- Konsep agroforestri (wanatani) membantu meningkatkan hasil panen kakao.
- Faustinus Gondo menerapkan konsep wanatani di kebun kakaonya seluas 3,8 hektar di Desa Bloro, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT.
- Konsep agroforestri menciptakan iklim mikro yang bagus untuk tanaman. Kakao bisa tumbuh baik dengan naungan 60-80 persen dari cahaya matahari langsung.
- Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka 2024 menunjukkan, terdapat 7.816 hektar tanaman kakao belum menghasilkan, 12.210 hektar telah menghasilkan, dan 2.422 hektar tanaman tua atau rusak. Produksinya mencapai 7.026,9 ton dengan produktivitas 575 kilogram per hektar. Sebanyak 34.536 kepala keluarga (KK) menggantungkan hidup dari kakao.
Kantor Koperasi Serba Usaha Plea Puli, Desa Bloro, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, tampak ramai, Selasa (8/7/2025)
Sebanyak 30 petani kakao dari Desa Bloro, Lusitada, Iligai, Lela, Gera, Bhera, Naimbere, dan Liakutu tekun mendengarkan materi. Ini hari terakhir sekolah lapang (SL) mereka.
“Ada delapan pertemuan, teori dan praktik,” ujar Yofani Maria, pendamping dari Yayasan Desa Sejahtera Astra (DSA), Sikka.
Pelatihan dimulai dari persiapan tanah, pembibitan dan pemilihan bibit, cara tanam, pemangkasan, sanitasi, pemupukan, dan pemetikan buah. Juga prose pascapanen, seperti membelah kakao dan fermentasi.
Petani diajarkan juga melakukan konservasi tanah, air dan menjaga keseimbangan nutrisi di setiap pohon dengan membuat rorak.
“Tujuannnya, petani kakao bisa mendapatkan hasil produksi maksimal.”

Manserius Menga, Kepala BPP Kecamatan Nita, menjelaskan pelatihan berlangsung di kebun demonstrasi plot (demplot) dan kebun petani yang hasilnya bagus. Petani juga diajarkan kalender musim dan anomali iklim.
“Saat kelembaban tinggi, serangan hama dan penyakit meningkat, khususnya hama penggerek buah dan penyakit busuk buah.”
Rorak dalam konteks pertanian bermanfaat untuk konservasi air, mengendalikan erosi, meningkatkan, media kompos, meningkatkan kesuburan tanah, dan mencegah hama penyakit.
“Jarak ideal rorak 75-100 cm dari pohon atau tergantung tajuk daun tanaman,” ungkapnya.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka 2024 menunjukkan, terdapat 7.816 hektar tanaman kakao belum menghasilkan, 12.210 hektar telah menghasilkan, dan 2.422 hektar tanaman tua atau rusak.
Produksinya mencapai 7.026,9 ton dengan produktivitas 575 kilogram per hektar. Sebanyak 34.536 kepala keluarga (KK) menggantungkan hidup dari kakao.
“Melalui pelatihan ini petani bisa meningkatkan hasil kebunnya.”

Konsep agroforestri
Kebun kakao milik Faustinus Gondo seluas 3,8 hektar di Desa Bloro dijadikan tempat pembelajaran.
Dengan konsep agroforestri (wanatani), kebun ini ditanam juga jati putih (30 pohon), mahoni (50 pohon), serta salam dan nagka sebagai tanaman pagar. Di tengah kebun, ada kemiri (60 pohon), kelapa (50 pohon), pala (110 pohon), alpukat (220 pohon), vanili (500 pohon), dan kakao (1.500 pohon).
“Hampir semua pohon sudah produksi. Hingga Juli, saya sudah penen kakao 700 kilogram dan panen lagi November hingga Desember nanti,” ungkapnya, baru-baru ini.
Dengan harga jual kakao Rp100/kg, Gondo mendapat penghasilan Rp70 juta.
“Ditambah lagi tanaman lain.”
Gondo bertani kakao sejak 2004 dan pada 2012 belajar budidaya kakao di Masamba, Sulawesi Selatan. Pulangnya, dia membawa bibit unggul/klon dan menanamnya.
Gondo melakukan uji coba klon unggul dan lokal, sebab meskipun klon unggul namun kadang tidak tahan serangan hama dan penaykit. Dia juga menerapkan pola bertani kakao secara benar.
“Klon MCC 02 tahan serangan hama dan penyakit. Ada juga klon Buntu Batu sebagai pejantan yang bisa memaksimalkan bunga pada klon lain di sekitarnya,” terangnya.

Manserius menambahkan, Gondo melakukan uji coba hingga berhasil.
‘Jarak tanam diatur, sehingga tidak saling menganggu. Pohon tumbuh kembang dengan baik,” ucapnya.
Konsep agroforestri menciptakan iklim mikro yang bagus untuk tanaman. Kakao bisa tumbuh baik dengan naungan 60-80 persen dari cahaya matahari langsung.
Saat musim panas, kebun tidak terlalu panas dan suhu bagus sehingga proses penguapan bisa terhambat. Saat musim hujan, proses inflitirasi air hujan berjalan bagus karena serasah banyak dan bahan organik yang membusuk begitu baik.
“Konservasi air dan tanah menjadi bagus dan unsur hara tanaman tersedia sepanjang tahun sehingga tanahnya sangat subur,” pungkasnya.
*****
Kebun Wow, Cara Cerdas Petani Kakao Tingkatkan Produksi dan Tanggap Perubahan Iklim