- Perubahan iklim menyebabkan sulit memprediksi cuaca. Jadwal musim jadi kacau. Kondisi ini bisa berdampak multi termasuk pada kesehatan masyarakat.
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, di antara dampak perubahan iklim pada kesehatan, konsekuensi jangka panjang seperti stres panas, malnutrisi, malaria, dan diare dapat menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun periode 2030–2050.
- Riset kesehatan lingkungan di International Journal of Environmental Research and Public Health (2022), menemukan, korelasi kuat antara variabilitas iklim tropis, termasuk fluktuasi suhu dan curah hujan dengan peningkatan kasus penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah dengue, malaria, dan chikungunya.
- Fenomena seperti aphelion sering disalahartikan sebagai penyebab cuaca ekstrem, padahal pengaruh utamanya berasal dari dinamika atmosfer dan anomali iklim.
Hujan deras di Juni dan banjir di Juli menjadi tanda musim tak lagi patuh pada kalender. Begitu pun menjelang puncak kemarau tahun 2025 terjadi pada Agustus, hujan justru tak mau pergi di beberapa wilayah Indonesia. Perubahan iklim hadir dalam bentuk cuaca sulit tebak cuaca, memadukan kemarau dan hujan dalam satu musim.
Kondisi cuaca yang berganti cepat ini tak hanya mengganggu aktivitas, juga mempengaruhi kesehatan masyarakat, seperti penurunan daya tahan tubuh, atau orang lebih rentan terkena batuk, pilek, terutama mereka yang kondisi fisik tidak prima.
M.Hisyam, warga asal Cicalengka, Kabupaten Bandung keluhkan itu. Selama Juli, anaknya Iza, usia dua tahun sudah tiga kali demam dan flu.
Ibu 32 tahun ini gusar. “Saya pun yang dewasa merasa tidak nyaman, apalagi anak. Pagi bisa cerah tapi sore hujan. Kadang pagi hujan, sore malah cerah dan sudah susah ditebak,” katanya, belum lama ini.
Cuaca bisa melompat cepat—pagi dingin, siang gerah, sore hujan deras—ternyata menyimpan risiko serius. Penelitian lintas-negara menunjukkan, perubahan suhu harian ekstrem atau diurnal temperature range (DTR) berkaitan dengan lonjakan kematian, terutama akibat penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Menurut analisis National Library of Medicine, risiko kematian terkait DTR naik 0,2–7,4 %, dan meningkat seiring kenaikan suhu rata-rata global.
Di Virginia, misal, penelitian selama 15 tahun menunjukkan, ada peningkatan risiko kematian hingga 20 % saat DTR melebihi 20 °C, paling tinggi 1–2 hari setelah fluktuasi suhu ekstrem terjadi.
Untuk itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, di antara dampak perubahan iklim pada kesehatan, konsekuensi jangka panjang seperti stres panas, malnutrisi, malaria, dan diare dapat menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun periode 2030–2050.
Riset kesehatan lingkungan di International Journal of Environmental Research and Public Health (2022), menemukan, korelasi kuat antara variabilitas iklim tropis, termasuk fluktuasi suhu dan curah hujan dengan peningkatan kasus penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah dengue, malaria, dan chikungunya.
Perubahan pola cuaca, terutama ketika hujan turun di luar musim, menciptakan genangan air menjadi habitat nyamuk penular penyakit.
Penelitian itu juga menekankan, di wilayah tropis, variabilitas iklim bukan hanya mengubah kenyamanan termal manusia, juga mempengaruhi siklus hidup vektor penyakit. Kelembapan tinggi memperpanjang umur nyamuk, sementara suhu hangat mempercepat masa inkubasi virus di dalam tubuh vektor.
Dampaknya, risiko penularan penyakit meningkat, bahkan di bulan-bulan sebelumnya dianggap “aman” secara musiman.

Fenomena astronomi
Di Bandung Raya akhir Juli, fluktuasi cuaca sudah dianggap biasa. Kali ini sedikit berbeda karena sejumlah warga merasa udara lebih dingin dari biasa. Termasuk, Adi Permana, karyawan swasta di Kota Bandung, tak kuat berangkat kerja saat pagi hari jika tidak memakai jaket ganda.
“Bandung seperti kembali kesetelan awal dinginnya karena bisa 18 derajat,” katanya.
Sensasi udara dingin ini, menurut Taufiq Hidayat, Guru Besar Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), bertepatan dengan peristiwa astronomi sebagai aphelion. Pada fase ini, bumi berada di titik terjauh dari matahari dalam orbit tahunannya, perbedaan jarak sekitar 5 juta kilometer dibanding saat perihelion di Januari.
Meski istilahnya jarang terdengar di telinga awam, aphelion bukanlah peristiwa langka. Ia adalah bagian dari siklus tahunan peredaran Bumi berbentuk elips, hingga jarak ke matahari terus berubah sepanjang tahun.
Dalam pola ini, titik terjauh selalu terjadi pada Juli, sementara titik terdekat atau perihelion terjadi setiap Januari.
Pengaruh perbedaan jarak itu terhadap iklim sangat kecil. Sensasi dingin sendiri lebih karena efek musiman dari kemiringan sumbu bumi, membuat wilayah tropis sedikit lebih sejuk saat belahan utara mengalami musim panas.
Karena itu, katanya, mengaitkan aphelion dengan cuaca ekstrem atau gangguan kesehatan tidaklah tepat. Paktor penentu utamanya tetap ada pada pola musim dan kondisi atmosfer saat itu.
“Pengaruh aphelion terhadap suhu di Bandung sangat kecil. Dingin yang kita rasakan sekarang lebih efek musim akibat siklus rotasi bumi,” katanya saat Mongabay hubungi.
Taufiq jelaskan, penyebab utama cuaca kacau justru terletak pada anomali iklim terpicu pemanasan global. Interaksi antara atmosfer, suhu lautan menghangat, dan kondisi daratan menggeser pola musim yang sebelumnya stabil. Ini membuat kemarau bisa tetap basah, dengan hujan deras turun di luar jadwal dan memicu risiko bencana.
“Bahkan, sehari hujan saja bisa membuat Bandung lumpuh.”
Intensitas hujan tinggi dalam waktu singkat kerap membuat drainase kewalahan, memicu genangan di banyak titik, dan melumpuhkan pergerakan orang maupun barang.
Fenomena ini, katanya, bukan sekadar masalah cuaca harian, melainkan indikasi nyata dari perubahan iklim. Pemanasan global mengacaukan keteraturan musim yang sebelumnya dapat diprediksi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, kemarau basah ini dalam prediksi musim 2025 akan bertahan hingga Oktober. Hal itu lantaran terpicu lemahnya Monsun Australia dan suhu muka laut hangat di selatan Indonesia.
Kombinasi ini menjaga kelembapan udara tinggi dan memicu pembentukan awan hujan, bahkan di periode yang seharusnya kering.
BMKG mengonfirmasi, Jawa Barat memasuki awal musim kemarau, tetapi dengan sifat “atas normal.” Dalam istilah klimatologi, berarti curah hujan di musim kemarau berada di atas rata-rata klimatologisnya.
Hujan intensitas ringan hingga lebat masih berpeluang turun, terutama di siang hingga malam hari, dalam durasi singkat dan skala lokal.
Teguh Rahayu, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, mengatakan, hasil dari analisis BMKG tak ada penurunan suhu signifikan pada Juli dibandingkan periode sama tahun-tahun sebelumnya.
Suhu minimum terendah tercatat 18,4°C. Angka itu tergolong normal untuk puncak musim kemarau.
Menurut dia, dingin berlebih yang warga Bandung rasakan lebih karena dinamika atmosfer dan laut sedang aktif. Faktor yang berperan itu antara kainm, Madden Julian Oscillation (MJO) aktif di kuadran 7 (Western Pacific), gelombang Rossby ekuatorial, serta daerah konvergensi di wilayah Jawa Barat.
Teguh bilang, suhu dingin di pagi hari lebih terpengaruh angin timur membawa udara kering dan dingin, serta penurunan tutupan awan. Faktor ini, katanya, membuat pagi terasa sejuk sedang siang hari tetap panas.
Namun, anomali iklim tetap terlihat dari sisi kelembapan dan dinamika cuaca. Data BMKG menunjukkan, suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat masih cukup hangat, berkontribusi pada pertumbuhan awan hujan di skala lokal.
Kelembapan udara di lapisan 850–700 mb mencapai 55–92%, sementara di Bandung Raya nilainya 50–90%. Kondisi itu mendukung pembentukan awan konvektif pemicu hujan intensitas ringan hingga lebat, sekalipun di pada periode kemarau.

Risiko
Melencengnya cuaca dari pola normal membawa dua risiko besar bagi kota. Hujan deras di luar musim bisa memicu banjir dan longsor. Sementara lonjakan atau penurunan suhu secara tiba-tiba, kata Taufik, kerap menggerus daya tahan tubuh.
Dampaknya, paling berat menimpa kelompok rentan—anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Berbagai penelitian mencatat, fluktuasi suhu harian berpotensi memicu gangguan pernapasan, memperparah asma, bahkan memicu pneumonia.
Kesiapsiagaan, katanya, menjadi kunci. Tanpa mitigasi bencana efektif, siklus kemarau basah bisa jadi menimbulkan kerugian besar jauh melampaui sekadar gangguan aktivitas harian.
Bagi kota-kota besar seperti Bandung, kondisi ini menjadi tantangan serius. Perubahan cuaca dadakan ini menguji infrastruktur kota, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan masyarakat.
Taufiq menilai, kota perlu segera beradaptasi dengan perubahan cuaca makin cepat. Kalau tanpa persiapan, gangguan pada infrastruktur dan keselamatan warga hanya tinggal menunggu waktu.
Dosen astronomi itu mengingatkan, persoalan ini bukan perkara yang bisa selesai dalam hitungan tahun. Kenaikan setengah derajat suhu rata-rata global dalam dua hingga tiga dekade mungkin tampak sepele, namun dampaknya dapat mengubah wajah kota dan kehidupan warga.
Karena itu, katanya, setiap sinyal perubahan perlu melek pada ilmu yang bisa menjelaskan fenomena alam, entah itu astronomi atau kemampuan membaca cuaca.
*****