- Penanganan kucing kuwuk, terutama anakan, merupakan hal paling menantang dalam kerja-kerja rehabilitasi satwa liar. Anak kucing kuwuk memerlukan nutrisi, penanganan medis, dan manajemen kandang yang sangat spesifik di tempat rehabilitasinya.
- Interaksi manusia harus ditekan seminimal mungkin. Kucing kuwuk yang terlalu sering berinteraksi dengan manusia, berisiko kehilangan naluri berburu dan kewaspadaan.
- Pelepasliaran hanya dilakukan bila satwa mampu berburu mandiri, waspada terhadap ancaman, sehat secara fisik, dan menunjukkan perilaku alami.
- Banyak anak kucing kuwuk diambil warga padahal belum tentu yatim. Pengambilan dini dari alam justru memutus proses pengasuhan alami dari induknya dan menyulitkan upaya konservasi di tahap rehabilitasi.
Apa saja tantangan merawat kucing kuwuk di tempat rehabilitasi, sebelum dinyatakan layak dilepasliarkan ke alam?
Pertanyaan ini mencuat seiring meningkatnya kasus penyelamatan mamalia kecil dengan nama latin Prionailurus bengalensis javanensis di wilayah nonlindung Pulau Jawa. Termasuk juga, area kebun dan dan dekat permukiman warga.
Di balik evakuasi yang kerap dianggap sebagai akhir upaya konservasi, terbentang tahapan krusial yang menentukan masa depan satwa ini. Apakah ia mampu kembali hidup liar atau harus menjalani perawatan jangka panjang?
Deviana Prasindy, Dokter Hewan Ahli Pertama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, menuturkan bahwa penanganan kucing kuwuk -terutama yang anakan- merupakan hal paling menantang dalam kerja-kerja rehabilitasi satwa liar.
“Pemberian susu harus tepat, pemilihan kandang dan penanganannya juga sangat menentukan, karena kucing kuwuk rentan stres,” jelasnya, Minggu (1/2/2026).
Kesalahan perawatan awal tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan, namun berpengaruh pada kemampuannya mempertahankan sifat liar. Ini sebuah syarat utama agar satwa kecil yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi bisa kembali dilepasliarkan ke alam.
Kerentanan itu, paling sering muncul pada fase perawatan. Anak kucing kuwuk yang baru dievakuasi, umumnya datang dalam kondisi fisik dan psikologis belum stabil.
Sebagian mengalami dehidrasi, kekurangan nutrisi, atau kelelahan akibat terpisah dari induknya dan berpindah lingkungan secara mendadak.
“Kalau pemberian susu atau pakan tidak tepat, bisa langsung diare. Pada anakan, diare ini sangat riskan, berujung kematian.”

Kebutuhan nutrisi spesifik
Tak seperti kucing domestik, anakan kucing kuwuk punya kebutuhan nutrisi lebih spesifik. Oleh karenanya, setiap tahap perawatan dilakukan terukur, mulai jenis pakan, frekuensi pemberian, hingga pemantauan respon tubuh.
Meski demikian, tantangan tak berhenti pada aspek medis. Manajemen kandang memegang peran krusial dalam menjaga kondisi mental satwa.
Sebab, Felidae kecil yang disebut juga macan akar merupakan satwa soliter yang secara alami menghindari kontak langsung dengan manusia.
“Harus ada ruang pengayaan dan persembunyian. Kalau kandangnya terlalu terbuka atau terlalu sering interaksi dengan manusia, stresnya tinggi,” katanya.

Stres berkepanjangan tak hanya menurunkan imunitas, tetapi juga bisa mengganggu pembentukan perilaku alami satwa yang aktif malam hari ini. Dalam jangka panjang, akan menyulitan proses rehabilitasi menuju pelepasliaran.
Berbeda dengan individu dewasa yang sudah punya naluri berburu dan kewaspadaan kuat, anakan masih berada pada fase belajar.
“Dalam fase ini, interaksi manusia harus ditekan seminimal mungkin. Setiap sentuhan, suara, dan keberadaan manusia berpotensi membentuk asosiasi yang keliru.”
Bila terlalu terbiasa, kucing kuwuk bisa tumbuh jinak, sebuah kondisi yang justru memperkecil peluang hidupnya di alam liar.
Kenyataan pahit dari kerja rehabilitasi, kata Deviana, tidak semua kucing kuwuk hasil penyelamatan bisa dilepasliarkan. Keputusan ini tak diambil secara ringan, melainkan melalui serangkaian asesmen ketat.
Sebab, satwa yang menunjukkan ketergantungan tinggi pada manusia, tidak mampu berburu mandiri, atau kehilangan respons alami terhadap ancaman, dinilai tidak layak dilepasliarkan.
“Jika dipaksakan, risikonya justru lebih besar.”
Dalam kondisi ini, sebagian kucing kuwuk harus menjalani perawatan jangka panjang di lembaga konservasi sebagai satwa edukasi. Pilihan ini dianggap sebagai langkah paling aman, walau berarti satwa tersebut tak lagi hidup bebas di alam.

Upaya konservasi
Kasus-kasus kucing kuwuk yang masuk rehabilitasi juga jadi refleksi penting bagi upaya konservasi secara lebih luas. Banyak penyelamatan bermula dari niat baik masyarakat, namun kurang diiringi pemahaman.
“Warga kerap ambil langsung anak kucing kuwuk yang terlihat sendirian. Padahal, belum tentu induknya tidak ada,” jelas Deviana.
Dalam sejumlah kasus, sang induk sengaja meninggalkan anaknya sementara untuk mencari pakan. Pengambilan terlalu dini, justru memutus proses alami pengasuhan dan membuat anakan kucing kuwuk kehilangan kesempatan belajar bertahan hidup.
Meidi Yanto, Manajer Konservasi in-situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT) bilang, untuk melepaskan kucing kuwuk hasil rehabilitasi di yayasan tempatnya bekerja, tak pernah dilakukan tergesa-gesa.
Ada serangkaian indikator ketat yang digunakan untuk menilai kelayakan satwa kembali ke alam.
“Utamanya, kami melihat kemampuan berburu alaminya,” paparnya, Selasa (27/1/2026).
Kemampuan ini tak sekadar menangkap mangsa, namun juga menangkap mangsa hidup secara mandiri. Respons terhadap ancaman juga jadi penilaian kunci. Satwa yang masih waspada, mampu menghindar, dan menunjukkan agresi defenetif yang wajar dianggap masih punya naluri liar utuh.
Tidak kalah penting adalah kondisi fisik dan kesehatan. Sebelum dilepasliarkan, satwa harus dalam kondisi prima.
“Perilaku khas spesies juga harus ada. Pola aktivitas nokturnal dan perilaku teritorial, misalnya.”
Bagi seekor kucing kuwuk, kembali ke alam bukan hanya persoalan dibuka pintu kandang. Itu adalah hasil proses panjang, menjaga jarak dari manusia, dan memulihkan naluri berburu.
Pada titik ini, kerja rehabilitasi jadi pertaruhan besar. Setiap interaksi, setiap keputusan, bisa menentukan masa depan satwa.
*****
Anakan Kucing Kuwuk Berkeliaran Tanpa Induk, Habitat Terganggu?