- Klaim bahwa ular laut Belcher (Hydrophis belcheri) 100 kali lebih mematikan dari kobra ternyata keliru, karena data toksisitas (LD50) sering dibandingkan dengan metode uji berbeda. Penelitian terbaru menempatkan Aipysurus duboisii sebagai ular laut paling berbisa, dengan nilai LD50 sangat rendah.
- Meski begitu, spesies yang paling sering menggigit manusia justru Hydrophis schistosus atau beaked sea snake, karena hidup di perairan dangkal dan sering berinteraksi dengan nelayan. Gigitan ular laut biasanya tidak terasa sakit di awal, tetapi dapat memicu kelumpuhan otot dan gagal napas.
- Riset molekuler menunjukkan racun ular laut didominasi neurotoksin dan myotoksin, penting untuk pengembangan antivenom. Ular laut juga berperan penting menjaga ekosistem laut, meski populasinya terancam polusi dan tangkapan sampingan.
Nama ular laut Belcher (Hydrophis belcheri) atau ular laut berbelang samar sudah lama menghuni daftar “hewan paling berbahaya di dunia”. Klaim yang terus diulang di media populer menyebut bisanya seratus kali lebih mematikan dibanding kobra. Kalimat dramatis ini begitu sering muncul di artikel populer, video edukasi singkat, bahkan buku sains populer, hingga banyak orang menganggapnya fakta ilmiah. Dalam imajinasi publik, ular laut Belcher menjadi simbol hewan laut yang menakutkan, seolah-olah satu gigitannya bisa menghapus seluruh desa nelayan. Namun, penelitian toksikologi beberapa dekade terakhir justru menempatkan klaim itu dalam tanda tanya besar.

Pertanyaan ini penting karena persepsi publik tentang ular tidak berhenti pada rasa takut semata. Ia berpengaruh pada bagaimana masyarakat pesisir memperlakukan ular laut yang terjebak di jaring, menentukan arah riset medis untuk pengembangan antivenom, bahkan bisa memengaruhi kebijakan konservasi laut. Jika informasi yang beredar keliru, masyarakat bisa ketakutan berlebihan pada spesies yang sebenarnya jarang menggigit, sementara ancaman nyata dari spesies lain justru diabaikan. Di Indonesia, di mana nelayan di Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara masih bersentuhan langsung dengan ular laut, akurasi informasi ini menjadi semakin relevan.
Ilmu pengetahuan kini menyediakan alat ukur yang lebih canggih. LD50 sebagai standar toksisitas, riset molekuler terhadap komposisi racun, hingga catatan epidemiologi di rumah sakit pesisir membantu memberi gambaran yang lebih utuh. Hasilnya menarik: ular yang sering disebut “paling berbisa” ternyata jarang menggigit manusia, sementara spesies lain yang kurang populer justru bertanggung jawab atas mayoritas kasus medis serius.
Baca juga: Seberapa Dalam Ular Laut Bisa Menyelam di Lautan?
Klaim Populer vs Fakta Ilmiah
Klaim “100 kali lebih mematikan dari kobra” lahir dari pengukuran toksisitas bisa menggunakan LD50 (Lethal Dose 50), yaitu dosis yang mematikan 50 persen hewan uji laboratorium. Hydrophis belcheri memang pernah tercatat punya nilai LD50 sangat rendah, sehingga dijuluki ular paling berbisa di dunia. Namun, pengukuran ini dilakukan dengan metode yang berbeda-beda, ada yang menyuntikkan bisa ke pembuluh darah, ada pula ke otot atau di bawah kulit. Hasil yang tidak setara ini kemudian dibandingkan begitu saja, menghasilkan klaim bombastis.
Bryan G. Fry, pakar toksikologi dari University of Queensland, menegaskan bahwa perbandingan semacam ini menyesatkan. Menurutnya, angka “100 kali lebih mematikan dari kobra” adalah produk campuran data yang tidak apple to apple. Ketika diuji dengan metode yang sama, Hydrophis belcheri memang berbisa, tetapi bukan pemegang rekor. Data yang lebih konsisten justru menempatkan Aipysurus duboisii atau Dubois’ sea snake di puncak daftar ular laut paling berbisa.

Nilai LD50 subkutan pada tikus untuk Aipysurus duboisii hanya 0,044 mg/kg. Angka ini membuat racunnya sebanding dengan taipan pedalaman (Oxyuranus microlepidotus), ular darat Australia yang sering disebut paling berbisa di dunia. Bahkan Guinness World Records mencatat spesies ini sebagai ular laut paling berbisa, menggeser klaim lama tentang Hydrophis belcheri. Meski demikian, perlu diingat bahwa angka laboratorium tidak otomatis mencerminkan risiko bagi manusia.
Baca juga: Palaeophis colossaeus, Ular Laut yang Lebih Panjang dari Paus Dewasa
Siapa Ular Laut yang Sebenarnya Paling Berbahaya
Dalam praktik sehari-hari, spesies yang paling sering menyebabkan gigitan pada manusia justru bukan Hydrophis belcheri maupun Aipysurus duboisii. Catatan medis di Asia Selatan dan Asia Tenggara menempatkan Hydrophis schistosus, atau beaked sea snake atau ular laut berparuh, sebagai penyebab mayoritas kasus gigitan ular laut. Habitatnya di perairan dangkal, muara, dan laguna bertumpang tindih dengan lokasi nelayan tradisional mencari ikan. Interaksi intens inilah yang membuatnya lebih berbahaya bagi manusia, meski racunnya tidak sekuat Dubois.
Gigitan ular laut biasanya tidak terlalu sakit pada awalnya. Luka bisa tampak sepele atau nyaris tak terlihat. Tetapi dalam beberapa jam, gejala serius muncul: kelemahan otot, kesulitan bernapas, hingga kerusakan otot parah yang menyebabkan urin berwarna gelap. Kombinasi neurotoksin dan myotoksin dalam bisa adalah penyebabnya. Tanpa penanganan medis, kondisi bisa berujung fatal.

Secara global, gigitan ular menjadi masalah kesehatan serius. Studi di PLOS Neglected Tropical Diseases memperkirakan 1,2 hingga 5,5 juta kasus terjadi setiap tahun, dengan sekitar 63 ribu kematian. Sebagian besar disebabkan ular darat, terutama kobra dan viper. Ular laut menyumbang bagian yang lebih kecil, tetapi tetap penting di wilayah pesisir Asia. Di Indonesia, data gigitan ular laut masih terbatas, tetapi laporan dari Sulawesi dan Maluku menunjukkan nelayan pernah mengalami insiden saat menarik jaring. Dalam beberapa kasus di rumah sakit daerah, pasien selamat setelah perawatan intensif, meski pemulihan otot berlangsung lama.
Baca juga: Lebih Berbisa Dari Ular Darat, Inilah 7 Ular Laut Paling Mematikan di Dunia
Riset Terkini
Perkembangan riset molekuler membuka pemahaman baru tentang bisa ular laut. Studi transkriptom Hydrophis curtus di Malaysia menunjukkan komposisi racun didominasi neurotoksin dan myotoksin, sesuai dengan gejala klinis pasien. Hasil ini penting untuk pengembangan antivenom yang lebih efektif. Penelitian juga menemukan variasi racun antarpopulasi, artinya ular laut di satu lokasi bisa punya komposisi berbeda dengan kerabatnya di tempat lain. Hal ini menambah tantangan bagi dunia medis. Bagi nelayan lokal, ancaman ular laut nyata saat aktivitas di laut, tetapi sekaligus menegaskan bahwa interaksi lebih sering dipicu situasi kerja daripada perilaku agresif ular.
Selain sisi medis, ular laut punya peran ekologis penting. Mereka memangsa ikan kecil dan belut, menjaga keseimbangan populasi di terumbu karang dan padang lamun. Namun, populasi ular laut terancam oleh polusi plastik, tangkapan sampingan perikanan, dan perubahan iklim. Sebagian besar spesies ular laut masih berstatus “Data Deficient” di Daftar Merah IUCN, menandakan kurangnya penelitian. Padahal, keberadaan mereka bisa menjadi indikator kesehatan laut.