- Penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut ternyata bukan hanya persoalan besar yang sedang melanda pesisir Jakarta. Produksi kerang hijau yang sangat tinggi juga memicu persoalan lain yang tak kalah besar.
- Berdasarkan data yang Bappeda Jakarta rilis, cangkang kerang hijau dari proses pengolahan bisa mencapai 20 karung per kios. Dengan estimasi setiap karung beratnya 5 kilogram, maka jumlah limbah dari 23 kios mencapai 2.300 kilogram per hari.
- Selain mengancam ekologi pesisir, limbah juga mengintai kesehatan warga dan pekerja. Sampah tersebut berbahaya, karena cangkangnya akan mengalami proses penguraian oleh mikroorganisme, diperkuat dengan suhu panas matahari dan reaksi kimia dengan air laut.
- Akumulasi produksi sampah cangkang kerang hijau kemudian menghasilkan daratan baru, tepat di luar tanggul laut. Pembentukan itu terjadi, karena para pekerja sengaja membuang limbah cangkang ke lahan di samping tanggul laut
Wilayah pesisir Jakarta terus menghadapi berbagai ancaman. Selain penurunan muka tanah dan pasang air laut juga menghadapi persoalan limbah organik dari sampah kerang hijau.
Etty Riani, Guru Besar Ekotoksikologi IPB University mengatakan, selain ekologi, sampah kerang hijau mengancam kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Pasalnya, panas matahari dan reaksi kimia air laut akan menyebabkan cangkang kerang terurai oleh mikroorganisme.
“Seiring waktu, cangkang akan terdegradasi, melapuk, dan melepaskan berbagai senyawa anorganik ke lingkungan,” katanya.
Kendati proses itu berlangsung alamiah, katanya, pelepasan bahan anorganik atau nutrien terjadi dalam jumlah berlebihan akan memengaruhi banyak faktor. Salah satunya, penurunan kualitas air laut. Juga bisa memicu ledakan pertumbuhan fitoplankton (eutrofikasi).
Ketika itu terjadi secara terus menerus, lanjut Etty, dapat memicu kematian berbagai biota air, bahkan kematian massal. Pasalnya, fitoplankton membutuhkan oksigen untuk dua proses sekaligus, yakni, untuk respirasi dan proses penguraian bahan organik.
Alasan itu pula, ketika malam hari kadar oksigen yang terlarut dalam air akan turun drastis.
Walau belum ada kajian tentang kerang atau ikan bisa mengontaminasi bakteri patogen, Etty meyakini timbunan cangkang akan memicu munculnya vektor penyakit. Hal itu, karena tumpukan limbah biasa akan menjadi sarang lalat, parasit, dan patogen lain yang bisa mengganggu kesehatan.
“Cangkang kerang hijau tidak boleh ditimbun begitu saja di wilayah pesisir. Harus ada lokasi khusus untuk menampung limbah tersebut agar tidak mencemari lingkungan maupun menjadi sumber penyakit,” katanya.
Dia juga mengingatkan agar tidak memanfaatkan cangkang kerang hijau sebagai sumber makanan, pakan biota, atau pupuk. Karena cangkang kerang jamak mengandung logam berat jadi perlu intervensi teknologi sebelum memanfaatkannya.

Logam berat
Melihat jumlahnya yang berjibun, Etty mendorong pemanfaatan cangkang kerang untuk non konsumsi. Sekaligus bisa menjadi solusi mengurangi timbunan cangkang berbasis sirkular. Misal, sebagai pengganti kalsium oksida (CaO) atau kalsium karbonat (CaCO₃) untuk campuran beton, bata, atau paving block.
“Juga berpotensi menjadi bahan kerajinan bernilai ekonomi,” katanya.
Riset Etty bersama timnya menemukan, kerang hijau mengandung sejumlah logam berat berbahaya seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), tembaga (Cu), kromium (Cr), dan zinc (Zn). Hal itu berisiko mencemari tanah, air, dan sedimen pesisir jika penumpukan material cangkang terus terjadi.
Tak hanya bisa menyerap di tanah dan sedimen, enam bahan berbahaya itu juga bisa menyerap ke akar, batang, dan daun mangrove. Lalu, berpindah ke biota air lain melalui proses makan-memakan atau biomagnifikasi. Catatannya, dalam sehari, volume limbah cangkah bisa mencapai 1-4.
“Pada akhirnya akan membahayakan kesehatan manusia yang merupakan konsumen dari berbagai biota laut.”
Dalam waktu lama, keberadaan logam berat berpotensi bisa menimbulkan gangguan fisiologis, kerusakan organ, kegagalan reproduksi, hingga cacat bawaan pada keturunan biota air.
“Selain itu, tumpukan cangkang yang memadat dapat merusak struktur tanah dan sedimen sehingga menurunkan kualitas ekologis secara permanen.”
Beberapa lokasi penghasil kerang hijau di Jakarta, antara lain, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing; Kampung Kerang Hijau, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, dan Kampung Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten. Kebanyakan, limbah kerang dibuang begitu saja ke laut.

Jadi peluang
Pemerintah Jakarta menyadari betul persoalan ini. Melalui program Kalibaru Hub, pemerintah berupaya mencari solusi untuk menanganinya.
Atika Nur Rahmania, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jakarta mengatakan, Kalibaru Hub adalah inisiatif yang sejalan dengan visi kota untuk pembangunan berkelanjutan Jakarta.
Proyek itu tak hanya menangani masalah pengelolaan limbah, juga memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal, mendorong ekonomi sirkular, dan berbagai isu perkotaan lainnya di wilayah itu.
“Kami bangga menginisiasi sinergi ini yang menunjukkan dampak proyek ketahanan yang didorong oleh komunitas,” katanya.
Kalibaru Hub terancang untuk menciptakan ekonomi sirkular terhadap limbah cangkang. Hub berfungsi sebagai pusat komunitas utama bagi UMKM untuk mendaur ulang dan mengembangkan produk dari limbah daur ulang.
Dengan menyediakan modal awal yang esensial bagi UMKM, mendukung pengembangan produk, dan memfasilitasi akses pasar untuk produk daur ulang mereka, dana tersebut bisa mempercepat pertumbuhan dan kesuksesan wirausaha lokal.
Dalam melaksanakan implementasi Kalibaru Hub, Pemprov Jakarta bermitra dengan United Cities and Local Government Asia-Pacific (UCLG ASPAC) dengan melaksanakan pelatihan bisnis yang inovatif.
Bernadia Tjandradewi, Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC mengatakan, Kalibaru Hub akan memicu efek ganda dalam upaya membangun ketahanan di kawasan pesisir Jakarta.
“Aspek lingkungan, daur ulang (upcycling) limbah menjadi prioritas pengelolaan,” katanya.
Produksi kerang di Kalibaru mencakup empat Rukun Warga (RW), yaitu: RW 01, RW 03, RW 04, dan RW 13. Seluruh proses memakan waktu lama dan padat karya, meliputi pengumpulan, budidaya, memanen, memproses (memasak, membersihkan, mengupas, memisahkan), mengangkut, memasak, menjual, dan membuang cangkang.
Intensitas produksi kerang disana telah menghasilkan limbah dalam besar, cangkang kerang hijau bersifat biodegradasi. Hal itu menjadikan cangkang kerang hijau sebagai limbah paling melimpah di kawasan Pesisir Timur Kalibaru.
Persoalan makin pelik lantaran Tempat Penampungan Sementara (TPS) tidak menerima limbah jenis ini.
Berdasar data yang Bappeda Jakarta rilis, dari 23 pemilik kios kerang hijau di Kalibaru, setiap kiosnya bisa memproses hingga rata-rata 135 kilogram per hari. Saat musim panen, kios-kios bisa mendapatkan kerang hijau hingga mencapai 10,2 ton setiap hari.
Masing-masing kios menghasilkan 20 karung limbah setiap harinya. Dengan estimasi setiap karung berat lima kg, maka jumlah limbah dari 23 kios mencapai 2.300 kg.
Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara memperkirakan, limbah bisa lebih banyak lagi. Hal itu, karena jumlah limbah cangkang kerang yang diproduksi setiap harinya mencapai satu truk sampah.

Daratan baru
Tak hanya menjadi limbah, akumulasi produksi sampah cangkang kerang hijau kemudian menghasilkan daratan baru, tepat di luar tanggul laut. Pembentukan itu terjadi, karena para pekerja sengaja membuang limbah cangkang ke lahan di samping tanggul.
Seiring berjalannya waktu, tumpukan limbah cangkang tersebut menciptakan daratan baru yang menjadi area bermain anak-anak.
Munculnya daratan baru itu, juga tercatat oleh Kirsten Keller, antropolog ketika menyusun desertasinya pada 2023. Menurut peneliti dari Universitas California, Santa Cruz itu, limbah cangkang telah mengubah lanskap pesisir Jakarta.
Hasil pengamatan melalui citra satelit, terjadi perubahan pada sebuah kawasan di pesisir Jakarta Utara dalam kurun 40 tahun terakhir. Paling utama, adalah perubahan garis pantai yang signifikan sejak 2000.
Penambahan garis pantai terjadi hingga lima meter ke arah laut. Penambahan itu terbentuk oleh tumpukan cangkang kerang hijau yang terjadi secara terus menerus. Cangkang-cangkang itu membentuk pantai berbentuk tanggul, yang kemudian di atasnya terbangun permukiman dan gudang perikanan.
“Berjalan di sepanjang pantai ini di dekat tempat sungai bertemu dengan laut, kita akan menemui formasi aneh ini. Tanah di sini terbuat dari cangkang kerang hijau Asia (P. viridis).”
*****