- Perburuan di alam dan perdagangan ilegal burung kicau di Indonesia meningkat tajam. Ini terlihat dari beberapa kasus penyelundupan ratusan ribu individual yang terjadi. Kasus terbesar tahun ini terjadi di Bali.
- Perdagangan kini tak lagi terbatas di pasar tradisional, kini meluas ke platform online dengan ratusan ribu iklan burung yang terdeteksi. Sebagian di antaranya merupakan spesies terancam punah.
- Fenomena ini juga didorong dengan tradisi masyarakat untuk memelihara burung. Tak sampai di situ, industrializador kontes burung kicau memperbesar permintaan pasar.
- Sejumlah spesies seperti cucak rawa, jalak suren jawa dan murai batu pun mengalami penurunan populasi drastis. Bahkan beberapa subspesies sudah sangat langka. Tentu ini memicu fenomena hutan sunyi.
Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Awal tahun ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali menggagalkan upaya penyelundupan 7.355 burung dari beragam jenis, termasuk spesies yang dilindungi. Ada burung kacamata wallacea, manyar, prenjak, srigunting cucak kombo dan gelatik batu. Angka ini menjadi kasus penyelundupan terbesar dalam tiga tahun terakhir.
Di Indonesia, memelihara burung kicau dalam sangkar tak hanya sekedar hobi, tapi bagian dari budaya dan mencerminkan status sosial. Tak hanya itu, popularitasnya kini menjadi industri yang menguntungkan dengan munculnya beragam kontes burung kicau.
Berdasarkan data Badan Karantina Indonesia tahun 2022-2024, terdapat 801 kasus penyelundupan satwa liar di Indonesia. Jumlah spesiesnya mencapai 193.000 satwa liar dan 172.000 burung—166.000 merupakan burung kicau.
Kanitha Krishnasamy, Direktur Monitoring Perdagangan Satwa Liar TRAFFIC untuk wilayah Asia Tenggara menyebutkan perdagangan burung dan penyitaan besar-besaran kini menimbulkan kekhawatiran. Ini tentu menyebabkan penurunan jumlah spesies secara cepat di alam dan mendorong spesies menuju kepunahan.
Perdagangan pun tak hanya di pasar fisik, tapi merambah pasar online di Indonesia. Peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) mengembangkan Support Vector Machine untuk mengumpulkan semua daftar iklan burung kicau dari pasar online di Indonesia.
Mereka menggunakan metode web-scraping dan mengidentifikasi sebanyak 284.118 iklan burung kicau di satu situs e-commerce dalam periode April 2020 hingga September 2021. Dari jumlah itu, tercatat sedikitnya 284.118 individu burung diperdagangkan secara online.
Dari data tersebut, lebih dari 6% merupakan spesies yang terancam punah, termasuk jalak suren (Gracupica jalla) dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) yang berstatus kritis. Situasi ini kian buruk tanpa adanya penegakan hukum yang serius. Kini, kicauan burung pun kian sunyi di hutan tapi ramai di ‘pasar’ Indonesia. Apa saja spesies burung kicau yang terancam punah di Indonesia yang masih sering dijumpai di pasar.
1. Cucak rawa
Burung cucak rawa yang statusnya Kritis (Critically Endangered) berdasarkan IUCN. Foto: Alan Ow Yong/ Burung Indonesia
Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) menjadi salah satu burung kicau yang mengalami penurunan populasi akibat tingginya permintaan pasar. Hingga kini, penangkapan dari habitat alami masih terus meningkat. Burung ini diminati karena suara kicauannya.
Di Indonesia, keberadaan cucak rawa di alam semakin jarang dijumpai. Berdasarkan IUCN, burung ini sudah berstatus kritis dan terancam punah. Burung ini memiliki fase perkembang biakan yang lambat, hidup soliter dan sangat agresif teritorialnya. Ini yang menyebabkan ancaman kepunahan semakin tinggi.
2. Jalak suren jawa
Jalak suren (Gracupica jall) di alam liar. Foto: Khaleb Yordan
Tak hanya kicauannya yang menarik, warna bulu hingga kulit oranye di sekitar matanya membuat burung jalak suren jawa banyak peminatnya. Dulu, burung jalak suren jawa (Gracupica jalla) banyak ditemukan di Pulau Jawa namun populasinya terus menurun hingga kini sulit dijumpai di alam liar.
Penurunan ini berkaitan dengan meningkatnya perburuan dan perdagangan burung untuk peliharaan. Sama dengan cucak rawa, burung ini ramai di kontes burung kicau. Berdasarkan Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) ada sekitar 1,1 juta individu jalak suren berada di kandang pemeliharaan dan penangkaran komersial di Jawa.
Beberapa upaya konservasi pun dilakukan melalui penangkaran dan pelepasliaran. Saha satunya, di kawasan Prigen, Jawa Timur. Meski begitu, ada beberapa penangkaran yang hadir untuk tujuan mencari keuntungan. Mereka mengawinkan silang dengan jalak lainnya untuk menghasilkan keunikan pada anakannya. Tujuannya agar dijual lebih mahal. Hal ini seringkali tak memperhatikan kemurnian genetik dan perilaku alaminya.
3. Murai batu
Kucica hutan atau yang kita kenal dengan nama murai batu. Foto: Wikimedia Commons/
JJ Harrison/Own work/ Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported/Free to share
Murai batu (Copsychus malabaricus) merupakan salah satu burung kicau paling populer di Indonesia. Beberapa subspesies bahkan menghadapi tekanan serius. Tekanan terhadap spesies ini juga berdampak lebih luas pada ekosistem yang disebut dengan fenomena “silent forest” atau hutan sunyi. Yakni, kondisi ketika suara burung di hutan semakin berkurang akibat penurunan populasi burung liar.
Minat terhadap murai batu meningkat pesat dalam satu dekade terakhir karena kicauannya dan penampilannya. Dalam industri kontes burung, burung ini terbilang menjanjikan hadiah yang sangat tinggi. Namun, di hutan kicauannya kian sunyi.
Sejumlah pegiat konservasi bahkan menyebut beberapa subspesies murai batu di Indonesia telah punah. Murai batu maratua dari Kalimantan Timur disebut terancam punah di alam dan memerlukan upaya penyelamatan. Di Pulau Jawa, banyak hutan disebut hampir tidak lagi memiliki murai batu, sehingga mendorong pemburu mencari hingga ke wilayah lain di Indonesia.
4. Walik kepala ungu
Walik kepala-ungu yang hidup di hutan pegunungan tinggi di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. Sebagai burung pemakan buah, perannya penting sebagai penebar benih di hutan. Foto: Ben Ponsford via Flickr (CC BY-NC-SA 2.0).
Walik kepala-ungu (Ptilinopus porphyreus) hidup di hutan pegunungan tinggi di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera. Dia menjadi burung pemakan buah yang perannya sangat penting dalam penebar benih. Spesies ini sebenarnya kurang dikenal, tapi banyak ditemukan di marketplace.
Peneliti Vincent Nijman mencatat bahwa dalam pemantauan singkat di platform daring, sebanyak 56 individu walik kepala-ungu ditawarkan untuk dijual. Ini menunjukkan kemunculannya di platform online menunjukkan bahwa burung yang “tidak mencolok” di pasar tradisional kini masuk dalam rantai perdagangan.
Burung seperti burung walik kepala-ungu tidak cocok dengan permintaan pasar. Mereka tidak dikenal karena lagu atau kicauannya, tetapi visualnya lebih mencolok, khususnya burung jantan.
5. Pitohui
Pitohui waigeo (P. cerviniventris). Tidak ada spesies pitohui yang terdaftar sebagai spesies yang dilindungi di Indonesia namun tidak ada kuota resmi untuk perdagangan mereka, yang menjadikan penjualannya ilegal. Foto: marcthibault via iNaturalist (CC-BY-NC 4.0).
Di hutan Papua, pitohui dikenal sebagai salah satu burung yang memiliki racun alami pada tubuhnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, spesies ini justru mulai muncul dalam perdagangan burung kicau di Indonesia.
Pitohui memiliki kandungan neurotoksin pada kulit dan bulunya yang berfungsi melindungi diri dari parasit dan predator. Bagi manusia, zat ini dapat menyebabkan iritasi atau reaksi alergi saat bersentuhan. Meski memiliki karakteristik tersebut, burung ini tetap diminati karena suara kicauannya.
Sejak 2015, perdagangan burung ini terus meningkat. Pada periode 2015–2023, terdapat 113 individu dijual di 12 pasar burung dan 199 individu diperdagangkan secara daring. Laporan TRAFFIC mencatat adanya sembilan kasus penyitaan yang melibatkan 152 pitohui antara 2022–2024, menunjukkan adanya perdagangan yang terus berlangsung.
(*****)
*Kadek Dian Dwiyanti Hapsari adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dian memiliki ketertarikan pada isu-isu lingkungan dan seringkali terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang tersebut.