Tidak semua reptil bertubuh panjang tanpa kaki adalah ular. Salah satu contoh yang sering menimbulkan salah identifikasi adalah slow worm (Anguis fragilis) atau cacing lambat, sejenis kadal tanpa kaki yang secara penampilan memang menyerupai ular, tetapi secara taksonomi merupakan spesies kadal sejati dari famili Anguidae. Tubuhnya silindris, ditutupi sisik halus mengkilap berwarna cokelat, abu-abu, hingga kemerahan seperti tembaga. Pada beberapa individu, tampak garis tipis memanjang di sepanjang punggung.
Perbedaan paling mendasar dan paling mudah diamati adalah kemampuan berkedip. Slow worm atau cacing lambat memiliki kelopak mata yang dapat digerakkan secara aktif, sesuatu yang tidak dimiliki ular sama sekali. Mata ular selalu terbuka dan hanya dilindungi oleh sisik transparan yang disebut brille. Selain kelopak mata, slow worm juga memiliki lidah yang berbentuk pipih dan bercabang, berbeda dari lidah ular yang lebih ramping dan sangat lentur. Perbedaan-perbedaan anatomi ini bukan sekadar detail kecil; semuanya mencerminkan jarak evolusi yang cukup jauh antara dua kelompok reptil yang berpenampilan serupa.
Perilaku Reproduksi dan Termoregulasi
Aktivitas slow worm atau cacing lambat meningkat pada musim kawin, yaitu periode peralihan suhu setelah musim dingin. Setelah keluar dari hibernasi yang berlangsung antara Oktober hingga Maret, reptil ini aktif mencari makan dan memulihkan kondisi tubuh. Jantan umumnya lebih banyak terlihat di awal musim semi, sementara betina lebih sering dijumpai pada musim panas ketika mereka sedang bunting. Di area perkebunan dan taman, mereka kerap ditemukan berkumpul di bawah tumpukan papan, batu, atau lembaran logam bekas.

Perilaku ini berkaitan langsung dengan cara slow worm atau cacing lambat mengatur suhu tubuhnya. Berbeda dari banyak reptil yang berjemur langsung di bawah matahari, spesies ini mengandalkan metode yang disebut tigmotermi, yaitu mendapatkan panas melalui kontak langsung dengan permukaan benda hangat. Sebuah studi tentang biologi termal Anguis fragilis yang dipublikasikan menunjukkan bahwa spesies ini adalah termoregulator aktif yang secara konsisten memilih habitat mikro tertentu untuk menjaga stabilitas suhu tubuhnya. Berkumpul di bawah objek padat juga mengurangi risiko terdeteksi predator, menjadikan strategi ini efisien dari dua sisi sekaligus.

Dalam proses reproduksi, pejantan bersaing satu sama lain untuk mendapatkan akses ke betina, termasuk melalui pertarungan fisik di mana ukuran tubuh menjadi faktor penentu. Jantan yang lebih besar hampir selalu mengalahkan yang lebih kecil. Saat kawin, pejantan menggigit leher betina untuk mempertahankan posisi, dan proses ini bisa berlangsung beberapa jam. Slow worm bersifat ovovivipar: embrio berkembang di dalam telur yang tetap berada di tubuh induk hingga menetas, kemudian betina melahirkan individu muda yang sudah mandiri. Satu betina rata-rata melahirkan enam hingga dua belas anak pada akhir musim panas, dengan panjang tubuh sekitar empat sentimeter. Di populasi yang hidup di dataran tinggi dengan kondisi iklim lebih keras, betina bahkan hanya bereproduksi dua tahun sekali.
Mekanisme Pertahanan Diri
Meski namanya menyertakan kata worm, hewan ini tidak berkerabat dengan cacing. Slow worm atau cacing lambat adalah kadal dengan rentang hidup yang cukup panjang, sekitar 30 tahun di alam liar, dan ada catatan individu di penangkaran yang melampaui angka tersebut. Panjang tubuh dewasanya berkisar antara 40 hingga 50 sentimeter, dengan betina yang cenderung berukuran sedikit lebih besar dari jantan.
Untuk menghadapi ancaman predator, yang mencakup ular beludak, berbagai jenis burung, dan kucing domestik, slow worm menggunakan mekanisme autotomi, yaitu memutuskan ekornya sendiri. Ekor yang terputus terus bergerak aktif untuk mengalihkan perhatian predator sementara hewannya melarikan diri. Berbeda dari banyak spesies kadal lain, ekor slow worm tidak tumbuh kembali secara sempurna; regenerasinya hanya menghasilkan tonjolan pendek yang tumpul dan berwarna lebih gelap.

Slow worm menggunakan lidah bercabangnya sebagai indra penciuman utama. Lidah dijulurkan untuk menangkap partikel kimia di udara, kemudian ditempelkan pada organ Jacobson di langit-langit mulut untuk menganalisis lingkungan sekitar. Giginya kecil dan melengkung ke belakang, struktur yang justru sangat efektif untuk mencengkeram mangsa licin seperti siput agar tidak mudah lepas saat ditelan.
Slow worm tidak agresif, tidak berbisa, dan giginya terlalu kecil untuk melukai kulit manusia. Mereka adalah predator spesialis invertebrata kecil: siput, keong, ulat bulu, laba-laba, dan cacing tanah. Kemampuan mereka menekan populasi siput secara alami menjadikan mereka sekutu diam-diam bagi para petani dan pekebun, tanpa perlu pestisida.
Spesies ini bersifat semi-fosorial, menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah tanah atau tersembunyi di bawah bebatuan dan puing-puing permukaan. Mereka menyukai habitat lembap seperti tepi hutan, padang rumput, dan kebun dengan vegetasi lebat. Aktivitas berburunya lebih banyak terjadi pada sore hingga malam hari, menjadikan mereka jarang terlihat meski sebenarnya cukup umum di habitatnya.
Di habitat aslinya di Eropa, populasi slow worm dilindungi oleh undang-undang konservasi karena perannya dalam rantai makanan. Ancaman utama yang mereka hadapi bukan dari predator alami, melainkan dari perusakan habitat dan penggunaan pestisida yang membunuh populasi mangsa mereka.
**
Referensi:
Meek, R. (2005). Null models and the thermal biology of the anguid lizard Anguis fragilis: Evidence for thermoregulation? Amphibia-Reptilia, 26(4), 445–452.