- Burung kasuari, rangkong dan cendrawasih memiliki peran penting di hutan Papua. Mereka membantu menyebarkan benih dan menjaga regenerasi ekosistem di hutan hujan tropis Papua.
- Cornell Lab of Ornithology bersama Indonesia Nature Film Society (INFIS), unit produksi film Yayasan Rekam Nusantara memproduksi film terkait spesies kunci itu. Semuanya terekam indah dan beragam dalam dua film dokumenter In Search of The Northern Cassowary dan Island of the Hornbills.
- Tak hanya bicara keanekaragaman hayati di alam, hutan bisa terjaga karena masyarakatnya. Habitat kasuari di Kampung Malagufuk, Kabupaten Sorong Selatan, misalnya, mereka memiliki tradisi untuk menjaga hutan mereka. Bahkan mereka memiliki filosofi: ko' jaga alam, alam jaga ko'.
- Hutan Papua menghadapi ancaman dari perburuan liar, alih fungsi lahan serta rencana pembangunan yang bisa merusak sumber daya alam. Padahal, masyarakat menggantungkan hidup pada alam.
Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Burung itu berjalan tegap, lehernya panjang tanpa bulu dan berwarna biru, kuning, sedikit merah. Warnanya mencolok dengan bagian tubuh lainnya yang dominan bulu berwarna hitam. Itu burung kasuari yang terekam jelas dalam kamera trap yang dipasang Tim Laman, tim Rekam Nusantara bersama masyarakat adat di Kampung Malagufuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Kamera trap itu merekam kasuari berjalan pelan di sekitarnya, lalu mematuk biji-bijian yang berserakan. Sesekali ada individu kasuari lain membawa anaknya dengan warna bulu dominan cokelat. Perjalanan panjang untuk menemukan dan merekam burung ini dikemas dalam film dokumenter In Search of The Northern Cassowary.
Selain film tentang kasuari, film Island of the Hornbills juga turut diputar dalam rangkaian Flora Malesiana Symposium XII dan Nature-Based Solutions Conference di Manokwari pada Februari lalu. Keduanya merupakan kolaborasi karya Cornell Lab of Ornithology dan Indonesia Nature Film Society (INFIS), unit produksi film Yayasan Rekam Nusantara.
Yoki Hadiprakarsa, ornitolog Yayasan Rekam Nusantara menyebutkan ada tiga kelompok burung yang bekerja tanpa henti sebagai arsitek alam yang membangun ekosistem hutan Papua. Yakni, burung rangkong, kasuari dan cendrawasih. “Ada pembagian tugas, rangkong di kanopi atas, kasuari bagian lantai hutan dan cendrawasih di tengah. Merekalah yang berperan untuk menebarkan biji-bijian seantero hutan,” ujarnya dalam Pemutaran dan Diskusi Film Merayakan Keragaman Papua di Manokwari, Februari lalu.

Dia menambahkan, burung-burung ini yang memastikan hutan Papua tetap sehat dan mampu pulih dari kerusakan, baik secara alami maupun aktivitas manusia. Penelitian dari Charles Darwin University juga menyebutkan kasuari menjadi penyebar biji signifikan antara petak hutan hujan, berkontribusi pada pemulihan dan keanekaragaman ekosistem. Tanpa kehadirannya, regenerasi pohon terhenti, dan hutan perlahan kehilangan keberadaannya.
Kedua film dokumenter tersebut menceritakan perjalanan Tim Laman, Yoki dan masyarakat dalam mendokumentasikan burung kasuari dan rangkong sebagai petani hutan. Pada pendokumentasian burung kasuari di Kampung Malagufuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Mereka memasang kamera trap di titik-titik strategis.
Tak hanya kasuari, film tersebut juga menampilkan keanekaragaman hayati hutan Papua. Ada beragam jenis mamalia, reptil dan burung tertangkap kamera trap. Seperti, walabi, ekidna moncong panjang, kerpududu papua (Henicophaps albifrons), merpati jambu (Ptilinopus sp.), kuskus tanah, burung kakatua raja hitam, burung mambruk ubiaat, hingga biawak. Temuan ini menjadi bukti bahwa hutan Malagufuk menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati.
Baca juga: Sang arsitek alam hutan Papua
Cara masyarakat untuk menjaga hutan

Kelestarian habitat kasuari yang berada di Kampung Malagufuk tak lepas dari peran masyarakat. Bastian Magablo, pemuda adat Kampung Malagufuk yang juga ikut dalam pembuatan film bercerita bagaimana masyarakat secara turun temurun telah menjaga hutan. Mereka pun memegang teguh filosofi: ko’ jaga alam, alam jaga ko’.
“Tanpa alam kita tidak bisa hidup. Begitu, karena air berasal dari alam, dan ikan juga berasal dari alam, maksudnya segala yang hidup di bumi ini juga berasal dari alam. Kalau bumi ini rusak atau alam ini rusak, paling-paling kita juga tidak bisa hidup di situ,” ujar Bastian.
Secara turun temurun mereka juga telah menerapkan sistem sasi dalam mengatur pemanfaatan sumber daya alam. Pengetahuan itu akan mengatur zona yang boleh dan tidak boleh untuk diburu dan perlu dilindungi. Itu untuk mencegah eksploitasi keanekaragaman hayati yang ada.

Pengaturan zona konservasi berdasarkan dari rapat adat dan gereja sebelum menentukan area perlindungan. Masyarakat dalam kampung tidak berburu sembarangan karena mereka tahu tempat mana yang bisa dan tidak bisa diambil. “Sistem ini kontras dengan pemburu dari luar kampung yang masuk pada malam hari menyasar kasuari, landak, cendrawasih, dan lau-lau,” tegas Bastian.
Meski begitu, ancaman pun seringkali hadir, mulai dari perburuan liar satwa endemik oleh pihak luar, status kawasan hutan produksi yang bisa dikonversi menjadi izin tambang atau sawit. hingga rencana pembangunan PLTA Kali Warusam. “Aktivitas ini mengancam regenerasi hutan dan sumber penghidupan masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem utuh.”
Baginya, kearifan lokal ini menjadi benteng pertahanan terakhir terhadap eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Dia berharap tak hanya masyarakat Kampung Malagufuk, tapi menjaga hutan Papua menjadi tanggung jawab bersama.
Baca juga: Petaka Proyek Pangan di Papua
Film menjadi media edukasi

Yanuarius Anouw, mantan Direktur Bentara Papua yang kini bekerja untuk Samdhana Institute menyebutkan fungsi ekologis satwa dan konservasi tradisional dari pengetahuan masyarakat penting untuk dijaga dan dipelajari. “Film dokumenter menjadi sarana efektif membuka ruang edukasi dan diskusi bagi masyarakat kota maupun kampung,” ujarnya.
Baginya, mahasiswa dan generasi muda memiliki suara kuat untuk mulai menyuarakan kepedulian terhadap ekosistem Papua. “Mahasiswa punya suara kuat untuk menyuarakan bahwa menjaga hutan Papua adalah menjaga identitas,” tegas Yanuarius
Sinergi antara kearifan lokal, edukasi generasi muda, riset akademisi, dan kebijakan pemerintah daerah, katanya, menjadi kunci kelestarian hutan papua. Publikasi ilmiah dan film dokumenter diharapkan mampu mendorong pemerintah melindungi kawasan hutan di Papua bukan hanya malagufuk, sebelum para “petani hutan” dan filosofi Sasi hanya tinggal cerita bagi anak cucu.
Harapan ke depan adalah semua pihak bersama-sama menjaga hutan Papua dari ancaman pembangunan dan perburuan liar. Edukasi melalui nonton bareng film dokumenter di kantor kampung diikuti diskusi menjadi metode efektif meningkatkan kesadaran masyarakat.
(*****)
*Yanti Samanui adalah Mahasiswa Program Studi Biologi di Universitas Papua. Dia memiliki ketertarikan pada isu-isu lingkungan dan satwa endemik di Papua. Kini, Yanti sedang belajar bagaimana menulis jurnal penelitian menjadi artikel populer agar menarik untuk dibaca.