- Sebuah tim ekspedisi gabungan dari Indonesia, Malaysia, dan Amerika, pada Agustus tahun lalu berupaya menembus gua-gua tersembunyi di Banggai Raya, wilayah yang menyimpan sistem bawah tanah yang unik di Indonesia.
- Banggai Raya dikenal sebagai pulau karbonat di Indonesia. Bentang geologinya didominasi batuan karbonat yang terbentuk dari endapan organisasi laut purba selama jutaan tahun. Proses pelarutan batuan oleh alam ini menciptakan lanskap karst yang kompleks. Ada gua vertikal dan horisontal, sungai bawah tanah, lorong dan ceruk yang menyimpan data pengetahuan yang menunggu disingkap.
- Kombinasi antara formasi karst unik, pengaruh pasang surut, dan karakter pulau kecil inilah yang menciptakan keunikan dan kerentanan karst di Banggai dibanding sistem karst lain di Indonesia.
- Banggai tak hanya menawarkan kekayaan pengetahuan bagi riset, tetapi juga peluang besar bagi pengembangan wisata minat khusus berbasis konservasi. Terutama, penyelaman gua yang sangat diminati komunitas internasional.
Ada fenomena alam yang perlu disibak dalam khazanah ilmu pengetahuan Indonesia, tepatnya di Desa Sambulangan, Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Dunia yang sunyi, gelap, dan menyimpan rahasia ribuan bahkan hingga jutaan tahun. Rahasia sebuah sistem gua bawah air yang diduga terbesar di Indonesia.
Sebuah tim ekspedisi gabungan dari Indonesia, Malaysia, dan Amerika, pada Agustus tahun lalu berupaya menembus gua-gua tersembunyi di Banggai Raya, wilayah yang menyimpan sistem bawah tanah yang unik di Indonesia. Ekspedisi ini bagian dari kegiatan Asian Trans Disciplinary Karst Conference yang diadakan di Yogyakarta, 2024.
Dengan membawa nama International Expedition Banggai Raya Series I, tim menelusuri gua-gua karst di tiga wilayah utama. Yaitu, Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut.
“Ekspedisi ini langkah awal dari rangkaian penelitian yang akan dilakukan bersama peneliti dari berbagai negara,” ujar Hendrie Adji Kusworo, koordinator ekspedisi kepada media, beberapa waktu lalu.
“Harapan saya akan ada banyak agenda research scientific yang melibatkan para ahli. Ada ruang baru yang bisa dieksplor untuk menghasilkan inovasi, pengetahuan, juga hilirisasi,” tambah dosen dan pengelola program S3 Kajian Pariwisata UGM ini.
Ekspedisi Internasional Banggai Raya Seri II rencananya bakal dilaksanakan 2026, dengan melibatkan BRIN.

Banggai Raya dikenal sebagai pulau karbonat di Indonesia. Bentang geologinya didominasi batuan karbonat yang terbentuk dari endapan organisasi laut purba selama jutaan tahun. Proses pelarutan batuan oleh alam ini menciptakan lanskap karst yang kompleks. Ada gua vertikal dan horisontal, sungai bawah tanah, lorong dan ceruk yang menyimpan data pengetahuan yang menunggu disingkap.
Sistem karst di Banggai berbeda, karena karakter utamanya adalah karst pesisir yang terhubung langsung dengan laut, menurut penjelasan Catrapatti Raditya Anuraga, dari Sainsreka Explorasia. Dia adalah lead operation officer dalam ekspedisi ini.
“Selain itu, lokasinya di pulau kecil membuat sistem ini jauh lebih sensitif. Ruang tangkap airnya relatif sempit sehingga perubahan kecil di daratan seperti pembangunan pesisir atau perubahan tata guna lahan dapat langsung terasa dampaknya terhadap sistem karst. Kombinasi antara formasi karst unik, pengaruh pasang surut, dan karakter pulau kecil inilah yang menciptakan keunikan dan kerentanannya dibanding sistem karst lain di Indonesia,” papar lulusan teknik UGM yang melanjutkan studi ke Universitas Teknologi Delft, Belanda, kepada Mongabay melalui email, Sabtu (22/11/2025).
Sebagai pulau karbonat, Banggai tidak hanya menyajikan keindahan yang tampak di permukaan. Tetapi juga, dunia kedua di bawah tanah. Ekosistem unik yang kaya akan informasi ilmiah namun rentan dan butuh perlindungan.

Terbesar
“Sejauh informasi dan pengetahuan yang kami miliki, sistem lubang Oang Buloling ini merupakan sistem goa bawah air yang terbesar di Indonesia,” ungkap Juswono Budisetiawan, kepada Mongabay, Rabu (19/11/2025). “Dari permukaan luweng sampai ke danaunya saja 50 meter kedalamannya. Dari permukaan danau lalu menyelam ke bawah sedalam 42 meter baru ketemu atap lorongnya.”
Juswono yang menjadi koordinator lapangan ekspedisi menerangkan, kala itu para penyelam dibagi menjadi dua tim. Tim pertama berhenti pada kedalaman 42 meter saat menemukan atap lorong horisontal. Tim kedua, dengan membawa tabung udara lebih banyak, melanjutkan sampai kedalaman 66,6 meter yang sebenarnya sudah sangat ekstrem bagi kegiatan penyelaman gua.
“Nah, di kedalaman 66,6 meter itu kami ketemu dengan chamber super besar, yang semuanya ada di bawah air,” ungkapnya yang memiliki lisensi kecakapan penyelaman goa dari International Association of Nitrox and Technical Divers (IANTD), Britania Raya.
Tim memiliki dugaan, lubang Oang terhubung dengan Buloling, gua bawah laut yang terletak di pesisir mangrove di Desa Sambulanga. Jarak dua titik ini di atas permukaan sekitar 600-900 meter. Untuk membuktikannya, tim menyelam di Buloling.
“Kami menyelam vertikal melewati lubang dengan diameter sekitar 20 meter. Turun sampai kedalaman 55 meter, baru ketemu atap lorong gua yang mengarah ke lubang Oang. Di kedalaman itu sorot cahaya dari senter yang kami bawa tidak bisa menjangkau dasar. Padahal kami membawa senter dengan kekuatan 8.000 lumens.”
Sebagai perbandingan, di darat senter berkekuatan 1.000 lumens dengan fokus reflektor memiliki jarak jangkauan hingga sekitar 300 meter.
“Dengan visibility sekitar 15-20 meter kala itu, saat sorot senter diarahkan ke samping kanan kiri dan bawah semua tidak menyentuh batas,” ungkap Juswono lagi.

Lapisan korosif
Tim ekspedisi juga menemukan fenomena cenote, sinkhole berisi air, yang memiliki lapisan hidrogen sulfida (H2S) sangat tebal.
“Hidrogen sulfida di air yang tergenang itu merupakan hasil perombakan bahan organik. Umumnya, yang saya tahu hanya sampai kedalaman sekitar 2 meter. Tapi di lubang Oang itu kami menemukan dari kedalaman 20-36 meter dan itu bersifat korosif. Kalau ia berinteraksi dengan unsur oksigen dari air, bisa membentuk H2SO4 atau asam sulfat.”
Uniknya, tim justru menemukan beberapa jenis udang yang bisa hidup di atas lapisan H2S. Padahal, lapisan itu sekaligus memberi batasan adanya kehidupan di atasnya dan tanpa kehidupan di bawahnya.
“Kami menduga, jenis udang ini adalah scavenger atau detritus yang memanfaatkan kemampuannya yang toleran dengan H2S untuk mendapatkan keuntungan memperoleh makanan, berupa sisa-sisa bangkai hewan atau materi organik yang telah mati,” paparnya.
Juswondo yakin, jika diteliti lebih jauh akan banyak mikrobia baru yang ditemukan, yang bermanfaat secara ilmu pengetahuan dan berpotensi diterapkan dalam berbagai bidang. Selain menjumpai jenis udang yang mampu hidup di lapisan korosif, tim juga menemukan jenis ikan yang memiliki morfologi tidak biasa. Semuanya menunggu penelitian lebih lanjut.
Temuan menarik lainnya adalah fenomena saat menyelam berupa white rain. Ini merupakan istilah yang digunakan para diver untuk menggambarkan jatuhnya butiran halus dalam air yang terlihat seperti hujan putih. Fenomena ini menjadi yang dirindukan para diver karena terlihat magis dan memberikan pemandangan menakjubkan. Dalam bahasa lokal mereka menyebutnya sebagai udan maote.
Lewat temuan-temuan yang membuka mata ini, Banggai tak hanya menawarkan kekayaan pengetahuan bagi riset, tetapi juga peluang besar bagi pengembangan wisata minat khusus berbasis konservasi. Terutama, penyelaman gua yang sangat diminati komunitas internasional.
*****