- Tahun ini, masyarakat Sumatera Selatan gagal panen buahan lokal. Hadirnya El Nino pada tahun 2026, diprediksi membuat kegagalan yang sama pada tahun depan.
- Hadirnya El Nino bukan hanya menjadi ancaman produksi buah, juga pada pertanian dan perkebunan.
- Diperkirakan dampak dari El Nino, produksi kopi di Sumatera Selatan akan mengalami penurun lagi.
- Beberapa upaya yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat menghadapi ancaman El Nino adalah mulai dari membuat lumbung pangan, mengatur tata kelola air, serta menghentikan berbagai aktivitas yang mengubah bentang alam dan merusak hutan.
Saat ini, masyarakat di Sumatera Selatan mengalami gagal panen buahan lokal. Seperti duku [Lansium domesticum], durian, dan buah hutan lainnya. Ancaman El Nino 2026, diprediksi akan membuat buah lokal kembali gagal panen.
“Tahun ini sedikit sekali pohon duku kami berbuah. Bahkan, ada beberapa pohon terlihat akan mati,” kata Samsuddin, warga Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku I, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, awal Maret 2026.
Penyebabnya, saat musim berbunga yang berlangsung September-Oktober tahun 2025, cuaca tidak menentu, seperti angin kencang, hujan, sehingga banyak bunga duku gugur.
Padahal, dari Februari-April 2025, masih banyak pohon duku berbuah. Bahkan pada 2024, buah duku berlimpah, sehingga harganya jatuh di pasaran. Mencapai Rp2 ribu per kilogram dari tangan pemilik kebun.
Dijelaskan Samsuddin, sejak 2014, beberapa pohon duku di sekitar Sungai Komering di Kabupaten OKU Timur, mulai banyak mati. Terutama pohon berusia tua.
Pada awal 2025, dikutip dari globalplanet.news, wilayah yang banyak mengalami kematian pohon duku di Kabupaten OKU Timur, yakni Desa Perjaya, Desa Negeri Agung dan Desa Pulau Negara di Kecamatan BP Peliung.
Terkait hal tersebut, pemerintah Kabupaten OKU Timur melakukan pembagian bibit duku baru, serta meminta masyarakat tidak menggunakan racun saat membersihkan rumput di sekitar pohon. Racun rumput dinilai mengganggu daya tahan akar pohon duku.

Kondisi yang sama dialami puluhan jongot atau kebun buah hutan di wilayah Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
“Banyak yang tidak berbuah, hanya cempedak (Artocarpus integer) yang berbuah. Itu pun sedikit. Kalau durian, rambutan, rambai, tampui, manggis, sama sekali tidak ada,” kata Toni Caye, pemilik jongot di Talang Lebung Jauh, Desa Tempirai Utara, Kecamatan Penukal Utara, awal Maret 2026.
Tahun 2025 lalu, semua tanaman di jongotnya berbuah.
“Gagal buah di jongot tahun ini, sebab saat musim berbunga lalu, banyak bunga gugur karena angin kencang dan hujan deras.”
Sepekan lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal, dan pada pertengahan tahun berpotensi El Niño.
“Jelas dampaknya, kemungkinan besar akan gagal lagi panen buah, khususnya duku. Bahkan, kemungkinan besar hasil pertanian dan perkebunan lain juga terganggu. Kekeringan akan melanda semua wilayah, krisis air bersih dan krisis pangan akan terjadi,” kata Adios Syafri, Direktur Riset dan Kampanye Hutan Kita Institute (HaKI), kepada Mongabay Indonesia, Rabu (11/3/2026).

Dari pemberitaan “Duku Komering, Si Manis yang Rentan Terhadap Perubahan Iklim”, penelitian yang dilakukan Ari Sugiarto, dikutip dari buku “Ekologi Duku Komering”, yang membuat permodelan peningkatan suhu udara di Sumetera Selatan pada 1977-2017, diketahui terjadi peningkatan suhu udara sebesar 1,5 derajat Celcius. Peningkatan suhu udara rata-rata harian sebesar 1,3 derajat Celcius dan peningkatan suhu udara maksimum sebesar 1,2 derajat Celcius.
Peningkatan suhu udara minimum sebesar 1,5 derajat Celcius menyebabkan meningkatnya laju transpirasi duku sebesar 3,66 mm3/g tanaman/jam. Sedangkan peningkatan suhu udara rata-rata harian sebesar 1,3 oC menyebabkan meningkatnya laju transpirasi duku sebesar 7,76 mm3 /g tanaman/jam.
Peningkatan suhu udara maksimum sebesar 1,2 0C menyebabkan meningkatnya laju transpirasi duku sebesar 4,03 mm3/g tanaman/jam. Transpirasi merupakan proses biologis, yaitu air hilang dalam bentuk uap air dari bagian udara tanaman.
Jika respirasi dan transpor zat terganggu, menyebabkan tumbuhan kekurangan nutrisi. Ini dikarenakan, tanaman memiliki suhu optimum yang berbeda untuk berkembang.

Kopi juga terdampak
Aidil Fikri dari Gerai Hutan Coffee, Selasa (10/3/2026) memperkirakan produksi kopi di Sumatera Selatan akan mengalami penurunan produksi pada 2026 dan 2027 akibat El-Nino.
“Saat ini penurunan hingga 50 persen terlihat di Semende, Lahat, Pagaralam, dan OKU Selatan.”
Gerai Hutan Coffee adalah sebuah kelompok usaha, yang memasarkan kopi dari sejumlah kelompok tani yang tergabung dalam skema perhutanan sosial (PS) di Sumatera Selatan. “Biasanya setiap bulan, kami memasarkan sekitar enam ton kopi, baik robusta maupun arabika. Tapi sekarang maksimal tiga ton,” jelasnya.
Penurunan produksi, kata Aidil, berdasarkan keterangan para petani karena banyak bunga atau buah yang gugur dikarenakan angin kencang dan hujan deras.
Sumatera Selatan merupakan produsen kopi terbesar di Indonesia, khususnya jenis robusta. Berdasarkan data BPS [Badan Pusat Statistik] 2023, Sumatera Selatan menghasilkan 198 ribu ton dari total produksi nasional sekitar 760 ribu ton, yang berasal dari kebun kopi seluas 267.187 hektar.

Tata kelola air
Adios Syafri menambahkan, menghadapi ancaman El Nino terhadap produksi buah, pertanian dan perkebuan di Sumatera Selatan, maka ada beberapa upaya yang dapat dilakukan.
“Segera buat lumbung pangan. Pangan yang dihasilkan saat ini dikumpulkan dan sebagai persiapan menghadapi kelangkaan pangan akibat kemarau dan El Nino. Ini dilakukan baik oleh pemerintah maupun komunitas masyarakat.”
Selanjutnya, lakukan tata kelola air yang cepat di wilayah dataran rendah. Misalnya, membuat embung, sebagai penampung air, mengembalikan aliran air alami seperti sungai dan rawa, serta menghentikan berbagai kegiatan yang mengubah lahan basah, baik untuk infrastruktur maupun perkebunan.
Penataan ini, terutama pada wilayah yang sering mengalami kebakaran hutan dan lahan, seperti Kabupaten OKU Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten PALI, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Musi Rawas Utara.
Pada wilayah dataran tinggi, “Hutan harus dijaga, dan masyarakat juga harus beradaptasi dengan kondisi ini. Seperti terkait pola tanam maupun jenis tanaman.”
Aidil Fikri berharap, pemerintah dan para petani di wilayah dataran tinggi di Sumatera Selatan, segera melakukan penanaman pohon naungan di perkebunan kopi dan palawija. “Fungsinya, selain menjaga air tanah, juga bencana lainnya seperti longsor, angin dan udara panas,” katanya.
*****
Alasan Kuat, Masyarakat Penukal Pertahankan Kebun Buah Hutan