- Reklamasi akan mengancam kuliner lontong kupang sebagai identitas kuliner Surabaya. Warga Kota Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya siap-siap tak bisa menikmati lontong kupang.
- Kuliner ini terdiri atas potongan lontong, kupang berbumbu petis, serta pelengkap lentho (gorengan dari singkong) dan bersanding dengan sate kerang. Namun, kuliner khas ini bakal punah di Surabaya, menyusul adanya proyek Surabaya Waterfront Land (SWL) yang mereklamasi pantai di Kenjeran Surabaya.
- Camat Bulak, Kota Surabaya, Hudaya menuturkan perkampungan nelayan di Kelurahan Kedung Cowek, Kenjeran, dan Sukolilo Baru menjadi pemasok kerang. Kupang dan kerang diolah menjadi kuliner khas yang nikmat.
- Dalam jurnal berjudul Sejarah dan Keberlanjutan Kupang Lontong di Kabupaten Sidoarjo disebutkan setiap tahun, warga Balongdowo berziarah ke makam Dewi Sekardadu, yang dipercaya sebagai Dewi Kemakmuran. Mereka berkirim doa berharap hasil laut seperti kupang melimpah. Sajian lontong kupang diwariskan secara turun temurun lintas generasi.
Sejumlah pengunjung Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, duduk meriung di atas tikar. Di depan meja tersaji, lontong kupang sajian kuliner khas terkenal di Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan. Kupang (Potamocorbula fasciata) merupakan jenis kerang laut seukuran biji kedelai yang jadi sajian kuliner khas.
Kuliner ini terdiri atas potongan lontong, kupang berbumbu petis, dan pelengkap lentho (gorengan dari singkong) bersanding sate kerang.
“Satu porsi lontong kupang Rp 10 ribu, sate kerang Rp10.000,” kata Aliyatul Latifah, pedagang lontong kupang Kenjeran.
Menurut dia, pengunjung ramai saat akhir pekan atau liburan sekolah dan Lebaran. Namun, kuliner khas ini bakal punah di Surabaya, menyusul proyek Surabaya Waterfront Land (SWL) yang mereklamasi pantai di Kenjeran Surabaya.
Surabaya Waterfront Land (SWL) merupakan proyek reklamasi pantai seluas 1.082 hektar yang berlangsung 20 tahun dengan nilai investasi Rp70 triliun. Proyek PT Granting Jaya ini sempat masuk dalam daftar proyek strategis nasional (PSN).
Latifah berjualan lontong kupang sejak lima tahun lalu. Bahan kupang dan kerang dia dapat dari para nelayan, termasuk kerang darah (Anadara granosa) yang jadi bahan baku sate kerang.
Rencana reklamasi, katanya, tak hanya ancam para nelayan, juga usahanya. “Usaha saya bisa tutup kalau terjadi reklamasi,” katanya.
Baktiono, Komisi B bidang Perekonomian dan Keuangan, DPRD Kota Surabaya, mengatakan, reklamasi akan mengancam lontong kupang, yang tak hanya kuliner khas, juga identitas kuliner Surabaya.
“Ya siap-siap warga kota Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya lontong kupang akan punah. Tidak makan kupang, tidak ada lorjuk, dan sate kerang.”
Hudaya, Camat Bulak, Kota Surabaya, mengatakan, perkampungan nelayan di Surabaya tersebar antara lain di Kelurahan Kedung Cowek, Kenjeran, dan Sukolilo Baru. Dari nelayan-nelayan ini, kupang dan kerang diolah menjadi kuliner khas yang nikmat.

Sejarah lontong kupang
Rahma Sasi Safrida dari Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam e-journal Boga mengatakan, sulit menelusuri sejarah lontong kupang. Jurnal berjudul Sejarah dan Keberlanjutan Lontong Kupang di Kabupaten Sidoarjo menyebut, setiap tahun, warga Balongdowo berziarah ke makam Dewi Sekardadu, yang dipercaya sebagai Dewi Kemakmuran.
Mereka berkirim doa berharap hasil laut seperti kupang melimpah. Selebihnya tidak dapat ditelusuri, sajian lontong kupang turun temurun lintas generasi.
Nelayan Balongdowo juga menggelar upacara Nyadran saat menjelang Ramadan. “Sajian kupang lontong sudah ada sejak dulu, dikenal sebagai makanan pesisir dan bermula dari daerah Balongdowo, Candi, Sidoarjo,” tulisnya.
Kupang ada di perairan sekitar Sidoarjo, Surabaya, dan Pasuruan. Kupang hidup di daerah berombak kecil. Biota ini melimpah saat musim kemarau dibanding penghujan di pesisir yang berlumpur. Makanan ini memiliki kandungan baik bagi tubuh seperti Fe (zat besi) dan Zn (zinc/seng).

Kupang mengandung asam lemak tak jenuh buat tubuh untuk membantu metabolisme kolesterol. Kandungan protein juga cukup tinggi hingga bisa menjadi alternatif sumber protein hewani.
Kupang hasil tangkapan nelayan kemudian diolah dengan mengupas, mencuci dan merebusnya hingga matang. Kemudian beri kupang garam, gula, dan tumisan daun bawang dan bawang putih halus.
Dalam penyajian, kupang lontong diberi pelengkap berupa bawang putih mentah dan cabe rawit halus di dalam piring.
Setelah bumbu halus, tambah petis dan air perasan jeruk nipis. Campur bumbu hingga merata lalu tambahkan daging rebusan kupang di atas potongan lontong. Berikutnya, taburan bawang goreng dan lentho menjadi pelengkap kuliner khas ini. Kuah kaldu kupang disiram di atasnya. Rasanya khas, manis, asam dan pedas menjadi satu.
Nelayan kupang perlu keterampilan khusus untuk menangkap kupang di lautan. Mereka menyelam, memunguti kupang dengan mencinduknya di dasar lautan. Setelah terkumpul kupang diletakkan dalam kerendeng atau semacam keranjang besar yang terbuat dari bambu diletakkan di atas ban dalam kendaraan agar mengapung.
Kupang tangkapan nelayan biasa cuci untuk memisahkan dari lumpur dan pasir. Lantas, mereka jual kupang ke sejumlah pengepul Rp25.000 per 50 kilogram.
Dukut Imam Widodo dalam buku Soerabaia Tempo Doeloe Volume 2, menyebut lontong kupang sebagai salah satu makanan khas Surabaya yang berusia ratusan tahun.
Dia menyajikan pengalaman H. Satmoko, salah seorang sesepuh Kota Surabaya, “Dengan 1 sen atau mata uang tembaga yang berlubang, arek Suroboyo sudah bisa sarapan lontong kupang atau tahu campur.”

Nelayan ikut terancam
Nelayan kerang di Desa Kedung Cowek Kecamatan Bulak, Kota Surabaya pergi melaut saat warga yang lain terlelap tidur. Salah satunya, Muhammad Yusuf (31) yang bergegas keluar rumah. Dia menjejakkan kaki menuju pantai yang berjarak selemparan batu dari rumahnya. Yusuf melaut tergantung cuaca dan ketinggian air laut. “Kadang jam 11 malam, kadang jam 1.00 dini hari,” katanya.
Sekitar 20 menit, dia memacu perahu motor menuju ke kawasan hutan mangrove yang menjadi habitat aneka kerang. Dia pulang sekitar pukul 7.00 WIB, dengan membawa aneka jenis kerang. Salah satunya kerang darah yang kerap diolah menjadi sate kerang untuk mendampingi lontong kupang.
Yusuf was-was pekerjaannya sebagai nelayan pencari kerang terancam akibat rencana reklamasi pantai Kenjeran. Nelayan, merupakan pekerjaan utama sejak sejak lulus sekolah dasar. “Usia 17 tahun, saya sudah membawa perahu sendiri.”
*****
Masyarakat Tolak Reklamasi untuk Proyek Surabaya Waterfront Land