- Target penyelesaian proyek Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo molor. Semula, pemerintah targetkan proyek tersebut rampung pada 2024. Tapi, hingga kini tak kunjung selesai. Kabar yang berkembang, molornya penyelesaian proyek itu karena material batu andesit dari tambang di Wadas minim.
- Minimnya batuan andesit ini cukup mengejutkan. Apalagi, untuk membuka tambang ini, kawasan seluas 114 hektar yang rapat akan pepohonan itu telah terbabat habis. Sebagian warga juga dipaksa melepaskan lahannya demi memuluskan rencana penambangan tersebut. Namun yang terjadi, jenis batuan di area tersebut justru dipenuhi batu cadas, kapur dan tanah urug.
- Nandra Eko Nugroho, dosen Teknik Lingkungan UPN Yogyakarta mengatakan, minimnya batuan andesit di Wadas kian menegaskan perencanaan proyek yang tak komprehensif. Tidak ada analisis dampak lingkungan (Andal) tahap eksploitasi. Jika ada analisanya kemungkinan besar prakiraan cadangan andesit akan lebih akurat.
- Talabuddin dan Susi Maryani, dua warga Wadas mendesak pemerintah menghentikan kegiatan tambang di Wadas. Selain material batu andesit yang tak sesuai perkiraan, kehadiran tambang tersebut telah berdampak pada warga. Salah satunya banjir yang lebih sering terjadi di kampung mereka.
Kawasan seluas 114 hektar yang dulunya rapat dengan aneka pepohonan berisi kebun dengan berbagai buah-buahan dan sumber penghidupan warga Wadas, Purworejo, Jawa Tengah (Jateng) itu kini telah terbabat habis. Hanya tersisa lubang galian, bongkahan batu, dan belasan alat berat yang terparkir pada awal Januari lalu.
Batuan andesit yang dicari hingga membabat ribuan pohon di area ini hanya nampak di dua titik saja yang berada di sisi selatan. Puluhan titik tambang lain hanya batu cadas, kapur, dan tanah urug.
Dugaan kuat, minimnya andesit di area itu pula jadi sebab mundurnya pembangunan Bendungan Bener yang berjarak 10 kilometer dari sana. Proyek yang awalnya pemerintah targetkan rampung 2024 itu, molor dan jadi bagian pembangunan jangka menengah 2025-2029.
Awalnya, hutan produktif yang ratusan warga Wadas kelola itu diperkirakan mengandung 40 juta meter kubik andesit. Prakiraan itu yang akhirnya menjadi dalih untuk melakukan penambangan di sana demi memasok material kebutuhan bendungan itu.
Ratusan warga sudah tergusur dari area itu dan hanya menyisakan segelintir orang yang menolak mengambil uang ganti rugi. Mereka yang masih bertahan dan menolak mengambili uang miliaran rupiah itu masih mengolah lahannya hingga kini.
“Lahan saya kebetulan di kawasan sabuk hijau, jadi belum dilakukan penambangan. Sampai sekarang masih saya olah, tapi hanya untuk pakan ternak. Tidak bisa lagi menanam yang lain, resiko kena longsor,” kata Talabuddin, warga Wadas yang masih bertahan hingga kini.
Dia mengolah lahan itu untuk menghidupi belasan kambing miliknya. Dia tanam singkong untuk mengambil daunnya untuk pakan ternak.

Bencana hantui warga
Luas lahan Talabudin itu sekitar 3.000 meter persegi. Tanaman singkong hanya berjarak puluhan meter dari tambang, persis di bawah kawasan ekstraktif tersebut. Saban hari, dia rutin mengeceknya supaya tidak ada yang membabatnya sembarangan.
“Kalau ada longsoran juga agar bisa dibersihkan segera, apalagi musim hujan seperti ini jadi mudah terkena tanah atau batuan dari atasnya,” katanya.
Aktivitas penambangan mengalami penurunan sejak awal 2025 yang ditandai dengan berkurangnya jumlah alat berat di lokasi. Pengamatan Talabudin yang rumahnya hanya berjarak satu kilometer, jumlah pekerja juga jauh lebih sedikit ketimbang 2023. Ketika itu, pengerukan memang berlangsung massif.
Sayangnya, meski mengalami penurunan kegiatan tambang tetapi risiko warga Wadas justru meningkat. Pada November 2025, batu-batu berukuran besar ‘berterbangan’ dan masuk ke halaman rumah warga.
Batu yang terlempar itu berdekatan dengan lokasi anak-anak bermain. “Besarnya sekepala manusia, jenis batunya cadas jadi keras dan berat. Untungnya tidak mengenai warga, jelas itu penambangannya pakai peledakan makanya sampai terlempar jauh.”
Warga Wadas langsung merespon kejadian itu dengan beraudiensi dengan perusahaan yang melakukan peledakan dalam penambangannya. Menurut Talabudin, perwakilan penambang itu mengakui kesalahan dan berjanji lebih berhati-hati.
Dari audiensi itu, dia juga mengetahui andesit yang terkandung di area itu tak sebanyak yang perkiraan sebelumnya.
“Dari awal 2025 itu sudah ada yang ngomongin, para pekerja tambang juga pas ditanyain menyampaikan itu, ditambah lagi saat audiensi itu ternyata menguatkan dugaan sebelumnya.”

Penurunan aktivitas pertambangan karena volume andesit yang minim juga terungkap saat pihak DPRD Purworejo mengunjungi lokasi tambang di Wadas.
“Sebagai awam saya menilainya hasil tambang andesit di sana itu sedikit, sepertinya tidak mencukupi untuk pembangunan bendungan,” kata Rokhman, Wakil Ketua DPRD Purworejo.
Dia pernah dua kali menanyakan temuannya itu saat beraudiensi dengan Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta pada 2025 tetapi tidak mendapat jawaban memuaskan. Kala itu, tajuk audiensi itu seputar kejelasan target pembangunan yang mundur.
Menurut Rokhman, kementerian menyebut alasan utama melesetnya Bendungan Bener rampung karena anggaran yang terbatas. Sebab, sejak Presiden Prabowo mencoret proyek ini dari daftar proyek strategis nasional (PSN) pada 2025, pendanaan jadi seret.
“Itu alasan pemerintah pusat yang kami dengar terkait mundurnya pembangunan Bendungan Bener,” katanya.
DPRD Purworejo menyayangkan mundurnya penyelesaian proyek bendungan itu,, terutama karena besarnya pengorbanan warga -yang terpaksa melepas lahan mereka-, konflik agraria, hingga pembabatan hutan. Satu-satunya cara mengembalikan pengorbanan itu, katanya, adalah terbangunnya Bendungan Bener.
Soal keterbatasan anggaran, DPRD Purworejo mendorong pemerintah pusat agar memprioritaskan proyek ini. Sedangkan minimnya batuan andesit di lokasi, perlu kajian ulang untuk memberi kepastian dan jadi bahan mengambil keputusan apakah akan melanjutkan pertambangan di Wadas atau tidak.
Mongabay berupaya meminta konfirmasi ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) yang bertanggung jawab proyek ini dengan dua kali ke kantornya, yakni pada 8 dan 12 Januari lalu. Tapi belum mendapat respon hingga sekarang.
Mongabay juga menghubungi nomor telepon dan mendatangi kantor M. Yushar Yahya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk mendapat penjelasan atas kabar minimnya andesit di Wadas. Tetapi, tak juga mendapat tanggapan.

Setop tambang, pulihkan lahan
Susi Mulyani, warga Wadas lain yang menolak tambang andesit, tak kunjung mengambil uang Rp5,6 miliar untuk mengganti lahan miliknya yang terkena tambang. Petugas Pengadilan Negeri Purworejo bahkan beberapa kali mendatangi rumahnya untuk mengingatkan agar mengambil uang tersebut.
“Saya tetap menolaknya, bukan karena tidak butuh uang tapi untuk tetap bertahan. Ada empat lahan yang terkena proyek itu, masih saya olah sampai sekarang buat pakan ternak,” jelas perempuan 24 tahun itu.
Susi hanya minta agar setop tambang . Selain material andesit yang dicari tidak sesuai prediksi, alasan lainnya, lahan tersebut warisan keluarga, sekaligus sumber penghidupannya.
Sejak ada tambang, lahan jadi tak produktif. Dampaknya, kehidupan ekonominya menjadi sulit karena pemasukan berkurang.
“Dulu sumber pendapatan bisa dari panen durian, kemukus, nira buat produksi gula jawa. Sekarang hanya buat pakan ternak, jelas menurun drastis.”
Apalagi anaknya mulai sekolah, belanja pengeluaran jadi makin besar. Meski begitu, kondisi itu tak membuatnya patah arang untuk menolak tambang.
“Kalau saya relakan, generasi kami ke depan akan hidup seperti apa, ini hanya titipan yang harus kami jaga.”
Nandra Eko Nugroho, dosen Teknik Lingkungan UPN Yogyakarta mengatakan, minimnya batuan andesit di Wadas kian menegaskan perencanaan proyek yang tak komprehensif. Tidak ada analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) tahap eksploitasi.
“Jika ada analisanya kemungkinan besar prakiraan cadangan andesit akan lebih akurat,” katanya.

Nandra yang jadi saksi ahli pada gugatan warga Wadas atas proyek itu di pengadilan saat itu sudah meminta pemerintah melakukan kajian ulang. Menurut dia kawasan yang satu ruang dengan Perbukitan Menoreh memiliki karakteristik khusus.
Kawasan yang terbentuk sejak Era Oligosen-Miosen ini memang memiliki kandungan batuan dan mineral beragam. Mulai dari karst, batubara, andesit, emas, kuarsa hingga feldspar.
“Hampir semua jenis mineral dan batuan ada disana, tapi secara morfologi bentuknya bukit yang artinya banyak intrusi.”
Intrusi atau proses keluarnya magma dalam retakan menuju permukaan tanah yang kemudian menjadi batuan beku termasuk andesit ini perlu dipetakan secara mendalam jika ditambang.
‘Sebab kawasan tambang berbentuk titik-titik tertentu, berbeda dengan batubara yang sifatnya hamparan sehingga mudah menghitung cadangannya.”
*****
Tambang Wadas Jalan Terus, Pakar Hukum: Bukti Kegagalan Negara Lindungi Warga