- Puluhan karung limbah minyak mentah mencemari perairan laut Kepulauan Riau (Kepri). Selain pariwisata, para nelayan juga merasakan dampak dari pencemaran ini. Ikan-ikan menjauh karena kondisi laut yang tercemar.
- Cemaran limbah minyak di perairan Kepri bukan kali pertama terjadi. Marc Thalman, salah satu pengelola resort di Bintan, Kepri menyebut hampir tiap tahun terjadi pencemaran akibat pembuangan limbah minyak mentah. Namun, yang terjadi kali ini lebih parah dengan skala yang lebih luas. Upaya penyisiran oleh warga temukan 40 karung lebih berisi minyak di perairan.
- Sehari setelah kejadian di Bintan, kapal LCT Mutiara Garlib Samudera yang membawa limbah minyak mentah tenggelam di pesisir Tanjung Pinggir, Sekupang, Kota Batam. Insiden itu menyebabkan muatan limbah minyak mentah tumpah dan mencemari perairan setempat.
- Rahmat Hidayat, GM PT Jagar Prima Nusantara, selaku perusahaan pemilik kapal menyatakan bertanggung jawab sepenuhnya atas insiden itu. Baik secara perdata maupun pidana. Namun begitu, dirinya membantah bila kejadian itu terpicu muatan kapal yang berlebih.
Dengan supitnya, seekor kepiting bakau mengusap limbah minyak mentah yang menutupi matanya. Tak hanya mata. Minyak hitam pekat itu nyaris menutupi sekujur tubuh biota dengan nama latin Scylla itu.
Pemandangan itu terekam dalam video yang Marc Thalman kepada Mongabay. Pengelola Mutiara Beach Resort, itu juga mengirimkan video lain yang memperlihatkan pemandangan pesisir Pantai Timur Bintan, Kepulauan Riau, tercemari minyak hitam.
Hingga kini otoritas pun belum mengetahui penyebab cemaran minyak hitam itu.
Marc ceritakan, seorang pengunjung resort pertama kali temukan cemaran minyak hitam itu pada 28 Januari 2026 yang lantas melaporkannya padanya.
“Kami langsung cek malam itu ke pantai, pantai tidak bisa lagi digunakan, sudah rusak,” katanya menggambarkan kondisi pantai yang telah tercemar.
Menyusul temuan itu, Marc kemudian menginformasikan kepada warga sekitar. Saat penyisiran keesokan harinya, warga temukan puluhan karung berisi minyak mentah mengambang dan mencemari perairan sekitar.
Beberapa di antaranya terbawa ombak hingga terdampar di pantai.
Marc mengatakan, para pengunjung resort banyak keluhkan bau menyengat dari limbah minyak mentah itu. Beberapa di antara mereka mengaku pusing mencium aroma itu.
“Ada tamu saya yang memutuskan keluar dari resort, karena bau minyak itu terbawa sampai ke kamar resort.”
Dia berharap otoritas terkait segera menangani persoalan ini. Jika tidak, selain dampak lingkungan, dia khawatir akan berdampak pada okupansi resort. Terlebih, peristiwa itu terjadi jelang akhir pekan, dimana banyak wisatawan yang berwisata.
“Jangan sampai akibat kondisi pencemaran ini tamu kita tidak jadi menginap,” kata Marc.

Bukan kali pertama
Cemaran limbah minyak mentah di perairan Bintan bukanlah kali pertama. Menurut Marc, insiden itu kerap terjadi, bahkan setiap tahun. Namun, kali ini adalah yang terparah dengan skala area terdampak yang lebih luas.
Marc tidak tahu secara pasti darimana karung-karung minyak itu berasal. Namun, dia menduga dari kapal tangker yang biasa berlalu-lalang di Selat Malaka. Termasuk, kapal minyak dari Timur Tengah dengan tujuan Jepang atau Korea.
Setelah bongkar muat di negara tujuan, kapal-kapal itu kembali dalam keadaan kosong. Namun, sebelum kembali ke nagara asal, mereka biasanya transit lebih dulu ke Singapura, dimana negara ini mewajibkan setiap kapal tanker yang masuk ke negara Singa Putih harus dalam keadaan tangki bersih.
“Tank cleaning atau pembersihan tangki itu membutuhkan biaya mahal. Opsi murah dan gampang, membuang limbah hasil tank cleaning di Selat Singapura, yaitu perairan sebelum masuk ke Singapura,” katanya.
Iwan Winarto, Perwakilan Masyarakat Nelayan Pengudang di Bintan, mengatakan, cemaran limbah minyak ini tidak hanya terjadi di sekitar Pantai Mutiara. Tetapi, hampir merata di pesisir timur Bintan. Bahkan, hasil penyisiran oleh warga temukan ada sekitar 40 lebih karung berisi limbah minyak mentah.
Dia bilang, banyak sektor terdampak akibat peristiwa ini. Tidak hanya para pariwisata. Para nelayan yang menggantungkan hidup dari laut pun turut terdampak. Pasalnya, laut yang tercemar sebabkan ikan menjauh.
“Dulu sudah sampai ke Menko Marves, tetap saja terjadi lagi sekarang. Padahal sudah ada perpres atau pergub penanganan limbah minyak ini, cuma mengapa ini tidak bisa teratasi?” kata Iwan seusai mengikuti rapat koordinasi, Rabu (4/2/26).
Iwan menyangkan sikap instansi yang terkesan saling lempar. Dia mendesak pemerintah bersikap tegas dan meningkatkan pengawasan agar peristiwa ini tidak terus terjadi. “Dari sisi kesehatan kalau kita cek, ini sudah ada sludge oil itu dalam tubuh kita, tapi kita bisa buat apa?” katanya.
Raden, Kepala Bidang Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bintan, mengatakan, saat ini, fokus pada penanggulangan minyak hitam yang masuk pantai. Saat ini, proses pembersihan masih berlangsung.
“Secara volume dan tonase belum kita lakukan pengukuran, tetapi jumlah karung goni yang digunakan untuk pengumpulan ada sekitar 7.000 pieces dan 25 jumbo bag,” katanya, Rabu (4/2/26).
Karena peralatan yang terbatas, proses pembersihan berlangsung secara manual.
Raden bilang akan membawa limbah yang terkumpul dan memusnahkannya, sesuai petunjuk Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
“Kalau untuk pelaku saya tidak berani menduga karena bukan kapasitas DLH untuk menjawab, karena ini ada di sektor perhubungan laut dan kejadiannya di laut lepas.”

Belum tahu penyebab, terkendala cuaca
Alfaizul, Pelaksana Tugas Kepala Pangkalan Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) Tanjung Uban, mengatakan, sejatinya sudah meningkatkan pengawasan menyusul kejadian serupa sebelumnya.
Selama ini, pencemaran minyak kerap kali terjadi di Lagoi, di sisi utara Pulau Bintan. Kini, area pembuangan bergeser ke timur pulau, tepatnya di daerah wisata Nikoi.
“Jadi sepertinya mengintip pergerakan kita,” katanya.
Mereka telah mengerahkan anggota ke lokasi tumpahan.
“Kalau ada tumpahan, tanggung jawab pangkalan (KPLP), itu kadang salah pemahaman. Kalau sudah di pantai, tanggung jawab bersama. Untuk penanggulangan namanya bencana.”
Mereka mendorong ada patroli bersama untuk antisipasi kejadian serupa.
Alfaizul mengatakan, memiliki perlengkapan satelit untuk memantau tumpahan minyak di perairan. Namun, untuk memastikan siapa pelakunya, hanya bisa dengan pengecekan lapangan, meski cara ini juga acapkali terkendala akibat cuaca buruk.
“Memang ada satelit BRIN, tetapi hanya memantau saat minyak timbul ke permukaan laut, tidak bisa memastikan kapal apa yang membuangnya.”
Imam Prakoso, Peneliti Senior IOJI menjelaskan, dari pemantauan Automatic Identification System (AIS), dia menemukan ada anomali-anomali pergerakan kapal tanker teridentifikasi dari Venezuale di dua hari sebelum kejadian. Lokasinya, tepat berada di lokasi tumpahan minyak saat ini.
“Ada kapal tanker ukuran 300 meter stay di dekat lokasi kejadian selama dua hari, kita bisa menduga kapal tersebut pelakunya, aparat harus bergerak cepat,”katanya.
Lemahnya pengawasan, jadi salah penyebab peristiwa ini terus berulang. Dia menyarankan ada leading sector, patroli bersama, serta pelibatan masyarakat nelayan untuk bersama-sama memantau setiap kehadiran kapal yang mencurigakan.

Tambah kapal karam, cemaran meluas
Sehari setelah kejadian di Bintan, Kapal LCT Mutiara Garlib Samudera yang membawa limbah minyak mentah karam di pesisir Tanjung Pinggir, Sekupang, Kota Batam. Insiden itu menyebabkan muatan limbah minyak mentah tumpah dan mencemari perairan setempat.
“Ini sudah mencemari laut, limbahnya dibawa arus ke mana-mana,” kata Muhammad Sapet, nelayan anggota Pokmaswas, Jumat (30/1/26).
Sepekan setelah kejadian itu, Komisi III DPRD Batam menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan melibatkan pihak terkait, termasuk DLH Batam.
IP, Kepala Bidang Pengawasan DLH Batam menyebut, perlu sekitar tiga pekan untuk membersihkan laut yang tercemar. Untuk mangrove, perlu tiga tahun untuk memulihkannya.
“Sekarang kita fokus penanggulangan dulu. Setelah itu tim bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan ahli akan melakukan asesmen,” katanya.
Asesmen meliputi data pencemaran, valuasi kerugian ekonomi, dan lainnya. Pihaknya masih lakukan pemeriksaan terhadap sampel yang terkumpul. Hasilnya akan keluar dalam tiga minggu ke depan.
Mereka membuka peluang adanya gugatan perdata setelah hasil assesment keluar. Termausk, termasuk kewajiban perusahaan membayar kerugian untuk pemulihan lingkungan.
“Untuk pidana peluang terbuka, Gakkum KLH sudah datang.”
Rahmat Hidayat, GM PT Jagar Prima Nusantara, perusahaan pemilik kapal menyatakan bertanggung jawab sepenuhnya atas insiden itu, baik perdata maupun pidana. Namun begitu, dia membantah bila kejadian itu terpicu muatan kapal yang berlebih.
“Kapasitas kapal 450 ton, muatan saat itu di bawah kapasitas.”
Rahmat menjelaskan, berdasar laporan yang masuk, kecepatan angin kala itu mencapai 10 knot dengan ombak 1,5 meter. Kapal pun oleng setelah kemasukan air.
Dia membandingkan penangan penanganan pencemaran di Bintan dengan yang terjadi di Batam.
“Kalau di Bintan tiap tahun terjadi, kenapa tidak diusut? sedangkan kapal saya kecelakaan, semuanya nyerang,” katanya. Terkait dugaan kesamaan limbah, Rahmat meminta pembuktian melalui ahli. “Silakan dibuktikan dengan ahli,” katanya.
*****
Tumpahan Minyak Pertamina, Derita Warga Menanggung Beban Pencemaran