- Ular sanca timor, merupakan jenis ular piton endemik di Kepulauan Sunda Kecil Indonesia, yang dikenal dengan keunikannya.
- Nama spesifik timoriensis, merujuk pada Pulau Timor. Namun, uniknya ular ini tidak ditemukan di Pulau Timor, yang memicu kontradiksi di kalangan herpetologis.
- Sebaliknya, populasi utamanya justru ditemukan di pulau-pulau tetangga seperti Pulau Flores, Pulau Lembata, dan Pulau Lomblen.
- Ular sanca timor menghadapi ancaman, salah satunya keindahan coraknya yang unik dan sifatnya yang relatif jinak membuatnya menjadi target utama perdagangan hewan peliharaan eksotis.
Kepulauan Sunda Kecil dengan lanskap yang kering namun penuh kehidupan, memiliki satwa endemik menarik. Salah satunya adalah ular sanca timor (Malayopython timoriensis). Ular ini, dengan keindahan tubuh dan perilaku memukau, sering disamakan dengan sanca kembang. Identitasnya yang unik, terutama terkait nama yang disandangnya, justru menjadi teka-teki bagi para herpetologis.
Sanca timor memiliki sejarah taksonomi berliku. Awalnya, spesies ini diklasifikasikan dalam genus Python dan bahkan Morelia. Perdebatan ini mencerminkan tantangan dalam mengklasifikasikan spesies yang memiliki kekerabatan dekat, namun memiliki perbedaan morfologi. Baru pada 2014, melalui analisis filogenetik yang mendalam, nama genus Malayopython diusulkan dan kini diakui secara luas.
Nama Malayopython adalah gabungan dari kata “Malaysia” dan “python”, sebuah referensi yang tidak sepenuhnya akurat karena sebaran ular ini tidak terbatas di Malaysia, melainkan juga di wilayah lain. Ironisnya, nama spesifiknya, timoriensis, yang merujuk pada Pulau Timor, justru menjadi sumber kebingungan.

Dalam sebuah artikel, nama spesifik timoriensis, merujuk pada Pulau Timor. Namun, ini aneh karena tidak ada sanca timor di Timor. Sebaliknya, populasi utamanya justru ditemukan di pulau-pulau tetangga seperti Pulau Flores, Pulau Lembata, dan Pulau Lomblen.
Kontradiksi ini menyoroti minimnya data lapangan akurat, yang pada akhirnya menyulitkan upaya konservasi efektif. Karena hal ini, beberapa orang mencoba untuk tidak menggunakan nama sanca timor dan lebih memilih menyebutnya sebagai sanca sunda kecil (Lesser Sundas python).
“Nama genus itu sendiri adalah subjek dari beberapa kontroversi dalam komunitas ilmiah. Namun, tampaknya, untuk saat ini, sanca kembang dan sanca timor akan tetap berada dalam genus Malayopython,” tulis Gail Baker Nelson, penulis artikel.

Ciri khas dan perilaku unik
Ular sanca timor memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya, sanca kembang. Dengan panjang rata-rata 1,5-2,4 meter, jenis ini memiliki tubuh yang ramping dan lincah. Coraknya sangat khas, menampilkan bintik-bintik gelap pada warna dasar kuning kehijauan hingga oranye kuning yang memudar di bagian belakang tubuh. Kulitnya yang iridescent atau warna warni itu akan memantulkan kilauan pelangi saat terkena sinar matahari, seperti memperlihatkan keindahan yang bergerak di alam.
Ular ini adalah hewan semi arboreal, artinya mereka mahir hidup di darat maupun memanjat pohon. Perilakunya yang aktif dan gesit, terutama di pagi dan malam hari, membedakannya dari jenis sanca lain yang cenderung lebih pasif. Untuk urusan reproduksi, betina sanca timor bisa bertelur 5-10 butir.
Uniknya, sang induk akan melingkarkan tubuhnya di sekitar telur dan bahkan bisa mengubur dirinya bersama telur di dalam tanah untuk menjaga kelembaban dan suhu optimal, sebagai sebuah strategi bertahan hidup yang cerdas.

Status konservasi sanca timor oleh IUCN adalah “Rentan” dikarenakan berbagai tekanan antropogenik. Keindahan coraknya yang unik dan sifatnya yang relatif jinak, membuatnya menjadi target utama dalam perdagangan hewan peliharaan eksotis. Ada permintaan yang semakin meningkat di pasar hewan peliharaan untuk spesies ini, dan ketika digabungkan dengan hilangnya habitat yang semakin cepat, jenis ini mengalami kesulitan di alam liar.
“Ancaman utamanya adalah pengambilan berlebihan untuk perdagangan hewan peliharaan internasional. Pembangunan jalan, termasuk jalan raya utama melalui Flores bagian tengah yang kemungkinan akan membuka area hutan yang tersisa untuk pembangunan, pembukaan lahan untuk pertanian skala kecil dan perkebunan, serta pembangunan pariwisata juga bisa menjadi ancaman bagi spesies ini di Flores,” tulis IUCN.
Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, meskipun bertujuan untuk memajukan ekonomi, seringkali membuka jalan bagi deforestasi lebih lanjut. Perubahan fungsi lahan menjadi perkebunan dan area pariwisata secara langsung mengurangi ruang hidup dan sumber pakannya. Fakta-fakta ini memberikan alarm kuat bahwa populasi mereka di alam liar berada dalam tekanan besar.
Referensi:
A-Z Animals. “Timor Python”. Diakses dari: https://a-z-animals.com/animals/timor-python/
DK Pythons. “Malayopython timoriensis”. Diakses dari: https://dkpythons.com/collection/malayopython-timoriensis/
The Reptile Database. “Species: Malayopython timoriensis”. Diakses dari: https://reptile-database.reptarium.cz/species?genus=Malayopython&species=timoriensis
*****