- Penampilan replika tujuh spesies punah di Singapura meramaikan pameran terbesar "Dinosaurus, kepunahan dan kita" di Pusat Penelitian Science Centre Singapura, Selasa (18/11/2025). Pemeran itu fokus pada lima fase punahnya spesies di planet bumi ini hingga dampak perubahan iklim.
- Salah satu spesies tersebut adalah pelatuk batu tulis besar. Meski secara global burung pelatuk terbesar ini masih ada, namun di Singapura spesies dengan nama latin Mulleripicus pulverulentus ini telah punah. Ada juga tupai raksasa berwarna krem yang miliki nama latin Rafuta affinis affinis.
- Lee Kong Chian, kurator pameran dari Natural History Museum mengatakan, kisah-kisah kepunahan tersebut mencerminkan rapuhnya keseimbangan antara alam dan kehidupan perkotaan serta kebutuhan mendesak untuk melindungi habitat yang tersisa.
- Peter Norton, Direktur Gondwana Studios yang juga penyelenggara pemeran mengatakan, saat ini planet bumi masuk dalam fase kepunahan keenam. Kepunahan massal keenam (atau kepunahan Holosen) adalah peristiwa punahnya spesies saat ini yang berlangsung sangat cepat, yaitu kurang dari 2,8 juta tahun.
Penampilan replika tujuh spesies punah di Singapura meramaikan pameran terbesar “Dinosaurus, kepunahan dan kita” di Pusat Penelitian Science Centre Singapura, Selasa (18/11/25). Pemeran itu fokus pada lima fase punahnya spesies di planet bumi ini hingga dampak perubahan iklim.
Salah satu spesies itu adalah pelatuk batu tulis besar. Meski secara global burung pelatuk terbesar ini masih ada, namun di Singapura spesies dengan nama latin Mulleripicus pulverulentus ini telah punah.
Ada juga tupai raksasa berwarna krem yang miliki nama latin Rafuta affinis affinis. Dulunya spesies ini berkembang biak di negara Singa Putih ini. Namun, sejak 1995, tupai ini tak lagi terlihat dan dianggap punah secara lokal.
Lee Kong Chian, kurator pameran dari Natural History Museum mengatakan, kisah-kisah kepunahan itu mencerminkan rapuhnya keseimbangan antara alam dan kehidupan perkotaan serta kebutuhan mendesak untuk melindungi habitat yang tersisa.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Sejak era geologi
Etalase replika tujuh spesies punah di Singapura, sebenarnya bagian kecil kepunahan massal yang terbagi ke dalam lima fase.
Mongabay berkesempatan mengikuti petualangan pengetahuan prasejarah itu 18 November lalu. Perjalanan menjelajah massa kepunahan dimulai dari kehidupan spesies yang satu kerabat dengan sotong, cumi-cumi, dan gurita ini. Namanya, Endoceras, spesies moluska raksasa.
Pada bagian depan, spesies yang hidup sekitar 440 juta tahun lalu itu tampak seperti gurita biasa, memiliki tentakel. Namun, endoceras memiliki cangkang keras berbentuk kerucut lurus.
James, pemandu perjalanan mengatakan, endoceras merupakan spepsies yang hidup pada masa Ordovisium. Kepunahannya karena kenaikan suhu laut 5 derajat celcius. Setelah endoceras punah, ikan-ikan yang dulu menjadi mangsanya menjadi penguasa selanjutnya.
Bahkan, kata James, ikan menjadi hewan pertama yang memiliki kerangka seperti manusia, dimana endoceras belum memiliki itu.
Dia menunjukkan Duncleosteus terrelli, ikan prasejarah berlapis baja terbesar yang pernah hidup. Panjang tubuh bisa mencapai 8.8 meter dengan berat 4 metrik ton. “Hewan ini punah pada masa kepunahan Devon akhir,” katanya.
Ketika itu Duncleosteus bisa ditemukan di Amerika Utara, Eropa dan Afrika.
Pada era geologi ikan menjadi hewan pertama yang memiliki kerangka seperti manusia. “Nenek moyang ikanlah yang memberi kita rahang, tanpa rahang kita tidak bisa berbicara,” katanya.
Setelah itu pada masa akhir Devon era geologi ini mulai bergerak ke darat. Salah satunya ditunjukan dalam pameran ini replika spesies Titaalik. Di bagian mulut, hewan ini sekilas berbentuk ikan, meski memiliki semacam kaki untuk merangkak.
“Hewan ini bukti bagaimana sebagian ikan purba mulai mencoba keluar dari air, dengan insang untuk bernapas dan sirip kuat untuk mengangkat tubuh,” kata James.
Titaalik hidup pada 375 juta tahun lalu.
Spesies berikutnya yang hidup pada masa 299-270 juta tahun lalu, yaitu, era Carboniferous yang terbukti dengan keberadaan spesies Meganeuropsis.
Sekilas bentuknya seperti capung pada masa sekarang dengan ukuran hampir satu meter atau sekitar 75 sentimeter. Hingga hewan ini predator serangga terbang terbesar. Sepanjang pameran tidak hanya replika. Beberapa fosil hewan asli juga ada.

Pertunjukan pamungkas
Hewan paling menarik dari segala spesies prasejarah tentu Dinosaurus. Spesies ini bahkan banyak cerita film, hingga menjadi daya tarik utama dalam pameran ini.
Pertunjukan kerangka dinosaurus baik yang replika dan fosil asli menjadi pertunjukan pamungkas di pameran ini. James menunjukkan ruangan paling besar untuk menjadi ruang khusus dinosaurus yang berukuran paling besar daripada spesies lainnya.
Dalam ruangan itu berbagai kerangka dan fosil asli dinosaurus ditampilkan. Pertama kami diajak melihat Sauropda. Dinosaurus berleher panjang dan pemakan tumbuhan.
Kemudian ada Eoraptor, dinosaurus tertua yang ditemukan di Amerika Selatan. Tidak luput tentu ada Tyrannosaurus rex atau yang sering dijuluki Scooty, sang predator legendaris.
“Replikasi yang kita tampilkan ini adalah T.Rex terbesar yang pernah ditemukan,” katanya.
Raksasa prasejarah ini pernah menguasai lanskap kuno dengan tubuhnya yang masif dan gigitan penghancur tulang.
Patagotitan Mayorum, menjadi spesies pamungkas yang menguasai ruangan pameran. Replikanya dibuat nyata sesuai ukurannya dalam penelitian-penelitian. Tidak heran, di depan dinosaurus raksasa itu, manusia hanya seukuran mata kaki. Panjangnya mencapai 40 meter, dengan bobot sekitar 57 ton.
“Raksasa kolosal ini menjadi salah satu temuan paleontologi paling penting dalam beberapa dekade terakhir,” kata James.
Yang tidak kalah menarik, di bawah kerangka Patagotitan Mayorum terdapat fosil asli dari dinosaurus yang ahli temukan di tahun 2014 di Argentina itu. Ada larangan pengunjung menyentuhnya.
“Lihatlah ukurannya, ini cuma bagian tulang paha, sangat besar sekali.”

Bagaimana di Indonesia?
Peter Norton, Direktur Gondwana Studios yang juga penyelenggara pemeran mengatakan, saat ini planet bumi masuk dalam fase kepunahan keenam.
“Peran manusia sangat penting dalam kepunahan yang sedang berlangsung sekarang,” katanya.
Kepunahan massal keenam (atau kepunahan Holosen) adalah peristiwa punahnya spesies saat ini yang berlangsung sangat cepat, yaitu kurang dari 2,8 juta tahun.
Berbeda dengan lima peristiwa kepunahan massal sebelumnya akibat bencana alam seperti tumbukan asteroid atau letusan gunung berapi.
Kepunahan massal keenam ini terutama disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti deforestasi, polusi, perburuan berlebihan, dan perubahan iklim.
Pameran ini, katanya, mengajak pengunjung merenungkan dampak manusia terhadap bumi dan kekuatan manusia juga menentukan apa yang akan bertahan di masa depan.
Senada,Tham Mun See, Chief Executive Science Centre Board mengatakan, melalui pameran ini,pihaknya ingin mengajak manusia menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Kami mendorong tindakan nyata dalam menghadapi krisis keanekaragaman hayati masa kini.”
Kepunahan massal tidak terjadi di berbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia, berdasarkan laporan Policy Brief RUU (Perubahan) KSDAHE: Delapan Catatan Krusial oleh WALHI, Juli 2024, total spesies hewan Indonesia yang terancam ada 1.225 spesies. Dari jumlah itu, 192 sangat terancam punah, 361 terancam punah, dan 672 rentan terancam punah. Sementara itu, 3 spesies sudah punah.
Salah satu satwa endemik Indonesia yang terancam punah adalah orangutan Sumatera. Akibat ancaman kepunahan tersebut, orangutan menjadi hewan langka. Hewan ini dapat dijumpai di hutan hujan Kalimantan dan Sumatera.
IUCN juga memberikan data kondisi spesies yang hampir terancam hingga spesies dengan risiko kepunahan rendah.
Total ada 10.008 spesies Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut. Sebanyak 6.608 di antaranya memiliki risiko kepunahan lebih rendah.
Dokumen itu juga menyebut krisis ekologi dalam kaitannya dengan kerusakan keanekaragaman hayati sudah sangat memprihatinkan. Beberapa faktor jadi penyebabnya, antara lain alih fungsi lahan dan air tanpa mempertimbangkan skema keberlanjutan, eksploitasi berlebihan pada spesies melalui perdagangan ilegal hingga pembunuhan satwa tertentu, perubahan iklim serta deforestasi tentunya.
Dalam jurnal berjudul “Keanekaragaman Hayati Indonesia: Masalah dan Upaya Konservasinya” Agus Setiawan Universitas Lampung menjelaskan bagaimana keanekaragaman hayati Indonesia terancam.
Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi. Namun, Indonesia juga sebagai negara dengan penurunan keanekaragaman yang tinggi.
Indonesia memiliki 583 spesies yang terancam punah, diantaranya mamalia 191 spesies dan burung 160 spesies.
Dia bilang, ada dua penyebab. Pertama, gangguan dan ancaman terhadap kelestarian flora dan fauna dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu gangguan yang bersifat langsung dan gangguan yang bersifat tidak langsung.
Gangguan yang bersifat langsung adalah gangguan yang menyebabkan kematian terhadap flora atau fauna.
Gangguan itu antara lain berupa pengambilan individu spesies tertentu, baik untuk konsumsi maupun perdagangan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat ilegal, seperti perburuan, pencurian ilan maupun pembalakan liar.
Gangguan dan ancaman langsung terhadap keanekaragaman flora Indonesia terutama akibat hilangnya hutan. Akhir tahun 1880 an, hampir 90% wilayah Indonesia masih tertutup oleh hutan hujan.
Dari tahun 1880 hingga 1980, Indonesia kehilangan 25% tutupan hutan. Saat ini, sekitar 50% wilayah Indonesia masih tertutup hutan, tetapi sebagian besar dari hutan ini terdiri dari hutan terdegradasi, hutan bekas tebangan, hutan sekunder atau hutan tanaman.
Bahkan hasil pemantauan Kementerian Kehutanan angka deforestasi netto tahun 2024 tercatat 175.400 hektar. Angka ini diperoleh dari deforestasi bruto sebesar 216,2 ribu hektare dikurangi hasil reforestasi yang mencapai 40,8 ribu hektar.
*****