- Pengepul ikan di Sinaka harus mengeluarkan Rp1,5–1,8 juta per minggu untuk membeli es sekaligus BBM dari Sinaka ke Sikakap. Idris bahkan menghabiskan sekitar Rp7,5 juta per bulan, sementara Nora sekitar Rp6 juta. Persoalannya, pabrik es di Sinaka sering berhenti berproduksi sehingga saat musim tangkapan, ketiadaan es membuat ikan dan gurita cepat rusak.
- Sinaka memiliki sumber daya laut seperti gurita, teripang, lobster dan kepiting. Sejak 1980-an, wilayah ini dikenal sebagai salah satu penghasil teripang terbesar. Namun, kedatangan nelayan dari luar daerah memicu overfishing dan menyebabkan hasil tangkapan lobster serta teripang menurun. Kini nelayan mulai menerapkan sistem buka-tutup area tangkap, sementara hasil gurita juga disebut semakin kecil.
- Pemkab Kepulauan Mentawai mengusulkan 21 lokasi Kampung Nelayan Merah Putih, dengan enam di antaranya disebut telah memenuhi administrasi dan mendapat persetujuan KKP. Bupati Rinto Wardana Samaloisa berharap fasilitas itu mencakup pabrik es, cold storage, tempat pengumpulan dan pengolahan ikan, pelabuhan, serta pembangkit listrik. Satu unit diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp22 miliar.
- Pemkab ingin menghubungkan hasil tangkapan nelayan dengan SPPG sebagai pembeli rutin, sehingga ikan tidak cepat rusak dan nilai ekonomi tetap berputar di Mentawai. Namun, nelayan seperti Idris dan Nora masih skeptis karena rencana pembangunan fasilitas serupa sudah lama terdengar. Idris bahkan mengatakan baru akan yakin setelah ada peletakan batu pertama.
Keandalan rantai dingin masih menjadi kendala tata kelola perikanan di Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sejumlah pengepul bahkan harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk mendapatkan es batu demi menjaga mutu produk perikanan yang mereka jual.
Idris Maulana, salah satu pengepul mengtakan, keluarkan biaya Rp1,8 juta untuk sekali beli es batu dan bahan bakar dari Sinaka ke Sikakap. “Itu setiap satu minggu. Kebutuhan es paling banyak 2 fiber atau sekitar 400 kilogram dalam satu minggu,” katanya.
Dia bilang, sebulan rata-rata empat kali membeli es batu. Jika dia kalkulasi, total untuk kebutuhan rantai dingin ini bisa capai Rp7,5 juta setiap bulan.
Masalahnya, ketersediaan es di Sinaka tak selalu ada lantaran pabrik es sering tutup. Padahal, sebagai pengepul, es menjadi kebutuhan utama untuk menjaga kualitas ikan hasil tangkapan. “Kami tidak bisa membuka usaha untuk menampung hasil laut kalau tidak ada es.”
Bagi Idris, situasi itu tidak menjadi masalah tatkala sepi tangkapan. Saat lagi musim, jelas ketiadaan es menjadi masalah besar. Ikan dan gurita yang menjadi tangkapan utama nelayan menjadi cepat rusak. Karena itu, saat es tak ada, Idris tak mau ambil risiko yang pada mengancam serapan ikan.
Nora, pengepul lain di Sinaka ungkapkan hal serupa. Dalam seminggu, dia habiskan Rp1,5 juta untuk membeli 150 balok es batu. “Itu biaya untuk es digabung sama bbm,” katanya.
Artinya dalam empat minggu atau satu bulan Nora harus mengeluarkan biaya Rp6.000.000 untuk membeli es ini.
“Kalau gurita lancar satu minggu sekali ke Sikakap. Kalau gurita nggak lancar dapatnya, dua minggu sekali beli es, itu pun kalau cuaca bagus dan tidak badai,”

Kaya potensi laut
Perairan di Dusun Sinaka memiliki potensi melimpah. Kepiting bakau, teripang hingga gurita menjadi tangkapan utama para nelayan. Catatan Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM), sejak 1980-an Sinaka merupakan penghasil teripang terbanyak. Selain itu ada pula lobster, kepiting dan gurita.
Melimpahnya sumber daya laut itu memantik nelayan dari luar Sinaka berdatangan. Mulai dari Sibolga, Bengkulu, Padang, Pesisir Selatan dan Jakarta yang memicu penangkapan berlebih. Dampaknya, 10 tahun kemudian, hasil tangkapan lobster dan teripang merosot.
Yuafriza, Program Manager Tata Kelola Perikanan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat YCMM mengatakan, potensi perikanan di Sinaka cukup besar, terutama gurita. Hanya saja, kendala rantai dingin masih menjadi tantangan utama karena tak ada listrik.
“Nelayan Sinaka masih sangat bergantung kepada pengepul untuk BBM dan es.”
Bagi Yuafriza, fasilitas rantai dingin yang memadai akan berdampak positif terhadap para nelayan. Sebab, selain mempertahankan kualitas hasil tangkapan, masa penyimpanan juga bisa berlangsung lebih lama. Selain itu, mengurangi risiko kerusakan dan memungkinkan proses pengiriman yang lebih efektif dan efisien.
Dia mendorong, program kampung nelayan dan fasilitas cold storage juga terhubung dengan ketersediaan es, fasilitas pembekuan, pengelolaan oleh kelompok atau badan usaha yang jelas.
“Selain itu juga akses pasar dan tata kelola perikanan yang menjaga agar peningkatan fasilitas tidak justru mendorong penangkapan berlebihan.”
Selama ini, praktik penangkapan berlebih juga menjadi tantangan pengelolaan perikanan di Sinaka. Indikasi itu bisa terlihat dari hasil tangkapan gurita yang semakin kecil. Menyadari hal itu, beberapa tahun belakangan, nelayan mulai menerapkan buka tutup area tangkap.

Janjikan cold storage
Rinto Wardana Samaloisa, Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai mengatakan, tengah mengusulkan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kabupaten mengusulkan sekitar 21 lokasi,” katanya.
Puluhan koperasi itu melupti Muara Sikabaluan, Maileppet, Makalok, Katurei, Torolagok, Muara Siberut, Saliguma, Labuan Bajau, Sikakap, Taikako, Sinaka, Boriai, Matobek yang di Sipora, Sirilogui, Saibi, Goisooinan, Sioban dan Tua Peijat, Pokai, Cimpungan dan Malancan. Menyusul kemudian Simalegi.
Saat ini, kata Rinto, sudah ada enam lokasi yang lengkap administrasi dan memperoleh persetujuan dari KKP. Enam lokasi itu adalah Labuan Bajau (Desa Sigapokna), Pokai (Desa Sikabaluan), Saliguma (Siberut Tengah), Maileppet (Siberut Selatan) Matobe (Sipora Selatan dan Sikakap).
Rinto berharap, KNMP tidak sekadar bangunan juga berbagai fasilitas untuk mendukung aktivitas para nelayan. “Di dalamnya harus ada pabrik es, cold storage, tempat pengumpulan ikan, fasilitas pengolahan, pelabuhan, serta pembangkit listrik atau generator sendiri,” katanya.
Dengan fasilitas itu, nelayan tidak perlu pergi ke Padang hanya untuk mengambil es.
Lelaki asal Pagai Selatan ini mengatakan. satu kampung nelayan membutuhkan anggaran sekitar Rp22 miliar. Nilai sebesar itu, katanya, hanya masuk akal apabila fasilitas benar-benar beroperasi, mampu menyerap tangkapan, menciptakan pekerjaan, dan menjaga harga.
“Kalau listrik, pengelola, pasar, dan biaya perawatannya tidak disiapkan, nasibnya dapat sama dengan pabrik es lama. Bangunannya ada, tetapi produksinya berhenti.”

Kepastian pasar
Rinto katakan, salah satu persoalan ekonomi warga bukan karena mereka enggan untuk membuat sesuatu yang menghasilkan juga karena tidak ada jaminan produk yang mereka buat ada pembeli. Dia pun berencana menghubungkannya dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.
Dia mengandaikan ada 10 SPPG di Sipora, setiap hari mereka perlu cabai, ayam, sayuran, buah dan ikan. Kebutuhan harian itu dapat menjadi pasar tetap bagi petani dan nelayan. Kalau masyarakat tahu hasil kebun atau tangkapan mereka akan diserap, pemerintah lebih mudah menggerakkan produksi.
“Nelayan dapat membawa ikan ke Kampung Nelayan, ikan disimpan dan dikumpulkan di sana, lalu sebagian disalurkan kepada SPPG.”
Rinto mengajak semua pihak mengubah kerangka berpikir dengan tidak hanya meminta masyarakat berproduksi. “Tetapi, pasar, penyimpanan, pengolahan dan distribusi harus disiapkan lebih dahulu. Jadi kampung nelayan dan SPPG dapat jadi dua mata rantai yang saling menguatkan. Satu mengumpulkan dan menjaga mutu produksi, sementara yang lain menjadi pembeli rutin.”
Nora dan Idris mengapresiasi apa yang bupati sampaikan. Namun, lebih jauh mereka berharap agar gagasan itu tak sekadar wacana. Apalagi, gagasan semacam itu sudah lama mereka dengar.
“Kecuali sudah ada peletakan batu pertama, mungkin baru ada keyakinan fasilitas itu akan dibangun,” kata Idris menanggapi rencana bupati itu.
*****