Kehadiran ular di tengah persawahan sering kali memicu reaksi spontan berupa kepanikan atau upaya perburuan. Padahal, bagi para petani yang memahami pola kerja alam, gerakan melata di antara batang padi tersebut kadang justru menjadi kabar baik bagi keselamatan tanaman mereka. Salah satu sosok yang paling berjasa namun sering disalahpahami adalah ular lanang sapi atau Coelognathus radiatus.
Petani yang jeli tidak akan menganggap kehadiran ular ini sebagai musibah, melainkan sebagai berkah yang menjaga harapan panen mereka tetap hidup. Di tengah ekosistem pertanian yang kian tidak seimbang akibat pestisida dan perburuan predator, ular ini sering kali menjadi benteng terakhir yang melindungi tanaman padi dari kehancuran. Kehadirannya di pematang sawah adalah indikator paling nyata bahwa rantai makanan di area tersebut masih bekerja dengan baik.
Kondisi ini sempat memicu gerakan konservasi besar di Indramayu pada Agustus 2025. Ribuan ekor ular lanang sapi dilepaskan kembali ke area persawahan dalam sebuah program pengendalian hama alami. Langkah ini menjadi titik balik bagi para petani yang selama ini frustrasi menghadapi ledakan populasi tikus. Meski begitu, aksi pelepasan ribuan predator ini sempat menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian warga merasa khawatir akan keamanan mereka saat beraktivitas di sawah, sementara yang lain menekankan bahwa ini adalah cara paling aman dibanding menggunakan setrum listrik yang kerap memakan korban jiwa manusia.
Alasan di Balik Julukan Nama Hewan Ternak
Munculnya program tersebut sekaligus membuka ruang diskusi mengenai identitas ular ini yang unik. Banyak orang mungkin bertanya-tanya mengapa reptil ini membawa-bawa nama “sapi”. Julukan tersebut muncul bukan tanpa alasan, melainkan murni dari perilaku defensifnya yang menyerupai gestur sapi. Saat merasa terancam atau terpojok, ular ini tidak akan langsung melarikan diri layaknya ular koros atau ular air. Ia akan berhenti, mengangkat sepertiga bagian depan tubuhnya ke udara, lalu melipat lehernya hingga membentuk lengkungan seperto huruf S.

Pada posisi ini, ular lanang sapi akan membusungkan lehernya hingga melebar secara vertikal. Otot leher yang mengembang ini terlihat sangat kokoh dan tebal, memberikan ilusi visual yang mengingatkan orang pada punuk atau struktur leher sapi jantan yang sedang bersiap menyeruduk musuh. Efek intimidasi ini semakin lengkap dengan suara desisan yang keluar dari mulutnya. Berbeda dengan desisan ular pada umumnya, ular ini mengeluarkan hembusan napas yang sangat keras dan berat. Bagi masyarakat lokal, suara tersebut sangat mirip dengan dengusan napas sapi yang sedang marah atau kelelahan setelah membajak sawah.
Penambahan kata “lanang” yang dalam bahasa Jawa berarti jantan semakin mempertegas karakter ular ini. Julukan ini diberikan karena sifatnya yang sangat pemberani dan memiliki “ego” yang tinggi. Jika sebagian besar ular akan memilih jalur aman dengan bersembunyi saat melihat manusia, ular lanang sapi justru berani bertahan di tempatnya, melakukan gertakan dengan mulut terbuka lebar, dan siap melakukan serangan balik jika terus diprovokasi. Keberanian inilah yang membuatnya dianggap sebagai predator jantan di habitat persawahan.
Predator Tanpa Bisa
Ular lanang sapi memiliki daya adaptasi di lingkungan yang bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia. Mereka sangat menyukai habitat terbuka yang lembap seperti tanggul sawah, pinggiran saluran irigasi, dan semak belukar yang masih mendapatkan sinar matahari cukup. Sebagai hewan diurnal, ular ini aktif sepenuhnya di siang hari untuk berburu sekaligus mengatur suhu tubuh dengan berjemur di pematang sawah. Karena kegemarannya mengejar tikus hingga ke celah-celah sempit, tidak jarang ular ini ditemukan menyelinap di sekitar pemukiman warga, tumpukan kayu, atau gudang penyimpanan gabah yang menjadi sarang favorit mangsanya.

Hal terpenting yang harus dipahami oleh masyarakat adalah bahwa terlepas dari penampilannya yang galak dan intimidatif, ular lanang sapi sebenarnya sama sekali tidak memiliki bisa. Mereka bukan tipe pembunuh yang menggunakan racun, melainkan spesialis penyergap yang melumpuhkan mangsa dengan gigitan cepat lalu melilitnya dengan tenaga yang kuat. Seekor ular sapi dewasa mampu menghabiskan hingga tiga ekor tikus dalam seminggu. Kemampuan inilah yang membuatnya jauh lebih unggul dibandingkan predator lain seperti burung hantu.
Jika burung hantu hanya bisa memangsa tikus yang muncul di permukaan pada malam hari, ular lanang sapi memiliki tubuh ramping yang memungkinkan mereka menyusup hingga ke dalam lubang sarang yang paling dalam. Di sana, mereka tidak hanya mengincar induk tikus, tetapi juga memangsa seluruh anak-anak tikus yang ada. Strategi berburu yang menyeluruh ini menjadikannya solusi alami paling tuntas untuk memutus rantai perkembangbiakan hama tanpa perlu mengandalkan pestisida yang merusak tanah atau setrum listrik yang berbahaya.