- Pohon palem Socratea exorrhiza terkenal karena akarnya yang unik, memicu legenda bahwa ia bisa ‘berjalan’ hingga 20 meter per tahun untuk mencari cahaya. Sains modern telah membuktikan bahwa klaim tersebut tidak benar.
- Faktanya, akar-akar ini adalah adaptasi cerdas yang berfungsi untuk memberikan kestabilan dan dukungan di tanah yang lembek dan rawan banjir. Akar penopang ini juga membantu pohon untuk tumbuh lebih cepat secara vertikal.
- Keajaiban pohon ini terletak pada strategi evolusionernya yang menakjubkan, bukan pada kemampuannya untuk bergerak.
Di jantung hutan hujan tropis Amerika, tumbuh sebuah pohon yang telah memikat imajinasi manusia selama berabad-abad. Pohon itu adalah Socratea exorrhiza, yang populer dengan sebutan Palem Berjalan. Penampilannya benar-benar berbeda dari pohon lain, dengan akar-akar panjang yang menjuntai miring dari batang hingga menancap ke tanah, membentuk semacam kaki-kaki yang seolah menyangga tubuh rampingnya. Dari struktur unik inilah lahir kisah-kisah tentang pohon yang bisa bergerak meninggalkan tempat lama dan mencari lokasi baru di mana cahaya matahari lebih melimpah.

Legenda ini tersebar luas di Kosta Rika, Panama, Peru, hingga Brasil, diceritakan oleh masyarakat adat maupun pemandu wisata kepada pengunjung hutan. Mereka menggambarkan Palem Berjalan sebagai makhluk hidup yang memiliki kemampuan berpindah secara perlahan, beberapa sentimeter per hari, bahkan hingga puluhan meter per tahun, dengan cara menumbuhkan akar baru ke arah cahaya dan membiarkan akar lama di sisi gelap membusuk. Kisah semacam ini menambah daya tarik wisata hutan hujan, membuat pengunjung terkesima oleh mitos bahwa sebuah pohon mampu “melangkah” seperti manusia, meski dalam ritme yang sangat lambat dan nyaris tak terlihat.
Namun, di balik mitos yang menawan itu, sains menghadirkan penjelasan yang jauh lebih masuk akal sekaligus lebih menakjubkan. Para peneliti yang mempelajari Socratea exorrhiza menemukan bahwa akar-akar miring itu tidak berfungsi sebagai kaki yang membuat pohon berpindah, melainkan sebagai penopang agar batang tetap tegak dan stabil di tanah yang lembek, tergenang, atau rawan longsor. Artinya, Palem Berjalan tidak benar-benar berjalan, tetapi memanfaatkan adaptasi evolusioner yang cerdas untuk bertahan hidup di ekosistem tropis yang dinamis dan penuh persaingan.
Baca juga: Sendirian di Padang Pasir: Misteri Pohon yang Bertahan Tanpa Air Selama 400 Tahun
Penjelasan Ilmiah dan Fungsi Akar Stilt
Meski kisah Palem Berjalan terdengar memikat, penelitian ilmiah modern membantah klaim bahwa pohon ini benar-benar berjalan. Sejak awal 2000-an, ahli ekologi tropis Gerardo Avalos melakukan studi ekstensif di Kosta Rika dan Panama, dan hasilnya menegaskan bahwa akar stilt bukanlah alat penggerak lateral melainkan penopang batang agar tetap stabil di tanah yang miring, lembek, atau rawan terkikis. Ia menunjukkan melalui pengukuran lapangan bahwa meskipun akar baru muncul di sisi tertentu dan akar lama mati, posisi batang tetap berada di tempat yang sama, sehingga gagasan bahwa pohon bisa berpindah hingga belasan meter per tahun hanyalah mitos tanpa bukti empiris.

Lebih lanjut, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa fungsi akar stilt jauh lebih kompleks dan menakjubkan. Akar-akar ini membantu pohon menyerap nutrisi dan oksigen dari lapisan tanah atas yang subur, sekaligus mengangkat pangkal batang agar tidak terendam di tanah rawa. Sebuah studi penting yang dipublikasikan di jurnal Oecologia pada 2018 menjelaskan bahwa akar stilt memberi keuntungan evolusioner bagi pohon muda untuk tumbuh cepat ke atas, sehingga dapat lebih cepat menembus lapisan kanopi dan memperoleh cahaya matahari. Strategi ini sangat krusial di hutan hujan tropis, karena kompetisi utama bukanlah ruang horizontal, melainkan perlombaan vertikal menuju cahaya.
Penelitian biofisika juga mengungkap bahwa konfigurasi akar miring ini secara matematis sangat efisien dalam mendistribusikan beban dan menahan terpaan angin. Dengan akar-akar yang menyebar dari berbagai ketinggian batang, pohon menciptakan dasar yang lebar, yang memperkuat stabilitas struktur tinggi dan ramping di bawah tekanan badai tropis. Temuan-temuan ini mendukung gagasan bahwa Palem Berjalan bukanlah pohon yang melangkah, melainkan pohon yang berinvestasi pada strategi pertumbuhan cepat dan efisien, sekaligus memperkuat diri terhadap kondisi ekstrem hutan hujan.
Baca juga: Pohon-pohon Langka Indonesia, Bagaimana Nasibnya?

Fungsi ekologis pohon ini tidak berhenti pada struktur fisiknya. Buah Socratea exorrhiza menjadi sumber makanan bagi monyet, tupai, kelelawar pemakan buah, hingga burung-burung hutan. Penyebaran biji melalui satwa ini mendukung regenerasi hutan, menciptakan lingkaran ekologis yang menjaga keanekaragaman hayati. Batangnya yang kuat namun ramping dimanfaatkan masyarakat adat untuk bahan bangunan, tangga, atau perkakas, menunjukkan bahwa nilai pohon ini tidak hanya biologis tetapi juga budaya. Sebagaimana dicatat dalam bab The First 100 Years of Research on Barro Colorado Island (2024), Socratea exorrhiza adalah contoh spesies kunci yang membentuk struktur ekosistem hutan hujan tropis.
Ancaman, Penurunan Populasi, dan Konservasi
Walaupun memiliki adaptasi unik, Palem Berjalan tidak kebal terhadap tekanan lingkungan modern. Studi terbaru dari Smithsonian Tropical Research Institute pada 2024 menunjukkan adanya penurunan populasi spesies ini di Pulau Barro Colorado, Panama, sebuah kawasan penelitian yang sudah lebih dari seabad menjadi laboratorium alami bagi ilmuwan dunia. Data menunjukkan bahwa jumlah individu dewasa menurun tajam dalam beberapa dekade terakhir, sementara regenerasi alami di beberapa plot hutan juga melemah.

Faktor penyebab penurunan ini masih dipelajari, tetapi indikasi awal mengarah pada kombinasi perubahan pola curah hujan, gangguan siklus hidrologi, serangan hama tertentu, serta dampak perubahan iklim yang lebih luas. Hutan hujan tropis sangat bergantung pada stabilitas iklim, dan perubahan kecil sekalipun bisa memengaruhi keseimbangan antara pertumbuhan pohon, ketersediaan nutrisi, hingga dinamika spesies yang berinteraksi. Jika Palem Berjalan terus berkurang, konsekuensinya bisa meluas pada satwa pemakan buah yang bergantung padanya, serta memengaruhi komposisi vegetasi lain yang bersaing untuk ruang dan cahaya.
Selain tekanan iklim, interaksi manusia juga memengaruhi keberadaan pohon ini. Meski tidak dieksploitasi besar-besaran, penggunaan batang oleh masyarakat adat dan peningkatan aktivitas pariwisata bisa memberi tekanan tambahan pada populasi lokal. Ironisnya, legenda tentang pohon yang bisa berjalan justru kerap dijadikan daya tarik wisata, sehingga keberadaan Palem Berjalan makin sering terekspos dan terancam oleh intervensi manusia. Untuk itu, konservasi spesies ini harus dikaitkan dengan perlindungan habitat hutan hujan secara menyeluruh, mengingat fungsi ekologisnya sebagai penyokong stabilitas tanah, penyedia makanan satwa, dan indikator kesehatan ekosistem.