- Durian Kromo Banyumas merupakan varietas khas Banyumas, Jawa Tengah, yang tidak kalah rasa dengan durian terkenal lainnya.
- Nama ini diambil dari sosok penemunya, Haji Saiman Nursoim, yang lebih dikenal Mbah Kromo. Dia menanam pohon durian istimewa di pekarangan rumahnya di Desa Karangsalam, Kecamatan Kemranjen, pada 1985.
- Dampak krisis iklim membuat banyak pohon durian Kromo tidak berbuah.
- Terkait dampak krisis iklim, Ganjar yang merupakan petani durian Kromo, mengembalikan cara bertaninya dengan pengikuti pola alam. Di area kebunnya, dia memelihara domba untuk diambil kotorannya. Di lokasi ini juga, ada sejumlah drum yang difungsikan untuk proses fermentasi pupuk organik.
Januari dan Februari, seharusnya jadi hari yang sibuk bagi Ganjar Budi Setiaji (53), petani durian Kromo Banyumas, di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Banyumas, Jawa Tengah. Tetapi pada Selasa (27/1/2026) lalu, dia terlihat santai.
“Tahun ini, tidak seperti sebelumnya,” ucapnya, sambil membelah durian tersisa. “Silakan dicoba.” Ketika saya cicipi, rasanya manis, lembut, legit, dan creamy.
Durian Kromo yang dagingnya berwarna kekuningan ini, merupakan varietas khas Banyumas.
“Tahun 2024, saya panen 3.500 durian dari 300 pohon, pada lahan 3 hektar. Tahun ini, hanya ada 500 durian dan sudah habis sejak Januari,” ujarnya.
Durian Kromo yang dikembangkan Ganjar, merupakan jenis lokal yang tidak kalah rasa dengan durian terkenal lainnya.

Nama ini diambil dari sosok penemunya, Haji Saiman Nursoim, yang lebih dikenal Mbah Kromo. Dia menanam pohon durian istimewa di pekarangan rumahnya di Desa Karangsalam, Kecamatan Kemranjen, pada 1985. Durian ini buahnya besar, dagingnya tebal, dan rasanya legit.
Sejak 1990-an, Mbah Kromo memperbanyak bibit dari pohon induk dan dari sini lahir durian Kromo Banyumas dengan keunggulan tidak hanya pada rasa, tetapi juga bobot per buah hingga 10 kilogram. Ketebalan dagingnya sekitar 1-2 sentimeter.
Sejak 2012, Ganjar menjadi petani durian. Awalnya, dia menerapkan pola budidaya semi-organik dengan komposisi pupuk kimia dan organik, masing-masing 50 persen. Sejak 2023, seluruh perawatan menggunakan pupuk organik racikan sendiri.
“Pola organik sangat berpengaruh pada rasa,” ungkapnya.

Produksi turun
Tahun 2026, Ganjar baru merasakan turunnya produksi durian yang sangat berdampak pada pendapatan, bahkan merugi. Rata-rata, berat satu durian 2–3 kg dengan harga per kg 80-140 ribu rupiah. Kali ini, Ganjar hanya mendapat kisaran Rp40 juta.
“Ongkos produksi sekitar Rp75 juta. Jika pakai nonorganik, bisa sampai Rp150 juta.”
Krisis iklim sangat berdampak pada sektor pertanian. Pola musim tanam sulit diprediksi, akibatnya risiko gagal panen meningkat.
“Tahun 2025, didominasi musim hujan. Saat seharusnya panas, tetap ada hujan. Akibatnya, pohon trubus terus, kemudian rontok, sehingga kebanyakan tidak berbuah,” ujarnya.
Barkah Pujianto, Kepala Desa Kebumen, mengatakan biasanya Januari hingga Februari, jalanan ke Baturraden yang melalui Kebumen dipenuhi pemandangan warga jualan durian.
“Tahun ini tidak ada, karena sebagian besar tidak panen. Cuaca tidak menentu seperti hujan ekstrem dan angin, membuat buah rontok. Padahal, satu pohon bisa menghasilkan Rp3 juta.”
Timbul Yulianto, Sekretaris Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, mengatakan tahun ini hanya sebagian kecil warga yang panen.
“Banyak pohon durian tidak berbuah.”

Adaptasi dan antisipasi
Loekas Susanto, pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, membenarkan bahwa cuaca sangat berdampak pada perkembangan pohon buah.
“Curah hujan tinggi akan merontokkan bunga, pada akhirnya tidak jadi buah. Tahun ini, harusnya panen raya durian Januari–Februari setelah masa bunga 3–4 bulan. Dikarenakan waktu itu curah hujan tinggi, bahkan di musim kemarau, maka tidak banyak buahnya,” jelasnya, Kamis (29/1/2026).
Menurut Loekas, petani durian dapat memberikan perlakuan khusus menghadapi musim tidak menentu.“Misalnya, memberikan kalium untuk memperkuat bunga agar menjadi buah, saat curah hujan tinggi. Ini salah satu cara.”
Apa yang disampaikan Loekas, telah dikerjakan Ganjar. Sejak awal, dia melakukan berbagai treatment agar pohon duriannya tetap berbuah saat iklim berubah.
Agar pohon tetap produktif, dia memupuknya bertahap sepanjang tahun. “Dengan pertanian organik, pohon masih produksi saat musim tidak menentu, meski hasilnya tidak banyak.”
Awal pemupukan setelah panen, misal Februari–Maret, dengan memperbanyak unsur nitrogen (N) untuk memulihkan kondisi tanaman, disertai kompos dan unsur NPK. Memasuki Mei–Juni, unsur N, P, dan K ditambahkan lagi dengan penekanan kalium (K) dan fosfat guna merangsang pembungaan dan pembuahan.
“Pemberian pupuk hampir dua pekan sekali.”

Menjelang musim hujan, sekitar September–Oktober, pemupukan unsur boron (B) dalam dosis organik dilakukan untuk membantu pembentukan bunga dan buah agar tidak mudah rontok. Ganjar mengaku dapat banyak ilmu pada 2021, setelah mendapat pendampingan dari tim akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari sini, dia mengenal berbagai sumber nutrisi alami untuk pohon durian.
Misalnya, cara memanfaatkan kalsium dari cangkang telur, kalium dari gedebok (batang) pisang, nitrogen dari bakteri pengikat nitrogen, serta fosfat dari kotoran kelelawar. Kombinasi bahan organik tersebut menggantikan peran pupuk kimia.
“Kondisi tanah makin gembur dan sehat. Ini berdampak langsung pada pertumbuhan pohon.”
Terkait dampak krisis iklim, Ganjar menyelaraskan cara bertani dengan mengikuti pola alam. Dia juga memelihara domba untuk diambil kotorannya. Di kebunnya juga, ada sejumlah drum yang difungsikan untuk membuat pupuk organik.
*****