- Gollum merupakan nama individu owa kalawat (Hylobates muelleri) yang berada di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
- Gollum awalnya tidak memiliki bulu. Di beberapa bagian tubuhnya masih terlihat bekas penebalan kulit. Suaranya juga terdengar parau. Saat awal penyelamatan, fisiknya sangat lemah. Saat di kandang evakuasi, Gollum tak jarang menyakiti dirinya sendiri.
- Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mengevakuasinya dari kandang ayam milik warga di Kabupaten Paser, pada 25 April 2025. Pada 1 Mei 2025, BKSDA membawanya ke PPS Long Sam untuk menjalani perawatan intensif.
- Kini, Gollum telah pulih. Perilaku abnormal tidak lagi terlihat dan vokalisasi pagi terdengar lebih jelas. Gollum juga menunjukkan ketertarikan untuk berinteraksi dengan owa lain. Gollum sekarang berada di pulau pra-pelepasliaran, sebelum benar-benar dikembalikan ke hutan.
Sebanyak sembilan individu owa kalawat (Hylobates muelleri) berada di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Namun, ada satu individu yang menarik perhatian, yaitu owa jantan bernama Gollum.
Gollum awalnya tidak memiliki bulu. Di beberapa bagian tubuhnya masih terlihat bekas penebalan kulit. Suaranya juga terdengar parau.
Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mengevakuasinya dari kandang ayam milik warga di Kabupaten Paser, pada 25 April 2025. Saat itu, kondisinya sangat buruk: malnutrisi dan tubuhnya hampir tanpa bulu. Pada 1 Mei 2025, BKSDA membawanya ke PPS Long Sam untuk menjalani perawatan intensif.
Saat awal penyelamatan, fisiknya sangat lemah. Saat di kandang evakuasi, Gollum tak jarang menyakiti dirinya sendiri.
Paulinus Kristanto, Direktur dan Founder Conservation Action Network (CAN), mengatakan hasil pemeriksaan medis menunjukkan Gollum tidak mengalami penyakit kulit menular. Gangguan karena kekurangan nutrisi jangka panjang, akibat pola pemeliharaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan primata arboreal tersebut.
“Sang pemilik tidak mengetahui bahwa satwa jenis dilindungi. Kondisinya yang kurus tanpa bulu, sulit dikenali,” jelasnya, Senin (8/12/2025).
Penampilannya saat pertama kali datang ke Long Sam, persis Gollum, tokoh fiksi dalam film The Lord of the Rings. Wajahnya cekung, giginya tidak teratur, dan gerak-geriknya menyerupai makhluk yang hidup lama di tempat gelap.
“Hanya saja, Gollum di film itu bersih. Jika sekilas orang mekondisinya lihat, cukup mengerikan,” kata Paulinus.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.

Perubahan signifikan
Selama menjalani karantina, Gollum dalam pemantauan ketat tim medis dan keeper Long Sam. Pemberian obat, pakan, dan perawatan dicatat rutin sebagai bagian tahapan rehabilitasi awal.
Menurut Paulinus, pemulihan difokuskan pada peningkatan kondisi fisik melalui perbaikan nutrisi, pemberian suplemen, serta perawatan kulit harian untuk mengatasi penebalan. Lingkungan kandang juga diatur, dengan tetap memungkinkan satwa bergerak dan beradaptasi.
Memasuki minggu ke empat, sejumlah perkembangan terlihat. Rambut Gollum mulai tumbuh, nafsu makan meningkat, dan perilaku repetitif seperti gerakan kepala berulang berangsur berkurang. Ia juga lebih aktif manjat kandang dan tidak lagi menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri.
Gollum mengeluarkan suara pagi hari, meski terdengar pelan.
“Vokalisasi itu penanda awal bahwa mentalnya mulai pulih.”
Tahap rehabilitasi dilanjutkan dengan pemulihan perilaku di kandang hutan lebih luas. Gollum dilatih memanjat, bergerak di ruang vertikal, serta mengurangi ketergantungan terhadap manusia.
Skor kondisi tubuh Gollum stabil. Perilaku abnormal tidak lagi terlihat dan vokalisasi pagi terdengar lebih jelas. Gollum juga menunjukkan ketertarikan untuk berinteraksi dengan owa lain.
Kondisi tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan Gollum ke tahap berikutnya, yakni pra-pelepasliaran.
“Sekarang, saatnya Gollum dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran.”

Habitat alami
Paulinus menjelaskan, pulau pra-pelepasliaran dirancang menyerupai habitat alami owa kalawat. Pulau ini memiliki vegetasi hidup dengan kanopi rapat, serta ruang jelajah yang luas. Area tersebut dikelilingi sungai buatan untuk membatasi interaksi owa dengan manusia. Luasnya mencapai 14 hektar, terbagi 8 pulau.
Di lokasi ini, owa dilatih membentuk kelompok, menjaga wilayah, mengenali pakan alami, serta mengasah kemampuan bertahan hidup. Pembangunan pulau dilakukan waktu singkat, agar proses rehabilitasi Gollum tidak terputus.
“Gollum benar-benar sehat, seperti owa liar umumnya. Sebelum kembali ke hutan, ia harus adaptasi dulu di pulau ini,” ujarnya.

M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, mengatakan perkembangan Gollum pertanda rehabilitasi berjalan baik.
“Ini prosedur rehabilitasi yang diterapkan BKSDA bersama mitra secara konsisten, baik di Kalimantan Timur maupun wilayah lain seperti Sumatera dan Kalimantan,” ujarnya, Sabtu (13/12/2025).
Ia menambahkan, memasuki tahap pra-pelepasliaran, BKSDA memastikan individu owa tersebut benar-benar siap hidup mandiri di alam. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kesehatan fisik, tetapi juga perilaku dan kesiapan mental.
Rehabilitasi satwa liar merupakan proses menyeluruh yang mencakup pemulihan fisik, mental, dan perilaku, guna memastikan satwa memiliki peluang bertahan hidup ketika kembali ke habitat alaminya.
“Owa harus mampu menunjukkan sifat liarnya, mencari makan sendiri, menghindari ancaman, dan berperilaku sebagaimana owa liar. Itu syarat utama sebelum dilepasliarkan,” paparnya.
Indonesia merupakan rumah besar bagi sembilan spesies owa. Mereka adalah Hylobates moloch (owa jawa), Symphalangus syndactylus (siamang), Hylobates agilis (owa ungko), Hylobates lar (serundung), Hylobates klossii (bilou/owa mentawai), Hylobates muelleri (kalawat), Hylobates albibarbis (ungko kalimantan), Hylobates funereus (owa kelempiau utara), dan Hylobates abbottti (owa kelempiau barat).
Menurut IUCN, sembilan spesies itu dikategorikan terancam punah. Owa jawa banyak mendiami Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat. Sebagian kecil lagi di Jawa Tengah, namun terfragmentasi dan di luar kawasan lindung.
Owa di Sumatera dan Mentawai juga menghadapi ancaman habitat yang terfragmentasi selain masalah penyakit. Sementara yang di Kalimantan, sebagian besar berada di luar kawasan lindung dan lahan pribadi.
*****