- Keli ako merupakan sebutan masyarakat Tempirai pada jenis ikan Clarias nieuhofii dari keluarga lele (Clariidae). Tubuhnya memanjang dibandingkan jenis Clarias lainnya, dengan warna coklat gelap dan bagian bawah perut kekuningan.
- Ikan keli ako berkumpul di bawah akar pohon seperti ketiau, meranti, bitis, mengkeris, rengas, paku, kecapi kre, dan medangsang. Jenis ini memiliki kemampuan bertahan di lingkungan minim oksigen seperti rawa gambut.
- Keli ako memiliki peran penting menjaga kesehatan ekosistem rawa. Alih fungsi lahan basah Sungai Musi dapat mengancam kelestarian keli ako.
- Perilaku ekologi keli ako belum diketahui menyeluruh. Ketergantungannya terhadap sejumlah pohon di hutan rawa gambut juga perlu ditelusuri.
Sejak awal Januari 2026, hujan selalu singgah di turunan gajah –salah satu talang di Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Abab Utara, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan. Seperti biasa, air mulai meluap dan menenggelamkan hutan rawa yang berada di depan pondok Ibrahim Erpan (57), tokoh masyarakat Tempirai.
“Sekarang paling cocok untuk mancing,” katanya, sembari mempersiapkan tujuh buah pancing yang terbuat dari stik bambu sepanjang satu meter. Satu persatu cacing mulai dikaitkan sebagai umpan.
Sore itu, Ibrahim mengajak saya ngampan, mancing ikan ala masyarakat lahan basah di Tempirai. Cara ini paling tepat dilakukan saat hutan rawa mulai terendam air. Ikan-ikan tidak berkumpul di aliran sungai, tapi menyebar, bermain, bersembunyi, dan berkembang biak di hutan tepian sungai.
Ibrahim berjalan menuju hilir sungai dengan sebilah parang, tanpa alas kaki. Dia menerobos rapatnya hutan rawa di tepian sungai. Ayunan parangnya membuka jalan menuju lorong-lorong hutan rawa.
“Sepertinya sudah jarang orang ngampan di sini,” ujarnya.
Langkahnya terhenti di sebuah pohon ketiau (Madhuca motleyana) berukuran sekitar satu pelukan orang dewasa. Jenis ini umum ditemukan pada zona transisi antara sungai dan tanah mineral di lanskap lahan basah. Kondisi air yang tidak terlalu asam seperti wilayah gambut, memungkinkan jenis-jenis pohon berkayu untuk tumbuh. Adaptasi akar napas juga memungkinkan mereka untuk tetap tumbuh subur, di lahan yang terendam air secara periodik.
“Di dalam, di sela-sela akar seperti inilah biasanya tempat ikan berkumpul.”
Dengan tangan kosong, dia menggali tanah gambut di sela akar pohon. Sebuah lubang terbentuk, dalamnya sekitar satu meter. Pancing bambu dibenamkan ke tanah. Begitu seterusnya.
“Prinsip ngampan seperti memberi makan (mengumpan) ikan di rumahnya.”
Selain pohon ketiau, menurut Ibrahim, ikan juga senang berkumpul di sela akar pohon meranti (Shorea macrantha), bitis, mengkeris (Koompassia excelsa), rengas (Glauta renghas), paku, kecapi kre (Sandoricum koetjape Burm.f. Merr.), dan medangsang (Lauraceae spp.).
“Jenis-jenis pohon ini biasa tidak ditebang karena jadi rumah ikan,” katanya, sembari memasang pancing kelima. Sisanya, dipasang menggunakan teknik tajur –cukup dilempar atau ditancapkan di antara rumbai– sejenis tumbuhan aquatik yang daunnya juga sering dijadikan bahan anyaman tradisional.
Kami melangkah keluar hutan rawa. “Kita biarkan dulu, kita cek lagi setelah Magrib,” terangnya.

Keli ako dan akar pohon
Langit mulai gelap, Ibrahim menghidupkan senter kepala dan berjalan kembali menuju hutan rawa. Dia ingat betul lokasi setiap pancing yang dipasang sore tadi.
Di lokasi pertama, stik bambu sudah tidak terlihat lagi. “Sepertinya ditarik ikan ke lubang.”
Setengah lengannya masuk ke dalam lubang untuk menggapai stik bambu. Tapi itu belum cukup, butuh seluruh lengan, kepalanya hampir menyentuh air. “Dapat!,” katanya.
Seekor ikan dengan panjang hampir 50 centimeter terangkat. Kulitnya mengkilap, pada badannya terdapat bintik-bintik kuning membentuk garis vertikal. Bintik berpola garis ini tersusun dari kepala hingga ekor.
“Nah, inilah keli ako,” tutur Ibrahim.
Keli ako adalah sebutan masyarakat Tempirai pada jenis ikan Clarias nieuhofii dari keluarga lele (Clariidae). Dikutip dari buku Iqbal dan kolega (2018) berjudul “Ikan-ikan di Sungai Musi dan Pesisir Timur Sumatera Selatan” keli ako memiliki tubuh memanjang dibandingkan jenis Clarias lainnya, dengan warna coklat gelap dan bagian bawah perut kekuningan.
Biasanya, hidup di perairan (sungai, danau, rawa) dekat rawa gambut. Sifatnya demersal, karnivor, dan nokturnal. Tersebar di Asia Tenggara dan Indonesia bagian barat.
Malam itu, ada tiga keli ako diperoleh. Dua ekor berukuran hampir 50 centimeter. Menurut Ibrahim, ada satu lagi yang punya penampakan mirip keli ako, namanya keli centong. Hanya saja, ukurannyalebih pendek.
Dalam buku Iqbal dan kolega, itu adalah jenis Clarias teijsmanni –yang memiliki motif mirip Clarias nieuhofii– hanya saja punya ukuran dua kali lebih pendek.
Selain kedua jenis tersebut, ada juga ikan dari famili Clariidae di lahan basah Sungai Musi, yakni Clarias batrachus (lele lebak), Clarias gariepinus (lele dumbo), Clarias leiacanthus (lele hutan), dan Clarias meladerma (lele hutan).

Masih mengutip Iqbal dan kolega, kemampuan unik keluarga Clariidae adalah mempunyai organ napas tambahan yang memungkinkan mereka hidup di perairan miskin oksigen.
“Bahkan, bisa bertahan hidup di luar perairan untuk beberapa waktu lebih lama dibanding ikan-ikan lain.”
Pada musim penghujan, keli ako akan menyebar ke hutan rawa di pinggiran sungai untuk melakukan proses pemijahan. Akar-akar pohon menyediakan suhu stabil sekaligus melindunginya dari berbagai predator.
Tumpukan ranting terendam air juga menyediakan sumber pakan bagi keli ako selama proses pemijahan, penetasan, hingga pembesaran anak-anak mereka.
Karakter keli ako yang karnivor, kemungkinan besar akan memangsa berbagai jenis biota air termasuk krustasea, serangga, cacing, dan ikan kecil.
“Keberadaanya sangat penting menjaga kesehatan ekosistem rawa,” jelas Muhammad Iqbal, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (21/1/2026).

Habitat yang berubah
Usai mengangkat semua pancing dan beristirahat di pondoknya, Ibrahim bercerita tentang talang turunan gajah yang dulu merupakan kebun jongot, namun kini menjadi kebun karet dan sawit.
“Itu terjadi sekitar 1970–1990-an,” ujarnya, sembari memandang pohon tampui dan meranti tersisa di sekitar pondoknya.
“Dulu sekali mancing bisa dapat puluhan ekor ikan, kalau sekarang hanya dua atau tiga ekor saja juga syukur,” kata Ibrahim.
Berkurangnya populasi keli ako juga dirasakan pedagang sagarurung, kuliner khas ikan asap dengan bumbu tumis di Desa Tempirai. Sagarurung keli ako merupakan masakan yang paling digemari masyarakat.
“Sekarang lebih banyak pakai ikan patin atau nila hasil budidaya. Rasanya kalah jauh dengan ikan keli,” kata Santi, penjual sagarurung dari Desa Tempirai.

Dalam situs Daftar Merah IUCN, status Clarias nieuhofii terdaftar sebagai spesies yang Kurang Terancam Punah (Least Concern).
“Habitat utamanya (hutan rawa gambut) mengalami kerusakan dan degradasi antropogenik besar-besaran yang berdampak pada populasinya,” dikutip Kamis (22/01/2026).
Muhammad Iqbal mengatakan, perilaku ekologi keli ako belum diketahui menyeluruh. Ketergantungannya terhadap sejumlah pohon di hutan rawa gambut juga perlu ditelusuri.
“Walaupun punya adaptasi tinggi terhadap lingkungan keras atau minim oksigen, hilangnya habitat secara masif berpengaruh terhadap populasinya di alam liar. Ini diperkuat dengan upaya budidaya keli ako yang masih sangat terbatas dibandingkan jenis lele,” katanya.
Sebagai informasi, berdasarkan data HaKI (Hutan Kita Institut), luas lahan basah Sungai Musi (tiga juta hektar) yang berubah fungsi sekitar 1.123.119 hektar.
Perubahan fungsi itu akibat aktivitas 17 perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) yang menguasai lahan basah sekitar 559.220 hektar, dan 70 perusahaan sawit yang menguasai 231.741 hektar. Sekitar 332.158 hektar dijadikan permukiman (transmigran), perkebunan rakyat, pabrik, dan jalan.
Referensi:
Iqbal, M., Yustian, I., Setiawan, A., & Setiawan, D. (2018). Ikan-Ikan di Sungai Musi Dan Pesisir Timur Sumatera Selatan. Palembang: Yayasan Kelompok Pengamat Burung Spirit of South Sumatra. https://repository.unsri.ac.id/96313/1/1.a.3.%20Buku%20Ikan%20S%20Musi%20full_compressed%20%28no%20plates%29.pdf
*****