- Dua anakan kucing kuwuk ditemukan di sekitar Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Prionailurus bengalensis tersebut, kini berada di pusat rehabilitasi Umah Lumba.
- Keduanya sehat dan terus dipantau. Hanya seorang perawat yang diperbolehkan menangani, agar interaksi dengan manusia bisa diminimalisir.
- Meski ukurannya jauh lebih kecil dari macan tutul, namun peran penting kucing kuwuk bagi ekosistem tidak bisa diremehkan. Satwa ini merupakan predator alami tikus, sehingga membantu petani menjaga keseimbangan pertanian.
- Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) merupakan jenis kucing liar yang dilindungi Peraturan Menteri LHK No. P 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.
Dua anakan kucing kuwuk ditemukan di sekitar Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Prionailurus bengalensis tersebut, kini berada di pusat rehabilitasi Umah Lumba.
Femke den Haas, pendiri Umah Lumba yang dikelola Jaringan Satwa Indonesia (JSI) menuturkan, anak kucing itu memang tanpa induk.
“Awalnya, tiga individu ditemukan anjing, beruntung belum digigit. Lalu, warga asing bernama Jhon menyerahkan ke kami pada 13 Agustus lalu,” jelasnya, Rabu (3/9/2025).
Namun, satu individu tidak bisa diselamatkan.
“Kehilangan induk sangat riskan, karena mereka masih menyusu.”
Kabar baiknya, keduanya sehat dan terus dipantau. Hanya seorang perawat yang diperbolehkan menangani, agar interaksi dengan manusia bisa diminimalisir. Pemberian makan dan minum dilakukan dengan bantuan kain, sehingga kucing tidak melihat langsung wajah manusia. Sementara, aktivitas sehari-hari dipantau melalui CCTV.
“Kami berupaya mereka tetap liar. Jika terlalu dekat manusia, akan sulit dilepasliarkan,” terangnya.

Farida Ulya, Dokter Hewan JSI, mengatakan kedua kucing betina itu saat ditemukan diperkirakan berusia tiga minggu. Kondisinya sekarang cukup stabil dan ditempatkan di ruang hangat.
“Setiap tiga jam sekali kami berikan susu dan daging lembut, ditambah vitamin harian serta pemeriksaan medis rutin.”
Proses rehabilitasi terus berjalan hingga satwa dilindungi ini benar-benar siap hidup di alam.
“Penentuannya bergantung pada perkembangan tiap individu. Indikatornya, kemampuan berburu, mengenal lingkungan hutan, dan memiliki insting bertahan hidup.”
Hingga saat ini, sang induk belum ditemukan walau tim sudah melakukan pemantauan intensif di lokasi penemuan.
“Saat dewasa, hidupnya soliter di hutan.”

Femke menambahkan, ketika tiba waktunya dilepasliarkan ia dan tim memastikan lokasi yang dipilih benar-benar aman: jauh dari permukiman, berada di kawasan hutan terlindungi, dan sumber pakan memadai.
Meski ukurannya jauh lebih kecil dari macan tutul, namun peran penting kucing kuwuk bagi ekosistem tidak bisa diremehkan. Satwa ini merupakan predator alami tikus, sehingga membantu petani menjaga keseimbangan pertanian.
“Kalau kucing kuwuk hilang, populasi tikus bisa meledak. Mereka penjaga sawah alami.”
Sangat disayangkan, di media sosial, kucing kuwuk banyak diperjualbelikan. Bahkan, ditawarkan untuk dikawinkan dengan kucing domestik, agar menghasilkan ras baru.
“Praktik ini tentunya tak hanya merusak genetik, tapi juga membuat satwa liar kehilangan jati diri.”

Kucing kuwuk bukan peliharaan
Sebagai destinasi wisata internasional, Bali bukan hanya menyedot jutaan turis per tahun, tetapi juga jadi tempat tinggal ribuan ekspatriat. Ada dari mereka yang membawa kebiasaan memelihara satwa liar, termasuk kucing kuwuk.
“Kami pernah menemukan lutung, elang, hingga jalak Bali,” jelas Sumarsono, Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, kepada Mongabay, Rabu (3/9/2025).
Ada yang mendapatkan dari pasar gelap, atau membawa sendiri. Tahun lalu, seorang warga Prancis kedapatan membawa kucing hutan tanpa dokumen resmi. Atas kasus itu, dia dideportasi.
Kendati demikian, pendekatan persuasif dikedepankan.
“Edukasi jadi prioritas. Warga asing banyak yang tidak memahami aturan di Indonesia, jadi sosialisasi terus kami lakukan.”
Di Bali, kucing kuwuk mendiami hutan-hutan dataran rendah, kawasan agroforestri, hingga lahan pertanian. Namun, terbatasnya survei ilmiah komprehensif, membuat populasinya sulit dipastikan.
“Sementara ini, data bersumber dari laporan masyarakat dan temuan insidental, termasuk yang masuk ke pusat rehabilitasi.”
Keberadaan kucing kuwuk, terganggu oleh aktivitas manusia di kawasan hutan.
“Selain itu, alih fungsi hutan juga meningkatkan konflik,” paparnya.

Made Astawa, Kepala Desa Pejarakan, lokasi penemuan kucing, mengatakan bahwa kawasan hutan di wilayahnya ribuan hektar. Area tersebut mencakup hutan lindung dan kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
“Saya sendiri sudah sampaikan ke warga, jika menemukan kucing hutan atau satwa dilindungi lainnya segera laporkan ke petugas,” ujarnya, dilansir dari Kompas.com.
Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) merupakan jenis kucing liar yang dilindungi Peraturan Menteri LHK No. P 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.
*****