- Tradisi Kupatan Kendeng di Desa Tegaldowo, Rembang, sebagai ajang memperkuat persatuan warga dalam menolak tambang dan pabrik semen yang sejak 2013 suarakan karena berisiko merusak lingkungan dan ruang hidup masyaraat.
- Warga mengalami penurunan debit air, polusi debu pemicu ISPA, serta menurunnya produktivitas pertanian. Kerusakan kawasan karst Watuputih disebut sebagai akar dari krisis ekologis yang meluas.
- Lesunya industri semen nasional membuat operasional pabrik di Rembang kerap berhenti. Warga menilai keberadaan industri ini tidak menguntungkan, baik secara ekonomi maupun lingkungan.
- Kajian Celios menunjukkan kerugian besar akibat hilangnya fungsi lingkungan karst—mulai dari air, pertanian, kesehatan, hingga serapan karbon—yang jauh melampaui manfaat ekonomi jangka pendek industri semen.
Ratusan orang memadati rumah joglo milik Joko Prianto di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, Jawa Tengah (Jateng) Kamis (23/3/26) siang. Di bawah gerimis, mereka begitu bersemangat mengikuti arakan gunungan ketupat yang mereka gelar setiap kali Lebaran.
Kali ini, kegiatan yang populer dengan sebutan Kupatan Kendeng itu mengangkat tema Nyawiji Nolak Molo.
“Maksud temanya adalah bersatu menolak molo yang bisa diartikan sebagai celaka, bencana, hama, dan segala hal buruk lainnya. Molo di Pegunungan Kendeng ini yang paling terlihat ialah tambang semen,” kata Joko.
Kegiatan ini digelar dengan mengarak gunungan ketupat ke rumah joglo yang juga menjadi simbol perlawanan warga Tegaldowo terhadap industri semen. Menariknya, acara ini juga turut dihadiri warga dari lokasi lain yang tengah alami kondisi serupa. Seperti Wonogiri, Purworejo dna lainnya.
Sejak 2013, warga Tegaldowo gigih menolak kehadiran tambang dan pabrik semen. Meski tambang tetap berjalan dan pabrik tetap beroperasi hingga sekarang, usaha penolakan itu tak pernah surut.
Joko yang juga Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) mengatakan, dampak dari tambang dan pabrik semen sudah warga rasakan.
“Debit air jelas berkurang karena karst yang jadi sumber air dirusak pihak semen, banyak warga sakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), sampai tiga tahun terakhir ini langganan gagal panen,” katanya.
Buntut debit air yang terus berkurang, warga terpaksa memperdalam sumur mereka hingga 10 meter. Tak hanya warga Gunem, wilayah di Rembang lain juga terdampak krisis air ini akibat mata air yang digunakan PDAM berkurang akibat Cadangan Air Tanah (CAT) Watuputih yang kini rusak.
Sementara serangan ISPA karena operasi pabrik semen yang menghasilkan debu. “Itu bisa dilihat mesin conveyor produksi semen saja terlihat dari joglo ini, artinya polusi debunya sampai pemukiman warga.”
Sedangkan gagal panen disebabkan kombinasi polusi debu dan krisis air sehingga lahan pertanian kesuburannya berkurang. “Pendapatan kami dari pertanian jadi berkurang drastis, tambang dan pabrik semen ini tidak mensejahterakan kami sama sekali justru bikin menderita,” katanya.
Semua dampak itu warga alami, kata Joko, baik yang sejak awal menolak industri semen sampai yang mendukungnya. Karena itu, lewat kegiatan Kupatan Kendeng ini, dia berharap warga bersatu untuk bersama-sama melawan perusakan ruang hidup tersebut.

Karst Kendeng penyangga hidup
Perjuangan menolak industri semen ini bukan hal mustahil. Sejak 2025, pabrik di sana beberapa kali menghentikan operasi. Menurut laporan Center of Economic and Law Studies (Celios), lesunya bisnis semen menjadi salah satu penyebabnya.
Secara nasional permintaan semen cenderung berkurang, sedangkan produksi yang ada melebihi kebutuhan pasar. Ekspor yang ada juga berkurang karena persaingan pasar internasional yang semakin kompetitif.
Data Asosiasi Semen Indonesia menyebut penurunan penjualan paling parah saat pandemi Covid-19 pada 2020 mencapai -48,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun sempat naik lagi pada 2021, tetapi kembali mengalami penurunan dan terus melemah hingga -5,4% secara tahunan pada 2024.
Joko turut mengonfirmasi fenomena dengan menyebut pabrik semen kerap tutup, tapi kadang buka lagi. “Mirip puasa senin kamis, kadang tutup lalu buka lagi. Kami penginnya tutup permanen karena terbukti rugi secara bisnis, apalagi itu perusahaan BUMN yang kerugiannya ditanggung negara.”
Penutupan tambang dan pabrik semen di Gunem, Rembang penting dilakukan, menurut Joko, supaya kawasan karst di sana tidak makin rusak. Jika tidak, butuh ratusan tahun untuk memulihkan sistem batuan karst. Atau bahkan tak pernah kembali pulih.
“Tambang semen di kawasan karst tidak bisa direklamasi seperti jenis tambang lain, yang sudah habis ditambang pun sekarang tidak direklamasi,” katanya.
Sukinah, perempuan Desa Tegaldowo yang sejak awal menolak tambang semen menyebut, karst di Kendeng adalah penyangga kehidupan warga sekitar. Bahkan sejak leluhur. Kartini Kendeng yang pernah menyemen kakinya di Istana Negara itu khawatir jika industri ekstraktif ini terus dibiarkan akan mengancam anak-cucu generasi mendatang.
Dia menjelaskan kelompok paling terdampak dari industri semen saat ini adalah perempuan.
“Kalau air habis, bagaimana ibu-ibu bisa mengurusi rumahnya, anak-anak juga sulit tumbuh sehat kalau tambang ini dibiarkan,” katanya.
Bagi Sukinah, kendati pabrik semen berhasil beroperasi di wilayahnya, dia merasa perjuangannya tak sia-sia. Setidaknya dengan perjuangan itu lahan tambang yang awalnya sekitar 900 hektar di Tegaldowo, berhasil dipersempit jadi 200-an hektar.
Bahkan lahan warga yang sudah dikuasai industri semen dapat dikembalikan lagi dengan dijual ke pemilik awalnya.
“Kami akan selalu menolak tambang ini sampai kapan pun, apalagi sekarang dampak buruknya begitu nyata.”
Dia pun berharap, melalui Kupatan Kendeng ini, konflik sosial antara warga penolak dan pendukung pabrik semen dapat mereda. Apalagi, hal itu juga tak relevan karena semua warga sama-sama dirugikan oleh dampak operasional pabrik dan tambang semen tersebut.

Beban kerugian
Celios sempat membuat perhitungan potensi kerugian imbas beroperasinya pabrik semen sejak 2014-2025. Angkanya mencapai Rp35,9 triliun yang ditanggung oleh warga dan negara.
Jaya Darmawan, peneliti Celios dalam dialog di sela Kupatan Kendeng menyebut, jika jumlah penduduk Rembang berdasarakan BPS 2024 adalah 662.787 jiwa, maka tiap orang di sana menanggung kerugian Rp541,7 juta.
Perhitungan kerugian itu didasarkan pada hilangnya potensi serapan air per tahun sebesar Rp217,6 miliar. Lalu kerugian lahan sawah karena berkurangnya ketersediaan air sebanyak Rp1,09 triliun. Kemudian biaya kesehatan karena debu dan ISPA sekitar Rp63,9 miliar.
Sementara hilangnya fungsi kelelawar karena sistem gua kawasan karst yang jadi habitatnya rusak, padahal biota ini berperan memberantas hama pertanian yang nilainya Rp10,89 miliar. Kerugian lain berupa potensi pariwisata karst yang hilang sebesar Rp294 juta.
“Kerugian lainnya berupa hilangnya komoditas durian, petai, biaya air rumah tangga, dan lainnya sebanyak Rp3,27 triliun dalam setahun. Kalau dihitung sejak 2014 maka total kerugiannya Rp35,9 triliun dengan per tahunnya Rp3,27 triliun.”
Jumlah itu belum termasuk biaya konflik sosial yang ditimbulkan proyek tersebut. Catatan International Monetary Fund menyebut konflik akibat pembangunan secara makro ekonomi menyebabkan penurunan produk domestik bruto secara rill rata-rata 13% dan sulit pulih bahkan setelah satu dekade.
Jaya menyebut kerugian itu tak sebanding dengan APBD Kabupaten Rembang 2025 yang nilainya hanya Rp2,01 triliun dan APBD Jateng Rp24,8 triliun.
“Artinya tidak hanya warga Tegaldowo yang rugi tapi negara juga, sehingga perlu ada evaluasi menyeluruh,” katanya.
Mengingat karst adalah area yang efektif dalam menyerap karbon, artinya kerusakan kawasan ini menyebabkan kerugian karbon yang cukup besar. Hilangnya potensi manfaat ekonomi dari penyerapan emisi dan mitigasi perubahan iklim menambah panjang daftar kerugian yang tidak sebanding dengan keuntungan ekonomi jangka pendek dari industri semen tersebut.

Area tambang semen di sana saat ini 293,9 hektar, jelas Jaya, yang dapat menyerap 652 ton karbon per tahun dengan nilai ekonomi Rp63 juta. Jika tambang diperluas jadi 552 hektar, maka kehilangan daya serapan karbonnya 1.225 ton per tahun dengan kerugian Rp118 juta.
“Dalam skenario pertama kerugian dari serapan karbon sebanyak Rp13,2 Miliar dan skenario kedua sebesar Rp24,2 miliar,” jelasnya.
Di tengah situasi krisis iklim yang tengah terjadi, lanjut Jaya, kerugian akibat rusaknya karst dan hilangnya fungsi penyerapan karbon akan makin menambah kerusakan lingkungan. Dampaknya kedepan bencana ekologis makin parah dengan warga yang menjadi korbannya.
Kondisi ini perlu jadi perhatian pemerintah, menurut Jaya, terutama komitmennya terhadap mitigasi iklim dalam perjanjian antar negara dalam COP. Apalagi krisis iklim ini dampaknya sudah nyata dengan bencana seperti di Sumatra yang menghancurkan infrastruktur, pertanian, dan sumber penghidupan lainnya.
“Dilihat dari sisi manapun baik lingkungan, ekonomi, sosial, sampai iklim hasilnya industri semen sangat merugikan, maka mestinya dihentikan saja.”
*****
Solidaritas Asia Pasifik Dukung Petani Kendeng Perjuangkan Alam Lestari