- Air hujan yang turun di Jakarta ternyata mengandung mikroplastik, partikel sangat kecil dan halus yang bisa memicu bahaya kesehatan dan lingkungan. Temuan itu berasal dari air hujan yang diambil dari pesisir Jakarta
- Pemicu hadirnya mikroplastik pada air hujan, adalah karena produksi sampah dan aktivitas pengolahannya yang masih belum tepat. Selain itu, industri juga ikut berperan dalam peningkatan melalui kegiatan di pabrik atau pusat pengolahan
- Pemerintah diminta untuk bisa memperbaiki pengelolaan sampah dengan memperkuat sistem reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang). Selain itu, daur ulang sampah kemasan juga harus didorong terus meningkat
- Perilaku masyarakat dan gaya hidup ikut menentukan perbaikan cemaran udara Jakarta dari mikroplastik. Kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai, atau bahan dengan mikroplastik dinilai menjadi pemicu kenaikan paparan partikel sekarang
Kabar bahwa air hujan di Jakarta mengandung mikroplastik, mengagetkan publik di dalam beberapa pekan ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun mengimbau pemerintah membuat kebijakan pemantauan mikroplastik atmosfer secara langsung. BRIN juga mendesak pemerintah melakukan inventarisasi polusi udara dan sampah plastik kota.
Muhammad Reza Cordova, Pakar Pencemaran Laut BRIN mengatakan, guna memperkuat sistem reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang), dapat mengendalikan paparan mikroplastik di udara.
Dia bilang, agar mikroplastik bisa terkendali di udara Jakarta, maka harus dilakukan pengelolaan sampah dengan memperkuat sistem reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang). “Termasuk, tidak membakar sampah secara terbuka,” jelasnya.
Reza katakan, kampanye sangat penting untuk meningkatkan kesadaran publik tentang perilaku buang sampah sembarangan.
“Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh sampah lokal, tetapi juga oleh pergerakan partikel plastik di atmosfer,” katanya.
Menurut dia mikroplastik bisa berpindah melalui udara dan kemudian turun bersama air hujan. Fenomena itu berpeluang terjadi di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Karena itu, selain sinergi antar instansi, perlu juga riset bersama untuk memantau kualitas udara dan air hujan di sejumlah kota besar.
Upaya itu harus diimbangi perbaikan pengelolaan limbah plastik di hulu. Termasuk, mengurangi plastik sekali pakai dan peningkatan fasilitas daur ulang.
Selain itu, industri tekstil juga harus menerapkan sistem penyaringan pada mesin cuci untuk menahan pelepasan serat sintetis.
Dia juga mengingatkan, perilaku warga di Jakarta dan sekitarnya untuk terus mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, atau tidak lagi membakar sampah sembarangan. Dengan begitu, warga turut berkontribusi untuk mencegah mikroplastik semakin meningkat.
Reza katakan, meningkatnya mikroplastik di atmosfer, berkaitan erat dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan kendaraan bermotor yang lebih dari 20 juta unit.
“Langkah Jakarta adalah cerminan warganya yang ada di bawahnya.”
Menurut dia, partikel mikroplastik sangat ringan dan mudah terbawa angin lalu jatuh bersama hujan.
Fenomena itu bersifat lintas wilayah dan memerlukan kerja sama lintas sektor. Karena itu, pendekatan pengendaliannya harus terpadu dari hulu hingga hilir.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Beracun
Reza menjelaskan, riset mikroplastik pada air hujan di Jakarta sudah berlangsung sejak 2022. Di mana, partikel-partikel plastik mikroskopis itu terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia.
Selama penelitian, rerata 15 partikel mikroplastik per meter persegi pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta. Umumnya, mikroplastik berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik.
Dia tambahkan, air hujan sebenarnya tidak mengandung racun karena turun bersama partikel mikroplastik, maka menjadi beracun dengan kandungan kimia aditif. Hal itu berisiko mengancam kesehatan manusia karena partikel itu akan turut terhirup siapapun yang tinggal di Jakarta.
Plastik, katanya, mengandung bahan aditif beracun seperti bisfenol A (BPA), dan logam berat. Bahan-bahan tersebut akan menjadi partikel mikro dan nanoplastik jika lepas ke lingkungan.
“Saat ada di udara, partikel akan mengikat polutan lain seperti hidrokarbon aromatik yang berasal dari asap kendaraan.”
Dampak kesehatan serius yang bisa muncul, antara lain, stres oksidatif, gangguan hormon, atau kerusakan jaringan. Selain kesehatan, lingkungan juga akan terdampak langsung karena sumber air permukaan dan laut berpotensi tercemari dan bisa masuk ke rantai makanan.
Menurut dia, air hujan bisa mengandung partikel mikroplastik karena siklus plastik sudah menjangkau atmosfer. Proses tersebut bisa mencapai udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri yang berada di darat atau laut.
Saat siklus plastik mencapai laut, berikutnya akan terus naik ke langit dan berkeliling bersama angin, kemudian turun lagi ke bumi bersama air hujan. Proses tersebut dinamakan atmospheric microplastic deposition.
Mikroplastik pada air hujan berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka.
Saat ini, Reza yang memimpin Tim Penelitian Sampah Plastik Laut di Pusat Riset Oseanografi BRIN memprioritaskan bagaimana modernisasi data dan infrastruktur untuk limbah padat bisa terwujud, pembakaran terbuka berhenti.
“Semua itu bertujuan agar kebijakan plastik bisa benar-benar berdasarkan basis data dan bisa dipertanggungjawabkan.”

Kesehatan
Annisa Utami, Pengajar Departemen Kesehatan Lingkungan Universita Gadjah Mada, Yogyakarta akui bahaya mikroplastik. Menurut dia, karakteristik perkotaan dengan padat penduduk memang berisiko lebih tinggi terkena paparan.
Risiko itu ada, karena warganya banyak bergantung pada plastik sekali pakai untuk kegiatan harian. Sementara, kesadaran warga untuk membatasi konsumsi plastik justru masih rendah.
Dia menyebut, keberadaan mikroplastik dalam darah dan organ manusia, sudah ditemukan melalui hasil riset secara global. Partikel tersebut juga terdapat pada sistem pencernaan. Hal itu membuktikan bahwa mikroplastik bisa masuk dan menetap dalam tubuh untuk waktu lama.
Meski menjadi ancaman bagi kesehatan manusia, perlu riset untuk mencari panjang untuk mengetahui dampaknya secara spesifik. Sebab, setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam melepaskan atau menahan partikel yang masuk ke tubuh.
“Itu membuat penelitian ini menjadi lebih kompleks,” katanya.
Saat ini, upaya terbaik adalah bagaimana mengurangi penggunaan plastik, termasuk oleh kalangan industri. Terlebih, ada peran strategis untuk mengembangkan sistem pengembalian kemasan dan daur ulang produk.
“Terutama produsen besar.”
Annisa mengatakan, keberadaan mikroplastik di atmosfer juga menegaskan bahwa siklus plastik kini sudah menjangkau seluruh lapisan lingkungan. Bahkan, hasil riset di Jepang menemukan bahwa mikroplastik ada di awan, itu memastikan bahwa polusi tersebut sudah bersifat global.
Fakta ini menjadi alasan kuat untuk menghentikan sumber paparan mikroplastik dengan cepat. Siapapun, harus bisa berkontribusi, karena dampaknya bisa semakin meluas jika sumber paparan masih terus memproduksi partikel.

Peran masyarakat
Etty Riani, Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari IPB University menyepakati kalau mikroplastik harus terus dicegah agar tidak semakin meningkat paparannya. Perlu dukungan dari masyarakat secara langsung, serta pemerintah sebagai pembuat kebijakan.
Warga dapat berkontribusi dengan mengubah gaya hidup menjadi ramah lingkungan dan fokus kembali ke alam.
Harapannya, hal itu bisa mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah sejak dari rumah, atau menghindari perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik. Dia pun ingatkan warga untuk waspada, karena mikroplastik memang tak bisa terlihat kasat mata. Guru
Besar dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) itu mengatakan kalau paparan mikroplastik bisa cepat menyebar paparan, karena beragam faktor. Namun, penyebaran akan semakin cepat karena faktor lingkungan.
“Faktor seperti suhu tinggi dan kondisi udara kering bisa mempercepat proses pelapukan plastik dan memudahkan partikel halus naik ke atmosfer,” kata pengajar pada Departemen Manajemen Sumber daya Perairan itu.
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan mengimbau, masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
“Tapi kalau tidak (menggunakan masker), usahakan jangan jalan di luar sesudah hujan karena ini turunnya dekat-dekat hujannya, partikelnya,” katanya.
*****