangkap nelayan.
- Ubur-ubur hasil tangkapan nelayan Cilacap memiliki peluang untuk menembus pasar ekspor. Tiongkok sebagai tujuan pasar, terutama untuk produk salted jellyfish, yakni ubur-ubur yang diolah menggunakan garam untuk konsumsi.
Belasan perahu nelayan ukuran 2 x 9 meter bersandar di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/26).
Bentuk perahu tersebut agak berbeda, ada tambahan wadah berbentuk kotak kayu yang sengaja dibuat di badan perahu. Tempat tersebut digunakan untuk menampung ubur-ubur.
Sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026, nelayan pesisir Cilacap menikmati musim panen ubur-ubur yang melimpah. Bagi mereka, fenomena alam yang berkaitan dengan kemarau panjang dan El Nino ini membawa berkah saat tiada kepastian tangkapn ikan dari laut.
“Hasil tangkapan masih cukup banyak,” ujar Rahmat (32), nelayan Tegalkatilayu.
Setiap hari, sekitar pukul 04.00 WIB, dia melaut menggunakan perahu kecil, sekitar 1–2 kilometer dari garis pantai. Sekitar tiga jam, Rahmat maupun nelayan lain bisa memperoleh dua dua ton ubur-ubur. Di tempat penerimaan, ubur-ubur ditimbang sebelum masuk ke rantai perdagangan dan pengolahan.
Nono (44), nelayan Tegalkatilayu, harga jual ubur-ubur di tingkat nelayan kisaran Rp800 per kilogram. Dengan hasil tangkapan dua ton, pendapatan kotor yang diperoleh sekitar Rp1,6 juta sekali melaut.
“Hasil ini belum dikurangi biaya operasional, termasuk bahan bakar dan kebutuhan melaut,” ujarnya.

Supri, pengepul ubur-ubur di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, mengatakan musim panen mulai berlangsung sejak Agustus.
“Sampai saat ini masih berlangsung dan kami bersyukur hasilnya bagus.”
Di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, terdapat sekitar 10 lapak penerimaan ubur-ubur untuk menampung hasil tangkapan 500 nelayan. Setiap lapak melayani 50 perahu dengan target harian pengolahan 50–80 ton.
“Potensi ini mmeberikan pemasukan tambahan nelayan,” ungkapnya.
Para nelayan dan pengepul menyadari bahwa musim ubur-ubur sangat bergantung pada kondisi alam. Cuaca cerah dan minimnya hujan menjadi keadaan yang mereka harapkan agar penangkapan dapat terus berlangsung.
“Ubur-ubur itu, selalu ada di laut selama cuacanya tidak hujan. Sejauh ini, nelayan tak bisa memastikan berapa lama musim panen akan bertahan” ujar Supri.

Parjo, Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, membenarkan nelayan setempat menikmati musim panen ubur-ubur. Kelimpahan ubur-ubur di perairan Cilacap, umumnya terjadi pada musim kemarau.
Dengan perahu kecil, nelayan memperoleh sekitar satu ton sekali melaut.
“Bila perahu lebih besar, biasanya 2-3 ton.”
Melimpahnya hasil tangkapan menjadi peluang bagi nelayan untuk meningkatkan pendapatan. Namun, Parjo mengingatkan agar nelayan tetap memperhatikan keselamatan saat melaut, meskipun lokasi penangkapan relatif dekat pantai.
“Nelayan diharapkan selalu memantau perkembangan cuaca serta menjalankan aktivitas penangkapan secara bijak dan aman.”

Tidak setiap tahun muncul
Indarto, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, mengatakan kemunculan ubur-ubur merupakan fenomena musiman yang tidak selalu terjadi setiap tahun. Lima tahun terakhir, ada dua tahun tanpa ubur-ubur yang bisa ditangkap nelayan.
“Tahun ini kemungkinan menjadi rekor, baik dari jumlah ubur-ubur yang ditangkap maupun lamanya kemunculan,” jelasnya, Sabtu (10/11/26).
Dia menduga, curah hujan yang lebih rendah dan musim kemarau lebih panjang menjadi faktor yang mendukung kemunculan ubur-ubur di perairan Cilacap.
“Berdasarkan pengamatan selama ini, kemunculan ubur-ubur dapat berkurang ketika hujan turun. Fenomena itu juga tidak dapat dipastikan, hanya berdasarkan pergantian musim.”

Dari sisi pemasaran, ubur-ubur hasil tangkapan nelayan Cilacap memiliki peluang untuk menembus pasar ekspor. Indarto menyebut, Tiongkok sebagai tujuan pasar, terutama untuk produk salted jellyfish, yakni ubur-ubur yang diolah menggunakan garam untuk konsumsi.
Dinas Perikanan belum mengetahui secara pasti harga jual produk, setelah memasuki rantai pengolahan dan perdagangan ekspor.
“Harga sekitar Rp800 per kg yang diterima nelayan merupakan harga ubur-ubur segar di tingkat pembelian awal, bukan harga produk setelah melalui proses pengolahan.”
Bagi nelayan Tegalkatilayu, musim panen kali ini menjadi kesempatan untuk mengumpulkan penghasilan sebelum kondisi perairan berubah. Perahu-perahu kecil yang berangkat saat langit masih gelap, menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang bergerak mengikuti irama alam.
*****