- Pasaman, Sumatera Barat, bukan hanya melahirkan sejarah perjuangan Tuanku Iman Bonjol dan Tuanku Rao, juga sejarah peradaban Hindu-Buddha dari abad ke-12 hingga 15 Masehi.
- Pasaman selain wilayah hulu Sungai Rokan, Batang Siak, Batang Kampar, dan Sungai Pasaman, juga dikenal sebagai habitat harimau sumatera, serta kaya dengan emas.
- Pengetahuan yang terbangun dari sejarah peradaban Pasaman, yakni kearifan luhur terhadap air dan harimau sumatera.
- Pentingnya melestarikan sejarah peradaban Pasaman, guna mengantisipasi ancaman aktivitas ekonomi ekstraktif seperti perkebunan skala besar dan penambangan emas ilegal.
Pasaman, Sumatera Barat, yang wilayahnya seluas 394.763 hektar, bukan hanya melahirkan sejarah perjuangan Tuanku Iman Bonjol dan Tuanku Rao melawan pemerintahan Hindia Belanda. Ada juga sejarah peradaban Hindu-Buddha dari abad ke-12 hingga 15 Masehi. Pengetahuan apa yang dilahirkan dari peradaban tersebut?
Mengutip artikel “Kepurbakalaan di Bukit Koto Rao, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat” yang ditulis Ery Soedewo, Sri Sugiharta, Andri Restiyadi, dan Stanov Purnawibowo, yang dipublikasikan Balai Arkeologi Sumatera Utara pada 2016 lalu, menjelaskan berbagai situs purbakala di Pasaman.
Misalnya, situs Arca Dwarapala di Padang Nunang, Prasasti Kubu Sutan di Lubuk Layang, Candi Pancahan di Tarung-Tarung, Candi Tanjung Medan, serta Prasasti Ganggo Hilia yang baru ditemukan pada 2004. Semua situs purbakala tersebut berada di sekitar sungai atau bukit, yang terhubung.
Dituliskan pula, Bukit Koto Rao adalah suatu kawasan purbakala berupa sisa-sisa struktur bangunan yang menjadi penanda suatu peradaban berlatar Hindu-Buddha, antara abad ke-12 hingga ke-14 M.
Seperti halnya di Pulau Jawa, kepurbakalaan di Bukit Koto Rao berfungsi sebagai tempat peribadatan penganut Hindu atau Buddha, yang dalam khazanah dunia kepurbakalaan Indonesia disebut candi.
Di situs purbakala tersebut, juga ditemukan artefak keramik dari Tiongkok pada masa Dinasti Sung Selatan hingga masa Dinasti Yuan (abad ke-13 M hingga akhir 14 M). Keberadaan artefak ini membuktikan di masa lalu, Pasaman atau Rao sudah terhubung dalam jaringan perdagangan international.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Ery Soedewo membenarkan hingga abad ke-15 Pasaman masih dipengaruhi Hindu-Buddha. “Seperti di Jawa, pada abad yang sama Hindu-Buddha masih ada pengaruh cukup kuat. Majapahit masih eksis dan punya pengaruh, setidaknya hingga abad ke-16 M,” terangnya kepada Mongabay Indonesia, Rabu (19/11/2025).
Selain artefak purbakala, berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia, toponimi di Pasaman juga menunjukan pengaruh Hindu Buddha. Misalnya nama Rao, yang dalam Bahasa Sanskerta berarti “raja” atau “pangeran”. Kemudian nama “koto” serapan dari kata “kotta” yang dalam Bahasa Sanskerta artinya benteng, perkubuan, atau rumah dibentengi.
Nama lain yang kemungkinan besar pengaruh dari India adalah “ganggo”, diserap dari kata gangga, yang menunjukan nama Sungai Gangga di India.
Di Pasaman, tiga kata tersebut menandai nama kecamatan dan nagari, seperti Rao, Koto Kaciak, Koto Nopan, Koto Rajo, Koto Gadang, Limo Koto, Ganggo Hilia, dan Ganggo Mudiak.

Air dan harimau sumatera
Keberadaan air sangat penting di Pasaman. Perbukitan dan hutan (Bukit Barisan) di Pasaman merupakan penjaga sumber mata air atau hulu dari Sungai Rokan, Batang Siak, dan Batang Kampar yang mengalir ke Pesisir Timur Sumatera, serta Batang Pasaman yang mengalir ke Pesisir Barat Sumatera.
Prasasti Ganggo Hilia yang diperkirakan berasal dari ke-14 atau 15 Masehi, yang ditemukan di sekitar Sungai Batang Bubus pada 2004, isinya menjelaskan berupa pengumuman pengaturan tentang penggunaan atau pemanfaatan air untuk manusia dan hewan, seperti sapi dan kerbau.
“Isi prasasti ini menjelaskan bahwa ada aturan atau kebijakan terkait penggunaan air yang bukan hanya untuk manusia juga makhluk hidup lainnya. Ini sesuai falsafah masyarakat Minangkabau dalam perkembangan selanjutnya, yang menyatakan alam adalah guru,” kata Arbi Tanjung, pekerja budaya dan sastrawan yang menetap di Pasaman, Rabu (19/11/2025).
Di balik aturan tersebut, kata Arbi, sejak dahulu ada kesadaran dari penguasa atau masyarakat tentang menjaga air, baik mata air atau sungai kecil di Pasaman, yang merupakan hulu sejumlah sungai besar, yang mengalir ke pesisir barat dan timur Sumatera.
Masyarakat Pasaman juga mengibaratkan sungai seperti makhluk hidup atau biotik. Ibarat pohon. Maka penyebutan struktur sungai, yakni aliran besar disebut batang, anaknya disebut dahan, lebih kecil lagi disebut cabang, ranting, tangkai, hingga tampuk atau mata air.

Harimau sumatera adalah satwa endemik Pulau Sumatera, artinya di dunia ini hanya ditemukan di Sumatera. Kondisinya kritis. Populasinya tersebar di berbagi kantong atau habitat, termasuk kawasan hutan lindung di Pasaman. Kawasan hutan lindung di Pasaman, seperti Cagar Alam Rimbo Panti, merupakan bagian dari lanskap harimau sumatera dari Cagar Alam Maninjau hingga Batang Gadis.
Seperti wilayah lainnya di Sumatera, manusia hidup harmonis dengan harimau, berbagi ruang hidup, air, makanan, dan udara. Harimau sangat dihormati masyarakat Pasaman, yang diibaratkan leluhur. Dipanggil “inyiak” dan diyakini pula adanya hubungan mistis antara harimau sumatera dengan manusia.
Bahkan jika ditemukan harimau sumatera mati, jasadnya oleh masyarakat Pasaman dikuburkan layaknya manusia. Dikafani kain panjang, dan dikuburkan secara baik. Hubungan harmonis manusia dengan alam, yang menjadi pengikat akulturasi yang berlangsung di Pasaman, dari masa klasik hingga moderen.
“Siapa pun yang hadir di Pasaman, baik dari daratan Timur Tengah, India, Afrika, Eropa, Asia Timur, dengan beragam latar belakang budaya dan kepercayaan, harus hidup harmonis dengan alam. Khususnya, dengan harimau dan menjaga air,” kata Arbi.

Ancaman
Ancaman nyata bentang alam di Pasaman saat ini adalah perkebunan monokultur skala besar dan penambangan emas ilegal, yang menyebabkan rusaknya hutan. Berbagai aktivitas tersebut memberikan dampak bencana, seperti longsor, keruhnya air sungai, banjir, serta konflik manusia dengan harimau sumatera.
Data BPS (Badan Pusat Statistik) Pasaman 2021, menunjukkan perkebunan monokultur di Pasaman terdiri karet (32.594 hektar), coklat (16.850 hektar), sawit (4.883 hektar), kelapa (2.257 hektar), dan pinang (1.933 hektar). Tada 2024, perkebunan sawit dikembangkan pemerintah Pasaman menjadi 14.000 hektar.
Dikutip dari artikel “Tambang Salido, Jejak Tambang Emas Tertua yang Terlupakan” yang ditulis Putera Salim di padangkita.com, disebutkan seorang penyair Portugis, Luiz de Camoens (1524-1580), menulis Os Lusiadas tentang Gunung Ophir. Sebuah gunung kaya emas, yang diperdagangkan penduduk lokal dengan orang asing.
Gunung Ophir, mengutip Suryadi, ahli filologi dan pengajar di Universitas Leiden, Belanda, diperkirakan berada di Pasaman. Besar kemungkinan gunung tersebut adalah Gunung Talamau.
Ini artinya, Pasaman sejak dulu dikenal sebagai wilayah kaya emas. Namun, VOC maupun pemerintahan Hindia Belanda, tidak pernah melakukan eksploitasi emas di Ophir atau Gunung Talamau di Pasaman. Mereka justru melakukannya di Salido, Pesisir Selatan.
Alasannya, mungkin begitu banyaknya sumber emas di Sumatera Barat. Dikutip dari buku “The History of Sumatera (1783)” yang ditulis William Marsden, pada masa itu di wilayah Minangkabau terdapat sedikitnya 1.200 lokasi tambang emas.
“Sebenarnya terjadi eksploitasi emas di Pasaman oleh pemerintahan Hindia Belanda. Tepatnya, di wilayah Talamau. Tapi tidak berlangsung lama. Hanya empat tahun, dari 1925-1929. Banyak penolakan dari masyarakat Pasaman,” ujarnya.
Saat ini, ketika terjadi liberalisasi penambangan mineral di Indonesia, muncul banyak penambangan emas ilegal di Indonesia, termasuk juga di Pasaman. “Penambangan jelas merusak lingkungan, dan banyak masyarakat di Pasaman menolak,” kata Arbi.

Apa upaya untuk mengatasi ancaman tersebut?
Mulyadi Putra, Ketua Pitamahadara (Peninggalan Purbakala & Budaya) Kabupaten Pasaman, memberikan tawaran berupa pengelolaan berbagai peninggalan purbakala di Pasaman.
“Misalnya, candi-candi tersebut dijadikan laboratorium alam. Baik sebagai sumber pengetahuan bagaimana para leluhur masyarakat Pasaman mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, juga dapat dijadkan objek wisata sehingga menjadi sumber ekonomi tambahan bagi masyarakat sekitarnya,” jelasnya.
Sementara Arbi melihat upaya menggali pengetahuan luhur di Pasaman, bukan hanya dengan mengelola berbagai peninggalan purbakala, juga menggali tradisi dan budaya lainnya, seperti sastra tutur.
“Yang terpenting, berbagai pengetahuan luhur tersebut disampaikan kepada generasi muda, sebab di masa depan mereka akan merasakan dampak negatifnya jika alam atau lingkungan rusak.”
*****