- Petani di Kota Ternate, Maluku Utara, menyulap lahan kosong jadi kebun sayur produktif dengan mengandalkan pupuk organik buatan sendiri.
- Wahyu,petani Ternate, kembangkan pupuk bio cair dari limbah ikan, khusus kepala dan tulang ikan sisa pasar tradisional. Limbah ikan dia frementasi dengan bantuan molase dan mokroorganisme lokal (MOL).
- Balai Penelitian Tanah, Kementerian Pertanian, menyebutkan, 66% tanah sawah di Indonesia sudah masuk kategori rendah karbon. Artinya, kandungan organik sangat kurang. Padahal, untuk hasil pertanian optimal, perlu kandungan karbon organik sekitar 2,5%.
- Bertani dengan metode alami tingkatkan kesuburan tanah, menekan biaya operasional, permudah kendalikan hama, dan membuka peluang ekonomi dari pasar produk sehat.
Usai hujan reda sore itu, Nisma dan ibunya Asia, menuju kebun kecil mereka di pinggiran Kota Ternate, Maluku Utara. Lahan yang semula terbengkalai itu mereka manfaatkan jadi kebun sayur produktif. Ada sawi, kangkung, cabai, tomat dan banyak lagi.
Berbekal pupuk organik dan ketekunan, keduanya mengubah lahan nganggur jadi sumber pangan keluarga. Tak hanya sumber pangan sehat, juga berdaya.
Untuk pupuk, mereka gunakan sampah organik. “Pupuknya dari sisa-sisa tanaman, dicampur tanah, terus dibiarkan sampai jadi kompos. Setelah itu baru bisa untuk perbaiki struktur tanah,” kata perempuan 20 tahun ini pada Mongabay, pertengahan Juni lalu.
Nisma bilang, beralih ke pupuk alami hasilnya memang tak langsung terlihat, namun pengaruh sangat terasa seiring waktu.
“Berat, tapi yakin pasti bisa,” katanya, yang sejak kecil membantu ibunya bertani.
Tak lantas putus asa, dia terus pakai pupuk organik dan berikan nutrisi buah tanah.
Salah satu keuntungan praktik baik ini, katanya, tanah yang semula keras karena pupuk kimia, jadi gembur dan mudah mengolahnya.
Di lahan garapan tak terlalu luas itu, atas keterampilan mereka berhasil menyulap jadi sumber penghidupan.
“Dalam sebulan bisa panen sayuran sampai tiga kali, tergantung cuaca.”
Untuk kangkung dan sawi, katanya, panen dengan sistem cabut. Selain konsumsi sendiri, sayur juga mereka jual ke tetangga maupun pasar.
Dari panen itu, mereka bisa menghasilkan sekitar Rp1juta-Rp3 juta per bulan. Hasilnya, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menopang pendidikan keluarga yang lain.
“Kadang susah kalau harus pacu tanah. Tapi saya senang melakukannya.”

Sebagai perempuan muda, pilihannya terjun ke dunia pertanian organik tidak umum. Banyak teman sebayanya memilih pekerjaan lain atau aktivitas berbeda. Baginya, bertani membawa kepuasan tersendiri.
Serupa dengan Hasbuna, petani dari desa lain di Ternate. Dia bertani dengan pupuk organik tak hanya dapatkan sayur mayur sehat, juga terbilang lebih mudah dalam kendalikan hama.
“Justru kalau pakai pestisida terus-menerus, hama jadi kebal. Tapi kalau pupuk alami, alam bantu seimbangkan sendiri.”
Yang Hasbuna rasakan sejalan dengan temuan dari berbagai penelitian. Balai Penelitian Tanah, Kementerian Pertanian, dalam laporannya 2019 menyebutkan, 66% tanah sawah di Indonesia sudah masuk kategori rendah karbon. Artinya, kandungan organik sangat kurang. Padahal, untuk hasil pertanian optimal, perlu kandungan karbon organik sekitar 2,5%.
Ladiyani Retno Widowati dan kolega dalam laporannya menyatakan, penggunaan pupuk organik minimal 2 ton per hektar per musim penting, bukan hanya untuk tanaman, juga menumbuhkan kembali kehidupan mikroba dan hewan kecil dalam tanah yang punya peranan besar tuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Wahyu, petani lain di kota rempah itu katakan, bertani organik mendapatkan keuntungan ganda. Selain tekan operasional karena memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti limbah tanaman dan ikan, produk juga cepat laku. Dia tanam kangkung, terong, cabai dan tomat.
Baginya, pasar produk sehat makin terbuka, terlebih sejak pandemi membuat warga lebih sadar pentingnya asupan gizi aman dan alami.
“Produk sehat cepat sekali lakunya.” Dia menjual sayuran melalui platform sosial media.
Keunggulan Wahyu tak hanya pada cara bertani, juga inovasi yang dia ciptakan. Dia kembangkan pupuk bio cair dari limbah ikan, khusus kepala dan tulang ikan sisa pasar tradisional, yang kemudian difrementasi dengan bantuan molase dan mokroorganisme lokal (MOL).
“Inspirasi ini datang dari kebutuhan menekan biaya, sekaligus menangani limbah ikan yang seringkali hanya dibuang.”
Dengan pupuk itu, Wahyu katakan, tanaman lebih sehat, tanah pun makin subur. Untuk menjaga tanah tetap subur dan bebas hama, Wahyu juga rutin mengganti jenis tanaman tiap musim, misal, dari cabai dia ganti ke tomat Praktik rotasi ini, katanya, jadi bagian penting untuk pertanian berkelanjutan.
“Awal-awal tidak mudah. Tapi kalau sudah berjalan keuntungannya berlimpah dan biaya operasional murah.”

Tantangan itu juga Purwono Budhi Rahmadi, Team Leader Inclusion Project Wahana Visi Indonesia (WVI) alami. Menurut dia, satu hambatan utama dalam pengembangan pertanian sehat dan berkelanjutan adalah literasi konsumen masih rendah.
“Masih banyak orang belum paham nilai tambah dari produk yang dihasilkan secara ramah lingkungan.”
Untuk itu, melalui pendekatan pembangunan sistem pasar inklusif, WVI berupaya mengubah kondisi itu.
Mereka tak hanya mendampingi petani tingkatkan kapasitas produksi dan adopsi praktik pertanian alami, juga menjembatani pasarnya.
Sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan itu, mereka juga menginisiasi program INCLUSION akronim dari increasing the leverage of inclusive markets across Indonesia.
“Tujuannya, untuk memperkuat pemberdayaan petani kecil dan rumah tangga rentan, terutama di wilayah Indonesia Timur.”
Dalam praktiknya, tantangan struktural masih membayangi. Dalam laporan penelitian dan pengembangan pertanian, perkebunan, dan pangan Kota Ternate oleh Bappelitbangda dengan Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate, 2023, menyebut , sederet hambatan kemajuan pertanian di daerah ini. Mulai dari pengelolaan pascapanen rendah, sarana produksi pertanian dan alsintan mahal, peremajaan tanaman perkebunan minim, pengendalian hama mahal, sampai ketiadaan dukungan aktif dari pemerintah dalam pemasaran hasil panen.
“Selain itu, difusi hasil riset dari perguruan tinggi dan institusi negara membuat produk berbasis inovasi sulit tumbuh.”
Dampaknya, upaya meningkatkan daya saing petani dan produktivitas lahan kerap jalan ditempat.
Rizal Marsaoly, Sekertaris Daerah Kota Ternate menyebut, tren positif dari penggunaan pupuk organik selama beberapa tahun terakhir sudah mestinya jadi momentum perkuat komitmen politik pangan lokal.
“Kita lihat dengan pemanfaatan pupuk ramah lingkungan ini, produksi meningkat.”
Dia bilang, sudah saatnya pemerintah mengambil sikap tegas melalui kebijakan mendukung pertanian ramah lingkungan.

*****