- Selama ratusan tahun, masyarakat Suku Musi di wilayah Penukal, Sumatera Selatan, membangun dan merawat sebuah hutan campuran yang didominasi buah-buahan hutan. Mereka menyebutnya jongot.
- Jongot berada di sebuah talang yang tersusun dari tanah mineral (lempung) tidak tergenang air. Sehingga, menjadi wilayah aman bagi masyarakat untuk membuat rumah atau pondok sebagai tempat tinggal.
- Masyarakat tempirai mensakralkan mata air di sekitar jongot. Mereka menyebutnya ulu talang. Mata air ini mengalirkan air sangat jernih sepanjang tahun, tidak kering saat kemarau panjang.
- Jongot yang sudah menjadi hutan campuran kaya buah-buahan, menjelma menjadi “suaka” di lanskap lahan basah yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Jika dilihat dari sudut pandang top-down menggunakan drone, tidak akan ada yang mengira jika hutan ini adalah hutan buatan manusia. Lapisan kanopi yang lebat dan beragam, terlihat seperti terumbu karang di laut.
Masyarakat Suku Musi di wilayah Penukal, termasuk Desa Tempirai, menyebutnya jongot yaitu kebun buah hutan yang dimiliki sebuah klan keluarga, yang dijaga ratusan tahun.
“Sebagian besar pohon di sini ditanam sendiri,” kata Toni Caye, ditemui di jongot miliknya di Talang Lebung Jauh, Desa Tempirai Utara, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Toni adalah keturunan ke-4 pewaris jongot yang memilih tinggal dan merawat jongot peninggalan keluarga besarnya –yang berusia lebih 100 tahun. Ada beragam tumbuhan di dalamnya, termasuk pohon aren (Arenga pinnata Merr.) yang disadap saban hari, cempedak (Artocarpus integer), asam kandis (Garcinia xanthochymus), nibung (Oncosperma tigillarium) dan aneka meranti (Dipterocarpaceae) yang menopang pondok kebun setinggi dua meter, tempat Toni dan istrinya sering bermalam.
Ada lebih 50 jenis tumbuhan di jongot milik Toni. Hampir semuanya bisa dimanfaatkan; jadi obat, makanan (buah-buahan dan lalapan), hingga kebutuhan rumah seperti alat masak, perkakas, dan bahan bangunan.
“Semua kebutuhan kami dipenuhi dari jongot,” paparnya, Sabtu (3/1/2025).

Jongot berada di talang, yakni sebuah daratan luas menyerupai “pulau” di lanskap lahan basah yang tersusun atas tanah mineral berupa lempung atau tanah liat. Wilayah ini sepenuhnya kering atau tidak terendam air.
Kondisi tersebut memungkinkan tumbuhan di jongot mendapatkan nutrisi dari proses dekomposisi (pembusukan serasah) lebih cepat, dibandingkan di lahan terendam air secara periodik (pembusukan lebih lamban akibat terendam air).
Kondisi ini jadi salah satu alasan leluhur masyarakat Tempirai menjadikan jongot sebagai kebun buah-buahan.
“Jongot itu hutan tue (tua), tanahnya subur dibandingkan lahan lain di sekitar sini.”
Namun, berkebun di wilayah ini bukannya tanpa tantangan. Di lantai hutan, semak atau bibit pohon akan tumbuh lebih cepat, sehingga persaingan nutrisi yang sengit akan berlangsung.
Untuk mengantisipasinya, pemilik jongot akan membersihkan rumput di sekeliling akar pohon, serta menyayat batang pohon menggunakan parang. Tidak lupa, menjelang sore, mereka mengasapi hutan jongot.
“Kami percaya, metode ini akan membuat pohon berbuah lebat,” kata Toni.

Daratan jongot yang tidak terendam juga menjadi wilayah aman bagi masyarakat Tempirai untuk membangun pondok atau rumah untuk bermukim.
“Ketika musim penghujan, air sungai meluap dan menenggelamkan banyak lahan, namun tidak sampai ke jongot, karenanya banyak jongot yang dijadikan rumah tinggal. Bahkan, banyak desa di sekitar Penukal dibangun di jongot.”
Di sekitar jongot, biasanya terdapat sungai kecil air sangat jernih, berbeda dengan air di rawa gambut yang berwarna coklat pekat.
“Sejak lama, air di jongot jadi sumber air minum masyarakat yang tinggal di talang,” kata Toni.
Untuk mengecek wilayah yang layak dijadikan jongot, di masa lalu para leluhur masyarakat Tempirai melakukan uji tanam. Biasanya menggunakan cempedak, asam kandis, dan sebagainya. Tinggal dilempar ke tanah, jika mati, lahan itu tidak bisa dijadikan jongot.
Lahan yang tidak dijadikan jongot, dibuat menjadi ume (ladang padi) yang biasanya terletak tidak jauh dari jongot. Karenak tida sesubur jongot, tanah ume perlu dibakar. Setelah ditanam padi, banyak ume dijadikan kebun karet, sebagai sumber mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat di Tempirai.
“Sebelum adanya karet, masyarakat biasanya merawat dan memanfaatkan hasil jongot, seperti mencari madu, menyadap aren, hingga memasang bubu (alat tangkap ikan) di sekitar paye (kolam buatan di sekitar aliran sungai kecil),” kata Toni.

Ibrahim (55), tokoh masyarakat Tempirai, menyatakan ada puluhan talang yang menjadi lokasi jongot di Tempirai. Antara lain Talang Tanem, Talang Uluh, Talang Rimbe Pisang Mas, Talang Lebung, Talang Lebung Jauh, Talang Paye Bakung, Talang Paye Perpat, Talang Jesih, Talang Ruyung, Talang Ladang Panjang, Talang Sepentil, Talang Deras, Talang Paye Bekukuk, Talang Lubuk, Talang Amat, Talang Turunan Gajah, Talang Tanjun Eran, Talang Purus, Talang Kebun Kasap, Talang Sebetung, Talang Sebagut, Talang Danau Burung, Talang Terigum, Talang Laman Ako, Talang Tamen Rokok, Talang Jongot Pak Gawi, serta Talang Sodor.
“Tiap talang ada sekitar lima jongot,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Abdul Rahman Musa (75), tokoh adat masyarakat Penukal, mengatakan saat dia menjabat sekretaris kerio, jumlah jongot yang tercatat di Tempirai sebanyak 150 bidang.
“Luas setiap jongot rerata setengah hektar, usianya ada puluhan hingga ratusan tahun,” katanya.

Menjaga keseimbangan lahan basah
Masyarakat tempirai mensakralkan mata air di sekitar jongot. Mereka menyebutnya ulu talang. Mata air ini mengalirkan air sangat jernih sepanjang tahun, tidak kering saat kemarau panjang.
“Siapa yang merusak akan terkena bala, karenanya di sekitar mata air dibuat jongot yang dilarang untuk dijual atau dirusak,” kata Rahman.
Air dari ulu talang akan mengalir dan bermuara ke sejumlah lahan basah yang terendam air secara periodik. Misalnya, ke danau burung, sebuah ekosistem rawa gambut terluas di Tempirai (sekitar 1.250 hektar).
Tidak hanya membawa air, Yusuf Bahtimi, peneliti lingkungan Sumatera Selatan yang merupakan kandidat doktor di The Queen’s College, University of Oxford di Inggris, mengatakan sistem sungai-sungai kecil di jongot juga mengalirkan sisa bahan organik yang membusuk menuju rawa hilir. Ini memberikan “pupuk” bagi ekosistem air rawa yang miskin nutrisi.
Berbeda dengan air rawa yang hitam dan asam, air dari Jongot membawa mineral penting dan memiliki pH netral.
“Air menetralisir keasaman rawa di sekitarnya, tempat memijah ikan-ikan sungai, dan sumber air bersih bagi satwa dan manusia,” terangnya kepada Mongabay Indonesia, Rabu (7/1/2026).
“Menghancurkan jongot berarti memutus akses makhluk hidup terhadap air bersih dan dapat merusak keseimbangan ekosistem lahan basah,” lanjut Yusuf.

Suaka bagi makhluk hidup
Lahan basah di sekeliling jongot sering bersifat asam dan miskin hara. Jongot hadir sebagai generator nutrisi. Di sinilah pohon-pohon raksasa seperti jenis meranti, cempedak, dan durian berdiri tegak di atas tanah mineral yang stabil, memproduksi bunga dan buah dalam jumlah masif. Tanpa jongot, tidak ada pasokan pangan bagi primata, burung, dan mamalia darat.
“Jongot adalah “food bank” alami yang memberi makan seluruh satwa, serta menyebarkan benih dan kesuburan ke seluruh pelosok rawa,” kata Yusuf.
Bagi masyarakat, jongot sangat penting mengurangi serangan satwa seperti kera dan monyet terhadap ume atau padi ladang.
“Masa berbuah jongot, biasanya bertepatan dengan padi terisi hingga menjelang panen. Hadirnya jongot bisa mengalihkan kawana kera atau burung untuk makan buah-buahan,” kata Rina, petani ume di Desa Tempirai.

Di masal lalu, jongot merupakan rumah bagi sebagian besar satwa, termasuk harimau sumatera, gajah, aneka burung, tupai, kera, monyet, rusa, kancil, dan sebagainya.
“Tapi yang tersisa saat ini hanya kera, monyet, dan aneka burung,” terang Toni.
Jongot juga menjadi satu-satunya benteng pertahanan makhluk hidup, saat alam sedang tidak bersahabat. Saat banjir atau ketika rawa terendam air tinggi, jongot menjadi daratan penyelamat satwa bertahan hidup dan bersarang.
Sementara saat kemarau, ketika lahan gambut di sekelilingnya mengering dan rawan terbakar, kelembapan mikro di jongot tetap terjaga.
“Jongot tidak hanya menjadi suaka bagi manusia, tapi bagi semua makhluk hidup di lanskap lahan basah Sumatera Selatan,” tegasnya.
*****