- Tim gabungan Badan Karantina Indonesia (Barantin), BKSDA, Lanal Ternate, dan Polairud Polda Maluku Utara menggagalkan upaya penyelundupan 114 satwa liar dari Manokwari tujuan Surabaya di KM Sinabung. Satwa ditemukan tersembunyi di bilik penumpang dan kamar mandi saat kapal singgah di Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate. Sebanyak 100 ekor dalam kondisi hidup dan 14 mati, terdiri dari berbagai jenis reptil dan mamalia endemik Papua, termasuk kanguru pohon dan kuskus.
- Saat ditemukan, satwa mengalami stres berat dan dehidrasi akibat perjalanan panjang dan penempatan tidak layak. Mereka kini ditangani di kandang transit BKSDA Maluku Utara untuk pemulihan sebelum dilepasliarkan. Dua terduga pelaku berinisial JN dan EN telah diamankan dan masih berstatus saksi dalam pemeriksaan intensif oleh kepolisian.
- Penyelundupan tanpa prosedur karantina berpotensi menimbulkan risiko zoonosis, seperti leptospirosis, demam Q, salmonellosis, hingga infeksi bakteri dan parasit lain yang dapat menular ke manusia. Selain itu, perlakuan buruk menyebabkan stres, imunosupresi, dan berisiko menurunkan peluang bertahan hidup satwa saat dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
- Aktivis konservasi menilai kasus ini menunjukkan jaringan perdagangan satwa liar masih aktif dan terorganisir. Perlu penguatan penegakan hukum, pengawasan di pelabuhan dan jalur laut, kerja lintas instansi, serta edukasi publik di wilayah sumber dan transit untuk mencegah praktik serupa terulang dan melindungi populasi satwa yang bereproduksi lambat di alam.
Tim gabungan Badan Karantina Indonesia (Barantin), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Lanal Ternate dan Polairud Polda Maluku Utara berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 114 satwa liar endemik Papua dari atas Kapal KM. Sinabung, Rabu (11/2/26). Ratusan satwa liar itu berangkat dari Manokwari dengan tujuan Surabaya.
Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi Pelni yang menyebutkan adanya muatan satwa liar berbagai jenis. Begitu tiba di Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate, tim gabungan kemudian melakukan pemeriksaan. Saat itu, tim mendapati ratusan satwa dari berbagai jenis itu tersembunyi di beberapa bilik penumpang dan kamar mandi.
Sugeng Prayogo, Kepala Karantina Maluku Utara Sugeng Prayogo menyampaikan, sebanyak 100 satwa dia temukan dalam kondisi hidup, 14 lainnya mati. Satwa-satwa itu terdiri dari kadal minyak Papua (35,4 mati), kadal hutan Papua (46, 8 mati).
Kemudian, biawak Maluku (1), ular black albert (1), ular gold adder (2), ular green tree python (6), ular death adder (1), kuskus putih (3), kuskus cokelat (2, 1 mati), kuskus totol (1), serta kanguru pohon nemena (16, 1 mati).
“Seluruh satwa yang kami amankan diduga dilalulintaskan tanpa dilengkapi dokumen perizinan yang sah serta tidak melalui prosedur karantina dan konservasi sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan,” kata Sugeng dalam rilis resminya kepada media.

Stres hingga mati
Saat tim temukan, satusan satwa itu dalam kondisi stres berat dan dehidrasi. Karena itu, dari Pelabuhan Ternate, ratusan satwa itu kemudian dibawa ke Kantor BKSDA Maluku Utara (Malut) di Jalan Batu Angus kawasan Bandara Babullah Ternate untuk penanganan lebih lanjut.
“Kami amankan di kandang transit dulu karena mengalami stress dan dehidrasi berat. Karena itu perlu penanganan lebih cepat,” kata Usman, Kepala BKSDA Seksi Konservasi Wilayah 1 Ternate.
Saat ini, katanya, polisi masih melakukan pemeriksaan terkait terduga pelaku. “Itu jadi ranah polisi, apalagi kita juga tidak punya penyidik jadi polisi yang tangani,”katanya.
Dia bilang, berdasarkan manifest kapal, satwa-satwa tersebut berangkat dari Pelabuhan Manokwari dengan daerah tujuan Surabaya. Sebelum sampai di Ternate, kapal sempat singgah di Sorong dan Bacan. Karena lamanya waktu di atas kapal, hewan -hewan itu alami stress luar biasa bahkan ada yang mati.
“Karena itu kita minta saat diturunkan tidak bisa lama lama di pelabuhan tetapi dibawa ke BKSDA untuk segera diatasi kondisinya,” kata Usman.
Setelah tiba di kandang transit hewan-hewan ini mendapat penanganan dengan memberikannya vitamin dan makanan.
Kompol Arinanda, Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Malut katakan, ada dua orang yang dia sebut sebagai terduga pelaku penyelundupan satwa liar ini. Masing- masing berinisial JN (23) waga asal Jawa Tengah dan EN (24) asal Jawa Timur.
“Kedua orang itu kami sudah amankan tetapi status mereka masih sebagai saksi dan sedang dalam pemeriksaan intensif.”

Ancaman zoonosis
Aksi para pelaku ini tergolong sadis. Beberapa di antaranya mendapat perlakuan yang sekenanya hingga berujung pada stres, bahkan kematian. Seperti biawak atau ular misalnya, pelaku tempat pada wadah dari bekas botol air kemasan.
Usman mengatakan, segera melepasliarkan satwa-satwa ini begitu kondisinya membaik.
“Tapi, tergantung proses hukum juga. Apakah cukup barang buktinya dengan menggunakan dokumen foto-foto saja mengingat kondisi satwa. Kami khawatir juga kalau terlalu lama di kandang, akan sulit beradaptasi ketika dilepasliarkan nanti,”katanya.
Selain itu, kekhawatiran lain adalah berkaitan dengan ancaman zoonosis. Dia katakan, zoonosis merupakan proses infeksi penyakit menular dari hewan ke manusia.
“Satwa liar ini berpotensi menjadi media pembawa hama penyakit hewan dan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia,” kata Sugeng.
Beberapa jenis satwa seperti kangguru pohon dan kuskus diketahui berpotensi membawa penyakit zoonosis seperti leptospirosis, demam Q (Q fever), serta infeksi bakteri dan parasit yang dapat menular melalui kontak dengan cairan tubuh, jaringan, atau lingkungan yang terkontaminasi.
Sementara itu, reptil seperti ular, kadal, dan biawak secara umum berisiko membawa salmonellosis, sparganosis (infeksi parasit Spirometra), campylobacteriosis, serta infeksi bakteri lain seperti Aeromonas, Escherichia coli, dan Klebsiella, yang dapat menular melalui feses, luka gigitan, maupun kontak langsung tanpa penerapan biosekuriti.

Penguatan kolaborasi
Billy Gustafianto dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki Lembaga Konservasi Satwa Liar Sulawesi Utara menyampaikan, kasus ini menunjukkan jaringan perdagangan satwa liar masih aktif dan terorganisir.
Karena itu, perlu penguatan kolaborasi multipihak antar stakeholder, baik BKSDA, Karantina, GAKKUM, maupun aparat penegak hukum lainnya.
Dia berharap, penegakan hukum yang tegas dan konsisten, termasuk ada penerapan sanksi maksimal agar memberikan efek jera. Perlu juga peningkatan pengawasan di titik rawan seperti pelabuhan, bandara, dan jalur laut antar pulau, termasuk pemeriksaan kapal penumpang dan logistik.
“Harus ada penguatan intelijen dan kerja lintas instansi, antara Karantina, BKSDA, kepolisian, TNI AL, serta operator transportasi. Termasuk penelusuran jaringan hingga aktor intelektualnya, bukan hanya pelaku lapangan,” ujar Billy.
Dia menyarankan, publik mendapat edukasi secara massif, terutama di wilayah sumber dan transit perdagangan satwa liar, agar mereka turut aktif menjaga dan mencegah perdagangan satwa ilegal atau penyelundupan terulang.
Menurut Billy, perlakuan tak layak oleh terduga pelaku berpotensi menyebabkan imunosupresi atau penurunan kekebalan satwa yang dapat berujung kematian. Sebab itu, begitu kondisinya membaik, dia menyarankan untuk segera melepasliarkannya ke habitat masing-masing.
Risiko kematian tinggi karena satwa berada dalam kondisi tertahan dengan fasilitas yang tak sesuai. Selain berpotensi stres kronis, penurunan imunitas, dan infeksi sekunder, satwa juga bisa kehilangan perilaku alaminya. Artinya, makin lama satwa di luar habitatnya, semakin besar kemungkinan kehilangan kemampuan bertahan hidup seperti mencari pakan, mengenali predator, atau membentuk struktur sosial alami.
“Ada juga ancaman terhadap populasinya di alam terutama satwa yang diamankan, seperti kanguru pohon Papua dan kuskus ini, merupakan spesies dengan tingkat reproduksi lambat. Keberadaannya di alam makin berkurang akan berpengaruh terhadap tingkat reproduksi mereka.”
*****