- Maleo, burung endemik Sulawesi, ketika bertelur tidak akan mengeraminya seperti yang dilakukan jenis unggas lainnya.
- Hal itu bisa terjadi karena maleo selalu mengetahui di mana titik inkubator alami yang jauh lebih canggih, yaitu energi panas bumi.
- Untuk mengetahui di mana titik panas bumi, maleo menggunakan jambulnya, yang berfungsi mendeteksi panas dan mengukur suhu di dalam lubang tempat mereka akan menaruh telur.
- Uniknya lagi, induk maleo sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap telur yang telah mereka timbun. Mereka menyerahkan nasib telur tersebut pada alam, entah itu berhasil menetas, membusuk, atau justru dimangsa predator dan diambil manusia.
Burung maleo (Macrocephalon maleo) dikenal satwa unik dan endemik yang hanya akan ditemukan di Pulau Sulawesi. Bentuk tubuhnya seperti ayam, namun ukuran telurnya raksasa, sekitar lima kali lebih besar dari telur ayam. Saat selesai bertelur, induk maleo akan menimbun telur tersebut di dalam pasir lalu pergi begitu saja. Di mata orang awam, tindakan seperti ini tampak seperti induk yang tidak bertanggung jawab.
Benarkah begitu? Kenyataanya, burung maleo berbeda dengan unggas umumnya, seperti ayam atau bebek yang biasa mengerami telurnya. Maleo tidak mengandalkan kehangatan tubuhnya untuk mengerami telur hingga calon anak-anaknya menetas. Induk maleo meninggalkan calon anak-anaknya itu menetas sendirian di dalam gelapnya tanah.
Hal itu bisa terjadi karena maleo mengetahui di mana titik inkubator alami yang jauh lebih canggih, yaitu energi panas bumi. Di sinilah letak keajaibannya. Bagaimana seekor burung tahu hamparan pasir luas atau tanah yang memiliki suhu tepat untuk menetaskan telurnya?

Dalam sebuah publikasi jurnal berjudul “Keunikan struktur anatomi dan morfologi burung maleo (Macrochepalon maleo) sebagai fauna endemik Indonesia dan upaya konservasinya” (2023), dijelaskan bahwa jawabannya ada pada jambul keras berwarna hitam yang menonjol di kepala maleo.
Saat sepasang maleo tiba di area peneluran (nesting ground), mereka mulai menggali lubang. Jika diperhatikan gerak-gerik mereka, burung maleo ini tidak sekadar mencangkul pasir ke belakang. Berkali-kali, mereka akan berhenti, memasukkan kepala ke dalam lubang, seperti mengecek sesuatu di pasir.
Jambul ini berfungsi mendeteksi panas dan mengukur suhu di dalam lubang tempat mereka akan menaruh telur dan memanfaatkan panas bumi atau pasir yang hangat untuk penetasan.
“Ketepatan suhu tanah sangatlah vital. Saat melakukan tahapan penggalian sarang, maleo menggunakan jambulnya untuk mengidentifikasi suhu pasir atau tanah,” tulis Manalu, dkk, dalam publikasinya.
Jambul tersebut memastikan bahwa lubang galian memiliki kehangatan yang cukup dan sesuai untuk menetaskan telur secara alami tanpa perlu dierami. Keberadaan jambul ini merupakan bentuk adaptasi morfologi yang mendukung perilaku unik maleo sebagai burrow nester (pembuat sarang berupa lubang). Struktur ini memungkinkan maleo memastikan keberhasilan reproduksi dengan memilih lokasi inkubasi alami yang optimal.

Lubang tipuan
Maleo mendeteksi predator saat menggali lubang melalui kerja sama tim dengan pasangannya. Karena maleo monogami yang setia, mereka berbagi peran untuk memastikan keamanan selama proses pembuatan sarang.
Jika salah satunya (misal betina) sedang fokus menggali tanah, maka pasangannya (jantan) akan bertugas mengawasi area sekitar untuk melihat apakah ada predator mendekat. Tugas ini dilakukan bergantian antara jantan dan betina.
Dalam tahap pengamatan sebelum dan saat menggali, maleo sering terlihat mengangkat kepalanya. Gerakan ini bertujuan untuk memantau lingkungan secara visual dan mendeteksi keberadaan predator di sekitar lokasi sarang. Jika terdeteksi adanya predator atau gangguan, pasangan tersebut segera meninggalkan lubang galian dan pindah mencari lokasi baru lebih aman.
Berdasarkan pengamatan para penelitian di Blok Saluki, Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, maleo bertelur dalam kisaran suhu 33,oc dengan rata-rata kelembapan tanah pagi hari 96,5 %, siang hari 70,7 %, dan sore hari 89,5 %.
Menariknya, kecerdasan maleo juga terlihat setelah telur diletakkan. Mereka tidak hanya menimbun kembali telur itu dengan pasir, tetapi juga menciptakan sistem pertahanan berupa lubang tipuan. Pasangan maleo akan menggali satu hingga lima lubang palsu di sekitar sarang utama untuk mengecoh predator seperti biawak atau manusia.
“Dengan cara ini, pemangsa yang datang akan kebingungan dan hanya menemukan lubang kosong. Sementara, telur asli aman tersembunyi dan hangat di dalam inkubator bumi hingga waktunya menetas,” tulis Dhafir, dkk, dalam jurnal.
Setelah merampungkan pembuatan lubang tipuan, maleo bergegas meninggalkan area peneluran. Berdasarkan pengamatan para peneliti di Blok Saluki ini, proses pembuatan lubang tipuan memakan waktu sekitar 20 menit dengan cara menggali tanah secara dangkal dan acak di sekitar lokasi sarang utama. Usai melakukan strategi ini, pasangan maleo tersebut akan berjalan menjauh sebelum akhirnya terbang kembali ke hutan.
Uniknya lagi, induk maleo sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap telur yang telah ditimbun. Mereka menyerahkan nasib telur tersebut pada alam, entah itu berhasil menetas, membusuk, atau justru dimangsa predator dan diambil manusia. Induk maleo hanya akan kembali ke lokasi ketika masa bertelur berikutnya tiba.

Sementara itu, perjuangan hidup anak maleo dimulai tepat saat mereka menetas. Tanpa bantuan induk, mereka harus berjuang menggali jalan keluar dari timbunan pasir sarangnya. Setelah berhasil keluar, mereka langsung hidup mandiri di alam liar hingga tumbuh dewasa, sebelum akhirnya insting menuntun mereka kembali ke lokasi peneluran yang sama untuk berkembang biak.
Perilaku unik ini sejatinya merupakan bentuk penyesuaian (adaptasi) hewan terhadap lingkungannya. Dalam banyak kasus, tingkah laku, sama halnya dengan struktur fisik tubuh, adalah produk dari seleksi alam. Setiap hewan akan mempelajari dan mengembangkan pola perilakunya sendiri demi bertahan hidup di habitat spesifik mereka.
Referensi:
Dhafir, F., Bustamin, B., Isnainar, I., & Trianto, M. (2022). Tingkah Laku Bertelur Burung Maleo (Macrochepalon maleo S. Muller) di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Blok Saluki. Media Eksakta, 18(1), 74-80. https://www.jurnalfkipuntad.com/index.php/jme/article/view/1712/1386
Manalu, D. Y., Ridho, E. M. T., & Irawati, W. (2023). Keunikan struktur anatomi dan morfologi burung Maleo (Macrochepalon maleo) sebagai fauna endemik Indonesia dan upaya konservasinya. Jurnal Biologi Papua, 15(2), 193–203. https://www.ejournal.uncen.ac.id/index.php/JBP/article/view/2980
*****