- Bagi warga Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (Jateng), tanaman perkebunan bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan yang bisa mereka wariskan lintas generasi. Ketika tambang andesit datang, mengubah kebun dan lahan pertanian produktif jadi kolam-kolam galian, sumber kehidupan pun terganggu.
- Hilangnya serangga penyerbuk (lebah) menggagalkan proses pembuahan tanaman, yang mengakibatkan pohon durian, petai, dan aren milik warga berhenti berbuah secara produktif.
- Aktivitas peledakan batu yang rutin merusak struktur fisik rumah warga dan mencemari sumber air bersih dengan limbah galian serta debu mineral.
- Proyek membangun waduk merusak tatanan sosial masyarakat Wadas dengan menciptakan pengucilan dan trauma mendalam akibat konflik antara kelompok pro-tambang, kontra-tambang, dan aparat.
Bagi warga Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (Jateng), tanaman perkebunan bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan yang bisa mereka wariskan lintas generasi. Ketika tambang andesit datang, mengubah kebun dan lahan pertanian produktif jadi kolam-kolam galian, sumber kehidupan pun terganggu.
Yani, perempuan 45 tahun itu lahir dan tumbuh besar di Wadas, mengenyam pendidikan hingga SMP. Dia tidak sanggup melanjutkan ke jenjang SMA karena jarak terlalu jauh. Rumahnya di pelosok; di lembah sempit antara kaki-kaki pegunungan terjal berlekuk-lekuk, bertanah subur.
Dia menikah ketika berumur 17 tahun. Dari pernikahan, Yani menjadi ibu dari tiga anak dan nenek bagi beberapa cucu. Tak ada pilihan lain selain hidup menua membantu suami mengelola hasil bertani sawah dan berkebun. Sebagian dari hasil panen dia konsumsi, sisanya jual.
“Tapi sejak konflik; (pohon) petai dan durian itu sudah tidak berbuah lagi,…pohon-pohon nira ditebang, sudah tidak mengeluarkan air,” katanya menunjuk satu area tempat tumbuh menjulang tanaman-tanaman itu, tepat di seberang halaman rumahnya.
Dia khawatir bila nanti sumber lauk itu gagal berbuah dalam jangka panjang, berdampak buruk terhadap pemenuhan nutrisi mereka sekeluarga, termasuk tiga cucunya.
Beberapa meter dari pohon petai dan durian itu, sungai kecil mengalir deras, hujan membuat air berubah keruh. Di sini, banyak anak sungai yang menjadi sumber air bersih utama warga. Sayangnya, belakangan semua keruh. Bahkan salah satu penuh belatung.
Situasi mulai warga rasakan sejak pembukaan lahan tambang andesit menggunakan peledak dengan jumlah tak terhitung. Saking seringnya, ledakan menjadi lumrah sekaligus penanda petaka yang lebih sulit diprediksi akan dampaknya di kemudian hari.
Hingga kini, aduan-aduan mereka tidak mendapat respon serius karena ledakan yang terus berlangsung.
“Gara-gara ledakan, rumah bergetar,” kata Urip, perempuan pembuat gula aren, menunjukkan empat titik retakan panjang di ruang tamu rumahnya yang berdinding beton. Usia 50 tahun.

Susi, perempuan tani lain kebingungan membantu suaminya yang petani musiman. Kebiasaannya membuat gula aren kini tak menentu karena sulit mendapatkan air nira.
Warga di sini mengimpikan bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi. Bagi Susi, ada hal yang dia rasa paling menyakitkan, dikucilkan sebagian warga perempuan yang mendukung kehadiran tambang sejak awal.
“Saya tidak tahu mesti bagaimana lagi,” katanya, tak kuasa menahan tangis dalam forum diskusi warga bersama Koalisi Masyarakat Sipil–merefleksi dampak buruk dari aktivitas pertambangan andesit, Januari lalu. Susi yakin usahanya untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan bukanlah kesalahan.
Cerita Susi kian mempertegas ada konflik antar warga imbas kehadiran tambang; antara pro dan kontra, seperti terjadi di banyak tempat. Meski begitu, warga yang hadir dalam diskusi tetap berharap agar pertentangan itu tidak sampai berujung pada gesekan fisik.
Sejak pemerintah tetapkan sebagai penyuplai material proyek Bendungan Bener, wajah Desa Wadas. Area yang dulu subur dengan tanaman perkebunan yang menjanjikan, kini ‘porak-poranda’. Bencana banjir acapkali datang setelah tambang andesit itu beroperasi.
Dari sisi psikis, bentrokan dengan aparat yang terjadi pada 2021 meninggalkan trauma mendalam bagi warga. Mereka yang menolak kehadiran tambang, harus menanggung risiko dikucilkan oleh mereka yang menerima. “Jangan tulis nama saya,” ujar seorang warga mewanti-wanti.

Lebah menghilang
Hilangnya sumber penghidupan menjadi pukulan paling telak setelah tambang beroperasi. Perubahan lingkungan telah sebabkan koloni lebah pergi dan tak pernah kembali. Padahal dulu, lebah-lebah madu itu jadi pemandangan sehari-hari.
Tommy, salah satu pembudidaya lebah madu katakan, hilangnya lebah tak lepas dari kondisi vegetasi di Wadas yang jauh berkurang. Dia merasakan penurunan produksi madu sejak lima tahun terakhir. Bila dihitung, penurunan produksi capai 3-6 liter setiap bulan.
Dulu, kata Tommy, dia memiliki sekitar 1.000 koloni lebah yang tersebar di bukit-bukit Wadas dan di kebun-kebun warga. Kini menyusut, tersisa 100 koloni. Banyak kotak-kotak stup kosong, tanpa dengungan, dan tanpa koloni.
Lebah, katanya, perlu vegetasi pakan yang mencukupi, tak sekadar lingkungan bagus. Sedang pembukaan hutan masif untuk penambangan andesit sebabkan vegetasi berkurang. Akibatnya, populasi lebah pun terus menyusut.
“Lambat perkembangan koloni nya, lambat produksi, dikarenakan kurangnya sumber pakan faktor asap dan penebangan kayu. Bahkan ada juga yg mati,” kata pemuda yang mulai budidaya lebah madu sejak 2018 ini.
Lebah tidak mati tetapi pergi mencari habitat yang lebih sesuai dan tak pernah kembali lagi.

Punya peran penting
Damayanti Buchori, pakar serangga Institut Pertanian Bogor (IPB) menduga perubahan tata guna lahan di Wadas melibatkan penambangan andesit dan pengupasan gunung, merupakan penyebab penurunan populasi lebah dan perpindahannya. Pembukaan lahan skala besar merusak habitat lebah, termasuk tempat hidup dan sumber makanannya.
“Secara teori mengatakan ketika habitat berubah, apalagi itu kemudian tutupan lahannya hilang, tutupan hutan hilang, tumbuh-tumbuhan hilang, yaaa keanekaragaman hayatinya (juga) akan hilang. Bukan hanya lebah, serangga penyerbuk lain seperti kupu-kupu, ngengat,” katanya.
Lebah di Wadas kini menghilang, dampak tidak berhenti pada serangga. Tanaman yang bergantung pada penyerbukan mulai menunjukkan gejala gagal berbuah.
Pada aren–tanaman yang selama puluhan tahun menopang ekonomi warga–bunga tetap muncul, tetapi produktivitas nira menurun. Aliran nira melemah, durasi sadap memendek, dan kualitas hasil menurun.
Petani aren kerap mengaitkan dengan “tanaman sudah tua.” Padahal, secara ilmiah, gejala ini sering terkait stres lingkungan dan terganggunya proses biologis di sekitar tanaman. Berkurangnya produksi nira berarti hilangnya pendapatan harian.
Laporan penelitian Socio-Ecological Analysis of Andesite Mining Plans in Wadas Village, Purworejo, Central Java, tahun 2021 mengidentifikasi, secara keseluruhan penolakan warga Wadas berdasarkan pada kekhawatiran kerusakan lingkungan dan hilangnya mata pencarian.
Komunitas Asta Dipa Lestari (ADIL) di Yogyakarta merupakan salah satu relasi warga Wadas yang membantu memasarkan produk alam Wadas sejak 2019. Koperasi ini mengambil produk dari Wadas, seperti kopi, gula aren, Virgin Coconut Oil (VCO), dan madu.
Dulu, kopi robusta dari Wadas bisa mencapai tiga ton per tahun. Madu juga mereka dapat dari Wadas. sejak 2022, pasokan terhenti, termasuk madu.
“Ya karena itu karena tambang itu. Jadi kan produksinya akhirnya menurun orang udah nggak mau lagi bikin kayak gitu-gitu,” kata Himawan Kurniadi, anggota ADIL.

*****