- Penelitian terbaru ungkap kepadatan populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) lebih tinggi (2,5 hingga 4,1 kali lipat) di hutan yang tidak dilindungi secara nasional di wilayah utara Ekosistem Leuser.
- Sebanyak 27 individu harimau sumatera berhasil diidentifikasi yaitu 14 betina, 12 jantan, dan 1 individu dengan jenis kelamin tidak diketahui. Para peneliti juga mendokumentasikan tiga kelompok anak harimau berbeda.
- Dengan ciri-ciri ekologi yang kuat (kepadatan populasi, kelimpahan mangsa, dan sebagainya), wilayah ini mungkin menjadi lokasi sumber (source sites), yaitu harimau betina yang berkembang biak menghasilkan surplus harimau yang menyebar dari wilayah kelahiran terlindungi dengan baik.
- Temuan ini menjadi alarm penting untuk segera menerapkan aksi konservasi dengan pendekatan lanskap, membangun koridor yang dapat menjamin konektivitas habitat harimau sumatera.
Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa penting yang menjaga keseimbangan lanskap ekosistem hutan Sumatera. Dari dataran tinggi hingga rendah, di dalam maupun luar kawasan konservasi, mereka hidup tanpa mengenal batas wilayah.
Penelitian terbaru Figel dan kolega (2025) di Kawasan Ekosistem Leuser –habitat harimau terluas yang tersisa di Sumatera- memperkuat hal ini. Para peneliti menemukan kepadatan populasi harimau di hutan lindung provinsi (di luar Taman Nasional Gunung Leuser) ternyata jauh lebih tinggi, mencapai 2,5 hingga 4,1 kali lipat.
Temuan ini diperoleh setelah para peneliti menganalisis 282 foto kamera jebak yang memotret 27 individu harimau sumatera secara berulang (245 kali), dalam rentang waktu 12 bulan (Juni–Desember 2023 dan Mei–November 2024).
“Kami memperkirakan kepadatan populasi harimau Sumatera berdasarkan kumpulan data spesies yang paling kuat yang dikumpulkan hingga saat ini,” tulis penelitian tersebut.
Temuan ini juga memberikan wawasan baru mengenai demografi harimau, yaitu populasi betina berkembang biak dalam jumlah tinggi. Dari 27 individu, 14 adalah betina, 12 jantan, dan 1 individu dengan jenis kelamin tidak diketahui.
Selama sesi pengambilan sampel 90 hari tahun 2023, peneliti juga mendokumentasikan tiga kelompok anak harimau berbeda. Satu pasang anak harimau jantan berpencar dan kedua individu tersebut difoto sebagai dewasa pada 2024.
“Kelangsungan hidup dan kesuburan betina yang berkembang biak, merupakan faktor terpenting yang menentukan pertumbuhan populasi spesies ini. Kepadatan betina yang lebih tinggi, mencerminkan dinamika sistem sosial harimau yang sehat dan habitat berkualitas,” tulis penelitian tersebut.

Wilayah studi mencakup hutan daran rendah dengan ketinggian 692 mdpl yang terletak di bagian utara Ekosistem Leuser. Jenis tutupan lahan meliputi hutan lindung, hutan produksi, dan lahan pertanian.
Antara 2023 hingga 2024, area penelitian diperluas dari 30.800 hektar menjadi 60.000 hektar dengan menambah jumlah kamera jebak. Namun, perluasan ini didominasi hutan produksi (naik dari 17% ke 36%), sejalan dengan luas hutan utuh yang berkurang drastis dari 18% menjadi 9%.
Meski demikian, kepadatan populasi betina serta catatan keberadaan ibu dan anak harimau di wilayah penelitian, memberi harapan bahwa wilayah tersebut merupakan lokasi sumber (source sites). Harimau betina yang berkembang biak menghasilkan surplus harimau yang menyebar dari wilayah kelahiran terlindungi baik.
Hal ini juga didukung melimpahnya basis mangsa bagi harimau sumatera di lokasi penelitian, yang merupakan dataran rendah. Para peneliti mendokumentasikan tingkat hunian yang empat kali lebih besar untuk rusa sambar dan tujuh kali lebih besar untuk babi di area riset.
“Mempertahankan populasi mangsa, yang rentan terhadap penyakit seperti flu babi Afrika akan sangat penting untuk konservasi harimau di Leuser,” tulis Figel dan kolega.

Pentingnya koridor penghubung
Iding Achmad Haidir, Ketua Forum Harimau Kita (FHK) mengatakan, secara historis harimau sumatera hidup hampir di seluruh hutan Sumatera, baik di dataran tinggi maupun rendah. Terkadang, hutan sekunder bisa menjadi habitat penting karena sering digunakan mangsanya untuk merumput.
“Temuan ini harus menjadi perhatian, karena selama ini pemerintah masih cenderung mengabaikan kawasan hutan di luar kawasan konservasi,” katanya kepada Mongabay Indonesia, Selasa (16/12/2025).
Berdasarkan data Forum Harimau Kita (FHK), diperkirakan populasi liar harimau sumatera sekitar 568 individu. Tersebar dalam 23 lanskap habitat dengan luas sekitar 9 juta hektar, sementara luas total Pulau Sumatera sekitar 47 juta hektar.
Lanskap habitat ini sudah mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir, awalnya ada 29 lanskap. Ancaman terbesar kehidupan harimau adalah deforestasi habitat, perburuan, serta konflik manusia dengan harimau.
“Adanya sub-sub populasi harimau sumatera yang berada di luar kawasan konservasi, menjadi alarm untuk segera menerapkan konsep pengelolaan lanskap.”
Saat ini, menurutnya, banyak habitat terkotak-kotak, sementara harimau hidup dengan tidak mengenal batas wilayah. Namun, masih banyak otoritas yang tidak menyadari pentingnya pengelolaan berkonsep lanskap ini -setiap petak habitat harus terhubung satu sama lain.
“Dengan pendekatan lanskap, keterlibatan multipihak menjadi keharusan,” kata Iding.

Pendekatan lanskap juga menekankan keterhubungan antarhabitat dengan membangun koridor aman bagi satwa untuk berpindah dari satu habitat ke habitat lain. Ini bisa dilakukan dengan segera menetapkan Areal Preservasi yang muncul dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas UU 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE).
Istilah ini menggantikan Kawasan Ekosistem Esensial, namun punya definisi yang mirip. Yaitu, sebagai areal di luar kawasan suaka alam (KSA), kawasan pelestarian alam (KPA), dan kawasan konservasi di perairan, wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil yang dipertahankan kondisi ekologisnya, untuk mendukung fungsi penyangga kehidupan ataupun kelangsungan hidup sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
“Saat ini, pemerintah sedang menetapkan peta indikatif wilayah mana saja yang bisa dijadikan areal preservasi,” kata Iding.
Dalam praktiknya, koridor terbagi dua, yakni koridor fisik dan koridor fungsi. Koridor fisik berarti wilayah tersebut merupakan kawasan, sementara koridor fungsi bisa berupa perkebunan, atau wilayah usaha perusahaan yang bisa difungsikan sebagai koridor.
Namun, yang terpenting menurut Iding adalah menjaga dan mengidentifikasi wilayah-wilayah yang menjadi pusat populasi, wilayah sumber, ataupun sub-sub populasi lain seperti kawasan konservasi maupun wilayah-wilayah di luar itu.
“Ini penting, karena anak-anak harimau yang tumbuh dewasa akan berpindah, lalu membangun dan menetapkan teritori, bergeser dan bertumbuh menjadi sub-sub populasi lainnya,” katanya.
Pembangunan koridor sangat memungkinkan jika merujuk penelitian Rahman dan kolega (2023) di Sumatera Barat. Analisis mereka menemukan indeks konektivitas ekosistem lanskap sebesar 65% menunjukkan kualitas luar biasa, diikuti 20% konektivitas sedang, dan 15% konektivitas rendah.
Sebanyak 12 koridor harimau prioritas juga diidentifikasi, dengan lokasi-lokasi ini memiliki sejarah konflik tertinggi dibandingkan daerah lain yang perlu dihubungkan.
Memulihkan konektivitas habitat, sangat penting untuk konservasi spesies yang terancam punah, karena dapat meningkatkan kelangsungan hidup, reproduksi, dan keanekaragaman genetik.
“Temuan kami dapat berfungsi sebagai pedoman bagi pemerintah daerah dan LSM konservasi internasional dalam merumuskan kebijakan masa mendatang terkait mitigasi konflik manusia–harimau dan implementasi koridor untuk memastikan keberlanjutan spesies endemik ini di alam liar,” tulis penelitian tersebut.

Masih terancam
Temuan penting lain dalam penelitian Figel dan kolega adalah termasuk adanya pemburu dan penduduk desa yang terdeteksi lebih sering daripada petugas hutan, selama semua sesi pengamatan kamera jebak di lokasi penelitian.
“Di seluruh stasiun, kami mencatat petugas hutan terdeteksi sebesar 13%, sedangkan pemburu dan penduduk desa terdeteksi masing-masing sebesar 21% dan 43%,” tulis penelitian tersebut.
Wilayah penelitian berada di bawah pengawasan patroli Forum Konservasi Leuser dan Hutan Harimau. Saat ini, rasio petugas patroli adalah 2,5 orang per 100 km², angka yang memang lebih tinggi dibandingkan rata-rata wilayah lain di Sumatera, namun masih jauh dari memadai.
“Ini masih sekitar empat kali lebih rendah daripada jumlah target yang dibutuhkan untuk mempertahankan populasi harimau di hutan hujan,” tulis Figel dan kolega.
Masalah lain juga datang dari hasil penelitian Saputra dan kolega (2025) yang menemukan jangkauan distribusi mangsa di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) relatif sempit (48,6%), meskipun habitat yang sesuai untuk harimau sumatera cukup luas (80,4%).
“Hal ini menyoroti kerentanan ketersediaan mangsa dan kebutuhan untuk meningkatkan populasi mangsa guna memastikan kelangsungan hidup jangka panjang harimau sumatera di TNGL,” tulis penelitian tersebut.
Masih penelitian yang sama, pada 1970-an, dituliskan populasi harimau sumatera sekitar 1.000 individu. Namun, saat ini, populasinya diperkirakan sekitar 618 individu, termasuk sekitar 290 betina yang tersebar di hutan-hutan terfragmentasi.
“Faktor-faktor seperti ketersediaan mangsa dan degradasi habitat berkontribusi pada perubahan ini. Harimau lebih sering ditemukan di hutan pegunungan dan dataran rendah yang dilindungi, sementara populasi di luar kawasan konservasi terus menurun,” tulis Saputra dan kolega.
Referensi:
Figel, J. J., Akbar, M. I., Khairi, K., Darmansyah, Pian, M., Supiyandi, Suhaili, Abidin, Z., Aritanoga, M. R., Ali, K., Reduan, Rhomadani, Haris, I., Rija, Irhamdani, Hermansyah, Yoga, I., & Hut, E. S. (2025). Sumatran tiger density estimates in the Leuser Ecosystem, Sumatra, Indonesia. Frontiers in Conservation Science, 6. https://doi.org/10.3389/fcosc.2025.1691233
Rahman, H., Hidayat, R. A., Nofrizal, A. Y., Wilastra, I., & Nasution, A. F. R. (2023). Priority Corridor Zone for Human-Tiger Conflict Mitigation: A Landscape Connectivity Approach in West Sumatra Region, Indonesia. Journal for Nature Conservation, 76, 126501. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jnc.2023.126501
Saputra, M. H., Widyastuti, S., Kuswanda, W., Nugraha, R. T. P., Helmanto, H., Anugrah, N., Rahmat, U. M., Napitu, R. S., Adnan, A., Iskandarrudin, Purwoko, A., & Patana, P. (2025). Tracking Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae Pocock, 1929) distribution in Gunung Leuser National Park: The influence of prey presence and environmental variables on habitat selection. Nature Conservation, 59, 43–64. https://doi.org/https://doi.org/10.3897/natureconservation.59.144262
*****