- Tiga individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dilepaskan ke habitat alaminya, di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
- Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat masih memiliki tutupan hutan yang baik dan habitat yang sesuai orangutan. Empat tahun terakhir, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat menjadi rumah baru bagi 18 individu orangutan hasil rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA).
- Populasi orangutan di Kalimantan Timur, terkonsentrasi di Lanskap Kutai seluas 4,2 juta hektar dengan estimasi 6-7 ribu individu.
- Pelepasliaran orangutan bukan sekadar mengembalikan mereka ke hutan. Upaya ini, sekaligus menjaga habitat alami mereka dari segala ancaman kerusakan.
Bagus, Eboni, dan Ruby sudah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka kehilangan naluri liarnya, sehingga tidak mampu lagi memanjat pohon, mencari makan di hutan, maupun membuat sarang untuk bertahan hidup.
Setelah menjalani rehabilitasi, tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) tersebut dikembalikan ke habitat alaminya. Tepatnya, di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Selasa (23/6/26). Wilayah ini dipilih karena tutupan hutannya yang baik dan pakan alaminya melimpah.
M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, mengatakan, saat pertama kali diselamatkan, kondisi ketiganya hampir sama. Terlalu lama hidup sebagai satwa peliharaan, membuat kemampuan dasar bertahan hidup mereka di alam liar menghilang.
Bagus dievakuasi dari Desa Merabu, Kabupaten Berau, pada September 2020. Eboni diselamatkan dari peliharaan warga di Desa Long Beliu, Berau, pada April 2022. Ruby dievakuasi dari Desa Persiapan Sekurau Atas, Kabupaten Kutai Timur, pada April 2024.
“Mereka tidak tahu cara memanjat, mencari makan sendiri, bahkan membuat sarang. Kemampuan itu harus dipelajari kembali melalui proses rehabilitasi,” jelasnya, Jumat (26/6/26).

Mereka dititipkan di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Ketiganya menjalani rangkaian tahapan rehabilitasi, mulai pemeriksaan kesehatan, mengikuti sekolah hutan, hingga masa adaptasi empat bulan di pulau pra-pelepasliaran yang dirancang menyerupai habitat alami.
“Sebelum dilepasliarkan, sifat liar mereka harus kembali muncul.”
Selama masa adaptasi, mereka mampu hidup mandiri.
“Hasil penilaian menunjukkan ketiganya sehat dan memiliki kembali naluri liarnya sehingga layak dikembalikan ke habitat alami.”

Empat tahun terakhir, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat menjadi rumah baru bagi 18 individu orangutan hasil rehabilitasi BORA, termasuk Bagus, Eboni, dan Ruby.
Widi Nursanti, Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan Centre for Orangutan Protection (COP), mengatakan pekerjaan konservasi belum selesai setelah pintu kandang transport dibuka.
Tiga bulan ke depan, tim monitoring COP tinggal di kawasan hutan untuk mengikuti pergerakan ketiganya. Tim akan mencatat jenis pakan, perilaku membuat sarang, hingga memastikan mereka mampu hidup tanpa campur tangan manusia.
“Monitoring dilakukan untuk memastikan Bagus, Eboni, dan Ruby benar-benar menyatu dengan habitat barunya, serta aman dari berbagai potensi ancaman,” katanya, Rabu (24/6/26).

Tantangan besar
Yaya Rayadin, peneliti orangutan dari Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, menerangkan populasi orangutan di Kalimantan Timur terkonsentrasi di Lanskap Kutai seluas 4,2 juta hektar dengan estimasi 6-7 ribu individu.
Di areal tersebut, terdapat Lanskap Karaitan seluas sekitar 540 ribu hektar yang menjadi habitat sekitar 3.000 individu orangutan. Namun, kawasan tersebut juga menjadi lokasi hutan tanaman industri (HTI), perkebunan sawit, hingga pertambangan.
Akibat pembukaan kawasan yang terus berlangsung, habitat orangutan semakin terfragmentasi . Dampaknya, satwa liar dilindungi itu terdorong keluar dari kawasan hutan demi mencari sumber makanan dan wilayah jelajah baru. Kondisi tersebut memicu meningkatnya konflik antara manusia dengan orangutan, terutama di wilayah Bengalon hingga Simpang Perdau, Kutai Timur.
“Ketika hutan dibuka, orangutan akan keluar karena habitatnya hilang. Mereka berpindah mencari tempat baru dan mencari makan. Itu sebabnya, konflik manusia dengan orangutan di kawasan tersebut terjadi,” ungkapnya, Rabu (24/6/26).

Kawasan yang masih berfungsi sebagai area konservasi di Landskap Karaitan sekitar 40 ribu hektar. Ini termasuk Hutan Lindung Karaitan dan sejumlah kantong habitat lainnya. Para pegiat konservasi menilai, populasi orangutan di Lanskap Karaitan tengah menghadapi tekanan serius, akibat menyusutnya habitat alami.
“Pelepasliaran orangutan bukan sekadar mengembalikan mereka ke hutan. Upaya ini, sekaligus menjaga habitat alami mereka dari segala ancaman kerusakan,” tegasnya.
*****