- Perempuan Bontomanai mempraktikkan permakultur dari pekarangan, mengintegrasikan ayam, kompos, dan sayuran untuk mengurangi ketergantungan pangan, memperkuat kemandirian keluarga, serta beradaptasi terhadap krisis iklim pesisir lokal.
- Melalui Sekolah Lapang Permakultur Restorasi Penghidupan Pesisir untuk Adaptasi (Respirasi), peserta belajar kompos, mulsa, bibit, dan kebun terpadu, lalu menyebarkan pengetahuan ke tetangga melalui skema alumni dengan anak didik komunitas.
- Pendampingan menekankan ekologi sebagai dasar produksi, menghubungkan tanah sehat, kompos ayam, air, dan tanaman, sehingga pangan dipenuhi sendiri tanpa orientasi penjualan ayam berlebihan lokal berkelanjutan.
- Program Respirasi didukung pemerintah desa dan warga, berdampak cepat pada ekonomi rumah tangga, namun masih menghadapi tantangan banjir, keterbatasan alat, dan kebutuhan penguatan kelembagaan bersama.
Pagi itu, ayam-ayam kampung berkerumun di kandang bambu di pekarangan belakang rumah Marhana, sembari mengais sisa daun kering, jerami, dan rumput yang mulai membusuk. Di sudut lain, bedengan sayur tertata rapi—cabai, terong, kangkung, dan timun tumbuh berdampingan. Pupuk dari kotoran ayam dan limbah organik rumah tangga.
Bagi Marhana, pemandangan itu menjadi kesehariannya belakangan ini.
“Dulu ayam cuma dilepas di belakang rumah,” katanya.
Marhana, satu dari 18 perempuan peserta Sekolah Lapang Permakultur di Desa Bontomanai, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sekolah lapang ini bagian dari upaya warga pesisir menghadapi krisis iklim dan ketergantungan pangan dari luar desa dengan memanfaatkan pekarangan rumah.
Pendekatan permakultur ini merupakan bagian dari program restorasi penghidupan pesisir untuk adaptasi (respirasi), yang Blue Forests jalankan bersama mitra lokal dan dukungan Earth Care Foundation.
Dalam sebuah kunjungan ke Desa Bontomanai, 12 Desember lalu, kami pergi ke demplot kelompok sekolah lapang ini. Semua makanan yang mereka suguhkan dari kebun yang terkelola secara organik.
Erwin, Kepala Desa Bontomanai, mengatakan, sekolah lapangan membawa banyak perubahan. Bahkan, tak sampai tiga bulan, warga sudah bisa merasakan hasil. Misal, bila dulu penanaman berlangsung di demplot, kini warga lakukan di pekarangan rumah.
“Alhamdulillah, kalau dari permakultur, masyarakat sudah menikmati,” katanya.
“Dari sayurannya, kebunnya, dan alhamdulillah juga ayam sudah menghasilkan kompos.”
Sekolah lapang mulai Mei dengan peserta 18 perempuan. Mula-mula, peserta belajar di satu demplot bersama, mengenal tanah, membuat bedengan, merawat tanaman, hingga memelihara ayam kampung. Ada lebih dari 10 pertemuan yang mereka ikuti.
“Ada pembagian bibit, kandang, ayam, dan cara pemeliharaannya. Yang paling saya senang, warga sudah mulai berbagi ke tetangganya.”
Pendekatan berbagi itu memang menjadi kunci. Akhzan Nur Iman, Koordinator Program Respirasi dari Blue Forest, menyebut, sekolah lapang ini tidak didesain sebagai kelas satu arah.
“Kami mengajak ibu-ibu belajar bersama bagaimana menerapkan permakultur,” katanya.
Jumlah itu kemudian bertambah. Awalnya target 15, karena banyak yang tertarik, jadi 18 orang.
Bagi Akhzan, permakultur bukan sekadar teknik Bertani, namun cara berpikir tentang relasi antar unsur kehidupan.
“Kenapa ada kandang ayam? Karena ayam menghasilkan kompos. Kompos itu memperbaiki tanah. Tanah yang sehat menumbuhkan sayur. Sayur memenuhi pangan keluarga.”

Fokus produksi
Salah satu rumah warga jadi percontohan. Dari situ, mereka diminta meniru di rumah masing-masing. Skemanya sederhana tetapi radikal. Selama 12 kali pertemuan, peserta mempelajari materi berbeda seperti membuat kompos, membuat mulsa, membenihkan bibit, hingga mengatur kebun pekarangan. Setelah lulus, mereka menjadi “alumni” sekolah lapang.
“Setiap alumni harus punya tiga anak didik,” kata Akhzan.
“Mereka mengajak tetangga-tetangganya.”
Akhzan bilang, memilih pendekatan permakultur karena banyak pekarangan yang sebelumnya tidak termanfaatkan. Masyarakat, katanya, sebenarnya memiliki pengetahuan bertani, tetapi perlu penguatan soal prinsip-prinsip keberlanjutan.
Karena itu, melalui sekolah lapang, peserta diajak belajar langsung di demplot, memahami siklus tanah, air, kompos, hingga integrasi ternak kecil.
Target awal masing-masing sekolah lapang adalah 15 orang, namun dalam praktiknya jumlah peserta sering bertambah karena tingginya minat warga.
“Kami tidak membatasi. Prinsipnya terbuka,” kata Akhzan.
Pelaksanaan program ini bukannya tanpa tantangan. Marhana mengatakan, hingga kini membuat kompos masih mengandalkan tenaga tangan.
“Belum ada pencacahnya,” katanya.
Proses pembuatan pupuk ini memakan waktu sekitar sebulan. “Tanah dulu, lalu jerami, rumput, daun kering. Satu bulan baru hancur.”
Alimuddin, warga Desa Maccinibaji, Pulau Tanakeke, Takalar, datang khusus untuk belajar dari pengalaman Bontomanai.
“Saya lihat kebunnya bagus. Tumbuhannya karena komposnya, dari ternak ayam dan kambing,” katanya.
Dia tertarik meniru sistem bedengan dan kandang tertutup.
“Pulang dari sini, kami mau terapkan. Kami sudah punya alat pencacah rumput.”

Bersama alam
Bagi Rio Ahmad, Direktur Blue Forest, apa yang terjadi di Bontomanai adalah bagian dari narasi yang lebih besar.
“Narasi kita bukan melawan alam, tapi membangun bersama alam,” katanya.
Rio mencontohkan bentang alam pesisir yang tak lagi monokultur. Tambak tak berdiri sendiri. Mangrove tumbuh di tengah dan pinggirnya. Pertanian tak menghabiskan lahan dan pohon tetap berdiri.
“Energi pertanian dan budidaya di satu bentang alam bisa saling terhubung,” kata Rio. “Tidak mesti satu sistem mengorbankan yang lain.”
Kalau satu rumah terdiri dari lima orang, maka sekitar seratus orang merasakan manfaat langsung.
Kartika, warga yang ikut sekolah lapang merasakan perubahan di dapur rumahnya. “Sekarang kalau mau masak sore, tinggal petik,” katanya.
Pengeluaran belanja berkurang signifikan. “Dulu ke pasar, sekarang jarang.”
Tantangan tentu ada. Banjir kerap datang, merendam kebun dan merusak tanaman.
“Itu kendala,” kata Kartika.
Meski begitu, dia tetap membagikan pengetahuan yang dia peroleh kepada orang lain. “Sekolah lapang ini bukan cuma ilmu, tapi bikin kita percaya diri.”
Bagi Erwin, program ini membuktikan bahwa kedaulatan pangan desa tidak selalu membutuhkan teknologi mahal.
“Yang penting pendampingan dan kemauan warga,” katanya.
Pemerintah desa, akan terus mendukung agar praktik ini menjangkau warga lain yang belum terlibat.
*****