- Belum usai menangani masalah cemaran zat radioaktif Cesium 137 (Cs-137) berawal dari udang beku, kini Food and Drug Administration (FDA), Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menemukan jejak zat serupa pada sampel cengkih asal Indonesia.
- FDA menyatakan, perusahaan itu telah mendatangkan sekitar 200.000 kilogram cengkih ke AS sepanjang 2025. PT NJS baru bisa mengekspor cengkih kembali setelah dapat memberikan bukti memadai bahwa kondisi yang menyebabkan pelanggaran telah selesai.
- Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) mengatakan, telah menurunkan tim untuk mengecek langsung ke PT NJS di Surabaya.
- Yuyun Ismawati, Co–Chair International Pollutants Elimination Network (IPEN) mengatakan, pemerintah harus telusuri sumber Cs-137 dalam cengkih ekspor NJS. Dugaannya, Cs-137 dalam cengkih itu dari sekitar perusahaan tempat mengemas atau dari kebun. Cs-137 bukan dari alam tetapi isotop buatan manusia dari fisi nuklir dan ada di lingkungan melalui uji coba senjata nuklir dan kecelakaan reaktor nuklir.
- Pemerintah memberi keleluasaan bagi perusahaan untuk mengimpor limbah, termasuk logam bekas yang berpotensi terkontaminasi radioaktif Caesium-137. Menurut data UN Comtrade, pada Januari-September 2025 negara-negara seperti China, Hongkong, Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris banyak mengekspor logam bekas ke Indonesia.
Belum usai menangani masalah cemaran zat radioaktif Cesium 137 (Cs-137) berawal dari udang beku, kini Food and Drug Administration (FDA), Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menemukan jejak zat serupa pada sampel cengkih asal Indonesia.
Laporan resmi FDA menyebut, produk cengkih itu terdeteksi berasal PT Natural Java Spice (NJS), perusahaan pengolah rempah beralamat di Surabaya, Jawa Timur.
FDA memeriksa sampel dari sebuah kontainer pengiriman di Pelabuhan Los Angeles/Long Beach, California, Amerika Serikat. Hasil pemeriksaan menunjukkan, ada Cs-137 pada sampel cengkih dengan kadar 732,43 Bq/kg.
Meski kadar radioaktif yang terdeteksi masih di bawah ambang batas perlindungan kesehatan, FDA tetap melarang produk itu beredar di pasar negeri Paman Sam itu.
“Perusahaan dengan produk yang terdeteksi mengandung Cs-137 telah dimasukkan ke dalam import alert (peringatan impor), ditolak masuk ke pasar Amerika Serikat,” tulis laporan resmi FDA Kamis (25/9/2025).
FDA menyatakan, perusahaan itu telah mendatangkan sekitar 200.000 kilogram cengkih ke AS sepanjang 2025. NJS baru bisa mengekspor cengkih kembali setelah dapat memberikan bukti memadai bahwa kondisi yang menyebabkan pelanggaran telah selesai.
Badan Pengawas Makanan AS itu terus menyelidiki produk cengkih terpapar radioaktif bekerja sama dengan otoritas Indonesia melalui perjanjian pertukaran informasi.
Temuan ini kali kedua secara beruntun. Sebelumnya jejak radioaktif juga ada pada udang beku dari Cikande, Banten.
Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) mengatakan, telah menurunkan tim untuk mengecek langsung ke NJS di Surabaya.
Pemerintah, katanya, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Cs-137, dipimpin Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan juga Hanif sebagai ketua harian.
Satgas juga melibatkan lembaga terkait seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Gegana Polri, hingga Kementerian Kesehatan.
Menurut Hanif, temuan sementara tim menunjukkan paparan Cesium-137 di perusahaan eksportir cengkih masih dalam ambang batas normal. Produk cengkih NJS kini masih dalam proses pengembalian ke Indonesia.
“Barang reimpor belum datang. Jadi kita cek di perusahaannya. Di perusahaan ini kok angkanya beda dengan Cikande. Kalau di Cikande kan sampai ketemu angka 1.000 mikrosievert per jam. Itu di sana rata-rata 0,07, 0,04. Itu nilai paparannya dari kondisi background alam,” kata Hanif kepada Mongabay saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/10/25).
Dia belum bisa memastikan sumber cemaran Cesium-137 itu. Mereka akan terus menyelidiki dengan menggandeng Kementerian Perindustrian.
Dia berencana kunjungan ke lokasi perusahaan eksportir di Surabaya pekan ini.

Segera aksi cepat
Pius Ginting, Koordinator Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) mendesak, pemerintah segera bertindak cepat menelusuri sumber paparan radioaktif Cesium-137 pada cengkih.
Pemerintah juga harus lakukan tindakan dekontaminasi lingkungan seperti pada temuan radioaktif udang beku di Cikande.
“Dekontaminasi lingkungan menyeluruh dan pemantauan kesehatan masyarakat di daerah terdampak,” katanya kepada Mongabay, Kamis (2/10/25).
Menurut dia, cemaran CS-137 pada lingkungan dapat menyebabkan kontaminasi rantai makanan, juga membahayakan flora dan fauna serta kualitas sumber daya alam jangka panjang.
Paparan itu, juga berdampak pada kesehatan masyarakat meskipun dosis masih dalam batas aman.
“Paparan jangka panjang radionuklida dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti kanker. Perlindungan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian utama.”
Yuyun Ismawati, Co–Chair International Pollutants Elimination Network (IPEN) mengatakan, pemerintah harus telusuri sumber Cs-137 dalam cengkih ekspor NJS.
Dia menduga, Cs-137 dalam cengkih itu dari sekitar perusahaan tempat mengemas atau dari kebun.
“Kalau dari perkebunan, kebun cengkih yang memasok PT Natural Java Spice bisa dari mana-mana di Indonesia dan tergantung lokasi perkebunan, emisi atau radiasi Caesium-137 tidak terdapat di alam,” katanya kepada Mongabay.
Cs-137 bukan dari alam tetapi isotop buatan manusia dari fisi nuklir dan ada di lingkungan melalui uji coba senjata nuklir dan kecelakaan reaktor nuklir.
“Cs-137 tidak tersebar ke alam, kecuali tabung berisi Cs-137 yang dibuang, disebar ke lingkungan, atau ditumpuk dalam kontainer peti kemas dan dapat dilokalisir.”
Yuyun bilang, komoditi dapat tercemar radioaktif, meskipun tak terdapat senjata atau tenaga nuklir di Indonesia. Hal itu, katanya, bisa melalui beberapa cara, pertama, terkontaminasi Cs-137 dari udara yang terdeposisi ke tanah atau perkebunan, dari emisi smelter yang menggunakan metal scraps mengandung Cs-137.
Kedua, terkontaminasi saat proses pengepakan akibat ada Cs-137 di ruangan. Ketiga, tercemar saat kemasan masuk dalam kontainer bekas tempat penampungan metal scraps atau ada metal scraps dalam peti kemas yang sama saat ekspor.
“Kontainer pengiriman barang ekspor untuk makanan harusnya di-check dulu, tidak boleh campur dengan shipment produk ekspor lain seperti metal scraps atau bekas container shipment metal scraps,” tegas Yuyun.

Evaluasi tata kelola industri
Pius Ginting, mendesak pemerintah mengevaluasi tata kelola industri yang berisiko mencemari lingkungan dengan radioaktif.
Pemerintah, katanya, harus melakukan audit seluruh pabrik industri seperti di Cikande, Banten, lokasi temuan radioaktif pada produk udang beku.
Dia mendesak komitmen regulasi due diligence, pengawasan limbah industri, dan perbaikan praktik di sektor baja.
Sebelumnya, pemerintah menyatakan, PT Peter Metal Technology (PMT), pabrik peleburan baja di Kawasan Industri Modern Cikande, menyebabkan kontaminasi radionuklida CS-137, yang terdeteksi pada peti kemas produk udang beku PT Bahari Makmur Sejati (BMS).
Menurut Pius, kasus yang melibatkan PMT menunjukkan lemahnya penerapan due diligence dalam rantai pasok industri baja di Indonesia, khususnya dalam perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Meningkatkan pengawasan dan penerapan due diligence terhadap pengelolaan limbah dan bahan baku di sektor industri, termasuk limbah logam bekas (scrap) yang berpotensi membawa radioaktif,” katanya.
Salah satu celah bagi masuknya kontaminasi radionuklida adalah terbatasnya sistem pelacakan asal-usul material serta lemahnya pengawasan terhadap impor logam bekas.

Impor barang bekas longgar
Senada dengan Yuyun. Dia bilang, pemerintah memberi keleluasaan bagi perusahaan untuk mengimpor limbah, termasuk logam bekas yang berpotensi terkontaminasi radioaktif Caesium-137.
“Sekarang ini semua jenis limbah boleh diimpor untuk kepentingan bahan baku industri tanpa harus dapat rekomendasi teknis,” ujar Yuyun.
Dia mengatakan, impor logam bekas oleh perusahaan Indonesia lumayan banyak untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri baja nasional.
Menurut data UN Comtrade, pada Januari-September 2025 negara-negara seperti China, Hongkong, Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris banyak mengekspor logam bekas ke Indonesia.
Jepang, katanya, termasuk salah satu negara yang banyak mengekspor metal scraps ke Indonesia.
“Caesium-137 juga ditemukan setelah tragedi Fukushima. Saya tidak menyatakan bahwa kemungkinan Cs-137 dari metal scraps dari Jepang, hanya menyatakan bahwa Indonesia mengimpor metal scraps dari berbagai negara yang berpotensi punya nuclear power plants, dan salah satunya Jepang.”
Seharusnya semua limbah yang impor: metal scraps, paper scraps, dan plastic scraps, punya batasan minimum kontaminan.

*****
Udang Beku RI Terpapar Radioaktif, Berikut Temuan Bapeten di Cikande