- Kasus penculikan seorang anak, Bilqis, dari Makassar, Sulawesi Selatan, ditemukan di Jambi, membawa rentetan panjang bagi Orang Rimba. Begendang, yang kebetulan Komunitas Orang Rimba, mengadopsi anak itu dari pelaku penculikan yang mengaku sebagai orangtuanya. Kasus terungkap, tetapi yang menjadi ikutan semua Komunitas Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SDA) terbawa-bawa.
- Orang Rimba pun khawatir karena mereka sudahlah hidup dalam keprihatinan, berupaya bertahan hidup setelah hutan mereka terberangus, hidup pula dengan berbagai stigma. Mereka khawatir, Orang Rimba kena stigma sebagai penculik anak.
- Temenggung Njalo, Ketua Rombong Orang Rimba di SPI bertanya-tanya, mengapa tindakan personal atau segelintir orang tetapi yang terbawa-bawa seluruh komunitas. Dia menyesalkan publik, sosial media maupun media langsung melabeli seakan seluruh Kelompok Suku Anak Dalam sebagai pelaku.
- Orang Rimba hidup di tengah ruang hidup mereka yang hilang. Robert Aritonang, Antropolog KKI Warsi, mengatakan, Orang Rimba, tanpa akses terhadap tanah, pendidikan, dan pekerjaan, mereka menjadi mudah jadi sasaran kesalahan ketika ada masalah. Padahal mereka korban dari sistem yang menyingkirkan.
Suara Begendang terdengar lirih dari ujung saluran telepon. Beberapa kali dia menghela napas menceritakan ketika namanya menjadi viral karena terjebak dalam sindikat penculikan anak bernama Bilqis, dari Makassar ke Jambi.
“Kami tidak tahu, kami pikir anak itu diserahkan orang tuanya sendiri,” katanya pelan.
Di sampingnya, istrinya, Melikay, anak dari Temenggung Sikar, terdengar mengamini apa yang dikatakan suaminya pelan.
Semua berawal dari ketika Melikay pulang dari kebun sawit melihat keramaian di pemukimannya.
Semua anggota rombong Temenggung Sikar berkumpul, dia cuma melihat ada seorang anak perempuan datang bersama orang tuanya ingin menawarkan adopsi pada mereka.
Anggota lainnya tidak memiliki uang. Melikay punya empat anak dan satu keponakan yang dia asuh seusia dengan anak itu. Hatinya iba, lalu dia bilang ke Begendang untuk mengadopsi anak itu.
Mereka mengaku membayar uang adopsi Rp85 juta dari orang yang mengaku menjadi orang tua Bilqis dan membawa surat penyerahan.
Belakangan baru terungkap ternyata Bilqis adalah korban penculikan dari Makassar.
Anak itu sempat berpindah tangan tiga kali sebelum akhirnya sampai di tangan Begendang dan Melikay.
“Kami percaya saja, karena dibilang suratnya sah. Kami tidak bisa baca,” ujar Begendang.
“Baru setelah ramai di media sosial kami tahu, itu anak hilang.”
Anak itu hanya tinggal tiga atau empat hari bersama mereka. Setelah kabar penculikan mencuat, Begendang dan istrinya panik. Mereka sempat mengungsi ke permukiman lain, lalu mengembalikan anak itu setelah uang mereka dikembalikan.
“Kami tidak menculik, kami pikir menolong. Tapi sekarang kami jadi malu, orang bilang kami jahat,” katanya dengan mata berkaca.

Bola liar, Orang Rimba waswas
Malam itu, 8 November 2025, sekitar pukul 03.00 dini hari, Temenggung Njalo dikejutkan suara tangis di luar rumahnya di SP I, Desa Muara Delang, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi.
Dalam remang lampu minyak, dia melihat sosok yang dikenalnya, Begendang, warga Orang Rimba dari rombong Sikar di Desa Mentawak, Kecamatan Nalo Tantan, Merangin.
Di depannya, Melikay ikut menangis sambil mengelus kepala seorang anak kecil. Tak jauh, beberapa orang tampak berdiri di dekat mobil.
“Aku kira ada kecelakaan,” kata Ketua Rombong Orang Rimba di SPI ini mengenang malam itu.
“Ternyata anak itu dijemput polisi.”
Saat proses penjemputan berlangsung, Njalo menjadi saksi. Dari depan rumahnya, dia melihat rombongan datang dengan mobil.
“Rame-rame malam-malam,” katanya.
“Anak itu dijemput, dan Begendang menangis.”
Tangisan Begendang malam itu bukan hanya ketakutan, tetapi juga karena sudah terlanjur terikat batin dengan anak itu.
“Dia sayang sama anak itu.”
Di media sosial, juga media tak hanya Begendang yang jadi perbincangan, juga komunitas seolah-olah itu aksi kelompok suku. Bahkan, ada yang memposting anak Orang Rimba seakan anak hilang yang lain. Kondisi ‘liar’ ini membuat Komunitas Orang Rimba waswas dan tertekan.
Tumenggung Njalo menarik napas panjang. “Sekarang, nama Anak Suku Dalam yang jelek,” katanya pelan.
“Aku dibilang penculik.”
Dia bertanya-tanya, mengapa tindakan personal atau segelintir orang tetapi yang terbawa-bawa seluruh komunitas.
“Kelakuan salah satu orang saja, tapi sekarang seolah semua kena.”
Dia tahu, kasus dugaan penculikan dan jual beli anak yang menyeret beberapa anggota komunitas mereka sedang aparat dalami, sampai saat ini belum terbukti bersalah.

Namun dia menyesalkan publik, sosial media maupun media langsung melabeli seakan seluruh Kelompok Suku Anak Dalam sebagai pelaku.
“Pintaku, semua pihak, tolong jangan menekan kami,” katanya dengan nada memohon.
“Apapun sukunya, jangan disamakan. Jangan semua Anak Suku Dalam dibilang pelaku.”
Dia memberi perumpamaan sederhana. “Contoh, kalau di Sarolangun ada orang menculik anak, masa semua orang Jambi dibilang penculik?” tanyanya. “Kan tidak begitu.”
Tumenggung Ngilo juga khawatir kasus ini jadi bola liar hingga rentan membuat stigma Orang Rimba atau SAD sebagai kelompok penculik anak.
“Jadi kambing hitam semua. Kami sangat ketakutan. Itu tidak bisa jadi seperti itu. Tidak adil artinya.”
Njalo sedih karena nama Orang Rimba tercoreng. Padahal, katanya, akar masalahnya lebih dalam, dari kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, dan tekanan dari luar hutan. “Kami disalahkan, padahal kami juga korban,” katanya.
Nada suaranya meninggi sejenak, bukan karena marah, tetapi terluka oleh stigma. Dia merasa masyarakat adat seperti dirinya kerap jadi tumpuan kesalahan kolektif setiap kali ada perbuatan sebagian kecil orang.

Mereka yang kehilangan ruang hidup, perlindungan lemah
Robert Aritonang, antropolog KKI Warsi, melihat kasus ini bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan gejala dari perubahan sosial yang dalam.
“Kita tidak bisa melihat ini hanya dari sisi moral individu. Ini hasil dari kombinasi tekanan ekonomi, kehilangan sumber hidup, dan lemahnya perlindungan sosial bagi masyarakat adat,” katanya.
Robert mendampingi Komunitas Orang Rimba lebih dari tiga dekade. Dia menyaksikan perubahan drastis melanda Kelompok Temenggung Sikar dan lainnya di Jambi.
“Dulu, 1980-an, daerah itu masih hutan semua. Sekarang jadi perkebunan sawit. Mereka tidak pindah ke sini, hutannya yang pergi meninggalkan mereka.”
Dulu, kata Robert, Orang Rimba bisa mencari kancil atau babi hutan untuk makan. Kini, lauk harus mereka beli dengan uang, sementara sumber penghasilan mereka hilang.
“Mereka terjepit di lapisan sosial paling bawah. Tanpa hutan, tanpa pekerjaan tetap, tapi kebutuhan terus menuntut.”
Dalam kondisi seperti itu, ketika ada yang datang membawa tawaran adopsi anak dengan surat resmi, sebagian orang percaya begitu saja.
“Masalah numerasi, literasi, dan keterbatasan mereka dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan. Orang Rimba jadi sasaran empuk,” kata Robert.
Dia bilang, sistem kekerabatan Orang Rimba berbeda dari masyarakat luar. Mereka menganut pola keluarga luas yang komunal.
Seorang anak bisa tinggal di mana saja, selama masih dalam garis kerabat.
“Jadi, kalau ada anak di kelompok mereka, akan dianggap bagian dari keluarga besar. Mereka akan memperlakukannya seperti anak sendiri.”
Dia duga, hal itu pulalah yang bikin Begendang dan Melikay, tidak curiga. Mereka menerima Bilqis dengan kasih, bahkan merasa kehilangan ketika anak itu diambil kembali.
“Mereka pasti sedih, tapi bukan karena marah. Mereka tahu anak itu kembali ke keluarganya.”
Di balik empati itu, Robert mengingatkan bahaya yang lebih besar: hilangnya konteks budaya Orang Rimba.
“Dulu, mereka punya sistem adat untuk menyelesaikan pelanggaran. Tapi setelah hidup di luar hutan, semua norma kehilangan akar. Dunia berubah, tapi mereka tidak dibekali cara baru untuk memahami perubahan itu.”
Negara, katanya, harus melakukan sesuatu, “Ini tanggung jawab negara. Negara harus membangun sistem sosial ekonomi yang menjamin hak hidup dasar mereka.”
Dia contohkan, kelompok Orang Rimba kini hidup berdampingan dengan ribuan pendatang yang bekerja di perkebunan.
“Bayangkan, sembilan unit permukiman baru bisa menampung 5.000 keluarga, masing-masing mendapat lahan tiga hektar. Tapi Orang Rimba? Tidak satu pun punya lahan tetap.”
Tanpa akses terhadap tanah, pendidikan, dan pekerjaan, mereka menjadi mudah jadi sasaran kesalahan ketika ada masalah.
“Padahal mereka korban dari sistem yang menyingkirkan,” kata Robert.
Kasus Bilqis, katanya, hanya satu dari banyak persoalan. “Kalau negara tidak hadir dengan pembangunan yang manusiawi, bukan hanya Orang Rimba yang berbahaya kondisinya, juga bagi kita semua.”
***
Begendang tidak lari kemana-mana, dia tetap di rumahnya setelah penjemputan Bilqis. Dia sempat mendatangi Polres Merangin untuk mengklarifikasi tudingan menjadi salah satu bagian sindikat penculikan anak.
Dia cerita kalau uang yang dia berikan untuk mengadopsi Bilqis dari hasil kebun sawitnya dengan luas belasan hektar.
Begendang juga mengirimkan Mongabay bukti surat yang ditandatangani Polrestabes Makasar yang menjemput Bilqis.
Di sana tertuang tiga poin kesepakatan bahwa kepolisian berterima kasih pada Kelompok Suku Anak Dalam. Polisi juga tidak menuntut SAD dan memberikan video ucapan terima kasih.
“Polisi yang jemput itu tanda tangan sudah waktu jemput anak itu, dan mengucapkan terima kasih pada kelompok kami. Tapi sekarang malah kami dituding sebagai penculik,” katanya.

*****