- Perempuan Gunung Gede Pangrango menolak proyek panas bumi. Berbagai langkah mereka lakukan, mulai dari penyadartahuan sampai aksi di Pendopo Bupati demi menjegal proyek yang merusak itu.
- Terbaru, mereka berkumpul dan berdiskusi dalam acara bertajuk “Energi Hijau vs Pelestarian Ruang Hidup”. Menghadirkan Inayah Wahid, putri bungsu Abdurrahman Wahid (Gus Dur)--Presiden keempat Indonesia–warga terdampak proyek panas bumi di Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan dan Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang, juga sejumlah akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM).
- Perempuan Gunung Gede Pangrango juga pernah berbondong-bondong demo di Pendopo Bupati Cianjur. Mobil bak, truk, dan motor, jadi saksi ratusan perempuan dan warga lainnya menembus dingin udara pagi, untuk menagih janji Bupati Mohammad Wahyu Ferdian, 10 Desember.
- Gunung Gede Pangrango merupakan hulu dari 4 Daerah Aliran Sungai (DAS), Citarum, Cimandiri, Cisadane, dan Ciliwung, yang mengalir di Jawa Barat, Jakarta, hingga Banten. Setidaknya, ada 94 titik mata air yang tersebar di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan debit air mencapai 594,6 miliar liter per tahun, setara dengan 191,1 juta liter per detik. Menyangga kebutuhan air bersih 30 juta orang di Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta, dan sekitarnya.
Pelataran Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas, Desa Sukatani, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sesak dengan para perempuan dari sekitar Gunung Gede Pangrango, akhir 2025. Mereka berkumpul dan berdiskusi dalam acara bertajuk “Energi Hijau vs Pelestarian Ruang Hidup”.
“Tolak geothermal! Tolak geothermal! Tolak geothermal!” Seru mereka di tengah diskusi.
Hadir juga Inayah Wahid, putri bungsu Abdurrahman Wahid (Gus Dur)–Presiden keempat Indonesia–, warga terdampak proyek panas bumi di Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan dan Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang, juga sejumlah akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Para narasumber memotivasi dan bertukar pengalaman pada warga dalam menghadapi proyek panas bumi. Inayah bilang, proyek itu bukan saja merusak lingkungan sekitar Gunung Gede Pangrango, tetapi berdampak pada seluruh masyarakat, khususnya Jabodetabek.
“Apa yang akan terjadi kalau sampai kita membiarkan ruang hidup kita dirampas, gunung-gunung kita ditambang, dibobol habis-habisan, yang akan rusak bukan hanya Gunung Gede Pangrango. Yang mendapatkan kerugian bukan hanya warga Sukatani, tapi Indonesia!” katanya.
Dia pun mengingatkan peran perempuan dalam gerakan menentang proyek yang merusak alam. Di banyak daerah, perempuan jadi garda terdepan menolak proyek perusak lingkungan, seperti di Rempang Eco City dan Padarincang, Banten dan lain-lain.
Karena itu, perempuan Gunung Gede Pangrango tak perlu takut untuk lantang menentang proyek panas bumi. Merekalah yang paling rentan kerusakan alam.
“Kalau air kering, enggak ada, ibu-ibu yang mau masak dan mencuci bagaimana?”

Nina, warga Kampung Tumaritis, salah yang mengamini. Dia masih ingat pernah diremehkan, saat berdiri paling depan bersama saudarinya, mengadang giat pematokan proyek panas bumi, 12 November.
Pagi itu, dia sedang membersihkan kebun orangtuanya yang bersebelahan dengan wilayah kerja panas bumi. Dia melihat puluhan orang berpakaian serba oranye bersama dengan perusahaan, mematok sejumlah titik lahan tanpa penjelasan pada warga.
Perusahaan, katanya, memasang dua patok warna berbeda. Biru untuk mata air, dan putih untuk akses jalan proyek.
Dia sempat menegur aktivitas pematokan dan meminta penjelasan. Alih-alih mendapatkannya, rombongan yang memasang patok meminta dia tidak ikut campur.
“Ibu-Ibu, mah, apaan, sih, teriak-teriak! Jangan nolak-nolak! Enggak punya urusan diam aja di rumah, urusin anak,” ujar perempuan 33 tahun itu menirukan kembali omongan seorang rombongan.
Nina tak menghiraukan omongan itu. Dia dan saudaranya terus teriak mengusir rombongan seraya memvideokan mereka. Jengah dengan omelan ibu-ibu, rombongan pematok akhirnya pergi. Mereka, katanya, meletakkan patok yang belum terpasang di kebun warga.
Dia heran mengapa perempuan tak boleh ikut campur urusan proyek panas bumi. Padahal, mereka lah yang paling terdampak jika proyek tersebut beroperasi di kaki Gunung Gede Pangrango.
“Kalau air habis (buat geothermal), perempuan akan kena.”

Demo di Pendopo Bupati
Perempuan Gunung Gede Pangrango juga pernah berbondong-bondong demo di Pendopo Bupati Cianjur. Mobil bak, truk, dan motor, jadi saksi ratusan perempuan dan warga lainnya menembus dingin udara pagi, untuk menagih janji Bupati Mohammad Wahyu Ferdian, 10 Desember.
Saat kampanye Pilkada 2024, Politikus Partai Gerindra itu berjanji menolak proyek panas bumi. Janji itu dia sampaikan saat bertemu warga di Kecamatan Pacet, wilayah yang terdampak geothermal.
Dalam video berdurasi 28 detik yang viral di publik, dia menyebut akan, melawan geothermal dengan wisata alam.
Ketika sudah terpilih, warga menganggap tak ada upaya menggagalkan proyek geothermal. Bupati itu tak tegas menolak, proyek tersebut.
Masyarakat Gunung Gede Pangrango pun kecewa dengan sikap Wahyu. Mereka berusaha mengingatkan kembali janji politiknya.
“Gimana kalau kejadian geothermal? Hidup kita mau gimana? Anak kita mau gimana? Mata pencarian kita di sini! Kalau proyek ini terjadi, ke kebun kita gak bisa,” ucap Nayla, salah seorang warga pada Mongabay.
Ulis Safitri, warga Desa Sukatani, menyebut, proyek panas bumi yang tidak mampu Bupati bendung itu membuat warga khawatir. Salah satunya, mencemari air.
“Kalau proyek geothermal dilakukan, tidak ada lagi air jernih bersih, tidak ada lagi pegunungan sejuk yang nyaman untuk ditinggali,” ujarnya saat berorasi.

Khawatir air
Belum ada panas bumi saja, warga kerap kekurangan air bersih saat kemarau. Yanti, warga Kampung Pasir Cina, Desa Cipendawa, masih terang mengingat kekeringan di wilayahnya saat kemarau panjang 2019.
Kala itu, dia harus pontang-panting begadang, antre mengambil air bersih. Yanti dan mayoritas warga tak punya sumur bor, mereka mengandalkan air bersih dari gunung yang mengalir melalui pipa kecil ke masing-masing rumah.
“Jam 2.00 (malam) enggak tidur saya sampai pagi. Gergaji pipa orang, alirkan air ke rumah, saking susahnya air,” ucapnya.
Di Desa Cipendawa, menurutnya, terdapat 1 sumber mata air dari Gunung Gede Pangrango yang menghidupi 18.981 jiwa. Sementara di Desa Sukatani terdapat 3 mata air yang menjadi sumber kebutuhan sekitar 12.627 penduduk. Lokasi wellpad nantinya berada di antara tiga sumber air bersih tersebut.
Gunung Gede Pangrango merupakan hulu dari 4 Daerah Aliran Sungai (DAS), Citarum, Cimandiri, Cisadane, dan Ciliwung, yang mengalir di Jawa Barat, Jakarta, hingga Banten.
Setidaknya, ada 94 titik mata air yang tersebar di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan debit air mencapai 594,6 miliar liter per tahun, setara dengan 191,1 juta liter per detik. Menyangga kebutuhan air bersih 30 juta orang di Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta, dan sekitarnya.
Jurnal yang terbit dalam Swara Patra, eksplorasi panas bumi memiliki tiga tipe lubang dengan kedalaman dan kebutuhan air berbeda. Lubang kecil 1.200-2.330 meter, serta lubang standar dan besar 1.500-3.000 meter.
Pengeboran lubang besar dan standar membutuhkan pasokan air sekitar 60-95 liter per detik, sedangkan lubang kecil hanya 5-30 liter per detik.
Studi Walhi Jateng dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengkalkulasi kebutuhan air aktivitas tambang panas bumi 40 liter/detik, atau berkisar 6.500-15.000 liter untuk menghasilkan 1 MW listrik.
Kebutuhan utama air dalam proses injeksi. Berkubik-kubik air bersih disemprotkan ke batuan panas di dalam perut bumi guna menghasilkan uap panas.
Marissa Anugrah, Head of Corporate Communications PT Dian Swastatika Sentosa, induk PT DMGP mengatakan, area wellpad proyek panas bumi tidak bersinggungan dengan sumber air warga.
Dia bilang, sumber air warga berada di lokasi yang aman dari jalur konstruksi maupun operasi.
“Kajian teknis juga menunjukkan bahwa reservoir panas bumi berada jauh lebih dalam daripada lapisan air tanah dangkal yang digunakan masyarakat,” ujar Marissa dalam keterangan tertulis kepada Mongabay.
Dia juga memastikan, perusahaan bersama pihak independen akan memantau kualitas dan debit air secara rutin. Mereka pun berjanji selalu terbuka untuk dialog dan menerima saran dari warga agar proyek berjalan aman serta bermanfaat.

Berbagi pengetahuan
Warga, termasuk kaum perempuan, Gunung Gede Pangrango tidak sendirian. Selain forum diskusi Desember lalu, mereka pun kerap mendapat pengetahuan dan cerita dampak panas bumi dari berbagai tokoh yang sudah merasakannya di daerah lain.
Agustus lalu, Ibu-ibu pengajian di sana mendengarkan dampak panas bumi yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Agustin Sukarno, warga Poco Leok yang hadir dalam forum itu bercerita, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu mencemari udara dengan bau busuk hingga mempengaruhi produktivitas pertanian.
Dampak negatif geothermal juga terjadi di Mataloko. Menurut Agustin, semburan lumpur panas berbau dan beracun kerap muncul di area perkebunan warga dekat PLTP Mataloko, berakibat merusak pertanian.
Usai mendengar cerita itu, Kanah, salah seorang warga, menyampaikannya kembali pada ibu-ibu lain yang tidak hadir, lewat forum non formal.
Dia bilang, informasi itu penting tersampaikan supaya semakin banyak warga yang paham. Selama ini, menurutnya, warga tidak banyak tahu dampak buruk panas bumi.
Keputusan Kanah menolak geothermal sudah bulat. Berulang kali dia mendapat tawaran uang ganti rugi fantastis dari calo tanah (biong), berkali pula dia menolak.
Dia bilang, sejak proyek itu bergulir, banyak biong yang merayu warga melepaskan tanah mereka.
“‘Ibu enggak mau uang Rp1 miliar?’ Enggak, (saya) nolak! ‘Ibu gak mau uang Rp6 miliar? Rp8 miliar? Rp10 miliar?’ Enggak nolak, ibu, mah!” katanya menirukan percakapan dengan biong.
Transfer pengetahuan ihwal dampak panas bumi juga Yanti, warga Kampung Pasir Cina, lakukan. Sejak proyek itu mencuat 2023, dia bergerilya ke rumah-rumah warga untuk mengabarkan dampak buruknya.
Dia mafhum kalau geothermal bukan hanya “rakus air”, juga berpotensi mencemari udara lewat gas beracun H2S (Hydrogen Sulfide).
Dia menggalang penolakan warga dengan mengumpulkan tanda tangan petisi. Menurutnya, tak semua warga langsung setuju dengan penolakan proyek, bahkan sebagian mereka malah mendukung.
“Kami enggak bisa memaksakan orang. Mereka mendukung, ya, silakan. Kami tetap menjelaskan dampak buruknya.”
Perusahaan sudah berulang kali menyosialisasikan proyek kepada warga tetapi informasinya tidak berimbang.
Yanti bilang, perusahaan hanya menyampaikan yang enak-enak saja. Mulai dari janji lapangan pekerjaan, hingga manfaat listrik. Mereka tidak terbuka menyampaikan potensi buruk proyek panas bumi, seperti yang kerap terjadi di daerah lain.
Perempuan Kampung Tumaritis juga bergerilya memasang spanduk penolakan di rumah-rumah warga. Nina bilang, strategi itu untuk menunjukkan penolakan warga kepada perusahaan dan publik.
Gerakan warga menolak geothermal, katanya, terjadi tanpa sosok pemimpin yang ditonjolkan. Meminjam istilah yang belakangan mencuat di publik, penolakan proyek panas bumi mengadopsi gerakan rimpang, sebuah gerakan sosial yang muncul tersebar, tanpa pemimpin tunggal atau struktur hierarkis kaku, mirip cara tumbuh rimpang tanaman seperti jahe atau lengkuas yang menjalar di bawah tanah dan bertunas ke berbagai arah.
“Enggak ada ketua-ketua. Jangan ada ketua! Ini mah semua warga yang menolak!”

*****
Warga Waswas Pertanian Terdampak Panas Bumi Gunung Gede Pangrango