- Hutan di Pulau Sipora, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) kaya akan biodiversiti. Salah satunya primata. Rencana pengusahaan kayu oleh PT Sumber Permata Sipora (SPS) pun dikhawatirkan kian mengancam keberadaan satwa endemik yang kondisinya kian terdesak.
- Rizaldi, ahli primata asal Universitas Anndalas mengatakan, selama ini keberadaan primata di Mentawai terus tertekan akibat perburuan. Pemberian izin itu tak pelak akan makin menjadikan satwa endemik itu makin terdesak akibat rusaknya habitat.
- Triantoro Widyutomo peneliti dari Swara Owa merasa janggal jika hutan dengan vegetasi yang baik justru terdengar sunyi, tanpa ada suara satwa, termasuk primata. Menurutnya, situasi itu bisa terjadi akibat intervensi manusia dalam bentuk pembangunan jalan atau aktivitas dalam hutan yang kian padat.
- Fuad, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar mengatakan, SPS menyiapkan koridor satwa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Saureinu. Perusahaan juga menyiapkan 100 hektar lahan yang dialokasikan untuk perlindungan satwa, termasuk menyediakan kantong-kantong satwa di dalam blok konsesi.
Mata Rizaldi menyisir langit-langit kanopi hutan Goiso Oinan, Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Mereka sudah melewati kebun warga, barisan bambu rapat, semak belukar dan pohon-pohon meranti sebesar lima pelukan orang dewasa. Namun, telinganya tak juga menangkap suara yang jadi sasarannya, primata.
Berbekal kamera berlensa jarak jauh, dia coba membiding satwa endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) itu. Tak juga ada.
Rizaldi, doktor ahli primata dari Universitas Andalas (Unand) lulusan Jepang. Dia survei primata endemik ini di Sipora dari 20 Agustus 2025 bersama enam mahasiswa biologi Unand.
Belasan tahun lalu, perusahaan menebang habis hutan tempatnya berdiri. Kini, lahan itu milik pemuda di sana, Robert Choi.
Sampai matahari condong ke barat, Rizaldi tak juga mendengar suara satwa primata itu. Mereka pun putuskan terus masuk ke dalam hutan hingga menemukan pohon kruing atau jenis meranti besar yang berusia puluhan tahun.
Robert bilang, perusahaan kerap menawar pohon-pohon meranti tersisa itu hingga belasan juta. Dia tak ingin menjualnya. Uang hanya bertahan sebentar.
“Sementara dampak penebangan akan panjang ceritanya,” katanya.
Selain Goiso Oinan, rombongan Rizaldi juga mengunjungi Berkat, Desa Tuapeijat, yang sebagian masuk konsesi PT Sumber Permata Sipora (SPS). Terdengar suara chainsaw, diikuti hilir mudik mobil double cabin pembawa papan kayu. Kala itu, tampak dua rangkong tengah melintas.
Rizaldi katakan, tak banyak menemukan jejak satwa sepanjang oberservasinya berlangsung. Karena itu, dia merasa perlu untuk menambah durasinya.
“Kemarin sempat menemukan kubangan untuk babi hutan di Goiso Oinan dan biawak tadi di Berkat,” katanya.
Target Rizaldi adalah primata endemik Mentawai, seperti monyet ekor babi atau simakobu (Simias concolor), joja Pagai (Presbytis potenziani), joja Siberut (Presbytiis siberu), bokkoi (Macaca pagensis) dan bokkoi Siberut (Macaca siberu) dan owa Mentawai yang sering disebut bilou (Hylobates klosii).

Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Marak perburuan
Rizaldi menduga, sepinya primata Mentawai karena perburuan marak. Seorang pemburu yang Mongabay temui mengaku, beberapa spesies primata yang kerap jadi sasaran buruan adalah peipei atau joja dan masepsep.
Parahnya, aktivitas perburuan itu berlangsung sepanjang musim berkat kemudahan alat berburu, seperti senapan angin. Dulu, perburuan hanya tradisional berbekal panah beracun. Kini, pemburu bisa mudah mendapat senapan angin dari e-commerce.
Seorang pemburu lain menyebut, selain Sipora, perburuan itu juga terjadi di Pagai Selatan.
“Kalau di sini tidak ada aturan seperti di Siberut yang tidak boleh memburu bilou. Bilou tetap kami buru,” katanya.
Bilou biasa dia jumpai di pepohonan dengan tinggi 10-15 meter.
Mongabay menyusuri Sipora Selatan dan Sipora Utara guna bertanya pada warga tentang primata endemik ini.
Mereka mengaku sesekali masih mendengar suara khasnya, subuh atau pun malam. Berbeda dengan bilou yang jarang mereka saksikan, joja dan simakobu sesekali masih terlihat.
Di Siberut, simakobu paling sering jadi buruan. “Karena memilih-milih makanannya. Makanannya tidak sembarangan, daun-daun harum gitu,” kata warga di Siberut Utara yang dekat dengan Taman Nasional Siberut.
Simakobu merupakan satu dari 25 primata yang terancam punah menurut Primates in Peril 2023-2025 yang IUCN SSC Primate Specialist Group International Primatological Society dan Re:wild terbitkan. Deforestasi dan fragmentasi habitat menjadikan populasinya terus menurun.
Selain simakobu, nasib serupa terjadi pada Siberut macaque (Macaca siberu), Southern Mentawai macaque (Macaca pagensis), Southern Mentawai langur (Presbytus potenziani) atau joja Mentawai, Siberut langur (Presbytis siberu) atau joja Siberut, kloss gibbon (Hylobates klossii siberu) .

Ancaman ganda
Rizaldi mengatakan, selain kerusakan habitat, maraknya perburuan menjadikan spesies ini kian terancam. Apalagi, saat ini, perburuan tak kenal waktu.
“Kalau dulu berburu ada waktu tertentu, musim tertentu dan menggunakan primata untuk acara adat. Kalau sekarang setiap waktu ada perburuan,” katanya.
Bagi dia, rencana pengusahaan kayu oleh SPS akan menambah tekanan terhadap primata Mentawai. Penebangan hutan, tidak hanya mengambil rumah primata dan fauna lain saja, juga memberikan akses berburu yang lebih gampang.
Padahal, primata berperan penting dalam menjaga ekosistem dan penebar benih alami.
SPS peroleh status Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dari Kementerian Kehutanan seluas 20.000 hektar lebih di Pulau Sipora. Izin itu tuai penolakan dari masyarakat. Mereka khawatir, pembukaan hutan untuk industri kayu hanya akan memicu bencana yang tak berkesudahan.
Fuad, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar beralasan, SPS menyiapkan koridor satwa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Saureinu.
“Dekat hutan lindung. Tapi harus keluarkan lagi untuk areal tidak ditebang. Sesuai kewajiban dari kementerian minimal 100 hektar dialokasikan untuk perlindungan satwa dan itu di luar hutan lindung. Jadi areal produktif mereka dikurangi dengan areal yang tidak boleh ditebang,” katanya.
Menurut Fuad, dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), perusahaan juga harus menyediakan kantong-kantong satwa di dalam blok konsesi.
“Sifatnya satwa ini kan melompat dari dahan ke dahan, makanya harus ada koridornya.”
Hal itu, katanya, masuk dalam perencanaan rencana kerja umum (RKU) selama 10 tahun dan rencana kerja tahunan (RKT) yang pemerintah provinsi maupun kementerian setujui.

Makin mengkhawatirkan
Triantoro Widyutomo, peneliti dari Swara Owa merasa janggal jika hutan dengan vegetasi baik justru terdengar sunyi, tanpa ada suara satwa, termasuk primata.
Menurut dia, situasi itu bisa terjadi akibat intervensi manusia dalam bentuk pembangunan jalan atau aktivitas dalam hutan yang kian padat.
“Mereka tidak mempertimbangkan apakah kawasan itu layak untuk dikonservasi atau tidak. Mereka hanya memikirkan akses jalan mulus untuk meningkatkan ekonomi, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap satwa. Padahal sulit sekali untuk mencapai hasil yang mereka bayangkan,” katanya.
Pria yang kerap disapa Yoyo ini mengatakan Sikerei, sebutan untuk tokoh adat Mentawai sejatinya melarang mengonsumsi Bilou, salah satu jenis primata Mentawai. Namun, tiga jenis primata lainnya masih menjadi sasaran perburuan untuk sumber protein masyarakat.
Dua tahun lalu Departemen Biologi Universitas Andalas melakukan survei di empat pulau Mentawai. Hasilnya kondisi primatanya mengkhawatirkan karena habitatnya terancam penebangan hutan dan juga perburuan. Terutama di pulau-pulau kecil seperti Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora.
*****
Liputan ini didukung oleh Mongabay Indonesia dan Trend Asia