- Bagi masyarakat Tempirai, Kabupaten PALI, dan Semende, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, menanam padi ibarat menjaga perempuan yang tengah hamil. Ia butuh makanan sehat selama ngidam, termasuk selama membesarkan isinya. Maka harus ditanam sejumlah sayuran dan rempah di sekitar tanaman padi.
- Perempuan memiliki peranan penting dalam merawat padi. Perempuan dinilai mampu menjaga fisik dan emosi tanaman padi.
- Padi adalah simbol hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan. Padi tidak sebatas pemenuhan karbohidrat bagi manusia.
- Tradisi menanam padi di Tempirai dan Semende mencerminkan pengetahuan agroekologi, tata kelola sosial, dan otoritas epistemik.
Padi merupakan tumbuhan luar biasa. Tidak sekadar ditanam, melainkan butuh perhatian.
“Padi ibarat perempuan tengah hamil. Ia butuh makanan sehat selama ngidam, termasuk selama membesarkan isinya atau bayinya. Maka, kami menanam sayuran dan rempah di sekitar padi,” kata Asrina (43), saat berada di ume atau talang miliknya di Talang Lebung Jauh, Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, pertengahan Januari 2026.
Sayuran dan rempah yang ditanam antara lain terong (Solanum melongena), kacang panjang (Vigna sinensis), singkong (Manihot esculenta), botor atau kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), kunyit (Curcuma longa Linn. Syn), lengkuas (Alpinia galanga), serai (Cymbopogon citratus), kencur (Kaempferia galanga), dan jagung (Zea mays L.).
Selain menanam sayuran dan rempah tersebut, tanah yang ditanam padi juga harus diperlakukan secara baik. Misalnya, berjalan pelan dan tidak menimbulkan suara keras saat menginjak tanah. “Apalagi saat padi berbunga.”
Emosi atau rasa mereka yang menanam padi juga harus dijaga. Jika sepasang suami isteri, mereka tidak boleh ribut atau bertengkat saat di hume. Tidak boleh marah. Tidak boleh bicara kotor. Tidak boleh membicarakan hal-hal tidak baik.
“Bayangkan seperti merawat ibu hamil. Jaga fisiknya dan jaga emosinya,” ujar Asrina.

Jika semua hal tersebut tidak dilakukan atau dilanggar, Asrina dan sejumlah warga lain di Tempirai percaya, tanaman padi akan gagal atau hasil panennya sedikit. Asrina menjelaskan, tidak ada ruginya memperlakukan padi ibarat perempuan hamil. Selain mendapatkan pangan sehat selama menanam padi, juga hidup serasa nyaman dan damai saat berada di ume. Hubungan keluarga menjadi harmonis, dan secara spiritual dekat dengan alam dan Tuhan.
“Kami menjadi lebih sering berucap syukur dengan Tuhan,” katanya.
Ume atau talang adalah menanam padi di darat, bukan di sawah. Cara menanamnya dengan cara membuat lubang di tanah yang kemudian diisi bibit padi, yang disebut nugal.
Nugal biasanya dilakukan gotong royong. Dilakukan anggota keluarga dan tetangga. Saat nugal, dibagi dua kelompok. Kelompok pertama membawa batang kayu yang ujungnya lancip, berfungsi melubangi tanah. Kelompok ini berada di depan, yang umumnya dilakukan laki-laki. Kelompok kedua, yang membawa bibit padi, umumnya beranggotakan perempuan. Perannya, memasukan bibit ke lubang.
Sebelum nugal, dilakukan prosesi ngundak bene, yaitu tradisi mencampurkan bibit padi dengan madu, irisan jeruk nipis, dan sedikit nasi. Sebelum dicampur atau diaduk, ketiga bahan tersebut didoakan oleh kewong atau pawang padi.
“Semua campuran padi itu tujuannya agar benih yang ditanam sehat dan tidak diganggu makhluk lain. Madu, nasi, dan jeruk nipis itu sebagai sumber makanan awal benih padi selain dari tanah,” kata Rumni (60), seorang kewong.

Padi yang ditanam masyarakat Tempirai atau wilayah lainnya di Penukal, merupakan jenis lokal. Antara lain padi pulut (beras ketan), padi kumpal bawah, padi puyuh, padi kure, padi alus, padi abang (beras merah), padi puring, padi telok ikan, padi arang (beras hitam), padi serai putih, padi seni, padi ketumbar, padi ketan, padi ketan hitam, padi arang, padi paing kancil, padi kumpai, dan padi selasi. Semua jenis padi lokal tersebut dipanen setelah ditanam enam bulan.
Masyarakat Semende di Kabupaten Muara Enim, juga memperlakukan tanaman padi di sawah seperti perempuan tengah hamil. Mereka selain menanam sayuran dan rempah, juga memelihara ikan, ayam, bebek, atau kambing sebagai sumber protein.
“Kalau berlebih juga dapat dijual sebagai sumber pendapatan kami,” kata Umawara (55), warga Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah, pertengahan Januari 2026.

Selama menanam padi yang memakan waktu sekitar enam bulan, para pengelolanya juga harus menjaga moral dan emosi. “Sangat pantang bagi kami saat berada di sawah untuk marah, ribut, dan berucap kotor atau berbuat yang tidak benar. Ibarat menjaga anak di kandungan, semua makanan dan perilaku baik harus dijaga. Jika dilanggar, kami percaya hasil panen akan gagal,” ujarnya.
Sama seperti di Tempirai, padi yang ditanam masyarakat Semende adalah jenis lokal, yang hingga saat ini masih ditanam. Yakni padi pandan, padi pulut, padi berang, padi sebur putih, dan padi sebur kuning.

Bukan hanya pangan
Ainur Rofik, peneliti politik lingkungan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, menilai dari gambaran di atas, maka padi bagi masyarakat Tempirai dan Semende bukan sebatas sumber pangan, tapi juga identitas budaya.
“Padi sebagai simbol hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan. Padi tidak sebatas pemenuhan karbohidrat bagi manusia,” katanya, Senin (26/1/2026).
Semua hubungan tersebut terpusat pada peran perempuan. “Ini mungkin berdasarkan pemahaman bahwa bumi adalah ibu, seperti keyakinan atau kepercayaan adanya Dewi Sri yang menjaga padi atau sawah.”
Dengan pemahaman tersebut, maka pangan menjadi berkelanjutan. Pertahanan untuk menjaga keberlanjutan tersebut, yakni lahan, jenis padi lokal, dan gotong royong.

Handoyo, peneliti dari Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menilai tradisi menanam padi di Tempirai dan Semende mencerminkan pengetahuan agroekologi, tata kelola sosial, dan otoritas epistemik.
“Program pertanian yang dijalankan pemerintah, sebaiknya tidak memposisikan praktik-praktik tersebut sebagai takhayul, melainkan sebagai pengetahuan dan tata kelola yang punya logika ekologis dan sosial,” katanya, Senin (26/1/2026).
Dukungan pemerintah harus dilakukan melalui penguatan hak kelola lahan, bank benih lokal, dan penyuluhan dua arah, bukan sekadar mengajari. Dengan begitu, yang dijaga bukan cuma panen, tapi juga martabat pengetahuan dan keberlanjutan relasi yang membuat pangan tetap terjaga atau berkelanjutan.

Sebelumnya Yulian Junaidi, akademisi dan peneliti dari Universitas Sriwijaya, mengatakan tradisi padi ladang atau ume harus dipertahankan atau dilestarikan. Tradisi ini menjadi bagian dari konsep diversifikasi pertanian, dan ada gagasan di dalamnya tentang keragaman hayati, bukan monokultur.
Tradisi tersebut juga sebagai upaya mempertahankan benih lokal padi, plasma nuftah yang perlu dilindungi.
*****
Tradisi Nugal, Menjaga Kedaulatan Pangan Masyarakat Tempirai