- Bagi orangutan, seruan panjang/long call lebih dari sekadar penanda kehadiran. Orangutan adalah anggota “gank” kera besar yang paling arboreal dan soliter. Hidup di kanopi hutan dan menyendiri, suaranya menjadi lebih efektif dibanding tanda visual.
- Seruan panjang orangutan ada meter ganda seperti dalam lagu dan musik manusia. Meter ganda adalah pola irama kompleks dalam musik, yaitu ketukan utama yang konstan (meter primer) berjalan bersamaan dengan pola ketukan lain (meter sekunder).
- Panggilan orangutan tidak hanya menampilkan meter ganda yang dihasilkan melalui variasi tempo, seperti yang ditemukan pada primata yang bernyanyi, tetapi juga melalui suara hirupan terkontrol. Ini mirip teknik dalam tradisi musik manusia.
- Sampai saat ini meter ganda telah teridentifikasi pada dua spesies primata yaitu lemur indri (Indri indri) dan gibon berjambul hitam hainan (Nomascus hainanus). Nyanyian mereka menggema di hutan. Namun, belum ada bukti sebelumnya bahwa kera besar bisa menampilkan meter ganda.
Di lebatnya hutan hujan, orangutan jantan dewasa suka melakukan seruan panjang/long call. Seruan itu berupa teriakan keras dengan pola vokal tertentu yang bisa terdengar hingga satu kilometer.
Bagi orangutan, seruan panjang lebih dari sekadar penanda kehadiran. Orangutan adalah anggota “gank” kera besar yang paling arboreal dan soliter. Hidup di kanopi hutan dan menyendiri, suaranya menjadi lebih efektif dibanding tanda visual.
Para peneliti telah lama mempelajari seruan panjang dari satu-satunya genus kera besar yang hidup di Asia ini. Namun, menurut Chiara De Gregoria, peneliti dari University of Warwick, United Kingdom, kebanyakan penelitian fokus pada denyutan atau ritme. Padahal selain denyutan, orangutan juga menghasilkan tarikan suara. Yaitu, suara yang disertai tarikan napas seperti terengah-engah.
Bersama rekannya, Adriano R. Lameira, peneliti dari departemen yang sama yaitu Psikologi, dia menemukan sesuatu di sana. Hipotesa mereka, dalam seruan panjang orangutan ada meter ganda seperti dalam lagu dan musik manusia. Meter ganda adalah pola irama kompleks dalam musik, yaitu ketukan utama yang konstan (meter primer) berjalan bersamaan dengan pola ketukan lain (meter sekunder).
Untuk memudahkan memahami meter ganda, bayangkan suara metronom sebagai meter primer. Sementara variasi suara lainnya sebagai meter sekunder. Contoh meter ganda lainnya, beatbox, suara musik yang dihasilkan melalui mulut.
“Temuan kami mengungkapkan bahwa panggilan orangutan tidak hanya menampilkan meter ganda yang dihasilkan melalui variasi tempo, seperti yang ditemukan pada primata yang bernyanyi, tetapi juga melalui suara hirupan terkontrol. Ini mirip teknik dalam tradisi musik manusia,” tulis mereka di jurnal iScience (2026), dengan judul “Twice times two: Dual mechanism for double rhythmic meter in orangutans and the evolution of human song.”
Temuan ini, sekali lagi menunjukkan betapa pentingnya keberadaan orangutan bagi ilmu pengetahuan manusia. Lebih dari sekadar satwa karismatik hutan hujan, orangutan adalah arsip hidup evolusi. Orangutan menyimpan jejak kemampuan kognitif, vokal, dan motorik yang mendahului manusia moderen.

Rekaman suara orangutan
Mengutip tulisan mereka dalam jurnal, sampai saat ini meter ganda telah teridentifikasi pada dua spesies primata yaitu lemur indri (Indri indri) dan gibon berjambul hitam hainan (Nomascus hainanus). Nyanyian mereka menggema di hutan. Namun, belum ada bukti sebelumnya bahwa kera besar bisa menampilkan meter ganda.
Meski orangutan mungkin tak lolos audisi kontes “forest idol”, kedekatan mereka secara genetik dengan manusia mengasumsikan leluhur manusia menyanyi dengan cara yang mirip. Meski hal ini pun masih belum jelas.
“Untuk menjawab pertanyaan terbuka tentang asal usul meter ganda dan nyanyian dalam keluarga Hominid, kami melakukan analisis ritmis terhadap pertunjukan suara keras orangutan jantan liar, seruan panjang,” tulis laporan tersebut.
Riset ini menggunakan rekaman suara orangutan jantan dewasa kalimantan (Pongo pygmaeus) yang direkam di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Fokus utama analisis diarahkan pada seruan panjang.
Data kemudian ditabulasi. Dengan menganalisis struktur waktu dalam rekaman suara tersebut, para peneliti menemukan bahwa seruan orangutan tidak dihasilkan secara acak, melainkan tersusun dalam pola ritmis teratur.
Rupanya, orangutan memiliki kemampuan mengoordinasikan suara dan pernapasan secara presisi. Sebuah kemampuan dasar yang menjadi fondasi penting bagi evolusi ritme, nyanyian, dan pada akhirnya musik manusia.
Di antara anggota kera besar, hanya gorilla yang jarang menghasilkan vokal keras terstruktur. Sementara orangutan, simpanse, dan bonobo sebaliknya. Pada orangutan, seruan panjang berfungsi menarik pasangan dan mengusir saingan. Sebaliknya pada simpanse, seruan panjang terutama digunakan untuk menjaga kebersamaan antarpejantan dan merekrut sekutu.
Orangutan menjadi satu-satunya yang diketahui mengatur seruan panjang secara isokronus. Maksudnya, suara yang dikeluarkan terdengar teratur dalam suatu rangkaian. Situasi ini memberi kesempatan peneliti untuk menguji apakah seruan panjang memiliki pola ritmis yang lebih kompleks, seperti ditemukan pada manusia dan primata penyanyi lainnya.
“Kami mengonfirmasi bahwa seruan panjang orangutan bersifat isokronus dan menunjukkan pola ritmis lebih kompleks, yaitu meter ganda (rasio ritmis 1:2 dan 2:1),” tulis mereka.
Hal itu dicapai melalui dua mekanisme berbeda. Pertama, lewat variasi tempo dalam memproduksi ritme. Kedua, dengan memanfaatkan siklus hirup hembus dari organ pernapasan dan penghasil suara.
“Temuan kami menunjukkan bahwa terdapat bahan baku biologis dan perilaku di antara leluhur hominid mirip kera atas evolusi dalam hal bicara dan nyanyian, yang mendukung pandangan bahwa hal ini berkembang pada manusia secara bertahap dari waktu ke waktu. Ini berdasarkan persamaan nenek moyang dan keturunan dengan modifikasi,” lanjut laporan itu.
Musik manusia, dengan segala kompleksitas dan keindahannya, tampak bukan sebagai keajaiban yang muncul tiba-tiba. Melainkan, sebagai hasil evolusi bertahap dari kemampuan yang diwariskan leluhur mirip kera besar. Orangutan dengan meter ganda menjadi jendela manusia melihat bagaimana nyanyian bermula pada leluhurnya.

Asal usul bahasa
Dalam kesempatan sebelumnya, Chiara De Gregoria, juga mengamati perilaku orangutan sumatera (Pongo abelii). Kali ini dia mencari hubungan antara seruan panjang dengan asal usul berbahasa pada manusia. Menurutnya, ritme yang dibuat orangutan terstruktur secara rekursif. Demikian pula bahasa manusia.
“Rekursi adalah ketika sesuatu dibangun dari bagian-bagian lebih kecil mengikuti pola yang sama. Misalnya, dalam bahasa, sebuah kalimat dapat berisi kalimat lain di dalamnya,” tulisnya di The Conversation (2025).
Pada seruan panjang orangutan kalimantan jantan, ditemukan ritme ganda. Namun yang mengejutkan, orangutan sumatera lebih banyak. Dia mempelajari seruan peringatan dari betina orangutan sumatera.
“Alih-alih dua tingkat, seperti yang terlihat pada orangutan jantan di Kalimantan, kali ini kami menemukan tiga. Ini adalah pola yang bahkan lebih canggih dari yang kami perkirakan,” tulisnya.
Sebuah eksperimen dikerjakan. Peneliti membuat tiruan predator. Masing-masing ditutup kain menyerupai harimau, berwarna biru, putih, dan aneka warna.
“Kami menemukan rangkaian peringatan orangutan yang lebih terstruktur, teratur, dan lebih cepat dibuat untuk respons terhadap kain garis-garis harimau. Ketika predator tampak kurang meyakinkan, vokalisasi tersebut kehilangan keteraturannya dan melambat. Jadi, ritme dapat membantu pendengar mengukur keseriusan suatu situasi,” ungkapnya.
Baginya, pola suara orangutan ini memberi beberapa petunjuk penting tentang bagaimana bahasa mungkin bermula. Manusia dan kera besar memiliki nenek moyang yang sama. Manusia sendiri berbagi DNA dengan orangutan sekitar 97 persen. Itu artinya, banyak bagian tubuh dan otak manusia bekerja dengan cara serupa. Termasuk cara berbahasa.

Orangutan merupakan satu-satunya kera besar di Asia, yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Mayoritas, sekitar 85 persen, orangutan terdapat di Indonesia [Sumatera dan Kalimantan], sementara 15 persen berada di Sabah dan Sarawak, Malaysia.
Dikutip dari Borneo Orangutan Surival (BOS) Foundation dalam laman orangutan.or.id, tiga spesies orangutan hidup di Indonesia yaitu Pongo pygmaeus (orangutan kalimantan), Pongo abelii (orangutan sumatera), dan Pongo tapanuliensis (orangutan tapanuli).
Sebagai spesies kunci, orangutan berperan penting dalam kesehatan ekosistem hutan tropis, habitat mereka. Mereka berperan penting menebar biji berbagi jenis buah dan memiliki jelajah yang jauh.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan ketiga spesies itu berstatus Kritis (Critically Endangered/CR), atau satu langkah lagi menuju kepunahan di alam liar (Extinct In The Wild/EW).
Referensi:
De Gregorio, C., & Lameira, A. R. (2026). Twice times two: Dual mechanism for double rhythmic meter in orangutans and the evolution of human song. iScience, 29(1). https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2589004225025349
*****
Pola Makan Orangutan Bergantung Warisan Pengetahuan Induknya