- Emisi pembakaran sampah plastik dan fragmentasi sampah plastik yang terakumulasi secara terbuka membuat partikel mikroskopis plastik ikut terlepas ke udara bersama asap dan debu saat pembakaran sampah plastik. Partikel terbawa angin dan mengalami pengembunan di atmosfer yang selanjutnya turun kembali ke permukaan bumi bersama butiran hujan.
- Tim peneliti Ecoton menguji kualitas air di 12 titik di Malang Raya. Air berasal dari sumber air, sumur, air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), air isi ulang dan air rebusan. Hasilnya, 11 dari 12 sampel terkontaminasi mikroplastik.
- Ecoton bekerjasama dengan SIEJ meneliti kualitas udara di 18 kota. Hasilnya, Jakarta Selatan ditemukan mikroplastik tertinggi dengan konsentrasi 30 partikel dalam dua jam pengambilan sampel. Sedangkan jumlah terendah dicatat di Malang dengan dua partikel dalam dua jam pengambilan.
- Eko Sri Yuliadi, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang menyatakan, perlu upaya bersama untuk kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Untuk kurangi sampah plastik, Pemerintah Kota Malang akan menyediakan mesin air minum isi ulang di setiap kelurahan.
Herlina Septi Andini, warga Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) kaget menyusul penelitian Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) yang menyebut air hujan di Malang terpapar mikroplastik. Apalagi, kelimpahan mikroplastik di Blimbing tertinggi dibanding empat daerah lain.
“Kaget juga sih kok di tempat saya lebih banyak. Padahal, kayaknya sehari-hari lingkungan tempat saya polusinya tidak terlalu banyak,” katanya kepada Mongabay.
Rumahnya berada selemparan batu dari Pasar Blimbing. Tinggal di perumahan, katanya, jarang ada yang membakar sampah. Dia pun penasaran mengapa air hujan di rumahnya memiliki kandungan mikroplastik tertinggi.
Herlina turut mengumpulkan air hujan untuk bahan riset Ecoton. Dia tertarik isu lingkungan, sampah dan mikroplastik.
Dia bahkan mengikuti pameran dampak mikroplastik oleh Ecoton di gedung Malang Creative Center (MCC).

Pembakaran?
Ecoton mendapati air hujan di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu) terpapar mikroplastik. Riset pada 7-9 November 2025 itu mengambil lima titik sebagai lokasi sampel. Yakni Sudimoro, Gadang, Merjosari, Blimbing dan Singosari di Kabupaten Malang.
Konsentrasi tertinggi mikroplastik di Blimbing, dengan 98 partikel per liter. Jenis mikroplastik yang paling dominan berupa fiber yakni serat halus plastik sintetis dengan cakupan 80% dari total partikel.
Kemudian, film/filamen yakni lapisan tipis dari kantong plastik atau kemasan sekali pakai dan fragmen berupa pecahan kecil plastik keras.
Di Singosari dengan 32 partikel, Kelurahan Merjosari (30) , Gadang (19) dan Sudimoro delapan partikel.
Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton,mengatakan, mikroplastik terdistribusi ke atmosfer dan mengalami deposisi basah (wet deposition) melalui air hujan.
Fenomena ini terjadi karena emisi pembakaran sampah plastik dan fragmentasi sampah plastik yang terakumulasi secara terbuka.
“Partikel mikroskopis plastik ikut terlepas ke udara bersama asap dan debu saat pembakaran sampah plastik,” kata Rafika.
Partikel itu kemudian terbawa angin dan mengalami pengembunan di atmosfer. Selanjutnya turun kembali ke bumi bersama hujan.
“Mekanisme ini terkenal sebagai wet deposition. Udara tercemar menjadi medium baru penyebaran plastik.”
Temuan ini, katanya, menegaskan secara konkret bahwa polusi mikroplastik menjadi ancaman serius pada kualitas udara ambien dan sumber air.
Data sumber kontribusi mikroplastik pada air hujan dari sektor pembakaran sampah plastik sebagai kontributor dominan mencapai 55%.
Sedangkan sektor transportasi terjadi melalui abrasi ban dan aspal dengan kontribusi 33,3%. Untuk sektor rumah tangga, termasuk laundry dan tekstil domestik 27,7% dan sampah kemasan 22%.

Serupa di Surabaya
Selain Malang, temuan sama juga terjadi di Surabaya. Riset pada 11-14 November 2025 berlangsung di Pakis Gelora, Tanjung Perak, HR, Muhammad, Wonokromo, Ketintang dan Darmawangsa.
Hasilnya, konsentrasi mikroplastik tertinggi di daerah Pakis Gelora dengan 356 partikel per liter; Tanjung Perak 309 partikel; HR Muhammad 135, Wonokromo 77 partikel dan Gunung Anyar 66 partikel.
“Tingginya tingkat pencemaran mikroplastik dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Pakis Gelora kadar mikroplastik tinggi karena terdapat aktivitas pembakaran sampah dan lokasi yang berdekatan dengan pasar dan jalan raya,” kata Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye Ecoton.
Mikroplastik dalam air hujan berasal dari kegiatan pembakaran sampah plastik, aktivitas jalan raya seperti gesekan antara ban dengan aspal.
Air minum, dorong aturan
Selain air hujan, tim peneliti Ecoton juga menguji kualitas air di 12 titik di Malang Raya. Air berasal dari sumber air, sumur, air dari PDAM, air isi ulang dan air rebusan. Hasilnya, 11 dari 12 sampel terkontaminasi mikroplastik dengan kelimpahan satu sampai sembilan partikel.
Mikroplastik yang teridentifikasi sebagian besar dari film atau filamen. Itu berarti kontaminan berasal dari plastik sekali pakai. Seperti kantong kresek, sedotan dan kantong plastik.
Purnawan Dwikora Negara, Pakar Hukum Lingkungan Universitas Widyagama Malang, mendorong pemerintah merespons temuan tersebut agar tidak menjadi bencana di kemudian hari.
Menurut dia, paparan mikroplastik pada air hujan jelas mengganggu ruang hidup. “Hak hidup merupakan pelanggaran HAM.”
Mikroplastik, katanya, adalah masalah multi dimensi, mengganggu rantai makanan dan kesehatan. Karena itu, dia mendesak Pemerintah Malang Raya membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang Pengendalian Plastik Sekali Pakai.
Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye Ecoton menyatakan, telah menyusun naskah akademik Perda Pengendalian Plastik Sekali Pakai bersama akademisi di Malang.
Regulasi itu perlu untuk mencegah, sekaligus upaya mitigasi mengendalikan sampah plastik. “Anggota DPRD Kota Malang telah bersepakat mengajukan Perda inisiatif tahun depan.”
Dito Arief Nurakhmadi, Wakil Ketua Komisi C bidang Pembangunan, DPRD Kota Malang, menyatakan, telah mengajukan rancangan peraturan daerah (ranperda) itu melalui Badan Pembentukan Peraturan Daerah.
Dia berharap usulan ini bisa menjadi prioritas tahun depan. Sebagai solusi jangka pendek, Dito meminta Wahyu Hidayat, Wali Kota Malang mengeluarkan surat edaran atau instruksi terkait pembatasan plastik sekali pakai.
Eko Sri Yuliadi, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang menyatakan, perlu upaya bersama untuk kurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Untuk kurangi sampah plastik, katanya, Pemerintah Kota Malang akan menyediakan mesin air minum isi ulang di setiap kelurahan. “Setiap kelurahan dua mesin. Total ada 114 mesin.”
Anjungan air siap minum mandiri itu juga akan tersedia di sejumlah tempat keramaian seperti kawasan Kayutangan dan pasar tradisional.
Dia menjamin air minum telah lalui proses teknologi filterisasi dan ozonisasi jadi aman dan sehat. Harga Rp227 per liter atau Rp5.000 per galon.

Ancaman di udara
Ecoton bekerjasama dengan Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) meneliti mikroplastik di udara pada 18 kota di Indonesia.
Penelitian berlangsung pada Mei-Juli 2025 dengan memperhatikan variasi tipologi wilayah mulai kawasan urban padat, semi-perkotaan, pinggiran kota, dan lingkungan pendidikan.
Rafika menyebut, masa riset berlangsung pada masa peralihan menuju kemarau dengan pertimbangan kondisi atmosfer cenderung lebih stabil. Sehingga memungkinkan partikel mikroplastik di udara bertahan lebih lama tanpa terlarut atau terendapkan oleh hujan.
“Sehingga konsentrasi di udara ambien dapat terukur dengan lebih representatif,” katanya.
Kedelapan belas lokasi itu meliputi Aceh Utara, Kota Palembang, Kota Jambi, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Solo, dan Kota Surabaya. Lalu, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, Kota Kupang, Kota Sumbawa, Kota Pontianak, Kota Palu, dan Kabupaten Bulukumba.
Penelitian ini dengan memasang cawan petri kaca dengan kertas whatman basah di dalamnya di ketinggian 1-1,5 meter, mewakili zona pernapasan manusia dan terlindung dari gangguan langsung.
Cawan dibiarkan terbuka selama dua jam untuk menangkap partikel mikroplastik melalui deposisi alami. Setelah itu, menutup dan mengemas cawan untuk mencegah kontaminasi dan membawanya ke laboratorium Ecoto.
Di sana, tim memisahkan partikel mikroplastik dari material non-plastik menggunakan pinset steril di bawah mikroskop. Lantas memeriksa dengan mikroskop stereo untuk mengidentifikasi partikel mikroplastik berbentuk fiber, film, dan fragmen, disertai warna, dan ukuranmya.
Analisis partikel mikroplastik menggunakan Agilent Cary 630 FTIR Spectrometer. Tujuannya untuk mencocokkan spektrum inframerah dengan pustaka polimer standar.
Setelah itu, menghitung partikel yang spektrumnya sesuai dengan plastik sebagai mikroplastik. Protokol kendali mutu berlangsung ketat untuk mencegah kontaminasi silang.
Berdasarkan hasil analisis data jumlah mikroplastik udara terlihat variasi yang signifikan antar lokasi. Seperti jumlah partikel, jenis mikroplastik, maupun faktor lingkungan yang mepengaruhi distribusinya.
Rentang ukuran mikroplastik adalah 0.02-1.72 milimeter dengan jumlah tertinggi di Jakarta Pusat sebanyak 37 partikel.
Kelimpahan mikroplastik tinggi, katanya, akibat aktivitas penggunaan plastik sekali pakai. Selain itu, interaksi antar manusia menciptakan kondisi ideal untuk pelepasan mikroplastik ke udara.
Fragmen plastik dapat berasal dari kantong belanja, pembungkus barang, maupun sisa kemasan.
“Pasar Tanah Abang menjadi pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Intensitas lalu lintas kendaraan bermotor juga tinggi,” katanya.
Jumlah rata-rata mikroplastik tertinggi kedua di Jakarta Selatan, dengan konsentrasi 30 partikel dalam dua jam pengambilan sampel. Sebaliknya, jumlah terendah tercatat di Malang dengan dua partikel dalam dua jam pengambilan.
Temuan ini, katanya, menegaskan kelimpahan mikroplastik di udara sangat dipengaruhi intensitas aktivitas manusia dan minimnya vegetasi.
“Terutama di wilayah perkotaan. Mikroplastik berpotensi terhirup dan menimbulkan gangguan kesehatan karena membawa senyawa kimia berbahaya.”

Bagaimana langkah perbaikan?
Ukurannya mikroplastik yang sangat kecil memungkinkan partikel terhirup langsung melalui sistem pernapasan. Atau terbawa air hujan ke tanah, sungai, dan air tanah yang menjadi sumber air minum.
Untuk itu, perlu pengendalian yang komprehensif, seperti pembatasan plastik sekali pakai, pengaturan emisi kendaraan, pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, serta memperluas ruang terbuka hijau.
Selain itu, katanya, perlu edukasi publik dan penguatan sistem pemantauan udara berbasis riset untuk mengendalikan polusi mikroplastik.
Lebih jauh, partikel berukuran sangat kecil, termasuk nanoplastik, dapat menembus penghalang alveolar–kapiler, masuk melalui aliran darah, dan menyebar ke tubuh dan berpotensi mengganggu kesehatan.
Partikel ini dapat memicu respons imun sistemik, yang mempengaruhi metabolisme. Bahkan menembus darah-otak hingga berpotensi memicu efek neurotoksik.
Mikroplastik, di udara dapat membawa logam berat seperti timbal dan kadmium serta senyawa kimia berbahaya seperti Bisphenol-A (BPA), phthalates, dan flame retardants.
Temuan ini, kata Rafika, menjadi fenomena terbentuk siklus plastik atmosferik. Partikel plastik yang berasal dari pembakaran sampah mengalami kondensasi dan kembali ke bumi bersama hujan.
Partikel mikroplastik yang turun bersama air hujan bukan hanya mencemari lingkungan juga membuka jalur paparan baru bagi manusia melalui udara yang terhirup, air minum dan tanah.
Atas fenomena itu, Ecoton merekomendasikan pemerintah melarang membakar sampah plastik secara terbuka karena akan menjadi salah satu sumber utama partikel mikroplastik di atmosfer.
Selain itu, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Dominasi jenis mikroplastik fiber dan film dalam air hujan menunjukkan kontribusi besar dari kemasan dan plastik sekali pakai.”
Ecoton juga mendorong pengembangan penelitian dan pemantauan secara berkala mengenai mikroplastik pada air hujan. Serta mengintegrasikan isu mikroplastik dalam kebijakan kesehatan masyarakat.

*****