- Warga beberapa desa di Kecamatan Bukit Kerman, Kabupaten Kerinci, Jambi, tengah gelisah. Sawah-sawah sulit mereka tanami karena pasokan air menyusut. Nelayan pun sulit cair ikan.
- Semua bermula pada Januari 2026. Permukaan Danau Kerinci tiba-tiba menyusut drastis. Air yang biasa menelan bebatuan di dasar danau perlahan mundur, menyingkap batu-batu besar yang kini mencuat seperti pulau-pulau kecil. Danau yang berubah wajah itu cepat menyebar di media sosial, membuat Danau Kerinci viral.
- Masyarakat menduga perubahan itu bukan kebetulan. Mereka melihat, sejak PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH) dengan pengelola PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), uji coba turbin pada 1–16 Januari 2026, debit air Danau Kerinci berubah drastis. Di hulu Sungai Batang Merangin, Desa Karang Pandan, aliran air nyaris lenyap. Sungai yang biasa mengalir deras mendadak menyempit dan dangkal.
- Walhi Jambi menilai, kebijakan ini memperlihatkan ketidaksinkronan serius antara perencanaan pembangunan pembangkit listrik dengan kebutuhan riil sistem kelistrikan. Pemerintah harus mendukung pengembangan energi bersih di tingkat komunitas lokal, yang sekarang banyak ‘mati’ demi menyerap energi PLTU yang sudah PLN beli.
“Air ndak biso naik lagi. Tengok sungai macam ini,” kata Mat Dong, warga Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, Kerinci, Jambi.
Dia menunjuk ketinggian air Sungai Batang Merangin yang tak lebih dari sejengkal.
Mat Dong dan warga desa yang lain khawatir air sungai susut.
Danau Kerinci mengalir menuju hulu Sungai Batang Merangin, melewati petak-petak sawah kering dan tanah yang mulai merekah.
Di atas jembatan gantung Mat hanya bisa menatap sawahnya yang mulai penuh rumput liar.
Dalam tiga bulan setelah panen akhir 2025, sawah terbengkalai karena tak ada air.
“Kek mano kami mau nanam, kalau ndak ado air.”
Semua bermula pada Januari 2026. Permukaan Danau Kerinci tiba-tiba menyusut drastis. Air yang biasa menelan bebatuan di dasar danau perlahan mundur, menyingkap batu-batu besar yang kini mencuat seperti pulau-pulau kecil.
Danau yang berubah wajah itu cepat menyebar di media sosial, membuat Danau Kerinci viral.
Banyak warga meyakini perubahan itu bukan kebetulan. Mereka melihat, sejak PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH) dengan pengelola PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), uji coba turbin pada 1–16 Januari 2026, debit air Danau Kerinci berubah drastis.
Di hulu Sungai Batang Merangin, Desa Karang Pandan, aliran air nyaris lenyap. Sungai yang biasa mengalir deras mendadak menyempit dan dangkal.
Semua aliran air seolah ditarik menuju pintu air yang perusahaan bangun di Desa Pulau Pandan pada 2025—sekitar satu kilometer dari Karang Pandan.
Sepanjang 200 meter hulu sungai diubah besar-besaran. Dasar Sungai Batang Merangin dikeruk lebih dari lima meter, lebar menjadi sekitar 17 meter. Tiga pintu besi raksasa, masing-masing berbobot sekitar lima ton, terpasang untuk mengendalikan aliran air menuju bendungan PLTA di Desa Bedeng Lima, sekitar 30 kilometer dari Danau Kerinci.
“Lengan eksavator itu tenggelam, berarti sungai yang dikeruk itu lebih lima meter,” kata Andi, warga Pulau Pandan.
Selama puluhan tahun, sawah Dong, dan petani lain mengandalkan aliran Sungai Batang Merangin dari Karang Pandan, yang melewati Pulau Pandan.
Ketika air surut, kincir air tak lagi bisa berputar. Perlahan, belasan hektar sawah itu akan mati terlantar.

Protes warga
Pada 21 Agustus 2025, ratusan warga Karang Pandan dan Pulau Pandan aksi protes. Mereka memblokade jalan, menuntut pembangunan pintu air setop.
Beberapa warga nekat menerobos lokasi proyek, berusaha menghentikan paksa. Kontan situasi berubah gaduh. Warga dan aparat saling dorong. Berulang kali polisi melepas tembakan gas air mata.
Dalam video amatir, terlihat warga pontang-panting berlarian menghindari kepulan asap. Beberapa orang dilaporkan sesak napas dan iritasi mata. Dua perempuan terkena lemparan batu. Salah satunya mengalami pendarahan di kepala.
Warga bersikeras menolak ganti rugi Rp5 juta per keluarga yang perusahaan tawarkan. Kata Dong, sekitar 900 keluarga di Desa Karang Pandan dan Pulau Pandan yang terdampak proyek PLTA. Lebih dari separuhnya menolak menerima kompensasi.
“Kami menolak ganti rugi, karena dampak PLTA ini jangka panjang. Uang Rp5 juta itu nggak cukup untuk ganti kerugian ekonomi kami,” kata lelaki 51 tahun itu.
Perusahaan berusaha membujuk warga agar mau menerima gantirugi. “Ada calonya, jadi yang kumpulin KK (kartu keluarga), KTP warga untuk dapat kompensasi, dia yang ambil uangnya ke perusahaan, baru nanti dibagi-bagi.”
Lelaki yang juga anggota Lembaga Adat Kerinci itu khawatir nasib anak cucunya jika sawah yang jadi sumber ekonomi tak bisa lagi tergarap. “Anak cucu kami terus makan dari mana nanti?”
Sejak awal kontruksi 2019, PLTA sudah menghadapi penolakan warga. Konflik mulai muncul terpicu banyak rumah retak karena getaran dari pembangunan terowongan.
Pada Juli 2021, ratusan Masyarakat Adat Lembaga Depati Rencong Telang di Desa Pulau Sangkar datangi lokasi proyek bendungan PLTA di Kecamatan Batang Merangin, Kerinci. Mereka menuding perusahaan menyerobot tanah ulayat.
Juni 2021, warga desa sekitar proyek juga protes masalah ganti rugi lahan. Akses jalan menuju PLTA sempat diblokir warga.
Pada Mei 2023, warga menggugat perusahaan ke Pengadilan Negeri Sungai Penuh, karena menimbulkan kebisingan dan getaran.
Perusahaan kena tuntut ganti rugi Rp3,2 miliar. Gugatan dihentikan.
Kemudian masalah mulai mucul di Pulau Pandan dan Karang Pandan pada Agustus 2024. Para demo mayoritas perempuan, memblokir jalan masuk pembangunan proyek pintu air di Danau Kerinci.
Mereka menuntut setop pengerukan sungai. Masalah itu berlanjut sampai sekarang.
KMH, merupakan anak usaha Kalla Group milik Jusuf Kalla. Ia memenangi tender pembangunan PLTA Rp13,4 triliun di Kerinci, dengan kapasitas 350 Megawatt (MW).
Megaproyek ini bagian dari ambisi Presiden Joko Widodo yang ingin membangun pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW di Indonesia.
Akhir 2018, perusahaan menandatangani kontrak pembelian listrik selama 30 tahun dengan PLN. Kontrak ditandatangani setahun sebelum masa jabatan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden berakhir pada Oktober 2019.
Rencana pembangunan PLTA mulai sejak 28 Maret 2012 tetapi mandek lebih 15 tahun karena perubahan desain. Awalnya, rancangan PLTA Kerinci kapasitas 150 MW, kemudian revisi lagi setelah survei PLN menunjukkan potensi hingga 350 MW.
Pembangunan baru lanjut sekitar 2019, dengan pengerjaan infrastruktur terowongan sepanjang 11 km, akses jalan, dan bendungan. April 2025, PLTA target operasi.
Dengan mengandalkan empat turbin berkapasitas masing-masing 87,5 MW, pembangkit ini mampu menghasilkan listrik 1.280 gigawatt per tahun. Pembangkit ini perlu 59,4 m3 air per detik yang bersumber dari Sungai Batang Merangin yang berhulu di Danau Kerinci.

Nelayan terdampak
Deretan rumah panggung dari papan dan seng tampak berdiri di atas tiang-tiang kayu yang kini lebih banyak terlihat, seolah rumah-rumah itu terangkat lebih tinggi dari sebelumnya. Dulu, air danau hampir menyentuh bagian bawah lantai rumah. Kini, hamparan tanah basah dan lumpur terbuka di depannya.
Di tepian yang mengering itu, beberapa perahu kayu nelayan tergeletak. Lambung bercat biru, hijau, dan merah tampak kusam termakan usia.
Sebagian masih mengapung di genangan air dangkal, tetapi banyak yang sudah tersandar di lumpur, tak lagi bebas bergerak seperti saat air danau penuh.
Di kejauhan, Bustami berulang kali melemparkan jala ke danau. Tak banyak ikan bisa dia tangkap. Hanya beberapa ikan seukuran satu dan dua jari, saat lelaki 36 tahun itu menunjukkan hasil tangkapnya.
“Kalau dulu paling gampang cari ikan. Banyak air, banyak ikan. Sekarang kadang dapat, kadang nggak.”
Dia bilang, harus jauh ke tengah danau untuk mendapatkan ikan besar karena beberapa lokasi tangkap berubah menjadi rawa dangkal.
“Dulu sekali tebar jaring, lumayan. Sekarang payah.”
Pendapatan turun memaksa sebagian nelayan bekerja serabutan. “Dulu kami juga ngambil pasir di danau. Sekarang juga susah. Air surut, pasir ikut kebawa ke tengah.”
Bustami mengeluh, Danau Kerinci susut terasa memukul ekonominya. Hasil tangkapan jauh berkurang. “Ekonomi sekarang susah. Harga-harga naik.”
Di hulu Sungai Batang Merangin, ikan dan kerang sungai mulai menghilang. “Biasanya ikan medik, semah, tilan, haruan, dan barau banyak di sungai. Air sungai kering, gimana ada ikannya lagi. Kupuk (kerang sungai) juga nggak ada lagi. Kalau kayak gini, bagaimana ekonomi kami?” tanya Dong.
Andi mengajak saya melihat kondisi Sungai Batang Merangin di Desa Pulau Pandan. Ahan dan Sakan, perangkap ikan tradisional dari bambu—yang warga pasang di sungai–, tak lagi terendam air. Sebagian mulai lapuk terjemur matahari.
“Dulu, waktu air masih banyak, orang bisa dapat 18-20 kg ikan. Sekarang habis semua.”

Aliran sungai tak stabil
Beberapa kilometer dari tempat Bustami mencari ikan, di Desa Pulau Pandan, Amrin berdiri di antara padi yang menguning. Dia terlihat tak semringah, karena hasil panen tahun ini tak sebanyak sebelumnya.
Sawah Amrin berada sekitar 300 meter di belakang pintu air yang KMH bangun. Air masih mengalir cukup deras. Kincir bambu berputar pelan, menumpahkan air ke sawah, mengisi celah-celah tanah yang mulai merekah.
Sejak ada pintu air, debit air sungai sulit ditebak. “Tiba-tiba airnya deras. Kalau air deras, gelombangnya bisa sampai sini. Kincir ini bisa rontok.”
Karena pintu air itu, Amrin sulit membaca musim. Air sungai yang sebelumnya mengalir bebas kini diatur mengikuti kebutuhan PLTA.
KMH memasang dua tandon air untuk mengairi sawah warga. Air itu mengalir lewat pipa yang terpasang ke sawah-sawah warga.
Menurut Amrin, air itu tidak cukup untuk membasahi sawahnya.
“Kalau pakai kincir ini memang pelan, tapi mutar terus, nggak ada berhenti, dan nggak perlu pakai listrik, jadi air itu cukup.”
Meski tak sampai kekeringan, lelaki 54 tahun itu katakan, hasil panen tahun ini berkurang.
“Kalau dulu, sekali panen bisa dapat 300 kaleng—setara 2,5 ton—gabah kering. Ini [padi yang belum panen] harusnya bisa dapat 100 kaleng lebih. Kemarin hanya 90 kaleng.”

Cuaca dan tutupan hutan
Kurnianingsih, Kepala Stasiun BMKG Depati Parbo, Kerinci menjelaskan, sepanjang Januari-Februari 2026, curah hujan yang turun di Kerinci sangat sedikit, hingga ikut mengurangi volume air yang masuk ke Danau Kerinci.
Menyusutnya air danau juga terpengaruh proses penguapan (evaporasi) akibat panas matahari yang terik. “Ini menyebabkan volume air danau menjadi berkurang, sehingga menjadi susut.”
Nelayan dan petani yang hidup berdampingan dengan air merasa perubahan yang mereka saksikan bukan sekadar cuaca. Dong menunjukkan pematang sawah di tepi Sungai Batang Merangin yang jadi penanda alami, kini berada jauh dari permukaan air.
“Kata bapak kami, yang sudah 80 tahun hidup, belum pernah lihat sungai sekering ini, meski kemarau panjang,” katanya.
Hasil analisis KKI Warsi menunjukkan, penyusutan air Danau Kerinci tidak semata terpengaruh cuaca dan pembangunan pintu air PLTA. Juga hilangnya tutupan hutan di daerah aliran sungai (DAS) Kerinci.
Dalam setahun terakhir, tutupan hutan di kawasan tangkapan air danau ini berkurang sekitar 1.745 hektar. Pada 2025, luas hutan yang tersisa diperkirakan hanya 22.480 hektar, atau 23% dari luas DAS Kerinci 97.000 hektar.
Berkurangnya hutan di hulu membuat tanah makin rentan tergerus. Pembukaan lahan yang terus meluas meningkatkan erosi, membawa jutaan ton tanah ke sungai-sungai yang bermuara ke Danau Kerinci.
Warsi memperkirakan potensi erosi di kawasan ini mencapai 3,2-4,2 juta ton per tahun.
Material tanah itu terbawa aliran sungai terutama DAS Batang Merao, lalu mengendap di dasar danau. Endapan lumpur membuat Danau Kerinci makin dangkal dan daya tampung air terus berkurang.
“Begitu hujan, erosi sangat tinggi. Sedimentasi di Batang Merao hingga Danau Kerinci ikut meningkat. Akibatnya volume air danau semakin berkurang,” kata Rudi Syaf, Manajer Program Komunikasi dan Informasi Warsi.
Kondisi ini, katanya, menyebabkan siklus air di Danau Kerinci tidak stabil. Saat musim hujan, air danau mudah meluap. Itu terlihat saat banjir besar pada 2024. Sebaliknya, awal 2026 saat curah hujan menurun, air danau menyusut drastis.
“Terjadi ketidakseimbangan tata air atau fluktuasi hidrologis ekstrem akibat terganggunya fungsi resapan dan penyimpanan air di DAS Danau Kerinci,” katanya.
Tanda-tanda penyusutan itu mulai terlihat jelas sejak musim kemarau terakhir. Dari citra satelit Sentinel-2 menunjukkan, daratan baru yang muncul akibat surutnya air danau mencapai 70 hektar.
Padahal, Danau Kerinci merupakan sumber air utama bagi PLTA Kerinci. Secara ekologis, hutan di hulu DAS menjadi kunci bagi kestabilan pasokan air.
“Hutan adalah spons alam untuk menyimpan air. Saat hutan hilang, sumber air menjadi tidak stabil,” kata Rudi.
Menurut dia, keberhasilan proyek besar seperti PLTA tidak hanya ditentukan teknologi bendungan atau turbin. Fondasi utamanya justru berada di hulu hutan.
Hutan menyimpan air, air memutar turbin, dan turbin menghasilkan listrik. Tanpa ekosistem yang sehat, rantai ini bisa terputus.
Dia bilang, susut Danau Kerinci menjadi tanda daya dukung lingkungan di kawasan ini mulai melemah. Kalau kondisi ini terus berlanjut, ketidakstabilan air tidak hanya mengancam pasokan listrik PLTA, juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada danau, dari nelayan hingga petani sawah di sekitarnya.
Warsi mendorong pemerintah perlu segera melakukan intervensi untuk memulihkan lanskap hulu Danau Kerinci. Salah satu langkah penting adalah reboisasi di lahan-lahan kritis.
Pemulihan hutan dia nilai penting bukan hanya untuk menjaga sumber air, juga mengurangi risiko bencana dan memperbaiki keseimbangan iklim lokal yang memengaruhi curah hujan.
“Negara harus melihat Danau Kerinci ini penting. Bukan hanya bagi masyarakat sekitar, juga bagi masa depan energi yang lebih bersih dan stabil,” kata Rudi.

Risiko ekologis
Walhi Jambi menilai, harus melihat proyek PLTA Kerinci dalam konteks lebih luas.
Dalam pola pembangunan energi yang berorientasi pada industri ekstraktif, katanya, daerah penghasil energi seringkali menanggung risiko ekologis yang besar. Mulai dari perubahan lanskap, gangguan sistem hidrologi, hingga ancaman terhadap ruang hidup masyarakat.
Sebagai proyek pembangkit listrik skala besar, di kawasan hulu sungai berisiko lingkungan signifikan. Infrastruktur bendungan, terowongan air, serta perubahan aliran sungai dapat mempengaruhi sistem hidrologi dan ekosistem di Kerinci, yang berada dalam bentang alam penting di Sumatera ini.
PLTA Kerinci terancang untuk memperkuat jaringan transmisi 150 kV di Sumatera, terutama saat beban puncak (peaker), justru akan membebani keuangan negara karena dibangun di tengah surplus energi.
Data Trend Asia menyebut, Sumatera surplus listrik 40%. Data PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (S2JB) pada Oktober 2024 menunjukkan, total daya pembangkit mencapai 3.203 MW sedang beban puncak hanya 1.563 MW.
Pada 2017, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) memperkirakan, setiap 1 Gigawatt listrik tidak terpakai, PLN harus membayar US$3,16 miliar kepada independet prower producer (IPP) melalui skema take or pay (TOP).
Menurut Walhi Jambi, kebijakan ini memperlihatkan ketidaksinkronan serius antara perencanaan pembangunan pembangkit listrik dengan kebutuhan riil sistem kelistrikan.
“Jika ingin transisi energi pemerintah mestinya memensiunkan PLTU. Kalau PLTA dibangun tapi PLTU jalan terus, itu akan jadi beban negara. Alih-alih transisi energi, pemerintah justru tersandra kepentingan korporasi,” kata Oscar Anugerah, Direktur Eksekutif Walhi Jambi.
Dia mendorong, pemerintah mendukung pengembangan energi bersih di tingkat komunitas lokal, yang sekarang banyak ‘mati’ demi menyerap energi PLTU yang sudah PLN beli.
“Pemerintah jangan selalu mementingkan perusahaan dan pembangunan pembangkit skala besar yang berisiko terhadap lingkungan. Di Jambi banyak potensi energi bersih di komunitas lokal yang bisa didukung untuk transisi energi.”
Aslori Ilham, Humas PLTA Kerinci tak merespons saat Mongabay hubungi pada 16 dan 17 Maret 2026 lewat pesan maupun telepon.
Dalam pertemuan dengan wartawan lokal dan lembaga swadaya masyarakat awal Februari 2026, Aslori tidak membantah juga tidak membenarkan jika uji coba PLTA jadi penyebab penurunan debit Danau Kerinci. Menurut dia, cuaca dan sedimentasi tinggi ikut memengaruhinya.
Dia juga menyebut, pasokan air untuk opersional pembangkit PLTA yang mencapai 100 meter kubik per detik, tidak hanya bersumber dari Danau Kerinci.
Aslori mengaku ada tiga aliran sungai yang bermuara ke bendungan PLTA di Desa Bedeng Lima.
***
Di tepi danau yang menyusut, anak-anak bermain di lumpur, mengumpulkan kerang kecil yang tertinggal air.
Mat Dong dan warga lain mulai meninggalkan sawah yang retak. Transisi energi yang terdengar mulia, di sini menjelma menjadi keresahan warga.
Bagi Bustami, pejabat pemerintah harus turun lapangan melihat langsung agar tahu persoalan yang masyarakat hadapi.
“Jangan hanya duduk di panggung sandiwara, makan gaji buta. Gaji mereka dari pajak rakyat.”

*****