- Warga Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah, resah terhadap bangkitnya wacana proyek panas bumi Gunung Lawu yang sempat terhenti dua tahun lalu. Mereka pun menyuarakan penolakan.
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan Jenawi salah satu wilayah penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi (PSPE) dalam rilis mereka, Mei lalu.
- Warga khawatir sumber air maupun lahan pertanian terdampak. Tak hanya itu, geothermal di Gunung Lawu juga mengancam ekowisata, terutama pendakian. Sebagian warga Jenawi, terutama generasi muda, menggantung hidup di sini.
- Walhi Jawa Tengah menilai potensi dampak panas bumi di Gunung Lawu terhadap satwa dan tumbuhan setempat masif. Setidaknya, ada Jalak Lawu, macan tutul jawa, hingga surili atau monyet uban yang statusnya dilindungi di kawasan itu. Gunung Lawu juga jadi habitat bagi aneka tumbuhan dilindungi seperti anggrek endemik, edelweis, cantigi, sumbat kendi, hingga pohon ara.
Mimpi buruk Sartono, petani Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah, muncul lagi. Setelah dua tahun dia hidup tenang karena panas bumi Gunung Lawu batal, kini proyek yang mengancam ekologi itu bangkit. Bukan lagi di Tawangmangu, yang warga tolak sejak 2016, tapi di Jenawi, dekat ruang hidupnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengumumkan Jenawi salah satu wilayah penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi (PSPE) dalam rilis mereka, Mei lalu.
Sartono khawatir, pertanian kopi dan rempahnya terancam. Sumber air yang selama ini memenuhi kebutuhannya juga rawan lenyap.
“Saya baca di berbagai daerah proyek geothermal itu mengurangi sumber air warga sekitarnya, ada gas beracun yang bisa mencemari lingkungan juga. Pengeboran tanah yang dilakukan menyebabkan getaran dan gempa yang merusak pemukiman juga,” katanya.
Warga, tidak berhenti pada literasi dampak geothermal. Sebagian juga meninjau proyek serupa di Dieng, Banjarnegara. Hasilnya, sama seperti yang mereka baca, hingga kini warga mengorganisir penolakan.
“Saya enggak ikut ke Dieng, tapi saya pribadi menolaknya.”
Pria 59 tahun itu merasa hidup keluarga mereka sejahtera dari bertani. Dia dapat menyekolahkan anak, membiayai keluarga, dan memenuhi kebutuhan secara mandiri dari hasil panen.
Dia pun khawatir proyek panas bumi akan ganggu pertaniannya.
“Seperti di Dieng itu panas bumi mengeluarkan gas ke tanah yang mengurangi kesuburan akibatnya kentang yang ditanam hasilnya tidak maksimal. Kami tak mau seperti itu,” katanya, cemas.
Dari informasi yang dia dapat, pembangkit listrik ini membutuhkan air dalam jumlah besar. Dia pun merasa terancam, karena sebagian wilayah di Karanganyar sudah mengalami krisis air.
Krisis air mendorong dia menanam pohon dalam 10 tahun terakhir ini. Bersama komunitasnya, ribuan bibit beringin, gandapara, damar, hingga bisbul sudah tertanam.
“Gunung Lawu ini punya sebutan Gentong Karanganyar karena jadi sumber air utama.”
Gentong ini pun jadi sumber air Sragen, Wonogiri, Ngawi, hingga Magetan. Fungsi ekologi itu yang membuat Sartono yakin tak ada tempat yang sama seperti tempatnya sekarang.
Dia pun tidak akan pernah memilih iming-iming uang ‘ganti rugi’ untuk mendukung panas bumi.
“Kalau saya terima uang miliaran rupiah, terus saya pindah ke wilayah kota. Apa saya mau macul jalan, enggak mungkin bisa bertani lagi?”

Mengancam ekowisata
Tak hanya pertanian, geothermal di Gunung Lawu juga mengancam ekowisata, terutama pendakian. Sebagian warga Jenawi, terutama generasi muda, menggantung hidup di sini.
Eko Sudarmanto, pemandu wisata dan pendakian Gunung Lawu, menjelaskan, mata pencaharian bakal terganggu proyek ini.
“Kalau tidak ada pendaki atau pengunjung, lalu kami yang bekerja di bidang ini akan seperti apa?” katanya.
Eko bilang, potensi gas beracun dari panas bumi akan mengurangi keamanan pendaki. Warga lokal pun terancam paparan zat hidrogen sulfida.
Keselamatan, katanya, merupakan hal penting dalam pendakian. Gunung Lawu, merupakan salah satu gunung tinggi peminat pendaki dengan ribuan orang datang tiap pekan. Tiap 17 Agustus saja, pendaki bisa 700 orang dalam sehari.
Pria 34 tahun ini pun ikut menolak proyek yang akan masuk masuk Gunung Lawu sejak 2016 ini. Bentuk penolakan ini dia sebarluaskan, terutama ke komunitas-komunitas pendaki gunung.
“Pendaki gunung juga berhak mendapat udara yang bersih dan sehat, makanya kami ajak untuk menolak juga.”
Dia pun ikut memperbanyak pengetahuan dengan mendatangi proyek serupa di Dieng, beberapa bulan lalu. Bersama warga, mereka menyaksikan langsung dampak buruk pembangkit listrik tenaga panas bumi.
Eko menyoroti gempa yang kerap terjadi di Dieng. Jika proyek geothermal terealisasi di gunung lawu, dia khawatir efek yang sama akan meningkatkan status vulkaniknya jadi aktif.
“Terakhir meletus pada 1885, setelah itu kawah utama tertutup. Tapi muncul lagi di Pos 2 Cemorokandang yang mengeluarkan belerang.”
Anak kawah ini berpotensi meluas karena gempa dari dampak pengeboran sumur panas bumi. Jika terjadi, maka risiko bencana vulkanologi akan meningkat di sana dan menghentikan aktivitas pendakian, yang berujung matinya sumber pendapatan Eko dan warga lainnya.

Kata pemerintah
KESDM merespons penolakan warga dengan menyebut proyek geothermal tidak di Gunung Lawu, melainkan di Jenawi. Mereka juga melampirkan peta wilayah PSPE Jenawi.
Dugaan warga justru menguat, karena jarak antara wilayah PSPE dengan titik puncak Gunung Lawu cukup dekat. Rencana luas proyek itu 9.690 hektar.
Proyek wilaya panas bumi yang sudah pemerintah hapus seluas 60.030 hektar. Area PSPE Jenawi berada di wilayah yang sama, dengan luas lebih kecil dan terletak di tengah proyek lama.
Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, menjelaskan, telah menghapus Gunung Lawu sebagai wilayah kerja panas bumi.
“Tidak ada proses lelang maupun aktivitas eksplorasi di kawasan itu,” katanya dalam keterangan tertulis.
Survey di Jenawi, katanya, untuk memberikan landasan ilmiah bagi pemanfaatan energi panas bumi potensial hingga 40 MW. Nantinya, pengeboran setelah ada hasil survei pendahuluan yang tidak menyentuh kawasan sakral maupun hutan konservasi.
Aan Shopuanudin, Koordinator Jaga Lawu, membantah klaim itu. Menurut dia, Jenawi masih bagian dari Gunung lawu, tepatnya di kawasan lereng.
Pria yang gencar menolak geothermal sejak 2016 ini menilai KESDM hanya mengubah nama proyek setelah sebelumnya gagal karena penolakan.
“Sebelumnya di Jonggaran, Tawangmangu sejak 2016 itu letaknya di kawasan hutan Perhutani. Sekarang di area yang dekat pertanian dan pintu masuk pendaki.”

Pengubahan nama proyek tidak membuat warga memberikan restu, karena masih di dalam wilayah Gunung Lawu. Sementara, katanya, Jenawi memiliki cagar budaya seperti Candi Cetho dan Sukuh.
Dia bilang, kemungkinan masih ada lagi situs budaya lain yang terkubur. “Jadi selain mengancam pertanian, sumber air, dan kebencanaan, proyek ini mengganggu situs budaya di Gunung Lawu,” katanya.
Dampak multidimensi ini membuat penolakan panas bumi datang dari lintas elemen komunitas. Menurut dia, warga bukan anti pembangunan, tetapi tak mau pembangunan yang merusak.
“Masih banyak pilihan yang ramah lingkungan.”
Walhi Jawa Tengah menilai, risiko dampak panas bumi di Gunung Lawu terhadap satwa dan tumbuhan setempat masif.
Setidaknya, ada Jalak Lawu, macan tutul jawa, hingga surili atau monyet uban yang statusnya dilindungi di kawasan itu. Gunung Lawu juga jadi habitat bagi aneka tumbuhan dilindungi seperti anggrek endemik, edelweis, cantigi, sumbat kendi, hingga pohon ara.
Azalya Tilaar, Manajer Kampanye dan Media, Walhi Jateng menjelaskan, proyek geothermal ini berpotensi memicu deforestasi yang mengganggu keanekaragaman hayati di sana. Juga, berpotensi memfragmentasi kawasan hutan Gunung Lawu.
“Ruang hidup satwa dan tumbuhan endemik akan terpecah dan tidak utuh yang mengganggu perkembangan mereka.”
Kondisi itu, katanya, akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang berujung pada terganggunya penghidupan warga sekitarnya. Terutama sumber air yang akan berkurang drastis.
Gunung Lawu, katanya, merupakan area tangkapan air yang penting bagi berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Kerusakan ekologi disana akibat proyek ini berdampak serius dan mengancam kehidupan warga hingga satwa endemik di sana.”
Penolakan warga terhadap geothermal ini, menurutnya, bentuk kesadaran kolektif dalam menjaga ruang hidup. Sebab, Gunung Lawu bukan hanya sumber kehidupan karena hutan dan airnya, tetapi juga ruang sosial, budaya, dan spiritual yang selama ini masyarakat jaga.

*****