- Betet enggano (Psittacula longicauda enganensis) merupakan burung endemik Pulau enggano. Di alam liar, ia sangat bergantung pada pohon-pohon besar yang punya lubang alami.
- Daya tarik burung paruh bengkok khas ordo Psittaciformers ini terlihat pda bulunya yang mencolok dan suara yang khas. Di hutan, jenis ini memakan buah beringin (Ficus benjamina) dan kepatang (Terminalia catappa). Tetapi, saat pakan di alam berkurang, mereka memanfaatkan tanaman yang ditanam manusia.
- Ancaman terbesar betet enggano tak hanya berkurangnya habitat, tetapi juga perburuan. Sebab, paruh bengkok ini relatif mudah dilacak dan dalam beberapa kasus, sang induk ikut tertangkap.
- Di Pulau Enggano, masih terdapat kawasan hutan lindung yang luas serta ekosistem mangrove yang penting bagi keanekaragaman hayati. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir muncul perdebatan di masyarakat mengenai pembukaan lahan untuk perkebunan sawit.
Seekor burung berbulu dominan hijau, hinggap di ranting pohon. Perlahan, ia masuk ke sebuah lubang tempatnya beristirahat.
Sore itu, Zafier Ariga Islamiterra (12), menunggu kehadiran betet enggano (Psittacula longicauda enganensis) kembali ke sarang. Menggunakan binokuler, Zafier, memperhatikan tingkah burung endemik Pulau Enggano, Bengkulu tersebut.
“Bagus sekali burungnya dan harus dilestarikan,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Daya tarik burung paruh bengkok khas ordo Psittaciformers ini terlihat pda bulunya yang mencolok dan suara yang khas.
“Jangan ditangkap agar tidak punah.”
Zafier tak sendiri. Zulfan Zafiery, sang ayah yang merupakan fotografer satwa liar sekaligus konservasionis lokal, turut memantau pergerakan burung berekor panjang itu.
Zulfan sudah mendokumentasikan burung-burung di Enggano sejak pertama kali datang ke pulau yang merupakan kawasan daerah penting bagi burung IBAs (Important Bird and Biodiversity Areas) pada 2008.
Saat itu, menurutnya, kondisi alam Enggano jauh lebih ramah bagi burung.
“Dulu, jarak empat meter sudah bisa lihat betet. Mereka tak terlalu takut meski kita duduk di bawah pohon makananya,” ujarnya.

Kini, situasi berubah. Betet enggano jadi jauh lebih waspada terhadap manusia. Melihat dari jauh sudah kabur. Perubahan perilaku ini tak lepas dari tekanan perburuan yang pernah terjadi di Pulau yang berjarak sekitar 120 km dari daratan Bengkulu ini.
Dulu, masyarakat hanya mengambil satu atau dua anak betet untuk dipelihara. Namun, beberapa tahun terakhir, praktik penangkapan lebih intensif.
“Sekarang banyak pendatang yang datang membawa pikat, speaker, dan pakai pulut. Mereka tangkap lalu jual.”
Padahal, betet enggano merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan di Enggano. Di alam liar, ia sangat bergantung pada pohon-pohon besar yang punya lubang alami.
“Kalau ada lubang di pohon besar, biasanya itu yang dipakai untuk sarang.”
Di hutan, jenis ini memakan buah beringin (Ficus benjamina) dan kepatang (Terminalia catappa). Tetapi, saat pakan di alam berkurang, mereka memanfaatkan tanaman yang ditanam manusia.
“Mereka sekarang juga makan petai, cempedak, bahkan jengkol. Itu karena makanan di hutan berkurang.”
Ancaman terbesar betet enggano tak hanya berkurangnya habitat, tetapi juga perburuan. Sebab, paruh bengkok ini relatif mudah dilacak dan dalam beberapa kasus, sang induk ikut tertangkap. Hal ini jauh lebih berbahaya dibanding mengambil anaknya.
“Kalau induknya ditangkap, regenerasi terputus. Ini yang membuat populasinya cepat habis,” katanya, Senin (9/3/2026).

Langkah pencegahan
Pemerintah Kecamatan Enggano telah melakukan sejumlah langkah untuk mencegah perdagangan betet ini keluar pulau.
Yopi Pardiyansyah, Camat Enggano, mengatakan jenis ini merupakan satwa endemik yang sudah ditetapkan sebagai satwa dilindungi oleh pemerintah. Pihaknya selalu menyampaikan kepada masyarakat untuk selalu menjaga kelestariannya.
Untuk memastikan aturan berjalan, pemerintah kecamatan bekerja sama sama dengan petugas konservasi atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan pengawasan di pelabuhan.
“Petugas biasanya melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada satwa endemik yang dibawa,” jelasnya, Minggu (8/3/2026).

Pemerintah kecamatan juga melakukan edukasi melalui pertemuan masyarakat hingga pemasangan pengumuman di desa-desa.
“Kami tempelkan pemberitahuan di desa-desa bahwa satwa endemik seperti betet enggano merupakan satwa dilindungi.”
Yopi tak menampik masih ada pelanggaran skala kecil. Perubahan bentang alam juga jadi perhatian pemerintah daerah. Di Pulau Enggano, masih terdapat kawasan hutan lindung yang luas serta ekosistem mangrove yang penting bagi keanekaragaman hayati. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir muncul perdebatan di masyarakat mengenai pembukaan lahan untuk perkebunan sawit.
Yopi mengakui, isu ini masih jadi perbincangan di tengah masyarakat.
“Sebagian masyarakat sudah menanam, tetapi ada juga yang khawatir karena sawit membutuhkan air yang banyak dan bisa berdampak pada lingkungan,” ujarnya.

Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Officer Burung Indonesia, sebelumnya Jumat (8/2/2026), menjelaskan bahwa upaya mendesak yang perlu dilakukan adalah memperkuat perlindungan lokasi-lokasi penting bagi keanekaragaman hayati (site).
Perlindungan tak hanya difokuskan pada kawasan konservasi formal, tapi juga pada wilayah di luar kawasan yang menjadi habitat penting satwa.
“Penguatan kapasitas komunitas lokal juga jadi kunci,” paparnya.
*****