- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai muncul. Di Sumatera Utara, macan akar, spesies yang dilindungi jadi korban ketika keluar hutan untuk menyelamatkan diri malah tewas tertabrak kendaraan.
- Keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran di Simalungun hari itu melahap lima hektar lahan. Tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun dan aparat melakukan pemadaman dan rampung sore hari.
- Rosek Nursahid, Pendiri Profauna, menyayangkan minimnya mitigasi karhutla. Padahal, hal ini selalu jadi masalah tiap tahun dan membuat manusia, satwa, maupun lingkungan jadi korban.
- Bernard T. Wahyu Wiryanta, Peneliti Satwa Liar dari Sanggabuana Conservation Foundation, menyebut, karhutla sangat berbahaya bagi satwa karena bisa menghabi mereka secara cepat. Karenanya, tidak heran satwa banyak keluar kawasan hutan.
Belum usai penanganan banjir dan longsor di Sumatera, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Sumatera Utara (Sumut). Di Dusun Girsang, Simalungun, beberapa satwa berupaya menyelamatkan diri hingga ke jalan lintas Sumatera. Nahas, satu macan akar tertabrak kendaraan yang melintas dan tewas, Minggu (25/1/26).
Kemunculan beberapa titik api sempat membuat warga panik. Suasana makin heboh ketika monyet ekor panjang keluar dari habitatnya dan berjalan menyebrang ke sekitar jalur lintas Sumatera di daerah Sisera-sera.
Menyusul, dua biawak ukuran dewasa dan remaja dari semak-semak lalu menyeberangi jalan. Burung-burung seperti murai daun, pelatuk sumatera, tangkar-uli sumatera dan poksai Sumatera juga beterbangan menjauh dari ‘rumah’ mereka yang mulai terbakar.
Aji Sinambela, mantan pemandu wisata Danau Toba, saat Mongabay hubungi menyebut, kemunculan dua macan akar paling menghebohkan. Warga, katanya, juga melihat sejenis berang-berang dan dua kucing hutan keluar dari habitatnya, lalu lari menyeberang di jalan besar.
“Dugaan awal mengapa satwa satwa ini keluar habitat dan nekat menyeberang jalan besar lintas Sumatera itu karena habitatnya terbakar dan mereka coba menyelamatkan diri,” katanya.
Andar Saragih, Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) BBKSDA Sumut tidak memberikan banyak keterangan terkait hal ini.
Dia bilang, pasca mendapat informasi ihwal dugaan anak harimau Sumatera yang tertabrak kendaraan roda empat itu, tim langsung ke lokasi untuk melakukan identifikasi.
Masyarakat menyampaikan, bangkai satwa itu mereka mereka bawa pergi dan kubur di ujung kampung. Setelah menggali dan mengidentifikasi, tim BKSDA memastikan bangkai itu bukan anak harimau, melainkan spesies macan akar dan masuk dalam kategori dilindungi.
“Masyarakat tidak perlu khawatir sebab yang mati itu bukan anak harimau Sumatera, melainkan macan akar. Bangkainya dibawa dan dikubur di tempat kami,” katanya, Senin (26/1/26).
Keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran di Simalungun hari itu melahap lima hektar lahan. Tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun dan aparat melakukan pemadaman dan rampung sore hari.
Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, di laman resmi Kementerian Kehutanan, bilang, pemantauan tinggi muka air tanah menunjukkan penurunan tinggi muka air tanah di level rawan dan berbahaya di beberapa titik pengamatan di Aceh, Sumatera Utara, Riau dan Jambi.
Pemantauan hotspot harian memperlihatkan peningkatan jumlah dan sebaran titik panas juga hampir merata di Sumatera, begitu juga dengan pengamatan Fire Danger Rating System (FDRS) dari BMKG memperlihatkan peningkatan kerawanan.
“Manggala Agni Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera berkomitmen untuk bergerak cepat dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk segera menuntaskan pemadaman Karhutla,” katanya.

Minim mitigasi?
Rosek Nursahid, Pendiri Profauna, menyayangkan minimnya mitigasi karhutla. Padahal, ini selalu jadi masalah tiap tahun dan membuat manusia, satwa, maupun lingkungan jadi korban.
Menurut dia, reaksi dan kehebohan selalu muncul saat kejadian.
“Kenapa tidak dilakukan mitigasi awal untuk mencegah terjadinya kebakaran?” tanyanya, Kamis (29/1/26).
Dia bilang, mitigasi merupakan tanggung jawab BKSDA atau Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) setempat sebagai pengelola. Persoalan yang timbul selalu ihwal luasnya kawasan dan kapasitas atau keterbatasan personel.
Seharusnya, pemerintah bisa mengatasi masalah ini dengan melibatkan masyarakat.
“Pemerintah sebenarnya bisa menjalankan pola ini, karena mempunyai daya jangkau lebih luas.”
Dia pun meminta pemerintah dan aparat setempat untuk mengusut kebakaran di Simalungun. Karena, mustahil wilayah dengan intensitas hujan cukup tinggi bisa terbakar.
Berkaca dari kasus di Jawa, pemburu membakar kawasan hutan habitat macan akar. Hewan ini cenderung ke luar habitat ketika merasa ada bahaya.
“Begitu keluar hutan para pemburu ini tinggal menunggu untuk kemudian ditembaki.” Meski Profauna belum pernah lihat ada indikasi kasus serupa di Sumatera, termasuk Sumut, dia menilai hal ini perlu pembuktian dan kajian lebih lanjut.

Bernard T. Wahyu Wiryanta, Peneliti Satwa Liar dari Sanggabuana Conservation Foundation, menyebut, karhutla sangat berbahaya bagi satwa karena bisa menghabisi mereka secara cepat. Jadi, tidak heran satwa banyak keluar dari hutan.
“Tidak hanya karena terbakar, tapi degradasi, alih fungsi hutan, dan fragmentasi. Ini sering membuat satwa keluar habitatnya.”
Dia belum pernah menemukan modus pembakaran hutan untuk menangkap macan akar di Sumatera atau Kalimantan. Meskipun demikian, satwa ini termasuk yang banyak pemburu cari dan mudah ditemukan di marketplace.
Habitatnya yang makin terdesak dan mendekat ke pemukiman membuatnya mudah pemburu cari dan tangkap.
“Kadang pada saat masyarakat pergi ke kebun atau ke ladang melihat anak kucing hutan langsung ditangkap, dibawa pulang, dipelihara, kemudian ada yang menawar cocok harga langsung dijual. Seperti itu trennya.”

*****