- Sejumlah tumbuhan purba seperti Platycerium bifurcatum (pakis tanduk rusa), Davallia solida (pakis kaki kelinci), serta berbagai jenis cycad sudah ada sejak ratusan juta tahun lalu, bahkan sebelum dinosaurus muncul.
- Indonesia menjadi rumah penting bagi keanekaragaman pakis dengan sekitar 2.197 jenis, dan juga memiliki sekitar sepuluh spesies Cycas, termasuk Cycas javana yang kini berstatus Terancam Punah.
- Ginkgo biloba, yang berasal dari 270 juta tahun lalu, juga ditanam di Indonesia sebagai simbol “fosil hidup” yang masih bertahan, menghubungkan masa purba dengan kehidupan modern.
Sejak ratusan juta tahun lalu Bumi telah dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan vaskular, yakni tumbuhan yang punya “pembuluh” khusus seperti pipa kecil di dalam tubuhnya, yang berfungsi mengalirkan air, mineral, dan makanan ke seluruh bagian tumbuhan sehingga bisa tumbuh besar dan tinggi. Tumbuhan berbiji memang berkembang pesat setelah itu, tetapi kelompok-kelompok lain seperti pakis dan pakis haji muncul jauh lebih awal, bahkan sebelum dinosaurus. Beberapa dari garis keturunan purba ini masih hidup hingga sekarang, dan Indonesia menjadi salah satu tempat di mana mereka bisa kita temui. Keberadaan mereka menjadi bukti bahwa kehidupan tumbuhan memiliki sejarah panjang dan daya tahan luar biasa.
Kelangsungan mereka melewati Zaman Karbon (sekitar 350 juta tahun lalu), Permia (270 juta tahun lalu), hingga Kapur (145–65 juta tahun lalu) menunjukkan bahwa adaptasi mereka sangat efektif. Penyesuaian terhadap kelembapan tinggi, pertumbuhan epifit, toleransi terhadap lingkungan yang berubah, semuanya telah membantu mereka bertahan melewati zaman geologi dan perubahan iklim ekstrem. Namun ancaman modern, seperti hilangnya habitat, fragmentasi hutan, dan perdagangan tanaman hias, menguji kelangsungan mereka lebih keras daripada perubahan alam di masa lalu.
Di Indonesia, sebagian dari tumbuhan purba itu masih bisa ditemui hingga kini. Dari kelompok pakis yang menyebar luas di hutan tropis hingga pakis haji yang tumbuh endemik di beberapa pulau, jejak mereka menjadi pengingat bahwa peninggalan masa sebelum dinosaurus tidak hanya tersimpan dalam fosil, tetapi masih hidup di sekitar kita.
Pakis: Tanaman Purba yang Masih Eksis
Kelompok pakis (pteridophyta) adalah salah satu tumbuhan darat tertua. Indonesia sampai dengan tahun 2014, tumbuhan paku yang telah dilaporkan teridentifikasi sejumlah 2.197 jenis atau sekitar 22 % dari total keseluruhan tumbuhan paku yang teridentifikasi di dunia. Secara global, jumlah spesies pakis mencapai 10.000 jenis. Sebagian besar berevolusi pada periode Karbon, sekitar 350 juta tahun lalu, ketika hutan pakis raksasa mendominasi Bumi dan memainkan peran besar dalam membentuk cadangan batu bara yang kita kenal hari ini.

Di antara jenis pakis itu, Platycerium bifurcatum atau pakis tanduk rusa adalah salah satu yang paling menonjol. Tumbuhan epifit ini menempel pada pohon atau batu tanpa memerlukan tanah. Penelitian di Kebun Raya Purwodadi mencatat bahwa pakis tanduk rusa mampu hidup pada sedikitnya 14 spesies pohon inang, sebuah strategi adaptasi yang membantu keberlangsungan sejak jutaan tahun lalu. Kemampuannya menempel di berbagai inang menunjukkan fleksibilitas ekologis yang tinggi, memungkinkan pakis ini bertahan di berbagai tipe hutan.

Jenis lain adalah Davallia solida atau pakis kaki kelinci, yang sudah ada sejak era Silur sekitar 420 juta tahun lalu. Dinamai demikian karena pangkal batangnya berbulu halus mirip kaki kelinci, pakis ini mudah dijumpai di hutan lembab Indonesia. Kedua spesies ini adalah contoh nyata “fosil hidup” dari kelompok pakis, yang membuka jalan bagi kehidupan darat jauh sebelum dinosaurus pertama kali berjalan.
Pakis bukan hanya saksi sejarah purba, tetapi juga memainkan peran ekologi penting hingga kini. Daunnya yang lebat membantu menjaga kelembapan hutan, menyediakan habitat mikro bagi serangga, bahkan berkontribusi dalam siklus air melalui penguapan. Beberapa jenis pakis juga digunakan manusia sebagai tanaman hias, obat tradisional, hingga bahan pangan lokal. Jadi, meskipun purba, keberadaannya tetap relevan dalam ekosistem modern.
Baca juga: Hidup Lebih dari 1000 Tahun, Tanaman Ini Hanya Punya Dua Daun Abadi
Pakis Haji: Palem Purba Indonesia
Pakis haji (Cycas spp.) adalah kelompok gymnosperma purba yang muncul sejak periode Permia, sekitar 270 juta tahun lalu, mendahului dinosaurus hampir 30 juta tahun. Di Indonesia, terdapat sedikitnya 10 spesies Cycas, sebagian besar tersebar di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Salah satu yang paling menonjol adalah Cycas javana, endemik Jawa, yang kini berstatus Terancam Punah (Endangered) menurut IUCN akibat kehilangan habitat dan eksploitasi. Ada pula Cycas falcata dari Sulawesi yang dikategorikan Rentan (Vulnerable), serta Cycas glauca dari Timor dan Sumba yang masih berstatus Data Deficient karena minim penelitian.
Berbeda dengan pakis haji endemik, Cycas revoluta lebih umum dijumpai sebagai tanaman hias di pekarangan rumah. Meski berasal dari Jepang, tumbuhan ini tetap bagian dari garis keturunan purba yang muncul sebelum dinosaurus. Kompleksitas taksonomi pakis haji di Indonesia terlihat dari banyaknya koleksi herbarium yang masih steril dan sulit diidentifikasi, sehingga masih ada potensi keanekaragaman yang belum terungkap.
Baca juga: Fosil Biji Kacang Raksasa dari Kalimantan Ungkap Migrasi Tumbuhan Purba ke Australia
Ginkgo: Fosil Hidup dari 270 Juta Tahun Lalu
Ginkgo biloba adalah pohon purba yang asal-usulnya bisa ditelusuri hingga periode Permia, sekitar 270 juta tahun lalu, sejaman dengan trilobita di lautan. Bentuk daunnya menyerupai kipas khas yang tidak banyak berubah sejak nenek moyangnya. Fosil ginkgo ditemukan di berbagai belahan dunia, tetapi populasinya di alam liar hampir punah.

Keberlangsungan ginkgo ditopang oleh manusia. Pohon ini dipelihara di biara-biara di Tiongkok selama ribuan tahun, sebelum akhirnya menyebar ke banyak negara. Di Indonesia, ginkgo ditanam di beberapa kebun raya, antara lain Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas, sebagai koleksi konservasi sekaligus sarana edukasi. Tanaman ini juga mulai dibudidayakan secara terbatas di taman kota dan halaman rumah, meski bukan flora asli Nusantara. IUCN menempatkan Ginkgo biloba pada status Terancam Punah, meskipun populasinya aman secara global berkat budidaya. Kehadirannya di Indonesia menjadi simbol keterhubungan antara sejarah purba dan konservasi modern.
Selain nilai ekologis dan sejarahnya, ginkgo juga terkenal karena penggunaannya dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Ekstrak daunnya hingga kini dipakai dalam industri farmasi modern, dipercaya membantu sirkulasi darah dan fungsi kognitif.